Beranda Belajar Islam Adab Keutamaan Hari Jumat

Keutamaan Hari Jumat

397
0
BERBAGI

KEUTAMAAN HARI JUMAT

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللَّهُ لَكُمْ عِيدًا، فَاغْتَسِلُوا وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
“Wahai umat Islam, sesungguhnya saat ini adalah hari yang dijadikan oleh Allah sebagai hari raya untuk kalian. Karena sebab itu, mandilah dan kalian harus menggosok gigi (bersiwak)!”
(HR. Al-Haitsami, Majmu Az-Zawaid, 2:175. Perawinya tsiqah)

إِنَّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ يَوْمُ عِيدٍ فَلَا تَجْعَلُوا يَوْمَ عِيدِكُمْ يَوْمَ صِيَامِكُمْ إِلَّا أَنْ تَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ
“Sesungguhnya hari Jumat adalah hari raya. Karena sebab itu, janganlah kalian jadikan hari raya kalian ini sebagai hari untuk berpuasa, kecuali jika kalian berpuasa sebelum atau sesudah hari Jumat.”
(HR. Al-Arnauth, Takhriju Al-Musnad, no.8025. Sanadnya hasan)

إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
“Sesungguhnya ini adalah hari raya yang telah Allah jadikan untuk umat Islam. Barang siapa menghadiri shalat Jumat, hendaklah mandi, jika mempunyai minyak wangi hendaklah mengoleskannya, dan hendaklah kalian bersiwak!”
(HR. Al-Albani, Shahih Ibnu Majah, no.908. Hadits ini hasan)

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ قَعَدَتْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَكَتَبُوا مَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ طَوَتْ الْمَلَائِكَةُ الصُّحُفَ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُهَجِّرُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَالْمُهْدِي بَدَنَةً ثُمَّ كَالْمُهْدِي بَقَرَةً ثُمَّ كَالْمُهْدِي شَاةً ثُمَّ كَالْمُهْدِي بَطَّةً ثُمَّ كَالْمُهْدِي دَجَاجَةً ثُمَّ كَالْمُهْدِي بَيْضَةً
“Apabila datang hari Jumat, para Malaikat duduk di pintu-pintu masjid untuk mencatat siapapun yang menghadiri shalat Jumat. Jika imam telah keluar (mulai berkhutbah), maka Malaikat menutup lembaran-lembarannya (buku catatan amal kebaikan). Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bersegera ke masjid seperti orang yang berqurban dengan seekor unta, yang datang setelahnya seperti berqurban dengan seekor sapi, orang yang datang setelahnya seperti berqurban dengan seekor kambing, yang datang setelahnya seperti berqurban dengan seekor bebek, yang datang setelahnya seperti berkurban dengan seekor ayam, dan yang datang setelahnya seperti berqurban dengan sebutir telur.”
(HR. An-Nasai, no.1368)

أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَفِي يَدِهِ مِرْآةٌ بَيْضَاءُ فِيهَا نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَقُلْتُ مَاهَذِهِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذِهِ الْجُمُعَةُ يَعْرِضُهَا عَلَيْكَ رَبُّكَ عَزَّ وَجَلَّ لِتَكُونَ لَكَ عِيدًا وَلِقَوْمِكَ مِنْ بَعْدِكَ تَكُونُ أَنْتَ الْأَوَّلُ وَتَكُونُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى مِنْ بَعدِكَ قَالَ مَا لَنَا فِيهَا قَالَ فِيهَا خَيْرٌ لَكُمْ فِيهَا سَاعَةٌ مَنْ دَعَا رَبَّهُ فِيهَا بِخَيْرٍ هُوَ لَهُ قَسْمٌ إِلَّا أََعْطَاهُ إِيَّاهُ أَوْ لَيْسَ بِقَسْمٍ إِلَّا ادُّخِرَ لَهُ مَا هُوَ أَعْظَمُ مِنْهُ أَوْ تَعَوَّذَ فِيهَا مِنْ شَرٍّ هُوَ عَلَيْهِ مَكْتُوبٌ إِلَّا أَعَاذَهُ أَوْ لَيْسَ عَلَيْهِ مَكْتُوبًا إِلَّا أَعَاذَهُ مِنْ أَعْظَمَ مِنْهُ قُلْتُ مَا هَذِهِ النُّكْتَةُ السَّوْدَاءُ فِيهَا قَالَ هَذِهِ السَّاعَةُ تَقُومُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ سَيِّدُ الْأيَّامِ عِنْدَنَا وَنَحْنُ نَدْعُوهُ فِي الْآخِرَةِ يَوْمَ الْمَزِيدِ قُلْتُ لِمَ تَدْعُونَهُ يَوْمَ الْمَزِيدِ قَالَ إِنَّ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ اتَّخَذَ فِي الْجَنَّةِ وَادِيًا أَفْيَحَ مِنْ مِسْكٍ أَبْيَضَ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ نَزَلَ تَبَارَكَ وَتَعالَى مِنْ عِلِّيِّينَ عَلَى كُرْسِيِّهِ ثُمَّ حَفَّ الْكُرْسِيَّ بِمَنَابِرَ مِنْ نُورٍ وَجَاءَ النَّبِيُّونَ حَتَّى يَجْلِسُوا عَلَيْهَا ثُمَّ حَفَّ الْمَنَابِرَ بِكَرَاسِيَّ مِنْ ذَهَبٍ ثُمَّ جَاءَ الصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ حَتَّى يَجْلِسُوا عَلَيْهَا ثُمَّ يَجِيءُ أَهْلُ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا عَلَى الْكَثِيبِ فَيَتَجَلَّى لَهُمْ رَبُّهُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَتَّى يَنْظُرُوا إِلَى وَجْهِهِ وَهُوَ يَقُولُ أَنَا الَّذِي صَدَقْتُكُمْ وَعْدِي وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتي هَذَا مَحَلُّ كَرَامَتِي فَسَلُونِي فَيَسْأَلُونَهُ الرِّضَا فَيَقُولُ عَزَّ وَجَلَّ رِضَائِي أُحِلُّكُمْ دَارِي وَأَنَالُكُمْ كَرَامَتِي فَسَلُونِي فَيَسْأَلُونَهُ حَتَّى تَنتَهِيَ رَغْبَتُهُمْ فَيَفْتَحُ لَهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ إِلَى مِقْدَارِ مُنْصَرَفِ النَّاسِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعةِ ثُمَّ يَصْعَدُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى كُرْسِيِّهِ فَيَصْعَدُ مَعَهُ الشُّهَدَاءُ وَالصِّدِّيقُونَ أَحْسِبُهُ قَالَ وَيَرْجِعُ أَهْلُ الْغُرَفِ إِلَى غُرَفِهِمْ دُرَّةٍ بَيْضَاءَ لَا فَصْمَ فِيهِ وَلَا وَصْمَ أَوْ يَاقُوتَةٍ حَمْرَاءَ أَوْ زَبَرْجَدَةٍ خَضْرَاءَ مِنْهَا غُرَفُهَا وَأَبْوَابُهَا مُطَّرِدَةٌ فِيهَا أَنْهَارُهَا مُتَدَلِّيَةٌ فِيهَا ثِمَارُهَا فِيهَا أَزْوَاجُهَا وَخَدَمُهَا فَلْيَسُوا إِلَى شَيْءٍ أَحْوَجَ مِنْهُمْ إِلَى يَوْمِ الْجُمُعَةِ لِيَزْدَادُوا فِيهِ كَرَامَةً وَلِيَزْدَادُوا فِيهِ نَظَرًا إِلَى وَجْهِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَلِذَلِكَ دُعِيَ يَوْمَ الْمَزِيدِ
“Jibril alaihissalam pernah mendatangiku, dan di tangannya ada sesuatu seperti kaca putih. Di dalam kaca tersebut, ada titik hitam. Aku pun bertanya: Wahai Jibril, ini apa? Beliau menjawab: Ini hari Jumat. Aku bertanya lagi: Apa maksudnya hari Jumat? Jibril mengatakan: Kalian mendapatkan kebaikan di dalamnya. Aku bertanya: Apa yang kami peroleh di hari Jumat? Beliau menjawab: Hari Jumat menjadi hari raya untukmu dan untuk kaummu dari sepeninggalmu. Sementara, orang Yahudi dan Nashrani mengikutimu (hari raya Sabtu-Ahad). Aku bertanya: Apa lagi yang kami peroleh di hari Jumat? Beliau menjawab: Di dalamnya, ada satu kesempatan waktu, jika ada seorang muslim berdoa bertepatan dengan waktu tersebut, untuk urusan dunia serta akhiratnya, dan itu menjadi jatahnya di dunia, maka pasti Allah kabulkan doanya tersebut. Jika itu bukan jatahnya, maka Allah simpan untuknya dengan wujud yang lebih baik dari perkara yang dia minta, atau dia dilindungi dan dihindarkan dari keburukan yang ditakdirkan untuk menimpanya, yang nilainya lebih besar dibandingkan doanya tersebut. Aku bertanya lagi: Apa titik hitam ini? Jibril menjawab: Ini adalah Kiamat, yang akan terjadi di hari Jumat. Hari ini merupakan pemimpin hari yang lain menurut kami. Kami menyebutnya sebagai Yaumul Mazid, hari tambahan pada hari Kiamat. Aku bertanya: Apa sebabnya? Jibril menjawab: Karena Rabbmu (Allah) menjadikan satu lembah dari minyak wangi putih. Apabila hari Jumat tiba, Dia Dzat yang maha suci turun dari Illiyin di atas kursiNya. Kemudian, kursi tersebut dikelilingi emas yang dihiasi dengan berbagai perhiasan. Kemudian, datanglah para Nabi, dan mereka duduk di atas mimbar. Kemudian, datanglah para penghuni Surga dari kamar mereka, lalu duduk di atas bukit pasir. Kemudian, Rabbmu (Allah) Dzat yang maha suci lagi maha tinggi, menampakkan diriNya kepada mereka, dan berfirman: Mintalah, pasti Aku beri untuk kalian! Maka mereka meminta ridhaNya. Allah pun berfirman: RidhaKu adalah Aku halalkan untuk kalian rumahKu, dan Aku jadikan kalian berkumpul di kursi-kursiKu. Maka sebab itu, mintalah pasti Aku beri! Mereka pun meminta kepadaNya. Kemudian Allah bersaksi kepada mereka, bahwa Allah telah meridhai mereka. Akhirnya, dibukakanlah sesuatu untuk mereka, yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati seseorang. Dan itu terjadi selama kegiatan kalian di hari Jumat, sehingga tidak ada yang lebih mereka nantikan, melebihi hari Jumat, agar mereka bisa semakin sering melihat Rabb mereka dan mendapatkan tambahan kenikmatan dariNya. Dan karena itu, hari tersebut dinamakan Yaumul Mazid.”
(HR. Al-Albani, Shahih At-Targhib, no.3761. Hadits ini hasan lighairihi)

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُهْبِطَ وَفِيهِ تِيبَ عَلَيْهِ وَفِيهِ مَاتَ وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا وَهِيَ مُسِيخَةٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ حِينَ تُصْبِحُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ شَفَقًا مِنْ السَّاعَةِ إِلَّا الْجِنَّ وَالْإِنْسَ وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يُصَادِفُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ حَاجَةً إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهَا
“Sebaik-baik hari ketika matahari terbit adalah hari Jumat, pada hari tersebut Adam diciptakan, pada hari tersebut Adam diturunkan dari Surga, pada hari tersebut pula taubatnya diterima, pada hari tersebut juga dia wafat, pada hari tersebut Kiamat akan terjadi, dan tidak ada binatang melata satu pun, kecuali mereka menunggu pada hari Jumat sejak Shubuh hingga terbit matahari karena takut akan datangnya hari Kiamat, kecuali Jin dan manusia. Pada hari Jumat ada satu waktu yang tidaklah seorang mukmin mengerjakan shalat dan berdoa meminta sesuatu kepada Allah yang bertepatan dengan waktu tersebut, kecuali Allah akan mengabulkannya.”
(HR. Abu Dawud, no.882)

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.”
(HR. At-Tirmidzi, no.994. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Baca pembahasan selengkapnya tentang ilmu dan ibadah seputar hari Jumat di sini.
___
@Kota Angin Majalengka,07 Muharram 1441H/06 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaBerobat Kepada Orang Yang Tepat
Artikel sesudahnyaAmalan Di Hari Jumat
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here