Beranda Belajar Islam Amalan Ada Apa Di Bulan Muharram?

Ada Apa Di Bulan Muharram?

217
0
BERBAGI

Ada Apa Di Bulan Muharram?

A. KEUTAMAAN

1. Bulan Haram.
Muharram di dalam bahasa Arab artinya waktu yang diharamkan. Maksudnya diharamkan untuk berbuat zhalim dan berbagai perbuatan dosa lainnya.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian di dalam 4 bulan tersebut!”
(Surat At-Taubah: ayat 36)

Imam Abu Ya’la rahimahullah menjelaskan;
“Dinamakan bulan haram karena memiliki dua makna, di antaranya: Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyah pun meyakini hal tersebut. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya, karena mulianya bulan tersebut. Demikian juga pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”
(Zadu Al-Masir, 3:173)

Bulan-bulan haram yang dimaksud adalah Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Disebut bulan haram, karena bulan ini dimuliakan oleh masyarakat Arab, sejak zaman Jahiliyah hingga zaman Islam.

Sebagaimana Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri rahimahullah menjelaskan;
“Dahulu para Sahabat menghormati Syahrul Hurum (bulan-bulan haram).”
(Al-Mushannaf, no.17301)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata;
“Allah taala menjelaskan, bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar pada orbitnya. Allah juga menciptakan matahari, bulan, dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Sebab itulah muncul cahaya matahari dan juga bulan. Sejak itu, Allah menjadikan 1 tahun menjadi 12 bulan sesuai dengan munculnya hilal. 1 tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab (Yahudi-Nashrani).”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.202)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman itu terus berputar sama seperti saat Allah menciptakan langit dan bumi, setahun ada 12 bulan, dan 4 di antaranya adalah bulan-bulan haram, dan 3 di antaranya adalah bulan-bulan yang berurutan, yaitu: Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sedangkan bulan Rajab adalah bulan Mudhar yaitu bulan yang terletak antara Jumadal Akhirah dan Syaban.”
(HR. Imam Bukhari, no.5124)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi rahimahullah menjelaskan;
“Satu dari dua kata ganti bulan dilarangnya berbuat zhalim pada ayat di atas, bisa juga dhamir tersebut kembali ke 4 bulan haram. Ini larangan khusus atas mereka dari melakukan kezhaliman di dalamnya yang disebutkan bersamaan dengan larangan berbuat zhalim pada setiap waktu. Ini untuk menunjukkan kemuliaannya yang lebih. Kezhaliman di dalamnya, dosanya lebih besar daripada di bulan-bulan selainnya.”
(Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm.373)

2. Bulan Allah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Dan seutama-utama shalat sesudah shalat Fardhu adalah shalat malam.”
(HR. Imam Muslim, no.1982)

Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan;
“Bulan Muharram betul-betul istimewa, karena disebut Syahrullah, yaitu bulan Allah. Dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah, karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.”
(Tuhfatu Al-Ahwadzi, 3:368)

Imam As-Suyuthi rahimahullah menjelaskan;
“Dinamakan bulan Allah (Syahrullah), sedangkan bulan yang lain tidak mendapatkan gelar ini, karena nama bulan ini Al-Muharram termasuk nama-nama Islami. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya, nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman Jahiliyah. Sementara dulu, orang Jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dengan nama Shafar Awwal. Kemudian ketika Islam datang, Allah ganti nama bulan ini dengan nama Al-Muharram. Sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada diriNya (Syahrullah).”
(Syarh Suyuthi Ala Shahih Muslim, 3:252)

Sebagaimana Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan;
“Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah daripada bulan Muharram. Dahulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.34)

3. Hari Asyura.
Di dalam bulan Muharram terdapat satu hari yang sangat dimuliakan oleh seluruh umat beragama. Hari tersebut adalah hari Asyura (10 Muharram). Kaum Yahudi memuliakan hari ini, karena hari Asyura adalah hari kemenangan Nabi Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Firaun dan para tentaranya.

Sebagaimana Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bercerita;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapati mereka (orang-orang Yahudi) melakukan puasa hari Asyura (10 Muharam) dan mereka berkata: Ini adalah hari raya, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan Firaun. Lalu Nabi Musa alaihissalam mempuasainya sebagai wujud syukur kepada Allah. Maka beliau bersabda: Akulah yang lebih utama (dekat) terhadap Nabi Musa daripada mereka. Maka Rasulullah berpuasa pada hari tersebut (Asyura) dan memerintahkan juga umatnya untuk mempuasainya.”
(HR. Imam Bukhari, no.3145)

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram), dan beliau juga memerintahkan para Sahabatnya untuk berpuasa. Para Sahabat berkata: Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Pada tahun depan insyaallah, kita akan berpuasa pada hari ke 9 Muharram. Maka belum sampai tahun depan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat.”
(HR. Imam Muslim, no.1916)

B. AMALAN

1. Mengerjakan Amal Shalih.
Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma menjelaskan;
“Allah mengkhususkan 4 bulan tersebut sebagai bulan haram, dan dianggap sebagai bulan suci. Melakukan maksiat pada bulan-bulan tersebut dosanya akan lebih besar dan amal shalih yang dikerjakan akan menuai pahala yang lebih banyak.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.207)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah juga menjelaskan;
“Karena pada saat itu adalah waktu yang sangat baik untuk melakukan berbagai amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata: Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.214)

Imam Abu Ya’la rahimahullah menjelaskan;
“Dinamakan bulan haram karena memiliki dua makna, di antaranya: Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyah pun meyakini hal tersebut. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya, karena mulianya bulan tersebut. Demikian juga pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”
(Zadu Al-Masir, 3:173)

Jadi, berusahalah untuk banyak mengerjakan berbagai amalan-amalan sunnah di dalam bulan Muharram! Karena setiap perbuatan yang dilakukan pada bulan-bulan haram, termasuk di dalamnya bulan Muharram, maka balasannya berlipat ganda.

2. Mengerjakan Puasa Sunnah.
Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bercerita;

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram), dan beliau juga memerintahkan para Sahabatnya untuk berpuasa. Para Sahabat berkata: Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Pada tahun depan insyaallah, kita akan berpuasa pada hari ke 9 Muharram. Tahun depan itupun tidak kunjung tiba, hingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat.”
(HR. Imam Muslim, no.1916)

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
“Seandainya tahun depan aku masih hidup, niscaya aku benar-benar akan berpuasa pada hari ke 9 Muharram.”
(HR. Imam Muslim, no.1917)

Lalu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Adapun puasa di hari Asyura, aku memohon kepada Allah agar puasa tersebut bisa menghapus dosa setahun sebelumnya.”
(HR. Imam Muslim, no.1976)

Sahabat Abu Qatadah radhiyallahu anhu bercerita;

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Kemudian Rasulullah ditanya tentang puasa di hari Asyura, lalu beliau menjawab: Itu akan menghapus dosa-dosa sepanjang tahun yang telah berlalu.”
(HR. Imam Muslim, no.1977)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita;

سُئِلَ أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَيُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya: Shalat apakah yang paling utama setelah shalat maktubah (wajib)? Dan puasa apakah yang paling utama setelah puasa Ramadhan? Maka beliau menjawab: Seutama-utama shalat setelah shalat maktubah (wajib) adalah shalat pada sepertiga akhir malam, dan seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.”
(HR. Imam Muslim, no.1983)

Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Hadits ini menunjukkan, bahwa bulan Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk mengerjakan puasa sunnah.”
(Syarah Shahih Muslim, 8:55)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan;
“Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) adalah puasa di bulan Muharram (Syahrullah).”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.67)

Jadi, berusahalah untuk memperbanyak puasa sunnah pada hari-hari di bulan Muharram, jika tidak bisa maka berusahalah untuk berpuasa di hari Asyura (10 Muharram)!

3. Tidak Ada Ritual.
Meskipun di dalam bulan-bulan haram, termasuk pada bulan Muharram dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih namun, tidak ada satupun dalil shalih yang menjelaskan adanya ritual amalan khusus yang harus dilakukan di bulan Muharram.

Sebagaimana para ulama ushul fiqh menjelaskan;

‎اَلْأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ المَنْعُ إِلاَّ لِنَصٍّ وَ فِي الْعَادَاتِ الْإِبَاحَةُ إِلاَّ لِنَصٍّ
“Hukum asal ibadah (perkara agama) itu dilarang, kecuali kalau ada nash (dalil) yang membolehkannya. Adapun hukum asal adat kebiasaan (perkara dunia) itu adalah dibolehkan, kecuali kalau ada nash yang melarangnya.”

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata;
“Hafalkan kaidah ini, maka sesungguhnya ini sangat penting.”
(At-Tawasshulu Wa Anwauhu Wa Ahkamuhu, hlm.30)

Lakukanlah amalan-amalan wajib dan sunnah yang berdasarkan dalil dari Al-Quran atau As-Sunnah di bulan-bulan haram, teruslah istiqamah dalam melakukannya, terkhusus ibadah yang bersifat sunnah, kita boleh menambah kualitas dan kuantitasnya!

Tidak boleh asal melakukan ibadah kepada Allah, kecuali dengan dalil yang shahih sumbernya. Maka telitilah setiap amalan yang akan kita kerjakan, ada dalilnya ataukah tidak? Jika ada, maka lakukan. Tapi jika tidak ada, maka tinggalkan! Kalau kita tidak bisa menelitinya sendiri, maka konsultasikan kepada Ahli Ilmu, semisal ustadz yang berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah, serta memahami keduanya dengan cara para Sahabat Nabi memahaminya.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah (contoh) dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”
(HR. Imam Muslim, no.3243)

Lalu ada satu hal yang harus diingat, bahwa sudah seharusnya kita mencukupkan diri dengan amalan yang dicontohkan dan diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam masalah ini dengan komitmen. Karena kalau saja suatu amalan tersebut benar sesuai perintah Allah atau sunnah Rasulullah, tentu para Sahabat juga akan bersegera dalam melakukannya.

Karena rumus dalam beribadah adalah mengikut perintah dari Allah dan contoh dari Rasulullah. Jadi tolak ukur (standar) dalam beribadah bukan berdasarkan penilaian baik, tapi berdasarkan penilaian dalil.

Allah azza wa jalla berfirman;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوٓا۟ أَعْمَٰلَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kalian merusak amal-amal kalian!”
(Surat Muhammad: ayat 33)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemerintah) di antara kalian. Kemudian, jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (As-Sunnah), jika kalian beriman kepada Allah dan hari Kiamat. Yang demikian itu, lebih utama dan lebih baik akibatnya.”
(Surat An-Nisa: ayat 59)
___
@Kota Udang Cirebon, 01 Muharram 1440H/30 Agustus 2019M.

✍ Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMAU HARTANYA TIDAK PERNAH HABIS?
Artikel sesudahnyaBerobat Kepada Orang Yang Tepat
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here