Beranda Belajar Islam Amalan Berobat Kepada Orang Yang Tepat

Berobat Kepada Orang Yang Tepat

121
0
BERBAGI

Berobat Kepada Orang Yang Tepat

Mungkin itu adalah kalimat nasihat atau pesan yang sering kita dengar dari orang-orang di sekitar ketika kita sedang sakit.

Maka, berobatlah kepada orang yang tepat!

Ketika kita sedang mengalami sakit tenggorokan, maka berobatlah ke dokter THT, jangan berobat ke dokter jantung!

Ketika kita sedang mengalami sakit mata, maka berobatlah ke dokter mata, jangan berobat ke dokter gigi!

Ketika kita sedang mengalami sakit struk, maka berobatlah ke dokter saraf, jangan berobat ke dokter umum!

Itu seperti itu harus kita lakukan, karena ketika kita berobat kepada orang yang tidak tepat (bukan ahli), maka bukan kesembuhan yang cepat kita dapatkan, malah penyakit yang meningkat kita rasakan.

Orang yang tepat, maka akan memberikan obat yang tepat. Sehingga dengan izin Allah itu semua akan menjadi sebab kesembuhan dari Allah azza wa jalla.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
“Allah tidak akan menurunkan penyakit, melainkan menurunkan juga obatnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.5246)

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, maka akan sembuhlah penyakit tersebut, dengan izin Allah azza wa jalla.”
(HR. Imam Muslim, no.4084)

Untuk urusan kesehatan, kita berusaha optimal dalam pengobatannya. Berobat ke orang yang tepat meskipun harus menempuh perjalanan jauh, berusaha mematuhi semua saran dari ahli kesehatan, dan bersedia mengeluarkan biaya yang besar.

Selain itu, apakah kita sudah tahu ternyata di antara penyakit-penyakit yang berbahaya seperti di atas dan semisalnya, ada penyakit lain yang lebih berbahaya dampaknya?

Penyakit ini lebih berbahaya dampaknya, karena jika dibiarkan dan tidak segera disembuhkan, maka dampaknya akan membuat si pelakunya menderita di dunia dan juga di akhirat, penyakit tersebut adalah kebodohan.

Kita saksikan dampak kebodohan, sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَيَوْمَ يُعْرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ عَلَى ٱلنَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَٰتِكُمْ فِى حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنْيَا وَٱسْتَمْتَعْتُم بِهَا فَٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ ٱلْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَبِمَا كُنتُمْ تَفْسُقُونَ. وَٱذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنذَرَ قَوْمَهُۥ بِٱلْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦٓ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ. قَالُوٓا۟ أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ ءَالِهَتِنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ. قَالَ إِنَّمَا ٱلْعِلْمُ عِندَ ٱللَّهِ وَأُبَلِّغُكُم مَّآ أُرْسِلْتُ بِهِۦ وَلَٰكِنِّىٓ أَرَىٰكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ
“Dan ingatlah pada hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke Neraka (seraya dikatakan kepada mereka): Kalian telah menghabiskan rezeki yang baik untuk kehidupan dunia kalian, dan kalian telah bersenang-senang menikmatinya, maka pada hari ini kalian dibalas dengan adzab yang menghinakan, karena kalian sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran, dan karena kalian berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah). Dan ingatlah (Hud) saudara kaum Ad, yaitu ketika dia mengingatkan kaumnya tentang bukit-bukit pasir, dan sesungguhnya telah berlalu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan setelahnya (sambil berkata): Janganlah kalian menyembah selain Allah, aku sungguh khawatir nanti kalian ditimpa adzab pada hari yang besar! Mereka menjawab: Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari menyembah tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami adzab yang telah engkau ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang yang benar. Dia (Hud) berkata: Sesungguhnya ilmu tentang hal tersebut hanya kepada Allah, dan aku hanya menyampaikan kepada kalian sesuatu yang diwahyukan kepadaku, tetapi aku melihat kalian adalah kaum yang berbuat bodoh.”
(Surat Al-Ahqaf: ayat 20-23)

Kebodohan bisa membuat pelakunya menderita secara perlahan, tapi pasti. Karena kebodohan tidak hanya membuat pelakunya terjerumus dalam kesalahan namun, bisa membuat pelakunya juga terjerumus dalam kesyirikan.

Tidak sedikit, di antara kita suka menyalahkan orang lain dengan sesuatu yang kita anggap salah, padahal itu adalah sesuatu yang benar. Namun, disebabkan kebodohan tersebut yang membuat kita tidak mengetahui mana yang benar untuk kita kerjakan dan mana yang salah untuk kita tinggalkan.

Kebodohan hanya bisa diobati dengan belajar, karena dengan belajar akan mendapatkan ilmu, dan ilmu akan membuat kita mengetahui mana yang benar untuk dilakukan, mana yang salah untuk ditinggalkan. Dan ilmu tidak bisa asal diambil dari sembarangan orang, karena Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah menjelaskan;

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Ilmu adalah bagian dari agama, sebab itu perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama kalian!”
(Siyar Alam An-Nubala, 4:606)

Maka, belajarlah kepada orang yang tepat!

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang yang beragama Islam.”
(HR. Ibnu Majah, no.224)

Lalu Allah azza wa jalla berfirman;

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ilmu), jika kalian tidak mengetahui!”
(Surat An-Nahl: ayat 43)

Salah satu alasan yang mengharuskan kita mengobati kebodohan dengan belajar kepada orang yang tepat yaitu orang yang berilmu, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ
“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang ulamanya banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang meminta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu tersebut lebih baik daripada berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-mintanya banyak dan yang memberinya sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik daripada beramal.”
(HR. Al-Albani, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.3189)

Di zaman sekarang sudah terbukti adanya kebenaran sabda Rasulullah tersebut, dengan banyaknya orang yang suka berbicara masalah agama, mengajarkan ilmu agama kepada umat namun, tanpa ilmu. Maksudnya hanya dengan bermodalkan buku, artikel yang dibacanya, tanpa dipelajari, dipahami, dan tidak berusaha mengamalkan serta mendakwahkannya dengan istiqamah.

Setiap orang yang tidak berilmu namun, berani berbicara masalah ilmu tanpa ilmu, maka dia adalah Ruwaibidhah. Maka jauhilah orang-orang yang semacam itu!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Sebelum munculnya Dajjal akan ada beberapa tahun munculnya para penipu. Sehingga orang jujur didustakan, sedangkan pendusta dibenarkan. Orang yang amanah dikhianati, sedangkan orang yang suka berkhianat dipercaya, dan para Ruwaibidhah ikut angkat bicara. Ada yang bertanya: Apa itu Ruwaibidhah? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang fasiq yang berbicara tentang persoalan publik.”
(HR. Ahmad, no.12820. Syaikh Al-Arnauth menyatakan hadits ini hasan)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Fasiq adalah orang yang melakukan dosa besar, atau orang yang terus-menerus melakukan dosa kecil.”
(Fathu Dzi Al-Jalali Wa Al-Ikram, 4:472)

Seorang guru yang tepat untuk kita belajar dengannya adalah dia yang kalau berbicara masalah ilmu selalu dengan firman Allah dan sabda Rasulullah, serta memahami keduanya dengan cara pemahamannya para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum. Lalu memiliki keyakinan (akidah) yang selamat dari kesesatan dan cara beragama (manhaj) yang lurus dari kekeliruan.

Jika kita ingin tahu sosok guru tersebut adalah orang yang tepat untuk kita ambil ilmunya ataukah tidak, silakan bertanya tentangnya kepada para guru yang sudah jelas keimanan dan keilmuannya, biarkan mereka yang mempertimbangkan sosok guru tersebut dengan ilmunya. Namun, jika para guru yang ada di sekitar kita tidak mengetahui tentang sosok guru tersebut, kita bisa terus mencari tahu tentangnya dari para guru yang berada di luar daerah kita. Karena terkadang, ada beberapa guru yang layak diambil ilmunya namun, tidak dikenal di setiap daerah.

Bersyukurlah kita, yang saat ini masih diberikan kemudahan oleh Allah azza wa jalla, sehingga masih bisa memiliki guru yang dengan akhlak dan ilmunya mau membimbing dan mengajar kita, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap para Sahabatnya radhiyallahu anhum.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;

مَنْ فَارَقَ الدَّلِيْلَ ضَلَّ السَّبِيْل وَلاَ دَلِيْلَ إِلاَّ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُوْلُ
“Barang siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu dia akan tersesat. Dan tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita, selain dengan mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
(Miftah Dari As-Saadah, 1:299)

Manfaatkan kesempatan adanya para guru yang sudah bersedia menyediakan waktunya untuk mengangkat kebodohan yang ada dalam diri kita, karena mungkin suatu saat nanti kesempatan tersebut akan menghilang.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka (orang-orang bodoh) ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”
(HR. Imam Bukhari, no.98)

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah diangkatnya ilmu serta tersebarnya kebodohan, dan diminumnya khamer serta praktik perzinaan secara terang-terangan.”
(HR. Imam Bukhari, no.78)

Sebetulnya orang yang belajar ilmu agama itu sedang membentuk ideologi (pola pikir). Sehingga ketika sumber ilmunya adalah orang sesat, maka akan terbentuk ideologi yang sesat juga pada orang tersebut. Jika yang menjadi sumber ilmunya adalah orang bodoh, maka akan terbentuk ideologi yang bodoh juga pada orang tersebut. Maka sebab itu, perhatiankan siapa yang menjadi guru kita!

Sebagian orang memiliki prinsip: “Ketika dia mengikuti ajaran seorang guru, maka dia bebas dari tanggung jawab. Sehingga ketika dia salah dalam beramal yang disebabkan karena salah dalam mengikuti guru, nanti yang akan menanggung dosanya tersebut adalah gurunya.”

Prinsip semacam itu tidak benar, karena bertentangan dengan syariat Islam. Karena Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
“Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.”
(Surat Al-Isra: ayat 15)

Kemudian ada satu dampak dahsyat lagi yang akan dirasakan oleh orang-orang yang belajar untuk menghilangkan penyakit kebodohannya kepada orang yang tidak tepat, maka mereka pun akan mendapatkan penderitaan yang sudah Allah jelaskan dalam firmanNya;

قَالَ ٱدْخُلُوا۟ فِىٓ أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ فِى ٱلنَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُوا۟ فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَىٰهُمْ لِأُولَىٰهُمْ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَـَٔاتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ ٱلنَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ
“Allah berfirman: Masuklah kalian ke dalam api Neraka bersama golongan jin dan manusia yang sudah lebih dahulu dari kalian! Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya. Sehingga apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang masuk belakangan kepada orang yang sudah masuk terlebih dahulu: Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api Neraka yang berlipat ganda kepada mereka! Allah berfirman: Masing-masing mendapatkan siksaan yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.”
(Surat Al-Araf: ayat 38)

Kemudian orang-orang yang sudah lebih dahulu masuk Neraka juga membalas perkataan tersebut. Allah berfirman;

وَقَالَتْ أُولَىٰهُمْ لِأُخْرَىٰهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ
“Dan orang yang sudah masuk Neraka lebih dahulu berkata kepada orang yang masuk belakangan: Kalian tidak memiliki kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan!”
(Surat Al-Araf: ayat 39)

Kita saksikan, mereka saling menyalahkan dan bahkan meminta kepada Allah, agar siksaan orang yang telah membuatnya tersesat di dunia ditambahkan berlipat ganda.

Allah juga bercerita, tentang penyesalan sebagian penghuni Neraka karena mereka mengikuti tokoh atau orang yang sesat ketika di dunia. Allah berfirman;

وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًا. يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا. لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا
“Dan ingatlah, pada hari ketika orang-orang zhalim menggigit dua jarinya (menyesali perbuatannya) sambil berkata: Aduhai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Aduhai, celaka aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Quran) ketika itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.”
(Surat Al-Furqan: ayat 27-29)

Kita saksikan penyesalan mereka di hari Kiamat, hingga mereka gigit jari. Mereka menyesal, dahulu mengikuti para guru yang sesat tersebut. Padahal sudah sampai kepadanya peringatan yang sangat jelas, yang menunjukkan kesesatannya.

Sebab itulah, semua orang yang beriman harusnya menyadari, bahwa mengambil sumber ilmu itu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah azza wa jalla, sehingga prinsip-prinsip yang keliru seperti di atas harus ditinggalkan. Jika orang tersebut jelas menyimpang, membela sesuatu yang salah, menyalahkan sesuatu yang benar, maka jangan lagi dijadikan referensi dalam belajar ilmu agama!

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Kaki Anak Adam tidak akan bergeser pada hari Kiamat dari sisi Rabbnya hingga ditanya tentang 5 hal: Tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia gunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh, lalu kemana dia infakkan, dan tentang sesuatu yang telah dia lakukan dengan ilmunya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2340)

Agar kita bisa menjadi orang yang sukses dalam belajar, silakan baca dan pelajari tulisan ilmiah Penulis yang berjudul: Kiat Menjadi Pelajar Yang Sukses.

Apakah tidak menyedihkan, ketika saat ini kita yang haus dengan ilmu, lalu kita belajar dengan orang yang tidak tepat, misal karena dia bukan orang yang berilmu atau memiliki kesesatan dalam memahami ilmu lalu bermasalah dalam akidahnya, kemudian di akhirat ketika kita mendapatkan siksaan dari Allah disebabkan perbuatan dosa yang kita lakukan karena kesalahan kita dalam mempelajari dan memahami ilmu, kemudian orang yang sudah mengajarakan ilmu yang salah kepada kita di dunia malah berkata: Mampus (rasakan)!

Lalu ketika kita sakit maukah kita berobat ke sembarang orang? Semoga tersadarkan.
___
@Kota Angin Majalengka, 06 Muharram 1441H/05 September 2019M.
✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here