Beranda Belajar Islam Adab Adab Khutbah Jumat

Adab Khutbah Jumat

246
0
BERBAGI

ADAB KHUTBAH JUMAT

1. Duduk Dekat Dengan Tempat Khatib Atau Imam.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اُحْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنْ الْإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَا يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا
“Hadirilah peringatan (khutbah) dan mendekatlah kepada imam! Karena seseorang yang selalu menjauh darinya, hingga dia juga akan diakhirkan masuk ke dalam Surga, meskipun dia tetap akan memasukinya.”
(HR. Abu Dawud, no.934. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ وَغَدَا وَابْتَكَرَ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
“Barang siapa menggauli istrinya (berjima) dan mandi, lalu dia segera berangkat (ke masjid) sedini (sesegera) mungkin serta mendekat kepada imam, dan dia tidak melakukan hal yang sia-sia, maka setiap langkahnya seperti amalan satu tahun disertai puasa dan shalat malamnya.”
(HR. An-Nasai, no.1364)

Catatan: Adab seperti ini berlaku tidak hanya untuk majelis khutbah Jumat, tapi berlaku juga untuk majelis ilmu secara umum. Karena hal ini merupakan adab yang harus diketahui dan diamalkan oleh setiap muslimmuslim terhadap orang yang menyampaikan ilmu atau nasihat.

2. Tidak Boleh Duduk Dengan Posisi Memeluk Atau Bertekuk Lutut.
Sebagaimana Muadz bin Anas rahimahullah berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang duduk ihtiba (memeluk lutut) ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jumat.”
(HR. Abu Dawud, no.936. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Jadi kalau mau duduk bisa dengan bersila, iftirasy, atau tawaruk (seperti duduk saat tasyahud dalam shalat).

3. Pilih Orang Yang Berilmu Untuk Menjadi Khatib.
Salah satu dampak kerusakan di dunia itu disebabkan ucapan orang-orang yang tidak berilmu di atas mimbar, di majelis ilmu, dan forum semisalnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ
“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang ulamanya banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang meminta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik daripada berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-mintanya banyak dan yang memberinya sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik daripada beramal.”
(HR. Al-Albani, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.3189)

Setiap orang yang tidak berilmu namun, berani berbicara masalah ilmu tanpa ilmu, maka dia adalah Ruwaibidhah. Maka jauhilah orang yang semacam itu!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Sebelum munculnya Dajjal akan ada beberapa tahun munculnya para penipu. Sehingga orang jujur didustakan, sedangkan pendusta dibenarkan. Orang yang amanah dikhianati, sedangkan orang yang suka berkhianat dipercaya, dan para Ruwaibidhah ikut angkat bicara. Ada yang bertanya: Apa itu Ruwaibidhah? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang fasiq yang berbicara tentang persoalan publik.”
(HR. Ahmad, no.12820. Syaikh Al-Arnauth menyatakan hadits ini hasan)

Orang fasiq adalah orang yang melakukan dosa besar dan tidak bertaubat darinya, atau orang yang melakukan dosa kecil secara terus menerus.

Seorang khatib harus benar-benar menguasai ilmu yang akan disampaikannya. Setidaknya dia berusaha memahaminya dan mengamalkannya. Sehingga dia bisa menjiwai pembahasan ilmu tersebut ketika menyampaikannya kepada para jamaah shalat Jumat.

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ
“Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya.”
(HR. Imam Muslim, no.1435)

Salah satu tanda seorang khatib itu berilmu dan paham terhadap ilmu yang disampaikannya, dia akan berkhutbah dengan waktu yang singkat dan ilmu yang padat. Lalu dia akan lebih memanjangkan shalatnya daripada khutbahnya.

Imam Abu Wail rahimahullah bercerita;

خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَوْجَزَ وَأَبْلَغَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا
“Ammar pernah menyampaikan khutbah Jumat kepada kami dengan bahasa yang singkat dan padat. Maka ketika dia turun dari mimbar, kami pun berkata kepadanya: Wahai Abu Yaqzhan! Khutbahmu begitu singkat dan padat, alangkah baiknya jika kamu panjangkan lagi. Ammar berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sungguh lamanya shalat dan pendeknya khutbah seseorang itu menunjukkan tentang pemahamannya tentang agamanya. Karena sebab itu, panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah, karena sebagian dari penjelasan adalah sihir (memiliki daya tarik)!”
(HR. Imam Muslim, no.1437)

Imam Az-Zuhri rahimahullah menjelaskan;
“Apabila suatu majelis berlangsung lama, maka setan pun ikut mengambil bagian di dalamnya.”
(Hilyatu Al-Auliya, 3:366)

Kemudian hendaknya setiap khatib berusaha untuk menyampaikan khutbahnya dengan suara yang jelas per-huruf dan per-kalimatnya. Agar para jamaah bisa mendengarkan khutbahnya dengan jelas dan memahaminya dengan tuntas.

Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ
“Ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu jelas, sehingga dapat dipahami oleh siapa saja yang mendengarnya.”
(HR. Abu Dawud, no.4199. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka (orang-orang bodoh) ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”
(HR. Imam Bukhari, no.98)

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah diangkatnya ilmu serta tersebarnya kebodohan, dan diminumnya khamer serta praktik perzinaan secara terang-terangan.”
(HR. Imam Bukhari, no.78)

• Catatan;
– Hal-hal di atas tidak hanya berlaku untuk khatib shalat Jumat namun, berlaku juga untuk seluruh manusia yang menyampaikan ilmu di hadapan umum, seperti forum pengajian, tausyiah, kultum, dan forum semisalnya.
– Peringatan untuk para pengurus masjid atau panitia pengajian, untuk tidak sembarangan memilih orang untuk menjadi imam atau khatib. Karena jika kalian salah memilih orang dalam menyampaikan ilmu untuk umat, maka kalian pun ikut mendapatkan dosanya.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلًا وَمِنْ أُجُورِ مَنْ اسْتَنَّ بِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلًا وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa memberikan contoh yang baik, kemudian contoh tersebut menjadi teladan (diikuti), maka dia akan mendapatkan pahala amalannya secara sempurna berserta pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa memberikan contoh yang buruk, kemudian contoh tersebut menjadi teladan, maka dia pun akan mendapatkan dosa dari perbuatannya secara sempurna beserta dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
(HR. Ibnu Majah, no.200)

– Ilmu tidak bisa asal diambil dari sembarangan orang. Karena Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah menjelaskan;

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Ilmu adalah bagian dari agama, sebab itu perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama kalian!”
(Siyar Alam An-Nubala, 4:606)

Beliau pun bercerita;
“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad. Lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun berkata: Sebutkan kepada kami orang-orang yang menjadi sumber ilmu kalian! Maka jika dilihat orang-orang tersebut Ahlussunnah maka haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut Ahlu bidah maka haditsnya ditolak.”
(Muqaddimah Shahih Muslim, 1:15)

Sebetulnya orang yang belajar ilmu agama itu sedang membangun ideologi. Sehingga ketika sumber ilmunya adalah orang sesat, maka akan terbentuk ideologi yang sesat juga pada orang tersebut. Maka sebab itu, perhatiankan siapa yang menjadi guru agama kita!

Sebagian masyarakat memiliki prinsip: “Ketika mereka mengikuti ajaran seorang guru, maka mereka bebas dari tanggung jawab. Sehingga kalau mereka salah mengikuti guru, nanti yang akan menanggung dosanya tersebut adalah gurunya.” Prinsip semacam itu tidak benar, karena bertentangan dengan firman Allah azza wa jalla.

Allah azza wa jalla menceritakan tentang pertengkaran antara tokoh yang sesat dan para pengikutnya. Allah berfirman;

قَالَ ٱدْخُلُوا۟ فِىٓ أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ فِى ٱلنَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُوا۟ فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَىٰهُمْ لِأُولَىٰهُمْ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَـَٔاتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ ٱلنَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ
“Allah berfirman: Masuklah kalian ke dalam api Neraka bersama golongan jin dan manusia yang sudah lebih dahulu dari kalian! Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang masuk belakangan kepada orang yang sudah masuk terlebih dahulu: Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api Neraka yang berlipat ganda kepada mereka! Allah berfirman: Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.”
(Surat Al-Araf: ayat 38)

Kemudian orang yang sudah lebih dahulu masuk Neraka juga balas berkata;

وَقَالَتْ أُولَىٰهُمْ لِأُخْرَىٰهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ
“Dan orang yang sudah masuk Neraka lebih dahulu berkata kepada orang yang masuk belakangan: Kalian tidak memiliki kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.”
(Surat Al-Araf: ayat 39)

Kita saksikan, mereka saling menyalahkan dan bahkan meminta kepada Allah, agar siksaan orang yang telah membuatnya sesat di dunia ditambahkan berlipat ganda.

Allah juga bercerita, tentang penyesalan sebagian penghuni Neraka karena mereka mengikuti tokoh atau orang yang sesat. Allah berfirman;

وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًا. يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا. لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا
“Dan ingatlah, pada hari ketika orang-orang zhalim menggigit dua jarinya (menyesali perbuatannya) sambil berkata: Aduhai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Aduhai, celaka aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Quran) ketika itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.”
(Surat Al-Furqan: ayat 27-29)

Kita saksikan penyesalan mereka di hari Kiamat, hingga mereka gigit jari. Mereka menyesal, dahulu mengikuti para guru yang sesat tersebut. Padahal sudah sampai kepadanya peringatan yang sangat jelas, yang menunjukkan kesesatannya.

Sebab itulah, semua orang yang beriman harusnya menyadari, bahwa mengambil sumber ilmu itu akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah azza wa jalla. Prinsip-prinsip yang keliru seperti di atas harus ditinggalkan. Jika orang tersebut jelas menyimpang, membela sesuatu yang salah, maka jangan lagi dijadikan referensi dalam belajar ilmu agama!

Sebagai renungan, ketika tubuh kita sakit maukah kita pergi ke sembarang orang? Begitu juga ketika jiwa kita sakit, maukah kita pergi ke sembarang orang? Semoga tersadarkan.

4. Khatib Berdiri Di Atas Mimbar.
Salamah bin Dinar rahimahullah bercerita;

أَنَّ نَفَرًا جَاءُوا إِلَى سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَدْ تَمَارَوْا فِي الْمِنْبَرِ مِنْ أَيِّ عُودٍ هُوَ فَقَالَ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْرِفُ مِنْ أَيِّ عُودٍ هُوَ وَمَنْ عَمِلَهُ وَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ يَوْمٍ جَلَسَ عَلَيْهِ قَالَ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا عَبَّاسٍ فَحَدِّثْنَا قَالَ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى امْرَأَةٍ قَالَ أَبُو حَازِمٍ إِنَّهُ لَيُسَمِّهَا يَوْمَئِذٍ انْظُرِي غُلَامَكِ النَّجَّارَ يَعْمَلْ لِي أَعْوَادًا أُكَلِّمُ النَّاسَ عَلَيْهَا فَعَمِلَ هَذِهِ الثَّلَاثَ دَرَجَاتٍ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوُضِعَتْ هَذَا الْمَوْضِعَ فَهِيَ مِنْ طَرْفَاءِ الْغَابَةِ وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي
“Bahwa sejumlah orang datang kepada Sahl bin Sa’d karena mereka bertengkar mengenai mimbar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terbuat dari kayu apakah mimbar tersebut? Sahl menjawab: Demi Allah, aku tahu betul dari kayu apa mimbar itu dibuat, lalu siapa yang membuatnya, bahkan aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam duduk di situ pada hari pertama mimbar tersebut selesai dibuat. Kata Abu Hazim: Wahai Abu Abbas (Sahl)! Ceritakanlah kepada kami! Lalu Sahl bercerita: Pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruh (untuk memanggil) seorang perempuan Abu Hazim berkata: Beliau menyebutkan namanya pada waktu itu. Lalu beliau bersabda kepadanya: Suruhlah anakmu yang tukang kayu itu membuatkan sebuah mimbar kayu untuk tempatku berpidato (berkhutbah) kepada orang-orang! Maka dia membuat tiga tingkat ini. Kemudian Rasulullah memerintahkan agar meletakkan mimbar tersebut di tempat ini. Mimbar tersebut terbuat dari kayu hutan. Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat di atas mimbar itu. Lalu beliau bertakbir, maka orang-orang pun bertakbir juga di belakangnya, sedangkan beliau masih di atas mimbar. Kemudian beliau bangkit dari ruku, lalu turun sambil mundur sehingga beliau sujud di kaki mimbar. Kemudian beliau kembali lagi ke atas mimbar hingga selesai shalat. Sesudah itu, beliau menghadap kepada orang-orang lalu bersabda: Wahai sekalian manusia, aku melalukan ini agar kalian semua mengikutiku, dan agar kalian belajar cara shalatku.”
(HR. Imam Muslim, no.847)

Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَى جِذْعٍ إِذْ كَانَ الْمَسْجِدُ عَرِيشًا وَكَانَ يَخْطُبُ إِلَى ذَلِكَ الْجِذْعِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ هَلْ لَكَ أَنْ نَجْعَلَ لَكَ شَيْئًا تَقُومُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَرَاكَ النَّاسُ وَتُسْمِعَهُمْ خُطْبَتَكَ قَالَ نَعَمْ فَصَنَعَ لَهُ ثَلَاثَ دَرَجَاتٍ
“Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat menghadap ke arah sebatang kayu kurma, sebab masjid pada masa itu tidak mempunyai dinding dan beliau juga berkhutbah di atas kayu tersebut. Seorang laki-laki dari Sahabatnya berkata: Bagaimana jika kami buatkan sesuatu (mimbar) yang dapat engkau gunakan berdiri di hari Jumat, hingga orang-orang dapat melihatmu dan mendengar khutbahmu? Beliau menjawab: Ya. Maka Sahabat tersebut membuatkan Rasulullah mimbar yang mempunyai tiga tingkatkan.”
(HR. Ibnu Majah, no.1404. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Di dalam hadits tersebut terdapat pernyataan, bahwa mimbar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu ada tiga tingkat (anak tangga).”
(Syarh Shahih Muslim, hlm.544)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi rahimahullah menjelaskan;
“Dalam hadits lain disebutkan, bahwa mimbar Nabi itu ada dua tingkat, kemudian yang ke tiga adalah tempat duduknya.”
(Al-Jauhar Fi Adadi Darajati Al-Mimbar, hlm.55-56)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Disyariatkan berkhutbah di atas mimbar seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Di antara hikmah berkhutbah di atas mimbar adalah memudahkan makmum untuk melihat khatib dan mendengarkan khutbahnya.”
(Fathu Al-Bari, 2:400)

Beliau juga berkata;
“Keseringan dari khutbah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dilakukan di atas mimbar masjid, kecuali khutbah dua id (Idul Fithri dan Idul Adha), lalu di musim haji serta semacamnya.”
(Fathu Al-Bari, 3:403)

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan;
“Di antara bentuk bidah adalah membuat tingkatan mimbar lebih dari tiga tingkat (anak tangga).”
(Al-Ajwibah An-Nafiah, hlm.120)

Hendaknya mimbar diletakkan di sebelah kanan tempat shalat imam atau sebelah utara arah kiblat.

Imam An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan;
“Dianjurkan agar posisi mimbar di sebelah kanan mihrab. Artinya di sebelah kanan tempat imam, ketika dia berada di mihrab menghadap kiblat. Seperti ini tradisi umat Islam.”
(Al-Majmu, 4:527)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Dianjurkan agar mimbar diletakkan di sebelah kanan ketika melihat ke arah kiblat. Karena seperti inilah Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukannya.”
(Al-Mughni, 2:144)

Catatan: Penjelasan tentang posisi mimbar Rasulullah hanya bersifat anjuran atau sunnah, dan tidak menunjukkan bahwa hal tersebut wajib. Meskipun dianjurkan untuk memposisikannya demikian dalam rangka meniru keadaan yang ada di zaman Rasulullah namun, hal tersebut tidak mempengaruhi hukum khutbah dan shalat jumat.

Termasuk hal yang terlarang pada mimbar adalah membuat hiasan seperti memasang kain penutup di sekitar mimbar, apalagi kainnya harus berwarna putih, memberikan alas untuk pijakan kaki serta tempat duduk berupa karpet atau kain, dan hal-hal semisalnya.

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata;
“Di antara bentuk bidah adalah memasang kain-kain penutup di mimbar.”
(Al-Ajwibah An-Nafiah, hlm.119)

Imam Asy-Syuqairi rahimahullah menjelaskan; “Penutup-penutup pada mimbar itu adalah bidah. Padahal anak-anak yatim, para janda, dan orang-orang miskin lebih berhak mendapatkan nilai uang yang digunakan untuk membeli kain penutup tersebut.”
(As-Sunan Wa Al-Mubtadat, hlm.75)

5. Khatib Boleh Membawa Tongkat.
Jumhur ulama berpendapat disunnahkannya membawa tongkat saat berkhutbah. Ini pendapat ulama Malikiyyah, Syafiiyyah, dan Hanabilah.

Imam Malik rahimahullah menjelaskan;
“Di antara hal yang dianjurkan bagi para khatib adalah membawa tongkat saat berkhutbah Jumat, untuk bertumpu di saat mereka berdiri.”
(Al-Mudawwanah Al-Kubra, 1:232)

Imam Syafii rahimahullah menjelaskan;
“Aku suka menganjurkan para khatib berkhutbah untuk bertumpu pada sesuatu.”
(Al-Umm, 1:396)

Imam Buhuti rahimahullah juga menjelaskan;
“Disunnahkan bertumpu pada pedang, busur panah, atau tongkat saat berkhutbah dengan salah satu tangan.”
(Kasyaf Al-Qana, 2:36)

Sebagaimana ketika Fathimah binti Qais radhiyallahu anha ketika menceritakan tentang Al-Masih Dajjal, dia berkata;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَعَنَ بِمِخْصَرَتِهِ فِي الْمِنْبَرِ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda seraya memukulkan tongkat pendek beliau ke mimbar: Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah, maksud beliau adalah Madinah.”
(HR. Imam Muslim, no.5235)

Bahkan tiga khalifah setelah Rasulullah (Khulafa Ar-Rasyidin), yaitu Abu Bakar, Umar bin Khatthab, dan Utsman bin Affan radhiyallahu anhum, membawa tongkat yang biasa dibawa Rasulullah saat berkhutbah di dalam khutbah-khutbah mereka.

Sebagaimana Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila berdiri untuk khutbah, beliau mengambil tongkat lalu beliau bertumpu pada tongkat tersebut saat beliau di atas mimbar. Demikian yang diceritakan oleh Abu Dawud dan Ibnu Syihab. Kemudian perbuatan ini diikuti oleh tiga Khulafa Ar-Rasyidin sepeninggal Nabi.”
(Zadu Al-Maad, 1:179)

Ada juga ulama yang memiliki pendapat, bahwa membawa tongkat saat khutbah Jumat adalah masalah yang kondisional. Saat tongkat atau benda semisalnya yang sama fungsinya dibutuhkan, maka disunahkan membawanya. Namun, jika tidak dibutuhkan, maka tidak perlu membawa tongkat saat khutbah.

Sebagaimana Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Bertumpu pada tongkat, hanya dilakukan pada saat dibutuhkan. Jika khatib butuh tumpuan, bisa jadi karena fisiknya lemah sehingga butuh pegangan tongkat, maka bertumpu pada tongkat pada kondisi seperti ini hukumnya sunnah. Karena tongkat tersebut membantunya untuk berdiri, yang itu hukumnya sunnah.”
(Syarhu Al-Mumthi, 5:63)

6. Mengumandangkan Dan Menjawab Adzan.
Sahabat As-Saib bin Yazid radhiyallahu anhu bercerita;

كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ. قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ
“Adzan untuk panggilan shalat Jumat pada awalnya dilakukan ketika imam sudah duduk di atas mimbar. Hal ini dipraktikkan sejak zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma. Ketika masa Utsman radhiyallahu anhu, dan manusia sudah semakin banyak, maka dia menambah adzan ketiga di Az-Zaura. Abu Abdillah berkata: Az-Zaura adalah bangunan yang ada di pasar di Kota Madinah.”
(HR. Imam Bukhari, no.861)

Maksud tiga adzan di atas adalah adzan pertama sebelum Utsman keluar untuk khutbah, adzan kedua adalah ketika beliau sudah duduk di atas mimbar, dan adzan yang ketiga adalah iqamah, karena iqamah juga dinamakan adzan.

Imam Syafii rahimahullah berkata;
“Aku menyukai untuk dikumandangkan adzan pada hari Jumat ketika imam (khatib) telah masuk masjid dan duduk di tempat dia berkhutbah (mimbar). Apabila imam telah melakukan hal tersebut, muadzin mulai mengumandangkan adzan. Apabila telah selesai adzan, imam berdiri menyampaikan khutbahnya, tidak lebih dari itu. Lalu menyebutkan hadits As-Saib bin Yazid di atas, kemudian berkata: Atha mengingkari atau tidak menyetujui bahwa yang melakukan adzan ketiga itu adalah Utsman. Atha berkata, bahwa yang membuat adzan Jumat menjadi tiga itu adalah Muawiyah. Namun, siapa pun yang melakukan tiga adzan pertama kali, perkara yang ada di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut (mengumandangkan satu adzan dan satu iqamah) tetap lebih aku sukai.”
(Al-Umm, 1:503-504)

• Waktu shalat Jumat.
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Waktu shalat Jumat dimulai sejak tergelincir matahari, hingga akhir waktu shalat Zhuhur. Dan inilah waktu yang disepakati oleh para ulama.”
(Al-Mughni, 3:160)

Apakah boleh dikerjakan sebelum tergelincir matahari? Maka dalam masalah ini para ulama berselisih pendapat.

– Hukumnya tidak sah.
Ini adalah pendapat jumhur ulama. Sebagaimana Sahabat Salamah bin Amru bin Al-Aqwa radhiyallahu anhu berkata;

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ
“Kami shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika matahari tergelincir. Setelah itu, kami pulang dalam keadaan masih perlu mencari-cari naungan untuk tempat berlindung.”
(HR. Imam Muslim, no.1423)

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةَ فَنَرْجِعُ وَمَا نَجِدُ لِلْحِيطَانِ فَيْئًا نَسْتَظِلُّ بِهِ
“Kami shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian kami pulang namun, kami tidak lagi mendapati naungan pada dinding untuk berteduh.”
(HR. Imam Muslim, no.1424)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan shalat Jumat ketika matahari sudah tergelincir.”
(HR. Imam Bukhari, no.853)

Imam Syafii rahimahullah menjelaskan;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para imam setelah mereka, mengerjakan shalat Jumat setelah tergencilir matahari.”
(Al-Majmu, 4:380)

– Hukumnya tetap sah.
Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Ishaq rahimahumallah. Sebagaimana Sahabat Sahl bin Saad radhiyallahu anhu berkata;

مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ
“Biasanya kami tidak pernah tidur siang dan tidak juga makan siang, kecuali setelah menunaikan shalat Jumat.”
(HR. Imam Muslim, no.1422)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan;
“Maksudnya makan dan tidur siang dalam adat bangsa Arab dahulu itu dilakukan sebelum tergelincir matahari, sebagaimana dinyatakan Ibnu Qutaibah. Demikian juga Rasulullah berkhutbah dua khutbah, kemudian diriwayatkan membaca surat Qaf, atau dalam riwayat lain surat Al-Furqan, atau dalam riwayat lain surat Al-Jumuah dan Al-Munafiqun. Seandainya beliau hanya shalat Jumat setelah tergelincir matahari, maka ketika selesai, orang akan mendapatkan bayangan benda untuk bernaung dari panas matahari dan telah keluar dari waktu makan dan tidur siang.”
(Nailu Al-Authar, hlm.3:275)

Sahabat Salamah bin Amru bin Al-Aqwa radhiyallahu anhu berkata;

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ
“Kami shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika matahari tergelincir. Setelah itu, kami pulang dalam keadaan masih perlu mencari-cari naungan untuk tempat berlindung.”
(HR. Imam Muslim, no.1423)

Imam Muhammad bin Ali bin Husain rahimahullah berkata;

أَنَّهُ سَأَلَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ مَتَى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ قَالَ كَانَ يُصَلِّي ثُمَّ نَذْهَبُ إِلَى جِمَالِنَا فَنُرِيحُهَا. زَادَ عَبْدُ اللَّهِ فِي حَدِيثِهِ حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ يَعْنِي النَّوَاضِحَ
“Bahwa dia bertanya kepada Jabir: Kapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menunaikan shalat Jumat? Dia menjawab: Biasanya beliau shalat Jumat, kemudian setelah itu kami pulang ke ternak unta kami, dan mengistirahatkannya. Abdullah menambahkan di dalam haditsnya: Saat matahari tergelincir, yakni setelah unta diberi minum.”
(HR. Imam Muslim, no.1421)

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan;
“Ini jelas menunjukkan waktu shalat Jumat dilakukan sebelum tergelincir matahari.”
(Al-Ajwiba An-Nafiah, hlm.22)

• Kesimpulan: Pendapat yang dinilai lebih kuat dan mendekati kebenaran adalah pendapat kedua. Bahwa waktu shalat Jumat adalah waktu shalat Zhuhur, dan tetap sah jika dilakukan sebelum tergelincir matahari.

Sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu bercerita;

سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى الْمِنْبَرِ أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ مُعَاوِيَةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ وَأَنَا فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ وَأَنَا فَلَمَّا أَنْ قَضَى التَّأْذِينَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا الْمَجْلِسِ حِينَ أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ يَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ مِنِّي مِنْ مَقَالَتِي
“Aku mendengar Muawiyyah bin Abu Sufyan ketika dia sedang duduk di atas mimbar dan muadzin sedang mengumandangkan adzan: Allahu Akbar Allahu Akbar, Muawiyyah mengucapkan: Allahu Akbar Allahu Akbar. Ketika muadzin membaca: Asyhadu An Laa Ilaha Illallah. Muawiyyah dan aku mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin. Dan ketika muadzin membaca: Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah, Muawiyyah dan aku mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin. Ketika adzan sudah selesai, Muawiyyah berkata: Wahai manusia, sungguh ketika adzan dikumandangkan aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan dari tempat ini seperti yang kalian dengar dari (bacaan) ucapanku tadi.”
(HR. Imam Bukhari, no.863)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar suara muadzin (orang yang mengumandangkan adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin! Kemudian bershalawatlah untukku, karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di Surga, tidaklah layak tempat tersebut, kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap termasuk hamba tersebut. Dan barang siapa memintakan wasilah untukku, maka syafaat halal untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.577)

Catatan: Menjawab adzan ini berlaku untuk setiap kali mendengar suara adzan di waktu-waktu shalat, sehingga tidak hanya di waktu shalat Jumat. Dan hendaknya dilakukan dengan suara yang pelan.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut! Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(Surat Al-Araf: ayat 55)

وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ
“Dan ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah!”
(Surat Al-Araf: ayat 205)

7. Khatib Mengawali Khutbah Dengan Khutbatul Hajah.
Adapun lafazh khutbatul hajah adalah;

إِنَّ الْحَمْدَ ِللَّهِ نَحْمَدُهُ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. KepadaNya kita memuji, memohon pertolongan dan ampunan. Kita berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa kita dan keburukan perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam!”
(Surat Ali Imran: ayat 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, serta darinya Allah menciptakan istrinya dan keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) namaNya kalian saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.”
(Surat An-Nisa: ayat 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 70-71)

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
“Amma badu: Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru (dalam agama), dan setiap yang baru itu adalah bidah, dan setiap bidah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”
(HR. Abu Dawud, no.1097)

Intinya, khutbatul hajat itu harus mengandung kalimat tasyahud (persaksian) yang itu merupakan kalimat tauhid. Karena Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu menjelaskan;

كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيْهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ
“Setiap khutbah yang tidak terdapat tasyahud di dalamnya, maka ia seperti tangan yang berpenyakit kusta atau yang terpotong.”
(HR. Abu Dawud, no.4841)

8. Menghadapkan Wajah Ke Arah Khatib.
Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا
“Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa salam berada di atas mimbar, maka kami menghadap ke arahnya dengan seluruh wajah kami.”
(HR. At-Tirmidzi, no.467)

Imam Tsabit rahimahullah berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلَهُ أَصْحَابُهُ بِوُجُوهِهِمْ
“Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam bangun dari mimbar, maka para Sahabat menghadapkan wajah-wajah mereka ke arahnya.”
(HR. Ibnu Majah, no.1126)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Jika berkhutbah Jumat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri, sementara sahabat-sahabat beliau menghadapkan wajah mereka ke arah beliau.”
(Zadu Al-Maad, 1:430)

9. Tidak Boleh Bicara Dan Berusaha Fokus Menyimak Khutbah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
“Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jumat (shalat Jumat): Diamlah! Padahal imam (khatib) sedang memberikan khutbah, maka sungguh kamu sudah berbuat sia-sia (tidak mendapat pahala).”
(HR. Imam Bukhari, no.882)

Para ulama menjelaskan;
“Mengkhususkan pembacaan hadits tersebut ketika imam sedang naik mimbar atau setelahnya, baik dibaca oleh imam ataupun muadzin, maka termasuk amalan bidah.”
(Fatawa Lajnah, 8:241-242)

Imam An-Nadhr bin Syumail rahimahullah menjelaskan;
“Kalimat Laghauta bermakna: Luput dari pahala. Ada juga ulama yang berpendapat, maksudnya adalah Tidak mendapatkan keutamaan ibadah Jumat. Ulama lain berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah ibadah Jumatnya menjadi shalat Zhuhur.”
(Fathu Al-Bari, 2:414)

Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah berkata;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam menamakannya sebagai orang yang berbuat sia-sia, padahal dia memerintahkan hal yang maruf. Maka hal itu menunjukkan wajibnya diam dan haramnya berbicara saat khatib berkhutbah.”
(Majmu Al-Fatawa, 30:252)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Hadits di atas menunjukkan larangan berbicara dengan berbagai macam bentuknya ketika imam berkhutbah. Begitu juga dengan perkataan untuk menyuruh orang diam, padahal awalnya ingin melakukan amar maruf (memerintahkan kebaikan), itupun tetap disebut ‘laghwu’ (perkataan yang sia-sia). Jika seperti itu saja dianggap sia-sia, maka perkataan yang selainnya tentu jelas terlarang. Jika kita ingin beramar maruf pada saat itu, maka cukuplah sambil diam dengan berisyarat yang membuat orang lain paham. Jika tidak bisa dipahami, cukup dengan sedikit perkataan dan tidak boleh lebih dari itu. Lalu mengenai hukum berbicara di sini haram ataukah makruh, para ulama berbeda pendapat. Imam Syafii memiliki dua pendapat dalam hal ini. Al-Qadhi berkata bahwa Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafii serta kebanyakan ulama lainnya berpendapat, wajibnya diam saat khutbah. Dalam hadits disebutkan: Ketika imam berkhutbah. Ini menunjukkan bahwa wajibnya diam dan larangan berbicara adalah ketika imam berkhutbah saja. Inilah pendapat madzhab Imam Syafii, Imam Malik, dan mayoritas (jumhur) ulama. Berbeda dengan Abu Hanifah, yang menyatakan wajib diam hingga imam keluar (masjid).”
(Syarh Shahih Muslim, 6:138-139)

Catatan;
– Hadits di atas adalah untuk pelajaran setiap umat Islam dan sebagai peringatan dalam pelaksanaan shalat Jumat, bukan untuk dibacakan atau dilafazhkan. Jadi cukup pahami maknanya, lalu amalkan!

– Adapun untuk pembicaraan satu arah (tidak terjalin komunikasi), maka masih dibolehkan seperti: Ketika khatib mengingatkan jamaah yang mengobrol, bermain, berlari, main HP, dan aktivitas semisalnya. Atau khatib mengingatkan jamaah yang belum shalat Tahiyatul masjid saat masuk masjid. Atau ucapan dari jamaah disebabkan pertanyaan khatib, seperti yang dijelaskan pada hadits di atas (point sebelumnya) tentang perintah shalat sunnah Tahiyyatul masjid pada saat masuk masjid. Atau juga sebuah ucapan karena jamaah meminta sesuatu pada saat khatib berkhutbah, seperti meminta khatib untuk menertibkan jamaah yang sedang berbincang atau berbuat keributan, membetulkan khatib ketika dia menyampaikan penjelasan atau dalil yang keliru, dan bertanya tentang suatu permasalahan muamalah ataupun ibadah.

Sebagaimana Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhuma bercerita;

أَصَابَتْ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ قَزَعَةً فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا وَضَعَهَا حَتَّى ثَارَ السَّحَابُ أَمْثَالَ الْجِبَالِ ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمُطِرْنَا يَوْمَنَا ذَلِكَ وَمِنْ الْغَدِ وَبَعْدَ الْغَدِ وَالَّذِي يَلِيهِ حَتَّى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَقَامَ ذَلِكَ الْأَعْرَابِيُّ أَوْ قَالَ غَيْرُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَهَدَّمَ الْبِنَاءُ وَغَرِقَ الْمَالُ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. فَمَا يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ السَّحَابِ إِلَّا انْفَرَجَتْ وَصَارَتْ الْمَدِينَةُ مِثْلَ الْجَوْبَةِ وَسَالَ الْوَادِي قَنَاةُ شَهْرًا وَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ نَاحِيَةٍ إِلَّا حَدَّثَ بِالْجَوْدِ
“Pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam manusia tertimpa paceklik. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang memberikan khutbah pada hari Jumat, tiba-tiba ada seorang Arab badui berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdoalah kepada Allah untuk kami! Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangan dan berdoa, dan pada saat itu kami tidak melihat sedikitpun ada awan di langit. Namun, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh beliau tidak menurunkan kedua tangannya kecuali gumpalan awan telah datang membumbung tinggi laksana pegunungan. Dan beliau belum turun dari mimbar, hingga akhirnya aku melihat hujan turun membasahi jenggot beliau shallallahu alaihi wa sallam. Maka pada hari itu, keesokan harinya, dan lusa kami terus-menerus mendapatkan guyuran hujan dan hari-hari berikutnya, hingga hari Jumat berikutnya. Pada Jumat berikut itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri seraya berkata: Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut, maka berdoalah kepada Allah untuk kami! Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa: ALLAHUMMA HAWAALAINAA WA LAA ALAINAA (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami). Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya pada gumpalan awan, melainkan awan tersebut hilang seketika. Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, Madinah juga tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan. Dan tidak seorang pun yang datang dari segala pelosok kota, kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.881)

Sahabat Al-Bara bin Azib radhiyallahu anhu juga bercerita;

خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ عَجَّلَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ فَقَامَ خَالِي أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أُصَلِّيَ وَعِنْدِي جَذَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُسِنَّةٍ قَالَ اجْعَلْهَا مَكَانَهَا أَوْ قَالَ اذْبَحْهَا وَلَنْ تَجْزِيَ جَذَعَةٌ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari Nahr (penyembelihan qurban), beliau bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali kami lakukan pada hari raya kami ini adalah shalat. Kemudian kami pulang dan melaksanakan penyembelihan qurban. Maka barang siapa mengerjakan seperti itu, berarti dia telah memenuhi sunnah kami. Dan barang siapa menyembelih qurban sebelum pelaksanaan shalat id, maka itu hanyalah daging yang dipersembahkan untuk keluarganya dan tidak sedikitpun mendapatkan (pahala) ibadah qurban. Tiba-tiba pamanku, Abu Burdah bin Niyar, berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih hewan sebelum aku shalat namun, aku masih memiliki anak kambing yang lebih baik dari kambing yang telah berumur dua tahun. Maka beliau pun bersabda: Jadikanlah ia sebagai pengganti (dari apa yang telah kamu sembelih sebelum shalat)! Atau beliau mengatakan: Sembelihlah namun, hal itu tidak berlaku bagi orang setelahmu!”
(HR. Imam Bukhari, no.915)

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
“Barang siapa yang berwudhu, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian mendatangi Jumat, mendengarkan (khutbah) tanpa berkata-kata, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dengan hari Jumat yang lain, ditambah tiga hari. Dan barang siapa yang memegang batu kerikil, maka dia telah berbuat kesia-siaan.”
(HR. Imam Muslim, no.1419)

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَمَسَّ مِنْ طِيبِ امْرَأَتِهِ إِنْ كَانَ لَهَا وَلَبِسَ مِنْ صَالِحِ ثِيَابِهِ ثُمَّ لَمْ يَتَخَطَّ رِقَابَ النَّاسِ وَلَمْ يَلْغُ عِنْدَ الْمَوْعِظَةِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهُمَا وَمَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا
“Barang siapa yang mandi untuk melaksanakan shalat Jumat dan mengenakan wewangian istrinya apabila dia mempunyai wewangian, serta memakai pakaian yang paling bagus (terbaik), kemudian tidak melangkahi pundak-pundak orang lain dan tidak main-main (fokus) dalam mendengarkan khutbah, maka dia akan mendapatkan penghapusan dosa di antara dua Jumat. Dan barang siapa yang main-main (melakukan hal yang sia-sia) dalam mendengarkan khutbah, maka baginya hanyalah pahala shalat Zhuhur.”
(HR. Abu Dawud, no.293. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Bahkan mayoritas ulama berpendapat, haram juga hukumnya makmum (jamaah) saling berbicara di antara mereka.

Sehingga ketika ada makmum yang sedang berbincang dengan orang lain pada saat khatib berkhutbah, maka kita boleh memberikan isyarat kepadanya untuk diam (tanpa berbicara atau bersuara). Termasuk ketika ada orang lain yang tertidur pada saat khutbah, maka kita dianjurkan untuk membangunkannya dengan isyarat, bukan ucapan.

Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah berkata;
“Dianjurkan untuk membangunkan mereka dengan perbuatan, bukan dengan ucapan. Sebab berbicara ketika khutbah tidak boleh (terlarang).”
(Majmu Al-Fatawa, 30:253)

Bahkan isyarat seperti itu bisa digunakan juga untuk menjawab salam di antara jamaah, menjawab bersin, menjawab adzan, mengingatkan orang lain yang tidak fokus menyimak khutbah semisal karena memainkan HP, menghentikan kegaduhan di dalam masjid, dan keadaan semisalnya.

Syaikh Abu Malik rahimahullah berkata;
“Termasuk dalam larangan adalah menjawab salam orang lain ketika imam berkhutbah. Balasannya cukup dengan isyarat.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:589)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya;
“Apa hukum menjawab salam dan menjawab bersin saat khutbah Jumat? Apa juga hukum menyodorkan tangan kepada orang yang ingin bersalaman ketika imam berkhutbah? Beliau menjelaskan: Menjawab salam orang lain dan menjawab bersin saat imam berkhutbah tidak diperbolehkan, karena hal tersebut termasuk berbicara yang terlarang dan hukumnya haram. Karena seorang muslim (jamaah) tidaklah diperintahkan untuk mengucapkan salam pada saat itu. Disebabkan salamnya tidak diperintahkan, maka demikian juga dengan balasannya. Orang yang bersin pun tidak diperintahkan mengeraskan bacaan ‘alhamdulillah’ ketika imam berkhutbah. Oleh sebab itu, ucapannya tidak perlu dibalas dengan ucapan ‘yarhamukallah’. Sedangkan menyambut jabatan tangan orang yang ingin bersalaman, sebaiknya tidak dilakukan karena termasuk membuat lalai, kecuali jika dikhawatirkan terdapat mafsadat (kerusakan), maka ketika itu tidaklah mengapa (boleh) menyambut sodoran tangannya, akan tetapi tidak boleh ditambah dengan obrolan. Lalu jelaskan juga kepadanya setelah shalat, bahwa pembicaraan saat khutbah itu haram.”
(Majmu Fatawa Wa Rasail Ibnu Utsaimin, 16:94)

Adapun untuk menjawab salam khatib (imam), maka memiliki hukum yang berbeda.

Imam Al-Mardawi rahimahullah menjelaskan;
“Menjawab salam imam (ketika dia masuk dan menghadap jamaah) dan juga menjawab setiap salam adalah sesuatu yang diperintahkan dan hukumnya fardhu kifayah bagi para jamaah umat Islam.”
(Al-Inshaf Fi Marifati Ar-Rajih Min Al-Khilaf, 4:56)

Sehingga ketika sudah ada orang yang menjawab salamnya, maka yang lain sudah tidak berkewajiban untuk menjawab salamnya. Dan hukum menjawab salam ini berlaku juga di luar majelis shalat Jumat.

Imam Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qari rahimahullah berkata;
“Menjawab salam dan tidak terdengar (di telinga orang yang memberi salam), itu belum menggugurkan kewajiban.”
(Mirqatu Al-Mafatih Syarh Misykatu Al-Mashabih, 6:13)

Selain itu, menjawab adzan pada saat khatib di atas mimbar maka dibolehkan, dan cukup diucapkan dengan suara lirih (pelan), sebagaimana hukum asal doa dan dzikir adalah dengan suara yang pelan. Dan hal ini juga berlaku untuk menjawab shalawat ketika khatib menyebut nama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar suara muadzin (orang yang mengumandangkan adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin! Kemudian bershalawatlah untukku, karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di Surga, tidaklah layak tempat tersebut, kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap termasuk hamba tersebut. Dan barang siapa memintakan wasilah untukku, maka syafaat halal untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.577)

Allah azza wa jalla berfirman;

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut! Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(Surat Al-Araf: ayat 55)

وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ
“Dan ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah!”
(Surat Al-Araf: ayat 205)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اَلْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila aku disebutkan di hadapannya, maka dia tidak mengucapkan shalawat kepadaku.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3469)

10. Tidak Boleh Tidur Saat Khatib Berkhutbah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ إِلَى غَيْرِهِ
“Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk di dalam masjid (ketika khutbah Jumat), maka hendaknya dia pindah tempat duduk ke tempat duduk yang lain.”
(HR. Abu Dawud, no.944)

Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah menjelaskan;
“Mereka memakruhkan tidur ketika khatib sedang berkhutbah. Dan mereka berkata tegas mengenai hal tersebut.”
(Al-Qaulu Al-Mubin, no.346)

Beliau juga menjelaskan;
“Mereka (para Sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras. Ibnu Aun berkata: Aku bertemu lagi dengan Ibnu Sirin, lalu bertanya: Apa komentar Sahabat tentang mereka? Ibnu Sirin menjawab: Mereka (para Sahabat) berkata, Orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal (tidak menang dan tidak juga mendapatkan ghanimah).”
(Tafsir Al-Qurthubi, 18:117)

11. Khatib Tidak Boleh Banyak Bergerak.
Imam Ibnul Atthar rahimahullah menjelaskan;
“Di antara bidah yang diharamkan ketika memberikan nasihat dan peringatan adalah banyak bergerak yang dilakukan oleh para penasihat (khatib), yaitu dengan mencondongkan badan, menjejakkan kaki, bergoyang-goyang, mencondongkan badan 1 derajat atau 2 derajat, kemudian menaikkan badan lagi serta mengobarkan jiwa para jamaah dengan teriakan dan suara yang keras. Dan juga membacakan syair-syair pengobar semangat, sehingga menyimpang dari tujuan disyariatkannya suatu nasihat dan peringatan, yang seharusnya membawa ketenangan, keagungan, dan keheningan.”
(Adab Al-Khatib, hlm.122)

Imam Syafii rahimahullah juga berkata;
“Jika seorang khatib tidak bertumpu pada sebuah tongkat, maka aku lebih suka dia mendiamkan tubuh dan kedua tangannya dengan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, atau meletakkannya pada sisi kedua tubuhnya.”
(Al-Umm, 1:230)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;
“Disunnahkan bagi seorang khatib untuk mendiamkan jari-jemari tangannya, baik meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, ataupun menyejajarkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.”
(Al-Mughni, 3:180)

12. Khatib Tidak Boleh Mengkhususkan Khutbah Kedua Hanya Untuk Berdoa.
Hal seperti ini terjadi karena sebagian khatib mengira, bahwa khutbah kedua merupakan bagian yang menyatu dari khutbah pertama. Sehingga sebagian khatib mengisi khutbah kedua hanya dengan doa atau beberapa kalimat saja, dengan tujuan untuk mempercepat khutbah kedua.

Imam Ibnul Aththar rahimahullah menjelaskan;
“Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian khatib dengan mempersingkat khutbah kedua, serta membacanya dengan suara rendah (pelan), dan tidak memperdengarkan suaranya kepada para jamaah dengan jelas karena tidak menganggapnya sebagai bagian dari khutbah dan juga tidak mengerti syariatnya, maka hal tersebut merupakan sebuah kelalaian dan kebodohan. Menurut syariat, khutbah kedua adalah khutbah yang tersendiri (terpisah dari khutbah pertama), rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, dan sunnah-sunnahnya, serta adab-adabnya, kemudian juga keharusan mendengarkannya secara jelas. Meskipun demikian, sunnahnya khutbah kedua disampaikan lebih singkat dari khutbah pertama.”
(Adab Al-Khatib, hlm.132-133)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Di antara hal-hal yang dimakruhkan dalam berkhutbah adalah terlalu mempercepat penyampaian khutbah kedua dan merendahkan suaranya.”
(Al-Majmu, 4:400)

Imam Asy-Syarbini rahimahullah berkata;
“Sesuatu yang dimakruhkan dalam khutbah adalah sesuatu yang diada-adakan oleh para khatib yang tidak mengetahui, yaitu mempercepat khutbah kedua dan merendahkan suaranya.”
(Mughni Al-Muhtaj, 1:557)

Jadi, isilah khutbah kedua dengan ilmu, nasihat, dan kalimat bermanfaat lainnya. Jangan diisi hanya dengan doa, apalagi dengan ucapan yang sangat singkat, karena Rasulullah tidak pernah melakukan hal tersebut!

13. Khatib Mengangkat Jari Telunjuk Saat Berdoa.
Sahabat Umarah bin Ruaybah radhiyallahu anhu berkata;

رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ
“Dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya (ketika menjadi khatib) di atas mimbar. Umarah lalu berkata kepadanya: Semoga Allah memburukkan kedua tanganmu ini, karena aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika menjadi khatib tidak menambah lebih dari yang seperti ini (Umarah lalu mengacungkan jari telunjuknya).”
(HR. Imam Muslim, no.847)

Al-Istighfar adalah cara berdoa dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan ke atas.

Sebagaimana Syaikh Shalih Alu Syaikh menjelaskan;
“Cara ini khusus bagi khatib yang berdiri. Jika dia berdoa, cukup jari telunjuknya menunjuk ke atas. Ini simbol dari doa dan tauhidnya. Tidak disyariatkan bagi khatib mengangkat kedua tangannya (ketika berdoa), jika dia berkhutbah sambil berdiri di atas mimbar atau di atas benda lainnya, kecuali jika sedang berdoa istisqa, maka boleh mengangkat kedua tangan.”
(Syarh Arbain An-Nawawiyyah, 1:112)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;
“Makruh bagi seorang khatib untuk mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya menunjuk dengan jari-jarinya (ke atas) ketika berdoa.”
(Al-Ikhthiyarat Al-Ilmiyyah, hlm.48)

Maka khatib shalat Jumat ketika membaca doa dalam khutbahnya cukup dengan mengacungkan jari telunjuk kanannya ke arah langit, bukan dengan mengangkat kedua tangan.

Catatan: Penjelasan mengenai posisi tangan saat berdoa, silakan bisa membaca tulisan Penulis di website Khiyaar.Com yang berjudul: Adab Berdoa.

Semoga dengan penjelasan-penjelasan di atas membuat hari Jumat yang kita lalui lebih baik dan bermakna, serta ibadah yang kita kerjakan di dalamnya lebih optimal dalam mengikuti syariat Allah dan sunnah Rasulullah. Aamiin

Kalau bukan sejak sekarang kita memperbaiki hari-hari yang kita lalui dan ibadah-ibadah yang kita kerjakan, kapan lagi?

Teruslah meminta hidayah (petunjuk) dan taufiq (kemudahan) kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu memberikan hidayah dan taufiq!

Baca pembahasan selengkapnya tentang ilmu dan ibadah seputar hari Jumat di sini.
___
@Kota Angin Majalengka,07 Muharram 1441H/06 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Shalat Jumat
Artikel sesudahnyaWAKAF PEMBUATAN UNIT USAHA UNTUK KHIYAAR TV
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here