Beranda Belajar Islam Amalan Sungguh Bahagia Menjadi Orang Miskin

Sungguh Bahagia Menjadi Orang Miskin

204
0
BERBAGI

Sungguh Bahagia Menjadi Orang Miskin

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي تَرُدُّهُ الْأُكْلَةَ وَالْأُكْلَتَانِ وَلَكِنْ الْمِسْكِينُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِي أَوْ لَا يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا
“Bukanlah disebut miskin, yaitu orang yang bisa di atasi dengan satu atau dua suap makanan. Akan tetapi yang disebut miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan namun, dia menahan diri (malu) atau orang yang tidak meminta-minta secara mendesak.”
(HR. Imam Bukhari, no.1382)

Kemudian beliau bersabda;

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni Surga? Yaitu setiap orang lemah dan ditindas, yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Dan maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni Neraka? Yaitu setiap orang yang keras membela kesalahan, kikir (gemar mengumpulkan harta), dan sombong.”
(HR. Imam Bukhari, no.4537)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Orang lemah yang dimaksud adalah orang yang diremehkan orang lain karena keadaan yang lemah di dunia, yakni miskin.”
(Syarh Shahih Muslim, 17:168)

Lalu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bercerita;

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ
“Aku berdiri di pintu Surga, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang yang mempunyai kekayaan tertahan. Kecuali para penghuni Neraka, mereka telah diperintahkan masuk ke dalam Neraka, dan aku berdiri di pintu Neraka, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah wanita.”
(HR. Imam Bukhari, no.6065)

Dalam riwayat yang lain, beliau bersabda;

إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ عُنْقُودًا وَلَوْ أَصَبْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتْ الدُّنْيَا وَأُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ قَالُوا بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُفْرِهِنَّ قِيلَ يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Sungguh aku melihat Surga, dan di dalamnya aku memperoleh setangkai anggur. Seandainya aku mengambilnya, tentu kalian akan memakannya sehingga urusan dunia akan terabaikan. Kemudian aku melihat Neraka, dan aku belum pernah melihat suatu pemandangan yang lebih mengerikan dibandingkan hari ini, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para Sahabat bertanya lagi: Mengapa begitu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Karena mereka sering kufur (mengingkari). Ditanyakan kepada beliau: Apakah mereka mengingkari Allah? Beliau menjawab: Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikannya. Seandainya kamu berbuat baik terhadap salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu, maka dia akan berkata: Aku belum pernah melihat kebaikan darimu sedikitpun.”
(HR. Imam Bukhari, no.993)

Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الْأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا
“Sesungguhnya orang-orang fakir dari kaum muhajirin akan mendahului orang-orang kaya pada hari Kiamat masuk ke dalam Surga dengan jarak waktu 40 tahun.”
(HR. Imam Muslim, no.5291)

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ
“Orang-orang fakir dari kaum mukminin akan masuk Surga sebelum orang-orang kaya dengan jarak setengah hari yang setara dengan 500 tahun.”
(HR. Ibnu Majah, no.4112. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)

Sedangkan Allah azza wa jalla berfirman;

وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ
“Sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu.”
(Surat Al-Hajj: ayat 47)

Di antara penjelasan dua hadits di atas, maksud adanya perbedaan waktu masuk ke dalam Surga dari orang-orang miskin kalangan muhajirin dan orang-orang miskin kalangan mukminin, dibandingkan orang-orang kaya di antara mereka adalah;

1. Bahwa ada di antara orang-orang miskin yang mendahului orang-orang kaya masuk Surga dalam waktu 500 tahun. Ada juga di antara orang-orang miskin yang mendahului orang-orang kaya dalam waktu 40 tahun. Hal ini tergantung pada keadaan orang miskin dan orang kaya. Sebagaimana pelaku kemaksiatan dari kalangan Ahli Tauhid, lama tidaknya mereka disiksa itu tergantung pada keadaan mereka.

2. Keadaan orang-orang miskin yang mendahului orang-orang kaya masuk Surga itu bukan suatu hal yang pasti, karena mereka mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari orang-orang kaya (yang masuk belakangan setelah mereka). Dan terkadang juga orang yang belakangan masuk Surga lebih tinggi kedudukannya, meskipun didahului oleh orang lain dalam kesempatan masuk Surga.

3. Maka orang kaya ketika dihisab hartanya, kemudian ternyata dia termasuk orang yang mensyukuri nikmat harta tersebut, mempergunakannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dibelanjakan untuk jalan-jalan kebaikan, ketaatan, sedekah, dan amalan semisalnya, maka orang kaya semacam ini akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi daripada orang miskin yang lebih dulu masuk Surga yang dia tidak memiliki amalan-amalan kebaikan yang dilakukan oleh orang kaya. Apalagi, orang kaya tersebut bisa menyaingi amalan-amalan kebaikan orang miskin, atau bahkan orang kaya tersebut bisa mengerjakan lebih banyak amal kebaikan dari orang miskin. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang berbuat kebaikan.”
(Al-Fauz Al-Mubin Wa Al-Khusran Al-Mubin Fi Dhaui Al-Kitab Wa As-Sunnah, 1:32-33)

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki, melainkan karena adanya (doa) orang-orang yang lemah di antara kalian.”
(HR. Imam Bukhari, no.2681)

Imam Ibnu Batthal rahimahullah menjelaskan;
“Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlash dan lebih terasa khusyu, karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain, kecuali dekat kepada Allah saja. Amalan mereka bersih dan doa mereka pun mudah diijabahi (dikabulkan). Al-Muhallab berkata: Yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam maksudkan adalah dorongan bagi Sahabat Saad agar bersifat tawadhu, tidak sombong dan tidak perlu menoleh pada harta yang ada di orang lain.”
(Syarh Al-Bukhari Li Ibni Batthal, 9:114)

Rasulullah juga bersabda;

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah yang ada di sekitarnya, dengan sebab doa mereka, shalat mereka, dan keikhlashan mereka.”
(HR. An-Nasai, no.3127)

Maka sebab itu, Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata;

أَحِبُّوا الْمَسَاكِينَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ
“Cintailah oleh kalian orang-orang miskin! Karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berucap dalam doanya: Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikan aku dalam keadaan miskin, serta kumpulkan aku ke dalam golongan orang-orang miskin!”
(HR. Ibnu Majah, no.4116)

Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا يَا عَائِشَةُ لَا تَرُدِّي الْمِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan wafatkanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku pada hari Kiamat bersama golongan orang-orang miskin! Aisyah bertanya: Kenapa wahai Rasulullah? beliau menjawab: Sesungguhnya mereka akan masuk Surga 40 tahun lebih dulu daripada orang-orang kaya. Wahai Aisyah, jangan kamu tolak orang-orang miskin walaupun hanya dengan memberikan secuil kurma. Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, karena Allah akan mendekat kepadamu pada hari Kiamat.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2275)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;
“Seandainya Allah mau, Dia bisa menjadikan kalian kaya, tidak ada yang miskin di antara kalian. Tapi Dia ingin menguji kalian satu dengan yang lainnya.”
(Ihya Ulum Ad-Din, hlm.307)

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Urusan orang yang beriman itu mengagumkan, sesungguhnya semua urusannya adalah baik dan itu tidak dimiliki oleh seorang pun selain orang yang beriman. Apabila tertimpa kesenangan, dia bersyukur dan syukur tersebut baik untuknya. Dan apabila tertimpa kesusahan, dia bersabar dan sabar tersebut baik untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.5318)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur ketika senang dan bersabar ketika susah. Bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Sahabat Abdullah bin Masud berkata: Iman itu terbagi menjadi dua bagian, sebagiannya adalah sabar dan sebagian lainnya adalah syukur.”
(Uddatu Ash-Shabirin, hlm.88)

Lalu beliau rahimahullah berkata;
“Hadits di atas menunjukkan, bahwa tingkatan-tingkatan iman seluruhnya berkisar antara sabar dan syukur.”
(Thariqu Al-Hijratain, hlm.399)

Beliau rahimahullah juga menjelaskan;
“Rukun syukur ada tiga yaitu: Mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah taala, menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara nampak (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas nikmat tersebut dalam rangka mensyukurinya), menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah. Rukun sabar juga ada tiga yaitu: Menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah taala, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allah, seperti ketika terjadi musibah menampar wajah, merobek pakaian, memotong rambut, dan keadaan semisalnya.”
(Al-Wabilu Ash-Shayyib, hlm.11)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat sesuatu yang dia senangi, maka beliau mengucapkan: ALHAMDULILLAH ALLADZI BINIMATIHI TATIMMUSH SHAALIHAAT (Segala puji untuk Allah yang dengan sebab nikmatNya semua kebaikan menjadi sempurna). Dan apabila melihat sesuatu yang dia benci, maka beliau mengucapkan: ALHAMDULILLAH ALAA KULLI HAAL (Segala puji untuk Allah atas setiap keadaan).”
(HR. Ibnu Majah, no.3793. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata;
“Setiap nikmat (rezeki) yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu hanyalah musibah.”
(Jamiu Al-Ulum Wa Al-Hikam, 2:82)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;
“Wajib bagi kalian untuk mengejar negeri akhirat. Kami banyak melihat orang yang mengejar akhirat dia mendapatkan juga dunianya. Namun, kami tidak melihat ada seseorang yang mengejar dunia, tapi dia mendapat akhirat bersama dunianya.”
(Az-Zuhd, hlm.12)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata;
“Betapa sering kita menyaksikan langsung, bahwa kekayaan bisa menjadi sebab seseorang rusak, waliyyadzubillah. Ada orang yang kamu lihat saat dia masih susah, dia taat kepada Allah, selalu kembali kepadaNya, hatinya halus, dan dia tidak angkuh. Namun, ketika Allah beri kepadanya harta yang lebih, waliyyadzubillah, kemudian dia menjadi sombong dan angkuh karena hartanya.”
(Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 2:41)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai. Masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih!”
(Surat An-Naml: ayat 19)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memintaMu berbagai perbuatan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan ampunilah aku dan rahmatilah aku! Apabila Engkau menghendaki suatu fitnah kepada hamba-hambaMu, wafatkan aku kepadaMu dalam keadaan tidak terkena fitnah (husnul khatimah)! Aku mengharap cintaMu, cintanya orang yang mencintaiMu, cinta pada amalan yang mendekatkanku pada cintaMu.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3159)

Simak juga penjelasannya di sini.

Silakan, baca juga serial setelahnya: Sungguh Bahagia Menjadi Orang Kaya.
___
@Kota Udang Cirebon, 11 Muharram 1441H/10 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here