Beranda Belajar Islam Amalan Si Pebisnis Yang Hartanya Tidak Pernah Habis

Si Pebisnis Yang Hartanya Tidak Pernah Habis

789
0
BERBAGI

Si Pebisnis Yang Hartanya Tidak Pernah Habis

Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, itulah seorang pebisnis yang kaya raya namun, tetap murah hati dan dermawan. Dan ternyata beliau hingga saat ini masih memiliki aset berupa rekening di salah satu bank di Arab Saudi, bahkan beliau pun memiliki hotel yang pajak dan tagihan listriknya juga masih atas nama beliau radhiyallahu anhu.

Berawal di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kota Madinah pernah mengalami masa sulit (paceklik), hingga kesulitan mendapatkan air bersih. Karena mereka (kaum Muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Makkah. Satu-satunya sumber air yang tersisa di Madinah adalah sumur milik seorang Yahudi, yaitu sumur Rumah, yang rasa airnya juga mirip dengan air zam-zam. Pada saat itu, kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri, bergantian, dan membeli air bersih tersebut dari seorang Yahudi.

Kemudian Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu bercerita:

هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ يُسْتَعْذَبُ غَيْرَ بِئْرِ رُومَةَ فَقَالَ مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلُ فِيهَا دَلْوَهُ مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ بِخَيْرٍ لَهُ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ صُلْبِ مَالِي فَجَعَلْتُ دَلْوِي فِيهَا مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ
“Apakah kalian mengetahui, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang ke Madinah dan tidak ada padanya air segar selain sumur Rumah? Kemudian beliau bersabda; Barang siapa membeli sumur Rumah, kemudian meletakkan padanya embernya bersama dengan ember-ember kaum muslimin dengan kebaikan darinya, maka dia akan berada di dalam Surga. Lalu aku membelinya dari hartaku secara murni, kemudian aku meletakkan padanya emberku dari ember-ember kaum muslimin.”
(HR. Nasai, No.3551)

Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu ketika mendengar adanya peluang yang sangat menggiurkan tersebut langsung bergerak cepat untuk membebaskan sumur Rumah tersebut. Beliau segera mendatangi orang Yahudi pemilik sumur Rumah, dan menawar untuk membeli sumur tersebut dengan harga yang sangat tinggi. Meskipun sudah diberi penawaran yang sangat tinggi, orang Yahudi pemilik sumur Rumah tetap menolak tawaran Sahabat Utsman bin Affan, dengan berkata:

Seandainya sumur ini aku jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan lagi yang bisa aku peroleh setiap hari. Sahabat Utsman bin Affan yang sangat ingin mendapatkan balasan pahala berupa SurgaNya Allah azza wa jalla, tidak kehabisan akal dan cara untuk mengatasi penolakan orang Yahudi si pemilik sumur tersebut. Lalu Sahabat Utsman bin Affan berkata; Bagaimana kalau aku beli setengah dari sumurmu? Jika kamu setuju, maka kita akan memiliki sumur ini secara bergantian. Satu hari sumur ini milikku dan besok hari kembali menjadi milikmu, demikian seterusnya berganti. Lalu orang Yahudi pemilik sumur Rumah berfikir; Aku bisa mendapatkan uang dengan jumlah besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku tersebut. Sehingga pada akhirnya orang Yahudi pemilik sumur Rumah setuju menerima tawaran Utsman tersebut dan disepakati juga sejak hari itu sumur Rumah adalah milik Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Setelah itu, Sahabat Utsman bin Affan pun segera mengumumkannya kepada penduduk Madinah:

Silakan mengambil air untuk kebutuhannya dan tidak perlu bayar. Sejak hari itu, kaum muslimin pun kembali mengambil air di sumur Rumah hanya di hari-hari yang menjadi waktu gilirannya Sahabat Utsman bin Affan. Sehingga orang Yahudi tersebut mendapati sumur miliknya sepi dari pembeli. Lalu orang Yahudi tersebut menemui kembali Sahabat Utsman bin Affan untuk menjual separuh sumurnya tersebut. Kemudian Sahabat Utsman bin Affan setuju, lalu dibelinya dengan harga yang sama, yaitu 12.000 dirham. Maka sejak hari itu, sumur Rumah sudah menjadi milik beliau sepenuhnya. Kemudian, Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu mewakafkan sumur Rumahnya untuk kaum muslimin, sehingga sumur Rumah bisa dimanfaatkan oleh siapa pun.

Setelah sumur Rumah diwakafkan untuk kaum muslimin dan setelah beberapa waktu, tumbuhlah di sekitar sumur Rumah beberapa pohon kurma dan terus semakin bertambah jumlahnya. Kemudian Daulah Utsmaniyyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu selanjutnya dipelihara oleh pemerintah Arab Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.

Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma tersebut ke pasar-pasar, lalu setengah dari keuntungannya disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir-miskin, sedangkan setengahnya lagi disimpan dalam bentuk rekening khusus di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departeman Pertanian. Begitu seterusnya, hingga uang yang ada di bank tersebut cukup untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel yang cukup besar di salah satu tempat yang strategis di dekat Masjid Nabawi dan bangunan hotel tersebut adalah hotel bintang 5. Setengah dari pendapatan hotel tersebut disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir-miskin dan setengahnya lagi tetap disimpan di bank atas nama Utsman bin Affan.

Sebetulnya tidak hanya sumur Rumah yang menjadi aset pahala untuk Sahabat Utsman bin Affan yang bersumber dari hartanya. Karena beliau pun pernah menggunakan hartanya untuk mempersiapkan pasukan Al-usrah, sebagaimana beliau berkata:

هَلْ تَعْلَمُونَ أَنِّي جَهَّزْتُ جَيْشَ الْعُسْرَةِ مِنْ مَالِي
“Apakah kalian mengetahui, bahwa aku telah mempersiapkan pasukan Al-usrah dari hartaku?”
(HR. Nasai, No.3551)

Lalu beliau juga pernah membeli lahan untuk memperluas masjid. Sebagaimana beliau pun berkata:

هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ الْمَسْجِدَ ضَاقَ بِأَهْلِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَشْتَرِي بُقْعَةَ آلِ فُلَانٍ فَيَزِيدُهَا فِي الْمَسْجِدِ بِخَيْرٍ لَهُ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ صُلْبِ مَالِي فَزِدْتُهَا فِي الْمَسْجِد
“Apakah kalian mengetahui, bahwa masjid telah sesak dengan penghuninya? Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Siapakah yang mau membeli lahan keluarga Fulan kemudian menambahkannya di masjid, lalu dia akan mendapatkan kebaikan di Surga? Lalu aku membelinya dari hartaku secara murni, kemudian aku tambahkan di dalam masjid.”
(HR. Nasai, No.3551)

Sahabat Utsman bin Affan adalah salah satu orang yang jasadnya sudah tiada namun, namanya selalu ada. Disebabkan amal shalih yang pernah beliau kerjakan dan kebaikan yang pernah beliau lakukan.

Karena Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
“Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang mati dan Kami catat semua yang telah mereka lakukan beserta bekas-bekas yang mereka tinggalkan.”
(QS. Yasin, Ayat 12)

Sebetulnya, rezeki milik kita adalah rezeki yang telah kita gunakan untuk beribadah kepada Allah. Bukan yang ada di dalam rekening, lemari, dompet, investasi usaha, dan semisalnya. Dan memang, berdagang dengan Allah itu selalu menguntungkan dan tidak akan pernah merugikan!

Karena Allah azza wa jalla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَٰرَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kalian Aku tunjukkan suatu perdagangan yang bisa menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih? Yaitu kalian beriman kepada Allah dan RasulNya, lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.”
(QS. Ash-shaff, Ayat 10-11)

Kisah di atas adalah salah satu cara memanfaatkan harta dengan bentuk amalan sedekah jariyah, yang pahalanya akan selalu mengalir, meskipun si pelakunya sudah wafat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang wafat, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali 3 perkara; Sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim, No.1631)

Rasulullah juga bersabda:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah Ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal) yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk fasilitas umum, atau sedekah yang dikeluarkan dari hartanya di waktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia wafat.”
(HR. Albani, Shahih Ibnu Majah, No.200. Beliau menyatakan hadits ini hasan)

Sebagai penutup, mari simak realita di bawah ini!

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَثَّ عَلَيْهِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدِي كَذَا وَكَذَا قَالَ فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلَّا تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلًا وَمِنْ أُجُورِ مَنْ اسْتَنَّ بِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلًا وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau memberi motifasi kepadanya (untuk beramal dengan sesuatu). Seorang laki-laki di antara kami berkata; Aku mempunyai seperti ini dan seperti ini. Abu Hurairah berkata; Maka tidak ada seorang pun yang ada di majelis tersebut, kecuali dia bersedekah kepada Nabi sedikit ataupun banyak. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda; Barang siapa memberikan contoh amalan sunnah yang baik, kemudian amalan sunnah tersebut menjadi teladan (diikuti), maka dia akan mendapatkan pahala amalannya secara sempurna berserta pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa memberikan contoh amalan sunnah yang buruk, kemudian amalan sunnah tersebut menjadi teladan, maka dia pun akan mendapatkan dosa dari perbuatannya secara sempurna beserta dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
(HR. Ibnu Majah, No.200)

Sungguh, betapa tingginya keimanan para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum yang selalu berlomba-lomba dalam ibadah dan berusaha mewujudkan kecintaannya kepada Allah dan RasulNya dengan berusaha patuh terhadap ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam!

رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
“Wahai Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebaikan yang Engkau ridhai. Dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir hingga kepada anak cucuku! Sungguh, aku bertaubat kepadaMu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang beragama Islam.”
(QS. Al-ahqaf, Ayat 15)

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah untukku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah untukku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini memiliki nilai tambah untukku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukkan!”
(HR. Muslim, No.4897)

اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupilah kami dengan rezekiMu yang halal (hingga kami terhindar) dari yang haram. Jadikanlah kami kaya dengan karuniaMu (hingga kami tidak meminta) kepada selainMu!”
(HR. Tirmidzi, No.3486. Syaikh Al-albani menyatakan hadits ini hasan)
___
@Kota Udang Cirebon, 27 Dzulhijjah 1440H/28 Agustus 2019M.

✍ Penulis; Abu Humairo Muhamad Fadly.

BERBAGI
Artikel sebelumnyaEnsiklopedia Hari Jumat
Artikel sesudahnyaMAU HARTANYA TIDAK PERNAH HABIS?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here