Beranda Belajar Islam Adab Ensiklopedia Hari Jumat

Ensiklopedia Hari Jumat

702
0
BERBAGI

ENSIKLOPEDIA HARI JUMAT
(Keseharian Rasulullah Di Hari Jumat)

A. KEUTAMAAN HARI JUMAT

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللَّهُ لَكُمْ عِيدًا، فَاغْتَسِلُوا وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
“Wahai umat Islam, sesungguhnya saat ini adalah hari yang dijadikan oleh Allah sebagai hari raya untuk kalian. Karena sebab itu, mandilah dan kalian harus menggosok gigi (bersiwak)!”
(HR. Al-Haitsami, Majmu Az-Zawaid, 2:175. Perawinya tsiqah)

إِنَّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ يَوْمُ عِيدٍ فَلَا تَجْعَلُوا يَوْمَ عِيدِكُمْ يَوْمَ صِيَامِكُمْ إِلَّا أَنْ تَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ
“Sesungguhnya hari Jumat adalah hari raya. Karena sebab itu, janganlah kalian jadikan hari raya kalian ini sebagai hari untuk berpuasa, kecuali jika kalian berpuasa sebelum atau sesudah hari Jumat.”
(HR. Al-Arnauth, Takhriju Al-Musnad, no.8025. Sanadnya hasan)

إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
“Sesungguhnya ini adalah hari raya yang telah Allah jadikan untuk umat Islam. Barang siapa menghadiri shalat Jumat, hendaklah mandi, jika mempunyai minyak wangi hendaklah mengoleskannya, dan hendaklah kalian bersiwak!”
(HR. Al-Albani, Shahih Ibnu Majah, no.908. Hadits ini hasan)

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ قَعَدَتْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَكَتَبُوا مَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ طَوَتْ الْمَلَائِكَةُ الصُّحُفَ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُهَجِّرُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَالْمُهْدِي بَدَنَةً ثُمَّ كَالْمُهْدِي بَقَرَةً ثُمَّ كَالْمُهْدِي شَاةً ثُمَّ كَالْمُهْدِي بَطَّةً ثُمَّ كَالْمُهْدِي دَجَاجَةً ثُمَّ كَالْمُهْدِي بَيْضَةً
“Apabila datang hari Jumat, para Malaikat duduk di pintu-pintu masjid untuk mencatat siapapun yang menghadiri shalat Jumat. Jika imam telah keluar (mulai berkhutbah), maka Malaikat menutup lembaran-lembarannya (buku catatan amal kebaikan). Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bersegera ke masjid seperti orang yang berqurban dengan seekor unta, yang datang setelahnya seperti berqurban dengan seekor sapi, orang yang datang setelahnya seperti berqurban dengan seekor kambing, yang datang setelahnya seperti berqurban dengan seekor bebek, yang datang setelahnya seperti berkurban dengan seekor ayam, dan yang datang setelahnya seperti berqurban dengan sebutir telur.”
(HR. An-Nasai, no.1368)

أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَفِي يَدِهِ مِرْآةٌ بَيْضَاءُ فِيهَا نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَقُلْتُ مَاهَذِهِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذِهِ الْجُمُعَةُ يَعْرِضُهَا عَلَيْكَ رَبُّكَ عَزَّ وَجَلَّ لِتَكُونَ لَكَ عِيدًا وَلِقَوْمِكَ مِنْ بَعْدِكَ تَكُونُ أَنْتَ الْأَوَّلُ وَتَكُونُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى مِنْ بَعدِكَ قَالَ مَا لَنَا فِيهَا قَالَ فِيهَا خَيْرٌ لَكُمْ فِيهَا سَاعَةٌ مَنْ دَعَا رَبَّهُ فِيهَا بِخَيْرٍ هُوَ لَهُ قَسْمٌ إِلَّا أََعْطَاهُ إِيَّاهُ أَوْ لَيْسَ بِقَسْمٍ إِلَّا ادُّخِرَ لَهُ مَا هُوَ أَعْظَمُ مِنْهُ أَوْ تَعَوَّذَ فِيهَا مِنْ شَرٍّ هُوَ عَلَيْهِ مَكْتُوبٌ إِلَّا أَعَاذَهُ أَوْ لَيْسَ عَلَيْهِ مَكْتُوبًا إِلَّا أَعَاذَهُ مِنْ أَعْظَمَ مِنْهُ قُلْتُ مَا هَذِهِ النُّكْتَةُ السَّوْدَاءُ فِيهَا قَالَ هَذِهِ السَّاعَةُ تَقُومُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ سَيِّدُ الْأيَّامِ عِنْدَنَا وَنَحْنُ نَدْعُوهُ فِي الْآخِرَةِ يَوْمَ الْمَزِيدِ قُلْتُ لِمَ تَدْعُونَهُ يَوْمَ الْمَزِيدِ قَالَ إِنَّ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ اتَّخَذَ فِي الْجَنَّةِ وَادِيًا أَفْيَحَ مِنْ مِسْكٍ أَبْيَضَ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ نَزَلَ تَبَارَكَ وَتَعالَى مِنْ عِلِّيِّينَ عَلَى كُرْسِيِّهِ ثُمَّ حَفَّ الْكُرْسِيَّ بِمَنَابِرَ مِنْ نُورٍ وَجَاءَ النَّبِيُّونَ حَتَّى يَجْلِسُوا عَلَيْهَا ثُمَّ حَفَّ الْمَنَابِرَ بِكَرَاسِيَّ مِنْ ذَهَبٍ ثُمَّ جَاءَ الصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ حَتَّى يَجْلِسُوا عَلَيْهَا ثُمَّ يَجِيءُ أَهْلُ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا عَلَى الْكَثِيبِ فَيَتَجَلَّى لَهُمْ رَبُّهُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَتَّى يَنْظُرُوا إِلَى وَجْهِهِ وَهُوَ يَقُولُ أَنَا الَّذِي صَدَقْتُكُمْ وَعْدِي وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتي هَذَا مَحَلُّ كَرَامَتِي فَسَلُونِي فَيَسْأَلُونَهُ الرِّضَا فَيَقُولُ عَزَّ وَجَلَّ رِضَائِي أُحِلُّكُمْ دَارِي وَأَنَالُكُمْ كَرَامَتِي فَسَلُونِي فَيَسْأَلُونَهُ حَتَّى تَنتَهِيَ رَغْبَتُهُمْ فَيَفْتَحُ لَهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ إِلَى مِقْدَارِ مُنْصَرَفِ النَّاسِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعةِ ثُمَّ يَصْعَدُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى كُرْسِيِّهِ فَيَصْعَدُ مَعَهُ الشُّهَدَاءُ وَالصِّدِّيقُونَ أَحْسِبُهُ قَالَ وَيَرْجِعُ أَهْلُ الْغُرَفِ إِلَى غُرَفِهِمْ دُرَّةٍ بَيْضَاءَ لَا فَصْمَ فِيهِ وَلَا وَصْمَ أَوْ يَاقُوتَةٍ حَمْرَاءَ أَوْ زَبَرْجَدَةٍ خَضْرَاءَ مِنْهَا غُرَفُهَا وَأَبْوَابُهَا مُطَّرِدَةٌ فِيهَا أَنْهَارُهَا مُتَدَلِّيَةٌ فِيهَا ثِمَارُهَا فِيهَا أَزْوَاجُهَا وَخَدَمُهَا فَلْيَسُوا إِلَى شَيْءٍ أَحْوَجَ مِنْهُمْ إِلَى يَوْمِ الْجُمُعَةِ لِيَزْدَادُوا فِيهِ كَرَامَةً وَلِيَزْدَادُوا فِيهِ نَظَرًا إِلَى وَجْهِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَلِذَلِكَ دُعِيَ يَوْمَ الْمَزِيدِ
“Jibril alaihissalam pernah mendatangiku, dan di tangannya ada sesuatu seperti kaca putih. Di dalam kaca tersebut, ada titik hitam. Aku pun bertanya: Wahai Jibril, ini apa? Beliau menjawab: Ini hari Jumat. Aku bertanya lagi: Apa maksudnya hari Jumat? Jibril mengatakan: Kalian mendapatkan kebaikan di dalamnya. Aku bertanya: Apa yang kami peroleh di hari Jumat? Beliau menjawab: Hari Jumat menjadi hari raya untukmu dan untuk kaummu dari sepeninggalmu. Sementara, orang Yahudi dan Nashrani mengikutimu (hari raya Sabtu-Ahad). Aku bertanya: Apa lagi yang kami peroleh di hari Jumat? Beliau menjawab: Di dalamnya, ada satu kesempatan waktu, jika ada seorang muslim berdoa bertepatan dengan waktu tersebut, untuk urusan dunia serta akhiratnya, dan itu menjadi jatahnya di dunia, maka pasti Allah kabulkan doanya tersebut. Jika itu bukan jatahnya, maka Allah simpan untuknya dengan wujud yang lebih baik dari perkara yang dia minta, atau dia dilindungi dan dihindarkan dari keburukan yang ditakdirkan untuk menimpanya, yang nilainya lebih besar dibandingkan doanya tersebut. Aku bertanya lagi: Apa titik hitam ini? Jibril menjawab: Ini adalah Kiamat, yang akan terjadi di hari Jumat. Hari ini merupakan pemimpin hari yang lain menurut kami. Kami menyebutnya sebagai Yaumul Mazid, hari tambahan pada hari Kiamat. Aku bertanya: Apa sebabnya? Jibril menjawab: Karena Rabbmu (Allah) menjadikan satu lembah dari minyak wangi putih. Apabila hari Jumat tiba, Dia Dzat yang maha suci turun dari Illiyin di atas kursiNya. Kemudian, kursi tersebut dikelilingi emas yang dihiasi dengan berbagai perhiasan. Kemudian, datanglah para Nabi, dan mereka duduk di atas mimbar. Kemudian, datanglah para penghuni Surga dari kamar mereka, lalu duduk di atas bukit pasir. Kemudian, Rabbmu (Allah) Dzat yang maha suci lagi maha tinggi, menampakkan diriNya kepada mereka, dan berfirman: Mintalah, pasti Aku beri untuk kalian! Maka mereka meminta ridhaNya. Allah pun berfirman: RidhaKu adalah Aku halalkan untuk kalian rumahKu, dan Aku jadikan kalian berkumpul di kursi-kursiKu. Maka sebab itu, mintalah pasti Aku beri! Mereka pun meminta kepadaNya. Kemudian Allah bersaksi kepada mereka, bahwa Allah telah meridhai mereka. Akhirnya, dibukakanlah sesuatu untuk mereka, yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati seseorang. Dan itu terjadi selama kegiatan kalian di hari Jumat, sehingga tidak ada yang lebih mereka nantikan, melebihi hari Jumat, agar mereka bisa semakin sering melihat Rabb mereka dan mendapatkan tambahan kenikmatan dariNya. Dan karena itu, hari tersebut dinamakan Yaumul Mazid.”
(HR. Al-Albani, Shahih At-Targhib, no.3761. Hadits ini hasan lighairihi)

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُهْبِطَ وَفِيهِ تِيبَ عَلَيْهِ وَفِيهِ مَاتَ وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا وَهِيَ مُسِيخَةٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ حِينَ تُصْبِحُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ شَفَقًا مِنْ السَّاعَةِ إِلَّا الْجِنَّ وَالْإِنْسَ وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يُصَادِفُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ حَاجَةً إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهَا
“Sebaik-baik hari ketika matahari terbit adalah hari Jumat, pada hari tersebut Adam diciptakan, pada hari tersebut Adam diturunkan dari Surga, pada hari tersebut pula taubatnya diterima, pada hari tersebut juga dia wafat, pada hari tersebut Kiamat akan terjadi, dan tidak ada binatang melata satu pun, kecuali mereka menunggu pada hari Jumat sejak Shubuh hingga terbit matahari karena takut akan datangnya hari Kiamat, kecuali Jin dan manusia. Pada hari Jumat ada satu waktu yang tidaklah seorang mukmin mengerjakan shalat dan berdoa meminta sesuatu kepada Allah yang bertepatan dengan waktu tersebut, kecuali Allah akan mengabulkannya.”
(HR. Abu Dawud, no.882)

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.”
(HR. At-Tirmidzi, no.994. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

B. AMALAN DI HARI JUMAT

1. Membaca Surat As-Sajdah Dan Al-Insan Dalam Shalat Shubuh.
Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata;

كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ وَهَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنْ الدَّهْرِ
“Bahwa biasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika mengerjakan shalat Shubuh pada hari Jumat, beliau membaca: ALIF LAAM MIIM TANZIIL (surat As-Sajdah) dan HAL ATAA ALAL INSAANI HIINUM MINAD DAHRI (surat Al-Insan).”
(HR. Imam Muslim, no.1454)

2. Membaca Surat Al-Jumuah Dan Al-Munafiqun, Atau Al-Ala Dan Al-Ghasyiyah Dalam Shalat Jumat.
Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata;

وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ سُورَةَ الْجُمُعَةِ وَالْمُنَافِقِينَ
“Dan dalam shalat Jumat, beliau membaca surat Al-Jumuah dan surat Al-Munafiqun.”
(HR. Imam Muslim, no.1454)

Lalu, terkadang juga Rasulullah membaca surat Al-Ala dan surat Al-Ghasyiyah dalam shalat Jumat. Sebagaimana Sahabat Numan bin Basyir radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa membaca surat Al-Ala dan surat Al-Ghasyiyah dalam shalat dua hari raya dan shalat Jumat. Apabila shalat id bertepatan dengan hari Jumat, maka beliau juga membaca kedua surat tersebut dalam kedua shalat itu.”
(HR. Imam Muslim, no.1452)

3. Membaca Surat Al-Kahfi.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Kabah.”
(HR. Ibnu Al-Mulaqqin, Tuhfatu Al-Muhtaj, 1:522. Hadits ini shahih atau hasan)

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.”
(HR. Al-Albani, Shahih Al-Jami, no.6470)

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَمَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ وَمَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ قَالَ سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنّتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ كُتِبَ بِرَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابَعٍ فَلَمْ يُكْسِرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa membaca surat Al-Kahfi sebagaimana diturunkan, maka dia akan mendapatkan cahaya dari tempat dia berdiri hingga Mekkah. Barang siapa membaca 10 akhir ayatnya kemudian keluar Dajjal, maka dia tidak akan dikuasai. Barang siapa yang berwudhu, lalu dia ucapkan: Subhanaka allahumma wa bi hamdika laa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik (maha suci Engkau Ya Allah, segala pujian untukMu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Engkau, aku senantiasa memohon ampun dan bertaubat kepadaMu, maka akan dicatat untuknya dikertas dan dicetak, sehingga tidak akan luntur hingga hari Kiamat.”
(HR. Al-Albani, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no.2651)

4. Banyak Bershalawat.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR. Imam Muslim, no.616)

أَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلَاةَ أُمَّتِي تُعْرَضُ عَلَيَّ فِي كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَيَّ صَلاةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّي مَنْزِلَةً
“Perbanyaklah membaca shalawat untukku di hari Jumat, karena shalawat umatku ditunjukkan kepadaku setiap hari Jumat. Siapa saja yang paling banyak shalawatnya untukku, maka dia adalah orang yang paling dekat kedudukannya denganku.”
(HR. Al-Albani, Shahih At-Targhib, no.1673. Hadits ini hasan lighairihi)

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُولُونَ بَلِيتَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala), dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku, karena shalawat kalian akan disampaikan kepadaku. Sahabat Aus bin Aus radhiyallahu anhu berkata: Para sahabat bertanya, wahai Rasulullah bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepadamu, sementara engkau telah wafat? Atau mereka (para Sahabat) berkata: Telah hancur (menjadi tulang). Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya Allah azza wa jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”
(HR. Abu Dawud, no.883)

• Di antara lafazh-lafazh shalawat yang disunnahkan untuk dibaca adalah;

– Pertama: Dari Sahabat Abu Humaid As-Saidi radhiyallahu anhu.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Allahumma Shalli Alaa Muhammadin Wa Azwaajihi Wa Dzurriyyatihii Kamaa Shallayta Alaa Aali Ibrahim Wa Baarik Alaa Muhammadin Wa Azwaajihi Wa Dzurriyyatihii Kamaa Baarakta Alaa Aali Ibrahim Innaka Hamiidun Majiid.

Sebagaimana Sahabat Abu Humaid As-Saidi radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُولُوا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Bahwa mereka (para Sahabat) berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami bershalawat kepada engkau? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ucapkanlah: Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad, istri-istrinya, dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berilah barakah kepada Muhammad, istri-istrinya, dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberi barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkah maha terpuji dan maha mulia.”
(HR. Imam Bukhari, no.3118)

– Kedua: Dari Sahabat Kaab bin Ujrah radhiyallahu anhu.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد
Allahumma Shalli Alaa Muhammadin Wa Alaa Aali Muhammad Kamaa Shallayta Alaa Ibrahiim Wa Alaa Aali Ibrahim Innaka Hamiidun Majid. Allahumma Baarik Alaa Muhammadin Wa Alaa Aali Muhammadin Kamaa Baarakta Alaa Ibrahiim Wa Alaa Aali Ibrahim Innaka Hamiidun Majiid.

Sebagaimana Abdurrahman bin Abi Laila rahimahullah bercerita;

لَقِيَنِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ بَلَى فَأَهْدِهَا لِي فَقَالَ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ قَالَ قُولُوا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد
“Kaab bin Ujrah radhiyallahu anhu menemuiku lalu berkata: Maukah kamu aku hadiahkan suatu hadiah yang aku mendengarnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Aku jawab: Ya, hadiahkanlah aku! Lalu dia berkata: Kami pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami bershalawat kepada tuan-tuan kalangan Ahlul Bait, sementara Allah telah mengajarkan kami tentang cara menyampaikan salam kepada kalian? Maka beliau bersabda: Ucapkanlah: Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkah maha terpuji dan maha mulia. Ya Allah berilah barakah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi barakah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji dan maha mulia.”
(HR. Imam Bukhari, no.3119)

– Ketiga: Dari Sahabat Abu Masud Al-Anshari radhiyallahu anhu.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Allahumma Shalli Alaa Muhammad Wa Alaa Aali Muhammad Kamaa Shallaita Alaa Aali Ibrahiima Wa Baarik Alaa Muhammad Wa Alaa Aali Muhammad Kamaa Baarakta Alaa Aali Ibrahiima Fil Aalamiina Innaka Hamiidun Majiid.

Sebagaimana Sahabat Abu Masud Al-Anshari radhiyallahu anhu bercerita;

أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِي مَجْلِسِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَقَالَ لَهُ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ أَمَرَنَا اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَمَنَّيْنَا أَنَّهُ لَمْ يَسْأَلْهُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَالسَّلَامُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendatangi kami, sedangkan kami berada dalam majelis Sa’d bin Ubadah, maka Basyir bin Saad berkata kepadanya: Allah memerintahkan kami untuk mengucapkan shalawat atasmu wahai Rasulullah, lalu bagaimana cara bershalawat atasmu? Perawi berkata: Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diam hingga kami berangan-angan, bahwa dia tidak menanyakannya kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Katakanlah: Ya Allah, berilah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi shalawat atas keluarga Ibrahim. Dan berilah keberkahan atas Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi keberkahan kepada keluarga Ibrahim di dunia. Engkau maha terpuji dan maha mulia. Dan salam sebagaimana yang telah kalian ketahui.”
(HR. Imam Muslim, no.613)

• Catatan: Adapun untuk shalawat lainnya yang tidak berdasarkan sunnah Rasulullah, maka tidak boleh diamalkan. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak berdasarkan perintah (contoh) dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”
(HR. Imam Muslim, no.3243)

5. Banyak Berdoa.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي فَسَأَلَ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَقَالَ بِيَدِهِ وَوَضَعَ أُنْمُلَتَهُ عَلَى بَطْنِ الْوُسْطَى وَالْخِنْصِرِ قُلْنَا يُزَهِّدُهَا
“Pada hari Jumat terdapat waktu, yang tidaklah seorang hamba muslim shalat dan berdoa kepada Allah di waktu tersebut, kecuali Allah akan mengabulkannya. Beliau memberi isyarat dengan tangannya dan meletakkan ujung jari-jarinya pada jari tengah dan jari kelingking.”
(HR. Imam Bukhari, no.4884)

Terdapat beberapa pendapat dari para ulama tentang waktu mustajab yang dimaksud dalam hadits di atas. Dari sekian banyak pendapat, ada 2 pendapat yang dianggap lebih kuat, yaitu;

– Pertama: Ketika imam (khatib) naik mimbar hingga selesai shalat Jumat.

Sahabat Abu Musa Al-Asyari radhiyallahu anhu bercerita;

قَالَ لِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ سَاعَةِ الْجُمُعَةِ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ
“Abdullah bin Umar bertanya kepadaku: Apakah kamu pernah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam perihal satu waktu mustajab pada hari Jumat? Abu Burdah berkata: Aku menjawab: Ya, aku mendengarnya berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Waktunya adalah antara imam duduk (di mimbar) hingga selesai shalat Jumat.”
(HR. Imam Muslim, no.1409)

Pendapat ini juga dipilih oleh Imam Muslim, An-Nawawi, Al-Qurthubi, dan ulama lainnya rahimahumullah.

– Kedua: Setelah Ashar hingga terbenamnya matahari.

يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لَا يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلَّا أَتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
“Hari Jumat itu ada 12 jam, dan tidak didapati seorang muslim pun yang meminta (berdoa) kepada Allah, kecuali Allah azza wa jalla akan mengabulkannya. Maka bersegeralah untuk mendapatkannya pada waktu-waktu akhir setelah Ashar.”
(HR. Abu Dawud, no.884)

Pendapat ini juga dipilih oleh Imam At-Tirmidzi, dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahumallah. Dan pendapat ini yang lebih dikenal (masyhur) dikalangan para ulama.

Sahabat Abdullah bin Salam radhiyallahu anhu bercerita;

قُلْتُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ إِنَّا لَنَجِدُ فِي كِتَابِ اللَّهِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُؤْمِنٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا شَيْئًا إِلَّا قَضَى لَهُ حَاجَتَهُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَأَشَارَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بَعْضُ سَاعَةٍ فَقُلْتُ صَدَقْتَ أَوْ بَعْضُ سَاعَةٍ قُلْتُ أَيُّ سَاعَةٍ هِيَ قَالَ هِيَ آخِرُ سَاعَاتِ النَّهَارِ قُلْتُ إِنَّهَا لَيْسَتْ سَاعَةَ صَلَاةٍ قَالَ بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ
“Aku bertanya sementara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang duduk: Dalam Kitabullah kami mendapati satu waktu di hari Jumat, tidaklah seorang mukmin pada waktu tersebut berdiri shalat dan meminta sesuatu kepada Allah, kecuali Dia akan memenuhinya. Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berisyarat kepadaku: Atau sebagian waktu. Lalu aku berkata: Kamu benar, atau sebagian waktu. Aku tanyakan: Kapan waktu itu? Dia menjawab: Di akhir waktu siang hari. Aku bertanya: Bukankah itu waktu shalat? Dia menjawab: Benar, sesungguhnya seorang hamba yang beriman apabila shalat kemudian duduk, dan tidak ada yang menahannya untuk duduk kecuali karena menunggu shalat, maka dia pun terhitung sedang mengerjakan shalat.”
(HR. Ibnu Majah, no.1129)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Dari dua pendapat di atas, maka pendapat yang lebih kuat dan mendekati kebenaran adalah pendapat yang kedua.”
(Fathu Al-Bari, 11:199)

6. Berjima (Berhubungan Badan).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ وَغَدَا وَابْتَكَرَ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
“Barang siapa menggauli istrinya (berjima) dan mandi, lalu dia segera berangkat (ke masjid) sedini (sesegera) mungkin serta mendekat kepada imam, dan dia tidak melakukan hal yang sia-sia, maka setiap langkahnya seperti amalan satu tahun disertai puasa dan shalat malamnya.”
(HR. An-Nasai, no.1364)

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
“Barang siapa yang mandi di hari Jumat dengan mencuci kepala dan anggota badan lainnya, lalu dia pergi di awal waktu atau dia pergi dan mendapati khutbah pertama, lalu dia mendekat pada imam, mendengar khutbah serta diam, maka setiap langkah kakinya terhitung seperti pahala puasa dan shalat setahun.”
(HR. At-Tirmidzi, no.456)

Imam Ahmad rahimahullah menjelaskan;
“Makna Ghassala adalah menyetubuhi istri.”
(Fathu Al-Bari, 2:366)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Jika seseorang meniatkan mandi junub dan mandi Jumat sekaligus, maka maksud tersebut dibolehkan.”
(Al-Majmu, 1:326)

Imam Abu At-Thayyib rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa ada sebagian ulama yang mengartikan kata ‘memandikan’ dengan menggauli istri. Karena ketika seorang suami melakukan hubungan intim dengan istri, berarti dia memandikan istrinya. Dengan melakukan hal ini sebelum berangkat shalat Jumat, seorang suami akan lebih bisa menekan syahwatnya dan menahan pandangannya ketika menuju masjid.”
(Aunu Al-Mabud, 2:8)

Jadi, waktu jima (berhubungan badan dengan pasangan halal) yang disunnahkan adalah di pagi hari Jumat, bukan Kamis malam Jumat.

Salah satu alasan lain berhubungan badan disunnahkan pada pagi hari Jumat adalah agar suaminya bisa mandi junub sebelum berangkat ke masjid untuk shalat Jumat.

Catatan: Untuk menambah pengetahuan tentang jima, silakan bisa membaca tulisan Penulis di website Khiyaar.Com yang berjudul: Manfaat Jima (Bersetubuh Dengan Pasangan Halal).

C. ADAB SHALAT JUMAT

1. Bersuci.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
“Barang siapa yang berwudhu, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian mendatangi shalat Jumat, mendengarkan (khutbah) tanpa berkata-kata, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dengan hari Jumat yang lain, ditambah tiga hari. Dan barang siapa yang pada saat itu memegang-megang batu kerikil (bermain batu dan semisalnya), maka dia telah berbuat kesia-siaan.”
(HR. Imam Muslim, no.1419)

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ
“Barang siapa yang berwudhu pada hari Jumat, maka hal tersebut sudah mencukupinya dan baik, akan tetapi barang siapa yang mandi, maka mandi itu lebih utama.”
(HR. At-Tirmidzi, no.457)

Catatan: Wudhu yang dimaksud adalah dilakukan di rumah atau tempat tinggal semisalnya, bukan di masjid atau tempat shalat semisalnya.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
“Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid atau mushalla) untuk mengerjakan kewajiban yang telah Allah tetapkan (ibadah), maka kedua langkah kakinya, yang satu akan menghapuskan kesalahan dan satunya lagi akan meninggikan derajat.”
(HR. Imam Muslim, no.666)

Lalu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ
“Barang siapa yang berwudhu pada hari Jumat, maka hal tersebut sudah mencukupinya dan baik, akan tetapi barang siapa yang mandi, maka mandi itu lebih utama.”
(HR. At-Tirmidzi, no.457)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَيْنَمَا هُوَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِمَ تَحْتَبِسُونَ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ الرَّجُلُ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ سَمِعْتُ النِّدَاءَ تَوَضَّأْتُ فَقَالَ أَلَمْ تَسْمَعُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَاحَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ
“Bahwa Umar radhiyallahu anhu ketika berdiri memberikah khutbah pada hari Jumat, tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk masjid. Umar lalu bertanya: Kenapa kamu terlambat shalat? Laki-laki itu menjawab: Aku tidak tahu, hingga aku mendengar adzan, maka aku pun hanya berwudhu. Maka Umar berkata: Bukankah kamu sudah mendengar bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Jika salah seorang dari kalian berangkat shalat Jumat, hendaklah mandi!”
(HR. Imam Bukhari, no.833

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
“Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.”
(HR. Imam Bukhari, no.830)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Imam Asy-Syafii berkata: Bahwa wajib di sini ada dua makna. Pertama: Wajib, artinya tidak sah thaharah (bersuci) untuk shalat Jumat selain dengan mandi. Kedua: Ikhtiyari (pilihan), menunjukkan akhlak mulia dan baik dalam kebersihan. Dimaknakan dengan makna kedua ini berdasarkan kisah dari Sahabat Utsman bin Affan bersama Sahabat Umar. Utsman tidaklah mengerjakan shalat (Jumat) kecuali dengan mandi, sedangkan Umar tidaklah memerintahkan shalat Jumat dengan mandi. Hal ini dapat dipahami, bahwa kedua Sahabat yang mulia tersebut memahami mandi Jumat itu hanyalah pilihan.”
(Fathu Al-Bari, 2:361)

Beliau melanjutkan;
“Meskipun dikatakan wajib, itu bukan merupakan syarat sah shalat Jumat. Artinya, jika seseorang mengerjakan shalat Jumat tanpa mandi, maka shalat Jumatnya tetap sah, karena mandi di sini adalah amalan tersendiri.”
(Fathu Al-Bari, 2:361)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Mandi Jumat itu dianjurkan bagi siapa saja yang menghadiri shalat Jumat, laki-laki ataupun perempuan.”
(Al-Majmu, 2:201)

Imam Shidiq Hasan Khan rahimahullah berkata;
“Mandi Jumat disyariatkan untuk setiap orang yang menghadiri shalat Jumat, dan bukan karena hari tersebut adalah hari Jumat.”
(Ar-Raudhatu An-Nadiyah, hlm.83)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَفَضْلُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
“Barang siapa mandi, kemudian mendatangi shalat Jumat, lalu dia shalat (sunnah mutlaq) semampuannya, kemudian diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian dia lanjutkan dengan shalat bersama imam, maka dia akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari Jumat yang lain, dan bahkan hingga lebih tiga hari.”
(HR. Imam Muslim, no.1418)

• Bagaimana cara mandi Jumat?

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
“Barang siapa mandi pada hari Jumat seperti mandi janabah (junub), lalu berangkat menuju Masjid, maka dia seolah berqurban seekor unta. Dan barang siapa datang pada kesempatan kedua, maka dia seolah berqurban seekor sapi. Dan barang siapa datang pada kesempatan ketiga, maka dia seolah berqurban seekor kambing yang bertanduk. Dan barang siapa datang pada kesempatan keempat, maka dia seolah berqurban seekor ayam. Dan barang siapa datang pada kesempatan (saat) kelima, maka dia seolah berqurban sebutir telur. Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khutbah), maka para Malaikat hadir mendengarkan dzikir (khutbah tersebut).”
(HR. Imam Bukhari, no.832)

Jadi, mandi Jumat adalah mandi yang dilakukan ketika akan berangkat menuju masjid untuk shalat Jumat yang caranya sama seperti mandi junub, atau mandi yang dilakukan ketika akan menghilangkan hadats besar.

• Cara mandi junub sesuai sunnah.

– Syarat sah mandi.
Niat dalam masalah mandi junub adalah bagian dari syarat sahnya mandi junub. Para ulama sudah menjelaskan, bahwa di antara fungsi niat adalah untuk membedakan antara mandi yang menjadi kebiasaan dan mandi yang menjadi ibadah.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Semua perbuatan tergantung pada niatnya, dan balasan untuk setiap orang tergantung pada niatnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.1)

– Rukun mandi.
Mandi junub adalah mengguyur seluruh badan dengan air, hingga mengenai rambut dan kulit.

Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ تَوَضَّأَ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ الْمَاءَ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعْرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غُرَفٍ ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ
“Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mandi junub, maka beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian berwudhu seperti untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jemarinya ke dalam air, lalu membersihkan celah-celah pangkal rambutnya dengan jari-jemarinya, kemudian menyiramkan air ke kepalanya dengan cidukan tiga kali, kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.”
(HR. An-Nasai, no.247)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan, bahwa ketika mandi Rasulullah mengguyur air ke seluruh tubuh.”
(Fathu Al-Bari, 1:361)

Ummu Salamah radhiyallahu anha berkata;

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِي فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ لَا إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ
“Wahai Rasulullah, aku adalah wanita yang biasa mengepang rambutku. Apakah aku harus membukanya ketika mandi junub? Beliau bersabda: Tidak, cukup kamu menuangkan air di kepalamu tiga kali, kemudian alirkan air ke seluruh tubuhmu, maka setelah itu kamu akan suci.”
(HR. Imam Muslim, no.497)

Hadits ini menunjukkan, bahwa mengguyur seluruh tubuh dengan air adalah rukun (fardhu) mandi junub. Sehingga ketika seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai dengan niat untuk mandi wajib. Sebab itu, meskipun ada seseorang yang mandi di pancuran atau shower, lalu air tersebut mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.

Syaikh Abu Malik hafizhahullah menjelaskan;
Sedangkan untuk berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidung (sebelum mandi), dan menggosok-gosokkan badan, itu semua adalah perkara yang disunnahkan menurut jumhur ulama.
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:173)

2. Berhias.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الْإِمَامُ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى
“Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jumat, lalu bersuci semaksimal mungkin, memakai wewangian miliknya atau minyak wangi milik keluarganya, lalu keluar rumah menuju Masjid, dia tidak memisahkan dua orang pada tempat duduknya, lalu dia mengerjakan shalat yang dianjurkan baginya dan diam mendengarkan khutbah imam, kecuali dia akan diampuni dosa-dosanya yang ada di antara Jumat itu dan Jumat yang lainnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.834)

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَمَسَّ مِنْ طِيبِ امْرَأَتِهِ إِنْ كَانَ لَهَا وَلَبِسَ مِنْ صَالِحِ ثِيَابِهِ ثُمَّ لَمْ يَتَخَطَّ رِقَابَ النَّاسِ وَلَمْ يَلْغُ عِنْدَ الْمَوْعِظَةِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهُمَا وَمَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا
“Barang siapa yang mandi untuk melaksanakan shalat Jumat dan mengenakan wewangian istrinya apabila dia mempunyai wewangian, serta memakai pakaian yang paling bagus (terbaik), kemudian tidak melangkahi pundak-pundak orang lain dan tidak main-main (fokus) dalam mendengarkan khutbah, maka dia akan mendapatkan penghapusan dosa di antara dua Jumat. Dan barang siapa yang main-main (melakukan hal yang sia-sia) dalam mendengarkan khutbah, maka baginya hanyalah pahala shalat Zhuhur.”
(HR. Abu Dawud, no.293. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bercerita;

‎أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فَلَبِثَ عُمَرُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَلْبَثَ ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِجُبَّةِ دِيبَاجٍ فَأَقْبَلَ بِهَا عُمَرُ فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ وَأَرْسَلْتَ إِلَيَّ بِهَذِهِ الْجُبَّةِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِيعُهَا أَوْ تُصِيبُ بِهَا حَاجَتَكَ
“Umar membawa baju jubah terbuat dari sutera yang dibelinya di pasar, jubah tersebut kemudian diberikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah, belilah jubah ini sehingga engkau bisa memperbagus penampilan saat shalat id, atau ketika menyambut para delegasi (rombongan atau utusan). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata kepadanya: Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian (di akhirat). Kemudian Umar tidak nampak untuk beberapa waktu lamanya menurut apa yang Allah kehendaki, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengirimkan kepada Umar sebuah jubah yang terbuat dari sutera. Maka Umar pun membawanya menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan pakaian ini untukku, padahal engkau telah berkata: Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian (di akhirat). Lalu mengapa engkau mengirimnya untukku? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun berkata kepadanya: Juallah! Atau beliau mengatakan: Dengannya kamu bisa memenuhi kebutuhanmu.”
(HR. Imam Bukhari, no.896)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

‎إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
“Sesungguhnya ini adalah hari raya yang telah Allah jadikan bagi umat Islam. Barang siapa menghadiri shalat Jumat, hendaklah mandi! Jika mempunyai minyak wangi hendaklah mengoleskannya, dan hendaklah kalian bersiwak!”
(HR. Ibnu majah, no.1088. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa keluar ketika shalat Idul Fithri dan Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”
(Zadu Al-Maad, 1:425)

Catatan: Pakaian terbaik itu tidak harus baru. Karena tidak ada satu pun dalil yang mensyariatkan harus mengenakan pakaian baru pada saat hari raya. Dengan tetap memperhatikan kriteria pakaian yang dikenakan, agar tidak sampai melanggar syariat Islam, seperti: Isbal, menampakkan aurat (tabarruj), terbuat dari sutra untuk lelaki, mengenakan wewangian untuk wanita, menyerupai tokoh kafir, dan bentuk pelanggaran syariat semisalnya. Silakan bisa pelajari lebih lengkap dan jelas mengenai: Adab Berpakaian, dan Adab Berpenampilan yang sesuai syariat Islam di website Khiyaar.Com.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

‎يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
“Wahai anak Adam, pakailah oleh kalian pakaian yang indah setiap kali akan memasuki masjid. Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan! Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
(Surat AI-Araf: ayat 31)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan;
“Dalam ayat tersebut, Allah tidak hanya memerintahkan hambaNya untuk menutupi aurat, akan tetapi mereka diperintahkan juga untuk memakai perhiasan. Oleh karena itu, hendaklah mereka memakai pakaian yang paling bagus (terbaik) ketika shalat!”
(Al-Ikhtiyarah Al-Fiqhiyyah, 4:24)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan;
“Berlandaskan ayat tersebut dan ayat yang semisalnya, disunnahkan berhias ketika akan shalat, terlebih ketika hari Jumat dan hari raya (id). Termasuk dalam perhiasan yaitu siwak dan parfum (wewangian).”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 2:195)

Lalu, warna pakaian yang dianjurkan untuk kaum lelaki adalah warna putih. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎اِلْبَسُوا الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
“Pakailah pakaian warna putih! Karena pakaian tersebut lebih bersih dan paling baik. Kafanilah juga orang yang mati di antara kalian dengan kain putih!”
(HR. At-Tirmidzi, no.2810)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Benarlah apa yang Nabi sudah katakan, karena pakaian yang berwarna putih lebih baik dari warna selainnya dari dua aspek. (1) Warna putih lebih terang dan nampak bercahaya. (2) Jika kain tersebut terkena sedikit kotoran saja, maka orang yang mengenakannya akan segera mencucinya. Sedangkan, pakaian yang berwarna selain putih maka bisa menjadi sarang berbagai kotoran dan orang yang memakainya tidak menyadarinya sehingga tidak segera mencucinya. Andai jika sudah dicuci orang tersebut belum tahu secara pasti, apakah kain tersebut telah benar-benar bersih ataukah belum? Dengan pertimbangan ini Nabi memerintahkan kita, kaum lelaki untuk memakai kain yang berwarna putih. Kain putih di sini mencakup kemeja, sarung atau pun celana. Seluruhnya dianjurkan berwarna putih, karena itulah yang lebih utama. Meski pun mengenakan warna yang lainnya juga tidak dilarang (boleh), asalkan warna tersebut bukan warna khas pakaian perempuan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan. Demikian juga, dengan syarat bukan berwarna merah polos. Karena Rasulullah melarang warna merah polos sebagai warna pakaian laki-laki. Namun, jika warna merah tersebut bercampur warna putih maka tidaklah mengapa (boleh).”
(Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 7:287)

Sedangkan, warna pakaian yang terbaik untuk wanita adalah yang berwarna gelap, seperti hitam. Karena Ummu Salamah radhiyallahu anha berkata;

‎لَمَّا نَزَلَتْ: يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ. خَرَجَ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِنَّ الْغِرْبَانَ مِنْ الْأَكْسِيَةِ
“Ketika turun ayat: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! (Surat Al-Ahzab: ayat 59), wanita-wanita Anshar keluar seakan-akan di atas kepala mereka ada burung gagak, karena tertutup kerudung hitam.”
(HR. Abu Dawud, no.3578)

Maka, Islam memperbolehkan umatnya untuk membeli pakaian dan perhiasan yang indah dan juga tidak harus mahal. Jadi, tolak ukurnya adalah indah, sehingga nyaman dipakai dan dipandang. Namun, perlu diingat itu semua boleh kita miliki dengan syarat tidak boleh untuk membanggakannya di hadapan manusia. Karena itu merupakan bentuk kesombongan (takabbur) dan membesarkan diri (ujub), keduanya merupakan sikap yang dibenci oleh Allah dan RasulNya.

Islam membolehkan manusia untuk memiliki pakaian dan perhiasan yang indah untuk digunakan ketika beribadah kepada Allah azza wa jalla, bukan untuk selainnya.

Karena realita saat ini sangat menyedihkan. Banyak manusia, mungkin termasuk juga kita, ketika keluar rumah untuk jalan-jalan atau kondangan, memakai pakaian-pakaian dan perhiasan yang bagus, rapi, mahal dan bermerk. Namun, ketika pergi ke masjid untuk beribadah kepada Allah, Dia yang sudah menciptakan dan memberikan rezeki kepada kita, kita hanya memakai kaos daleman, sarung atau celana yang mungkin kita juga akan merasa malu ketika memakainya untuk kondangan dan acara duniawi lainnya. Kita lebih merasa segan dan malu kepada manusia, tapi kita tidak merasa segan dan berani merendahkan Allah azza wa jalla. Seolah kita tidak terlalu butuh dengan Allah, merasa cuek dan tidak mau peduli dengan adab-adab Islam dalam beribadah kepadaNya.

• Kesimpulan: Sunnah ini berlaku hanya untuk kaum lelaki, sedangkan untuk kaum wanita tidak disunnakan, bahkan terlarang.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ
“Dan janganlah kalian berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyah dahulu!”
(Surat Al-Ahzab: ayat 33)

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan;
“Ada dua keterangan dari para ulama tentang makna tabarruj, di antaranya: Imam Abu ubaidah berkata: Tabarruj adalah wanita menampakkan kecantikannya (di hadapan lelaki yang bukan mahram). Imam Az-Zajjaj berkata: Tabarruj adalah menampakkan bagian yang indah (aurat) dan segala yang mengundang syahwat lelaki (bukan mahram).”
(Zadu Al-Masir Fi Ilmi At-Tafsir, 3:461)

Allah azza wa jalla juga berfirman;

‎يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para istri orang-orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun, maha penyayang.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 59)

Allah juga berfirman;

‎وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung!”
(Surat An-Nur: ayat 31)

3. Bersegera Pergi Ke Masjid.
Allah azza wa jalla berfirman;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli! Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.”
(Surat Al-Jumuah: ayat 9)

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan untuk menunaikan shalat Jumat. Padahal perintah dalam istilah ushul fiqh itu menunjukkan suatu kewajiban, sebaliknya larangan dalam istilah ushul fiqh itu menunjukkan keharaman. Sehingga larangan sibuk dengan berjual-beli setelah adanya panggilan shalat, menunjukkan kewajiban untuk meninggalkannya, sebab seandainya bukan karena wajib, tentu hal tersebut tidak akan dilarang. Karena terdapat ancaman yang sangat besar dari Allah untuk orang-orang yang tersibukkan dengan urusan duniawi yang membuatnya lalai dari mengerjakan ibadah shalat Jumat.

Sebagaimana Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata;

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda di atas mimbarnya: Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat Jumat menghentikan perbuatannya! Ataukah mereka ingin Allah membutakan hati mereka? Dan sesudah itu mereka benar-benar menjadi orang yang lalai.”
(HR. Imam Muslim, no.1432)

Salah satu bukti bahwa kita diperintahkan untuk bersegera menuju masjid untuk menunaikan shalat Jumat adalah kebiasaan Nabi dan para Sahabatnya. Mereka biasanya ketika tiba siang hari, mereka tidur siang sebentar (qailulah) sebelum atau setelah shalat Zhuhur namun, khusus hari Jumat mereka melakukan qailulah setelah shalat Jumat. Karena waktu sebelum itu, mereka gunakan untuk mempersiapkan diri mengerjakan shalat Jumat.

Sebagaimana Sahabat Sahl bin Saad radhiyallahu anhu berkata;

مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ
“Biasanya kami tidak pernah tidur siang dan tidak juga makan siang, kecuali setelah menunaikan shalat Jumat.”
(HR. Imam Muslim, no.1422)

Maka sebab itu, semua aktivitas yang seharusnya dilakukan sebelum waktu shalat Jumat, sebaiknya dilakukan setelah shalat Jumat. Demi mendapatkan berbagai keutamaan yang ada di dalam shalat Jumat.

Karena shalat Jumat diwajibkan kepada setiap muslim, kecuali yang memiliki udzur syari, seperti budak, wanita, anak-anak, orang sakit, dan musafir. Berdasarkan hadits Thariq bin Syihab dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ
“Shalat Jumat itu wajib bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan, yaitu: Hamba sahaya (budak), wanita, anak-anak, dan orang yang sakit.”
(HR. Abu Dawud, no.901)

Jadi, ketika kita tidak termasuk ke dalam 4 golongan tersebut, bersegeralah untuk melaksanakan shalat Jumat!

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ
“Seandainya manusia mengetahui suatu kebaikan yang terdapat pada adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan melakukannya. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat dalam bersegera (menuju shalat), niscaya mereka akan berlomba-lomba untuk melakukannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.580)

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
“Barang siapa yang mandi seperti mandi janabah pada hari Jumat, kemudian dia pergi ke masjid pada waktu yang pertama, maka pahalanya seperti pahala berqurban seekor unta. Siapa yang pergi ke masjid pada waktu kedua, maka pahalanya seperti berqurban seekor sapi. Dan siapa yang pergi ke masjid pada waktu yang ketiga, maka pahalanya seperti berqurban seekor kambing. Dan siapa yang pergi ke masjid pada waktu yang keempat, maka pahalanya seperti pahala berqurban dengan seekor ayam. Dan siapa yang tiba di masjid pada waktu yang kelima, maka pahalanya seperti berqurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar, para Malaikat hadir untuk mendengarkan khutbah (dan tidak ada lagi yang mencatat setelah itu).”
(HR. Imam Muslim, no.1403)

Mayoritas (jumhur) ulama berpendapat, bahwa pembagian waktu tersebut dimulai dari terbitnya fajar shadiq, ini menurut pendapat yang shahih (benar) dan mutamad (dijadikan pengangan). Lalu menurut sebagian pendapat yang lemah, dimulai dari terbitnya matahari.

Sedangkan untuk batas akhir waktunya semua sepakat, bahwa batas akhir waktunya ketika imam sudah naik ke atas mimbar untuk melangsungkan khutbah Jumat.

Adapun mengenai cara perhitungan waktu-waktu tersebut terjadi perbedaan pendapat, di antaranya;

– Menurut keterangan dalam kitab Al-Majmu dan Syarah Shahih Muslim, hitungannya adalah menurut hitungan waktu-waktu falak (hitungan jam), yang dimulai dari terbitnya fajar. Maksudnya, waktu antara terbitnya fajar, hingga waktu pelaksanaan khutbah dibagi menjadi lima atau enam (karena riwayat haditsnya berbeda), jadi beberapa orang bisa saja mendapatkan pahala yang sama.

Contoh: Ada orang yang datang di waktu yang pertama, meskipun tidak bersamaan mendapatkan pahala seperti menyembelih unta, hanya saja sembelihan unta untuk orang yang datang lebih awal, tentu yang paling sempurna.

– Menurut keterangan dalam kitab Ar-Raudhah, hitungannya bukan berdasarkan waktu-waktu falak (hitungan jam) namun, berdasarkan siapa yang paling dulu datang ke masjid. Jadi orang yang pertama kali datang, itulah yang mendapatkan pahala seperti menyembelih unta apabila dibandingkan dengan orang setelahnya. Dan untuk orang yang datang setelahnya, maka dia mendapat pahala seperti menyembelih sapi.

• Kesimpulan;
– Pendapat yang dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hajar adalah pendapat pertama yang menyandarkan hitungan ini pada perhitungan jam. Pendapat ini dikuatkan juga oleh sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً
“Hari Jumat itu ada 12 jam.”
(HR. Abu Dawud, no.884)

Pembagian waktu tersebut dimulai dari munculnya fajar hingga naiknya khatib ke atas mimbar dan dihitung berdasarkan hitungan jam. Jadi dalam satu tempo bisa saja beberapa orang mendapatkan pahala yang sama, hanya saja yang lebih awal yang paling sempurna pahalanya.

– Perintah bersegera menuju masjid berlaku untuk setiap waktu shalat. Sehingga ketika sudah masuk waktu shalat, kita harus berusaha untuk bersegera menuju masjid.

– Larangan meninggalkan dan lalai dari mengerjakan shalat Jumat, berlaku juga untuk shalat wajib lainnya.

4. Berjalan Kaki Menuju Masjid.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا
“Barang siapa yang mandi dengan rambutnya pada hari Jumat dan mandi menyiram sekujur tubuhnya, lalu dia pergi untuk shalat Jumat pada awal waktu dan sampai mendapatkan awal khutbah dengan berjalan kaki dan tidak berkendaraan, lalu duduk mendekat kepada imam untuk mendengarkan khutbah dan tidak berbicara, maka setiap langkahnya dicatat pahala puasa dan ibadah (shalat) malam selama satu tahun.”
(HR. Abu Dawud, no.292)

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَلَ وَغَدَا وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ وَأَنْصَتَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ
“Barang siapa mandi pada hari Jumat dan berwudhu, lalu sedini (sesegera) mungkin berangkat dengan berjalan kaki dan tidak naik kendaraan, dan mendekat kepada imam, lalu dia diam tanpa melakukan perbuatan yang sia-sia, maka tiap langkahnya seperti amalan (ibadah) satu tahun.”
(HR. An-Nasai, no.1367)

Catatan: Jika masjid yang dituju jauh dari tempat tinggal kita, dan dirasa sulit untuk ditempuh dengan berjalan kaki, maka pada kondisi semacam itu boleh menggunakan kendaraan.

5. Tidak Melangkahi Pundak Orang Lain.
Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma berkata;

أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَعَلَ يَتَخَطَّى النَّاسَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ وَآنَيْتَ
“Seorang laki-laki masuk masjid pada hari Jumat, sementara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Lalu laki-laki tersebut melangkahi pundak orang-orang, hingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Duduk! Sungguh kamu telah terlambat dan menyakiti (mengganggu orang lain).”
(HR. Ibnu Majah, no.1105)

Catatan: Jika ingin masuk ke dalam masjid, sedangkan di dalam masjid sudah sesak dan penuh dengan jamaah, tepuk pundak mereka lalu beri isyarat kepada orang-orang yang ingin kita lewati untuk bergeser sedikit (membuka jalan) untuk kita lewat, sehingga kita bisa melewatinya tanpa melangkahi pundak-pundaknya (jamaah).

6. Mengerjakan Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid.
Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma bercerita;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ فَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَقَدْ خَرَجَ الْإِمَامُ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah seraya bersabda: Jika salah seorang dari kalian datang untuk mengerjakan shalat Jumat, sementara imam telah keluar (naik mimbar), hendaklah dia shalat dua rakaat!”
(HR. Imam Muslim, no.1447)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ أَوْ قَدْ خَرَجَ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ketika beliau sedang menyampaikan khutbah: Jika seseorang dari kalian memasuki masjid sedangkan imam sedang berkhutbah, atau dia telah keluar masjid (kemudian masuk lagi), maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua rakaat!”
(HR. Imam Bukhari, no.1100)

جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَلَسَ فَقَالَ لَهُ يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ثُمَّ قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
“Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jumat, sementara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang berkhutbah, dia pun langsung duduk. Maka beliau pun bertanya kepadanya: Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua rakaat, kerjakanlah dengan ringan! Kemudian beliau bersabda: Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jumat, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua rakaat dengan ringan!”
(HR. Imam Bukhari, no.1449)

Catatan: Perintah untuk mengerjakan shalat sunnah Tahiyyatul masjid itu berlaku setiap saat masuk masjid, tidak hanya untuk shalat Jumat.

7. Mengerjakan Shalat Sunnah Muthlaq.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الْإِمَامُ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى
“Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jumat, lalu bersuci semaksimal mungkin, memakai wewangian miliknya atau minyak wangi milik keluarganya, lalu keluar rumah menuju Masjid, dia tidak memisahkan dua orang pada tempat duduknya, lalu dia mengerjakan shalat yang dianjurkan baginya dan diam mendengarkan khutbah imam, kecuali dia akan diampuni dosa-dosanya yang ada di antara Jumat itu dan Jumat yang lainnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.834)

مَنْ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَفَضْلُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
“Barang siapa yang mandi, kemudian mendatangi shalat Jumat, lalu dia shalat semampuannya, dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian dia lanjutkan dengan shalat bersama imam, maka dia akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari Jumat yang lain, dan bahkan hingga lebih tiga hari.”
(HR. Imam Muslim, no.1418)

Nafi rahimahullah bercerita;

كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُطِيلُ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ وَيُصَلِّي بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ وَيُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ
“Dahulu Ibnu Umar biasa memanjangkan shalatnya sebelum shalat Jumat, dan shalat sunnah setelahnya (badiyah Jumat) dua rakaat di rumahnya. Dia mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga melakukan hal demikian.”
(HR. Abu Dawud, no.953)

Catatan: Di dalam shalat Jumat ada shalat sunnah rawatib badiyah (setelah) Jumat dan tidak ada shalat sunnah rawatib qabliyah (sebelum) Jumat. Meskipun demikian, yang ada hanya shalat sunnah muthlaq, yang dilakukan sebelum khutbah Jumat dimulai (imam naik mimbar) dan jumlah rakaatnya tidak dibatasi.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan;
“Jika Bilal telah mengumandangkan adzan shalat Jumat, Nabi shallallahu alaihi wa sallam langsung berkhutbah dan tidak ada seorang pun berdiri mengerjakan shalat dua rakaat pada saat itu. Dahulu di masa beliau, adzan shalat Jumat hanya dikumandangkan satu kali. Ini menunjukkan bahwa shalat Jumat itu seperti shalat id, yaitu sama-sama tidak ada shalat sunnah rawatib sebelumnya. Inilah di antara pendapat ulama yang lebih tepat dan inilah yang didukung oleh hadits. Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulu pernah keluar dari rumahnya, lalu beliau langsung naik mimbar dan Bilal pun mengumandangkan adzan. Jika adzan telah selesai berkumandang, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun berkhutbah dan tidak ada selang waktu (untuk shalat sunnah). Inilah yang disaksikan di masa beliau. Lalu kapan waktu untuk mengerjakan shalat sunnah (qabliyah Jumat)?”
(Zadu Al-Maad, hlm.422)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Adapun shalat sunnah rawatib sebelum (qabliyah) Jumat, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya.”
(Fathu Al-Bari, 2:426)

8. Tidak Boleh Tasybik.
Abu Tsumamah Al-Hannath rahimahullah bercerita;

أَنَّ كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ أَدْرَكَهُ وَهُوَ يُرِيدُ الْمَسْجِدَ أَدْرَكَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ قَالَ فَوَجَدَنِي وَأَنَا مُشَبِّكٌ بِيَدَيَّ فَنَهَانِي عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَلَا يُشَبِّكَنَّ يَدَيْهِ فَإِنَّهُ فِي صَلَاةٍ
“Bahwasanya Kaab bin Ujrah pernah mendapatinya hendak pergi ke masjid. Salah satunya bertemu dengan temannya. Abu Tsumamah berkata: Kaab mendapatiku sedang menjalin kedua tanganku (tasybik), maka dia melarangku berbuat demikian, dan berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu, lalu dia membaguskan wudhunya, kemudian pergi dengan sengaja ke masjid, maka janganlah dia menjalin kedua tangannya (bertasybik), karena perbuatan itu dianggap himpunan (rangkaian) ibadah shalat.”
(HR. Abu Dawud, no.475)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَلَا يُشَبِّكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَإِنَّهُ فِي صَلَاةٍ
“Jika salah seorang dari kalian berwudhu dan membaguskannya, kemudian keluar menuju masjid, maka janganlah dia menganyam antara jari-jemarinya (tasybik), karena dia sudah terhitung berada di dalam shalat!”
(HR. At-Tirmidzi, no.352)

Ismail bin Umayyah rahimahullah berkata;

سَأَلْتُ نَافِعًا عَنْ الرَّجُلِ يُصَلِّي وَهُوَ مُشَبِّكٌ يَدَيْهِ قَالَ قَالَ ابْنُ عُمَرَ تِلْكَ صَلَاةُ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
“Aku bertanya kepada Nafi tentang orang yang shalat dengan menjalin jari-jemari tangannya yang satu dengan yang lain (bertasybik). Jawabnya: Ibnu Umar pernah berkata: Itu adalah shalatnya orang yang dimurkai (Yahudi).”
(HR. Abu Dawud, no.842)

Catatan: Tasybik adalah menyatukan jari-jemari tangan dengan cara menggabungkannya secara tersusun atau menggabungkannya dalam satu genggaman. Tasybik ini terlarang hanya ketika dalam keadaan menunggu shalat, adapun selain keadaan tersebut dibolehkan. Karena keadaan menunggu shalat juga terhitung seperti dalam shalat, dan hukum tasybik berlaku untuk imam dan makmum. Jika masih bingung tentang posisi tangan dengan tasybik, silakan bisa mencari tahunya di internet.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah melakukannya di luar shalat seraya bersabda;

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
“Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain. Kemudian beliau menganyam jari-jemarinya (tasybik).”
(HR. Imam Bukhari, no.459)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita;

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ سَمَّاهَا أَبُو هُرَيْرَةَ وَلَكِنْ نَسِيتُ أَنَا قَالَ فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ إِلَى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَاتَّكَأَ عَلَيْهَا كَأَنَّه غَضْبَانُ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ وَوَضَعَ خَدَّهُ الْأَيْمَنَ عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَخَرَجَتْ السَّرَعَانُ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالُوا قَصُرَتْ الصَّلَاةُ وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ وَفِي الْقَوْمِ رَجُلٌ فِي يَدَيْهِ طُولٌ يُقَالُ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتْ الصَّلَاةُ قَالَ لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ فَقَالَ أَكَمَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالُوا نَعَمْ فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى مَا تَرَكَ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ فَرُبَّمَا سَأَلُوهُ ثُمَّ سَلَّمَ فَيَقُولُ نُبِّئْتُ أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قَالَ ثُمَّ سَلَّمَ
“Rasulullah bersama kami melaksanakan salah satu dari shalat yang berada di waktu malam. Ibnu Sirin berkata: Abu Hurairah menyebutkan (nama) shalat tersebut, tetapi aku lupa. Abu Hurairah mengatakan: Beliau shalat bersama kami dua rakaat kemudian salam, kemudian beliau mendatangi kayu yang tergeletak di masjid. Beliau lalu berbaring pada kayu tersebut seolah sedang marah dengan meletakkan lengan kanannya di atas lengan kirinya serta menganyam jari-jemarinya, sedangkan pipi kanannya diletakkan pada punggung telapak tangan kiri. Kemudian beliau keluar dari pintu masjid dengan cepat. Orang-orang pun berkata: Apakah shalat telah diqashar (diringkas)? Padahal ditengah-tengah orang banyak tersebut ada Abu Bakar dan Umar, dan keduanya enggan membicarakannya. Sementara di tengah kerumunan tersebut ada seseorang yang tangannya panjang dan dipanggil dengan nama Dzul Yadain, dia berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau lupa atau shalat diqashar? Beliau menjawab: Aku tidak lupa dan shalat juga tidak diqashar. Beliau bertanya: Apakah benar yang dikatakan Dzul Yadain? Orang-orang menjawab: Benar. Beliau kemudian maju ke depan dan mengerjakan shalat yang tertinggal kemudian salam. Setelah itu beliau takbir dan sujud seperti sujudnya yang dilakukannya atau lebih lama lagi. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan takbir, kemudian takbir dan sujud seperti sujudnya atau lebih lama lagi, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir. Bisa jadi orang-orang bertanya kepadanya (Ibnu Sirin): Apakah dalam hadits ada lafadz: Kemudian beliau salam? Lalu dia berkata: Aku mendapat berita bahwa Imran bin Hushain berkata: Kemudian beliau salam.”
(HR. Imam Bukhari, no.460)

Kalau saja tasybik dilarang setiap saat, maka tentu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak akan mungkin mencontohkan dan melakukannya.

9. Tidak Boleh Membunyikan Jari-Jemari.
Para ulama menjelaskan, bahwa membunyikan jari-jemari ketika shalat hukumnya makruh.

Sebagaimana Imam Ibnu Najim rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa ulama bersepakat makruhnya membunyikan jari-jemari ketika shalat.”
(Al-Bahru Ar-Raiq, 4:113)

Imam Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah menjelaskan;
“Alasan (illah) perbuatan semacam ini dihukumi makruh dalam shalat, karena perbuatan semacam ini bisa mengganggu kekhusyuan shalat. Padahal Allah memuji orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.”
(Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuha, 2:961)

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ. ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَٰشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu dalam salatnya.”
(Surat Al-Mukminun: ayat1-2)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan;
“Membunyikan jari-jemari tidak membatalkan shalat namun, menyembunyikan jari-jemari termasuk main-main. Jika hal tersebut dilakukan ketika shalat, maka akan mengganggu orang yang mendengarkan suara jari-jemarinya.”
(Majmu Fatawa Wa Rasail Ibnu Utsaimin, 13:223)

Catatan: Hukum membunyikan jari-jemari ini berlaku juga untuk semua shalat.

10. Mengerjakan Shalat Sunnah Rawatib Badiyah Jumat.
Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bercerita;

أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ
“Bahwasanya jika beliau telah menunaikan shalat Jumat, maka beliau pulang dan shalat dua rakaat di rumahnya.”
(HR. Imam Muslim, no.1460)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُصَلِّيًا بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا
“Barang siapa di antara kalian yang ingin menunaikan shalat sunnah setelah (badiyah) shalat Jumat, maka hendaklah dia shalat empat rakaat!”
(HR. Imam Muslim, no.1459)

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ
“Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat dua rakaat di rumahnya setelah shalat Jumat.”
(HR. An-Nasai, no.1411)

Imam Nafi rahimahullah bercerita;

كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُطِيلُ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ وَيُصَلِّي بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ وَيُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ
“Dahulu Ibnu Umar biasa memanjangkan shalatnya sebelum shalat Jumat, dan shalat sunnah setelahnya (badiyah Jumat) dua rakaat di rumahnya. Dia mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga melakukan hal demikian.”
(HR. Abu Dawud, no.953)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Hadits-hadits tersebut menunjukkan disunnahkannya shalat sunnah badiyah Jumat dan dorongan untuk melakukannya, minimalnya adalah dua rakaat, sempurnanya adalah empat rakaat.”
(Syarh Shahih Muslim, 6:169)

Beliau juga berkata;
“Disebutkan empat rakaat karena keutamaannya. Sedangkan disebutkan dua rakaat untuk menjelaskan bahwa shalat sunnah badiyah Jumat minimalnya adalah dua rakaat. Sudah dimaklumi bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat badiyah Jumat empat rakaat karena beliau sendiri yang memerintahkan dan mendorong untuk melakukannya. Empat rakaat ini lebih banyak mendapatkan kebaikan dan lebih utama.”
(Syarh Shahih Muslim, 6:170)

Hendaknya shalat sunnah badiyah Jumat ataupun shalat sunnah lainnya dikerjakan di rumah, meskipun boleh juga mengerjakannya di masjid.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ
“Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian! Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang dilakukan di rumahnya, kecuali shalat fardhu.”
(HR. Imam Bukhari, no.689)

Catatan: Jika kita ingin mengerjakan shalat sunnah badiyah Jumat di masjid, maka kita harus memisahkan antara shalat Jumat dan shalat sunnah badiyah Jumat dengan aktivitas di luar shalat, semisal berbincang dengan orang lain, atau keluar masjid lalu masuk kembali, atau hanya sekedar bergeser tempat shalat, dan kegiatan semisalnya, meskipun itu semua dilakukan hanya sebentar.

Karena Sahabat As-Saib bin Yazid radhiyallahu anhu bercerita;

نَعَمْ صَلَّيْتُ مَعَهُ الْجُمُعَةَ فِي الْمَقْصُورَةِ فَلَمَّا سَلَّمَ الْإِمَامُ قُمْتُ فِي مَقَامِي فَصَلَّيْتُ فَلَمَّا دَخَلَ أَرْسَلَ إِلَيَّ فَقَالَ لَا تَعُدْ لِمَا فَعَلْتَ إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ أَنْ لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ
“Benar aku pernah shalat Jumat bersama Muawiyah di dalam Maqshurah (suatu ruangan yang dibangun di dalam masjid). Setelah imam salam, aku berdiri di tempatku kemudian aku menunaikan shalat sunnah (badiyah Jumat). Ketika Muawiyah masuk, dia mengutus seseorang kepadaku dan utusan itu mengatakan: Jangan kamu ulangi perbuatanmu tadi! Jika kamu telah selesai mengerjakan shalat Jumat, janganlah kamu sambung dengan shalat sunnah sebelum kamu berbincang-bincang atau sebelum kamu keluar dari masjid. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan hal tersebut kepada kita, yaitu: Janganlah suatu shalat disambung dengan shalat lain, kecuali setelah kita mengucapkan kata-kata atau keluar dari Masjid!”
(HR. Imam Muslim, no.1463)

Imam Ash-Shanani rahimahullah menjelaskan;
“Hadits ini menunjukkan disyariatkannya memisah antara shalat sunnah dan shalat wajib, jangan kedua shalat tersebut bersambung langsung. Secara tekstual larangan di atas bermakna diharamkan. Hadits ini tidaklah khusus untuk shalat Jumat saja, karena perawi berusaha menunjukkan kekhususan hukum tersebut untuk shalat jamaah dengan hadits yang bersifat umum, yang mencakup shalat Jumat dan shalat lainnya juga.”
(Subulu As-Salam, 3:148)

D. ADAB KHUTBAH JUMAT

1. Duduk Dekat Dengan Tempat Khatib Atau Imam.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اُحْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنْ الْإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَا يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا
“Hadirilah peringatan (khutbah) dan mendekatlah kepada imam! Karena seseorang yang selalu menjauh darinya, hingga dia juga akan diakhirkan masuk ke dalam Surga, meskipun dia tetap akan memasukinya.”
(HR. Abu Dawud, no.934. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ وَغَدَا وَابْتَكَرَ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
“Barang siapa menggauli istrinya (berjima) dan mandi, lalu dia segera berangkat (ke masjid) sedini (sesegera) mungkin serta mendekat kepada imam, dan dia tidak melakukan hal yang sia-sia, maka setiap langkahnya seperti amalan satu tahun disertai puasa dan shalat malamnya.”
(HR. An-Nasai, no.1364)

Catatan: Adab seperti ini berlaku tidak hanya untuk majelis khutbah Jumat, tapi berlaku juga untuk majelis ilmu secara umum. Karena hal ini merupakan adab yang harus diketahui dan diamalkan oleh setiap muslimmuslim terhadap orang yang menyampaikan ilmu atau nasihat.

2. Tidak Boleh Duduk Dengan Posisi Memeluk Atau Bertekuk Lutut.
Sebagaimana Muadz bin Anas rahimahullah berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang duduk ihtiba (memeluk lutut) ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jumat.”
(HR. Abu Dawud, no.936. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Jadi kalau mau duduk bisa dengan bersila, iftirasy, atau tawaruk (seperti duduk saat tasyahud dalam shalat).

3. Pilih Orang Yang Berilmu Untuk Menjadi Khatib.
Salah satu dampak kerusakan di dunia itu disebabkan ucapan orang-orang yang tidak berilmu di atas mimbar, di majelis ilmu, dan forum semisalnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ
“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang ulamanya banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang meminta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik daripada berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-mintanya banyak dan yang memberinya sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik daripada beramal.”
(HR. Al-Albani, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.3189)

Setiap orang yang tidak berilmu namun, berani berbicara masalah ilmu tanpa ilmu, maka dia adalah Ruwaibidhah. Maka jauhilah orang yang semacam itu!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Sebelum munculnya Dajjal akan ada beberapa tahun munculnya para penipu. Sehingga orang jujur didustakan, sedangkan pendusta dibenarkan. Orang yang amanah dikhianati, sedangkan orang yang suka berkhianat dipercaya, dan para Ruwaibidhah ikut angkat bicara. Ada yang bertanya: Apa itu Ruwaibidhah? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang fasiq yang berbicara tentang persoalan publik.”
(HR. Ahmad, no.12820. Syaikh Al-Arnauth menyatakan hadits ini hasan)

Orang fasiq adalah orang yang melakukan dosa besar dan tidak bertaubat darinya, atau orang yang melakukan dosa kecil secara terus menerus.

Seorang khatib harus benar-benar menguasai ilmu yang akan disampaikannya. Setidaknya dia berusaha memahaminya dan mengamalkannya. Sehingga dia bisa menjiwai pembahasan ilmu tersebut ketika menyampaikannya kepada para jamaah shalat Jumat.

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ
“Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya.”
(HR. Imam Muslim, no.1435)

Salah satu tanda seorang khatib itu berilmu dan paham terhadap ilmu yang disampaikannya, dia akan berkhutbah dengan waktu yang singkat dan ilmu yang padat. Lalu dia akan lebih memanjangkan shalatnya daripada khutbahnya.

Imam Abu Wail rahimahullah bercerita;

خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَوْجَزَ وَأَبْلَغَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا
“Ammar pernah menyampaikan khutbah Jumat kepada kami dengan bahasa yang singkat dan padat. Maka ketika dia turun dari mimbar, kami pun berkata kepadanya: Wahai Abu Yaqzhan! Khutbahmu begitu singkat dan padat, alangkah baiknya jika kamu panjangkan lagi. Ammar berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sungguh lamanya shalat dan pendeknya khutbah seseorang itu menunjukkan tentang pemahamannya tentang agamanya. Karena sebab itu, panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah, karena sebagian dari penjelasan adalah sihir (memiliki daya tarik)!”
(HR. Imam Muslim, no.1437)

Imam Az-Zuhri rahimahullah menjelaskan;
“Apabila suatu majelis berlangsung lama, maka setan pun ikut mengambil bagian di dalamnya.”
(Hilyatu Al-Auliya, 3:366)

Kemudian hendaknya setiap khatib berusaha untuk menyampaikan khutbahnya dengan suara yang jelas per-huruf dan per-kalimatnya. Agar para jamaah bisa mendengarkan khutbahnya dengan jelas dan memahaminya dengan tuntas.

Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ
“Ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu jelas, sehingga dapat dipahami oleh siapa saja yang mendengarnya.”
(HR. Abu Dawud, no.4199. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka (orang-orang bodoh) ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”
(HR. Imam Bukhari, no.98)

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah diangkatnya ilmu serta tersebarnya kebodohan, dan diminumnya khamer serta praktik perzinaan secara terang-terangan.”
(HR. Imam Bukhari, no.78)

• Catatan;
– Hal-hal di atas tidak hanya berlaku untuk khatib shalat Jumat namun, berlaku juga untuk seluruh manusia yang menyampaikan ilmu di hadapan umum, seperti forum pengajian, tausyiah, kultum, dan forum semisalnya.
– Peringatan untuk para pengurus masjid atau panitia pengajian, untuk tidak sembarangan memilih orang untuk menjadi imam atau khatib. Karena jika kalian salah memilih orang dalam menyampaikan ilmu untuk umat, maka kalian pun ikut mendapatkan dosanya.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلًا وَمِنْ أُجُورِ مَنْ اسْتَنَّ بِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلًا وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa memberikan contoh yang baik, kemudian contoh tersebut menjadi teladan (diikuti), maka dia akan mendapatkan pahala amalannya secara sempurna berserta pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa memberikan contoh yang buruk, kemudian contoh tersebut menjadi teladan, maka dia pun akan mendapatkan dosa dari perbuatannya secara sempurna beserta dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
(HR. Ibnu Majah, no.200)

– Ilmu tidak bisa asal diambil dari sembarangan orang. Karena Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah menjelaskan;

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Ilmu adalah bagian dari agama, sebab itu perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama kalian!”
(Siyar Alam An-Nubala, 4:606)

Beliau pun bercerita;
“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad. Lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun berkata: Sebutkan kepada kami orang-orang yang menjadi sumber ilmu kalian! Maka jika dilihat orang-orang tersebut Ahlussunnah maka haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut Ahlu bidah maka haditsnya ditolak.”
(Muqaddimah Shahih Muslim, 1:15)

Sebetulnya orang yang belajar ilmu agama itu sedang membangun ideologi. Sehingga ketika sumber ilmunya adalah orang sesat, maka akan terbentuk ideologi yang sesat juga pada orang tersebut. Maka sebab itu, perhatiankan siapa yang menjadi guru agama kita!

Sebagian masyarakat memiliki prinsip: “Ketika mereka mengikuti ajaran seorang guru, maka mereka bebas dari tanggung jawab. Sehingga kalau mereka salah mengikuti guru, nanti yang akan menanggung dosanya tersebut adalah gurunya.” Prinsip semacam itu tidak benar, karena bertentangan dengan firman Allah azza wa jalla.

Allah azza wa jalla menceritakan tentang pertengkaran antara tokoh yang sesat dan para pengikutnya. Allah berfirman;

قَالَ ٱدْخُلُوا۟ فِىٓ أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ فِى ٱلنَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُوا۟ فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَىٰهُمْ لِأُولَىٰهُمْ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَـَٔاتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ ٱلنَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ
“Allah berfirman: Masuklah kalian ke dalam api Neraka bersama golongan jin dan manusia yang sudah lebih dahulu dari kalian! Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang masuk belakangan kepada orang yang sudah masuk terlebih dahulu: Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api Neraka yang berlipat ganda kepada mereka! Allah berfirman: Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.”
(Surat Al-Araf: ayat 38)

Kemudian orang yang sudah lebih dahulu masuk Neraka juga balas berkata;

وَقَالَتْ أُولَىٰهُمْ لِأُخْرَىٰهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ
“Dan orang yang sudah masuk Neraka lebih dahulu berkata kepada orang yang masuk belakangan: Kalian tidak memiliki kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.”
(Surat Al-Araf: ayat 39)

Kita saksikan, mereka saling menyalahkan dan bahkan meminta kepada Allah, agar siksaan orang yang telah membuatnya sesat di dunia ditambahkan berlipat ganda.

Allah juga bercerita, tentang penyesalan sebagian penghuni Neraka karena mereka mengikuti tokoh atau orang yang sesat. Allah berfirman;

وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًا. يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا. لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا
“Dan ingatlah, pada hari ketika orang-orang zhalim menggigit dua jarinya (menyesali perbuatannya) sambil berkata: Aduhai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Aduhai, celaka aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Quran) ketika itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.”
(Surat Al-Furqan: ayat 27-29)

Kita saksikan penyesalan mereka di hari Kiamat, hingga mereka gigit jari. Mereka menyesal, dahulu mengikuti para guru yang sesat tersebut. Padahal sudah sampai kepadanya peringatan yang sangat jelas, yang menunjukkan kesesatannya.

Sebab itulah, semua orang yang beriman harusnya menyadari, bahwa mengambil sumber ilmu itu akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah azza wa jalla. Prinsip-prinsip yang keliru seperti di atas harus ditinggalkan. Jika orang tersebut jelas menyimpang, membela sesuatu yang salah, maka jangan lagi dijadikan referensi dalam belajar ilmu agama!

Sebagai renungan, ketika tubuh kita sakit maukah kita pergi ke sembarang orang? Begitu juga ketika jiwa kita sakit, maukah kita pergi ke sembarang orang? Semoga tersadarkan.

4. Khatib Berdiri Di Atas Mimbar.
Salamah bin Dinar rahimahullah bercerita;

أَنَّ نَفَرًا جَاءُوا إِلَى سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَدْ تَمَارَوْا فِي الْمِنْبَرِ مِنْ أَيِّ عُودٍ هُوَ فَقَالَ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْرِفُ مِنْ أَيِّ عُودٍ هُوَ وَمَنْ عَمِلَهُ وَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ يَوْمٍ جَلَسَ عَلَيْهِ قَالَ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا عَبَّاسٍ فَحَدِّثْنَا قَالَ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى امْرَأَةٍ قَالَ أَبُو حَازِمٍ إِنَّهُ لَيُسَمِّهَا يَوْمَئِذٍ انْظُرِي غُلَامَكِ النَّجَّارَ يَعْمَلْ لِي أَعْوَادًا أُكَلِّمُ النَّاسَ عَلَيْهَا فَعَمِلَ هَذِهِ الثَّلَاثَ دَرَجَاتٍ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوُضِعَتْ هَذَا الْمَوْضِعَ فَهِيَ مِنْ طَرْفَاءِ الْغَابَةِ وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي
“Bahwa sejumlah orang datang kepada Sahl bin Sa’d karena mereka bertengkar mengenai mimbar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terbuat dari kayu apakah mimbar tersebut? Sahl menjawab: Demi Allah, aku tahu betul dari kayu apa mimbar itu dibuat, lalu siapa yang membuatnya, bahkan aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam duduk di situ pada hari pertama mimbar tersebut selesai dibuat. Kata Abu Hazim: Wahai Abu Abbas (Sahl)! Ceritakanlah kepada kami! Lalu Sahl bercerita: Pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruh (untuk memanggil) seorang perempuan Abu Hazim berkata: Beliau menyebutkan namanya pada waktu itu. Lalu beliau bersabda kepadanya: Suruhlah anakmu yang tukang kayu itu membuatkan sebuah mimbar kayu untuk tempatku berpidato (berkhutbah) kepada orang-orang! Maka dia membuat tiga tingkat ini. Kemudian Rasulullah memerintahkan agar meletakkan mimbar tersebut di tempat ini. Mimbar tersebut terbuat dari kayu hutan. Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat di atas mimbar itu. Lalu beliau bertakbir, maka orang-orang pun bertakbir juga di belakangnya, sedangkan beliau masih di atas mimbar. Kemudian beliau bangkit dari ruku, lalu turun sambil mundur sehingga beliau sujud di kaki mimbar. Kemudian beliau kembali lagi ke atas mimbar hingga selesai shalat. Sesudah itu, beliau menghadap kepada orang-orang lalu bersabda: Wahai sekalian manusia, aku melalukan ini agar kalian semua mengikutiku, dan agar kalian belajar cara shalatku.”
(HR. Imam Muslim, no.847)

Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَى جِذْعٍ إِذْ كَانَ الْمَسْجِدُ عَرِيشًا وَكَانَ يَخْطُبُ إِلَى ذَلِكَ الْجِذْعِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ هَلْ لَكَ أَنْ نَجْعَلَ لَكَ شَيْئًا تَقُومُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَرَاكَ النَّاسُ وَتُسْمِعَهُمْ خُطْبَتَكَ قَالَ نَعَمْ فَصَنَعَ لَهُ ثَلَاثَ دَرَجَاتٍ
“Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat menghadap ke arah sebatang kayu kurma, sebab masjid pada masa itu tidak mempunyai dinding dan beliau juga berkhutbah di atas kayu tersebut. Seorang laki-laki dari Sahabatnya berkata: Bagaimana jika kami buatkan sesuatu (mimbar) yang dapat engkau gunakan berdiri di hari Jumat, hingga orang-orang dapat melihatmu dan mendengar khutbahmu? Beliau menjawab: Ya. Maka Sahabat tersebut membuatkan Rasulullah mimbar yang mempunyai tiga tingkatkan.”
(HR. Ibnu Majah, no.1404. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Di dalam hadits tersebut terdapat pernyataan, bahwa mimbar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu ada tiga tingkat (anak tangga).”
(Syarh Shahih Muslim, hlm.544)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi rahimahullah menjelaskan;
“Dalam hadits lain disebutkan, bahwa mimbar Nabi itu ada dua tingkat, kemudian yang ke tiga adalah tempat duduknya.”
(Al-Jauhar Fi Adadi Darajati Al-Mimbar, hlm.55-56)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Disyariatkan berkhutbah di atas mimbar seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Di antara hikmah berkhutbah di atas mimbar adalah memudahkan makmum untuk melihat khatib dan mendengarkan khutbahnya.”
(Fathu Al-Bari, 2:400)

Beliau juga berkata;
“Keseringan dari khutbah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dilakukan di atas mimbar masjid, kecuali khutbah dua id (Idul Fithri dan Idul Adha), lalu di musim haji serta semacamnya.”
(Fathu Al-Bari, 3:403)

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan;
“Di antara bentuk bidah adalah membuat tingkatan mimbar lebih dari tiga tingkat (anak tangga).”
(Al-Ajwibah An-Nafiah, hlm.120)

Hendaknya mimbar diletakkan di sebelah kanan tempat shalat imam atau sebelah utara arah kiblat.

Imam An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan;
“Dianjurkan agar posisi mimbar di sebelah kanan mihrab. Artinya di sebelah kanan tempat imam, ketika dia berada di mihrab menghadap kiblat. Seperti ini tradisi umat Islam.”
(Al-Majmu, 4:527)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Dianjurkan agar mimbar diletakkan di sebelah kanan ketika melihat ke arah kiblat. Karena seperti inilah Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukannya.”
(Al-Mughni, 2:144)

Catatan: Penjelasan tentang posisi mimbar Rasulullah hanya bersifat anjuran atau sunnah, dan tidak menunjukkan bahwa hal tersebut wajib. Meskipun dianjurkan untuk memposisikannya demikian dalam rangka meniru keadaan yang ada di zaman Rasulullah namun, hal tersebut tidak mempengaruhi hukum khutbah dan shalat jumat.

Termasuk hal yang terlarang pada mimbar adalah membuat hiasan seperti memasang kain penutup di sekitar mimbar, apalagi kainnya harus berwarna putih, memberikan alas untuk pijakan kaki serta tempat duduk berupa karpet atau kain, dan hal-hal semisalnya.

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata;
“Di antara bentuk bidah adalah memasang kain-kain penutup di mimbar.”
(Al-Ajwibah An-Nafiah, hlm.119)

Imam Asy-Syuqairi rahimahullah menjelaskan; “Penutup-penutup pada mimbar itu adalah bidah. Padahal anak-anak yatim, para janda, dan orang-orang miskin lebih berhak mendapatkan nilai uang yang digunakan untuk membeli kain penutup tersebut.”
(As-Sunan Wa Al-Mubtadat, hlm.75)

5. Khatib Boleh Membawa Tongkat.
Jumhur ulama berpendapat disunnahkannya membawa tongkat saat berkhutbah. Ini pendapat ulama Malikiyyah, Syafiiyyah, dan Hanabilah.

Imam Malik rahimahullah menjelaskan;
“Di antara hal yang dianjurkan bagi para khatib adalah membawa tongkat saat berkhutbah Jumat, untuk bertumpu di saat mereka berdiri.”
(Al-Mudawwanah Al-Kubra, 1:232)

Imam Syafii rahimahullah menjelaskan;
“Aku suka menganjurkan para khatib berkhutbah untuk bertumpu pada sesuatu.”
(Al-Umm, 1:396)

Imam Buhuti rahimahullah juga menjelaskan;
“Disunnahkan bertumpu pada pedang, busur panah, atau tongkat saat berkhutbah dengan salah satu tangan.”
(Kasyaf Al-Qana, 2:36)

Sebagaimana ketika Fathimah binti Qais radhiyallahu anha ketika menceritakan tentang Al-Masih Dajjal, dia berkata;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَعَنَ بِمِخْصَرَتِهِ فِي الْمِنْبَرِ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda seraya memukulkan tongkat pendek beliau ke mimbar: Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah, maksud beliau adalah Madinah.”
(HR. Imam Muslim, no.5235)

Bahkan tiga khalifah setelah Rasulullah (Khulafa Ar-Rasyidin), yaitu Abu Bakar, Umar bin Khatthab, dan Utsman bin Affan radhiyallahu anhum, membawa tongkat yang biasa dibawa Rasulullah saat berkhutbah di dalam khutbah-khutbah mereka.

Sebagaimana Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila berdiri untuk khutbah, beliau mengambil tongkat lalu beliau bertumpu pada tongkat tersebut saat beliau di atas mimbar. Demikian yang diceritakan oleh Abu Dawud dan Ibnu Syihab. Kemudian perbuatan ini diikuti oleh tiga Khulafa Ar-Rasyidin sepeninggal Nabi.”
(Zadu Al-Maad, 1:179)

Ada juga ulama yang memiliki pendapat, bahwa membawa tongkat saat khutbah Jumat adalah masalah yang kondisional. Saat tongkat atau benda semisalnya yang sama fungsinya dibutuhkan, maka disunahkan membawanya. Namun, jika tidak dibutuhkan, maka tidak perlu membawa tongkat saat khutbah.

Sebagaimana Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Bertumpu pada tongkat, hanya dilakukan pada saat dibutuhkan. Jika khatib butuh tumpuan, bisa jadi karena fisiknya lemah sehingga butuh pegangan tongkat, maka bertumpu pada tongkat pada kondisi seperti ini hukumnya sunnah. Karena tongkat tersebut membantunya untuk berdiri, yang itu hukumnya sunnah.”
(Syarhu Al-Mumthi, 5:63)

6. Mengumandangkan Dan Menjawab Adzan.
Sahabat As-Saib bin Yazid radhiyallahu anhu bercerita;

كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ. قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ
“Adzan untuk panggilan shalat Jumat pada awalnya dilakukan ketika imam sudah duduk di atas mimbar. Hal ini dipraktikkan sejak zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma. Ketika masa Utsman radhiyallahu anhu, dan manusia sudah semakin banyak, maka dia menambah adzan ketiga di Az-Zaura. Abu Abdillah berkata: Az-Zaura adalah bangunan yang ada di pasar di Kota Madinah.”
(HR. Imam Bukhari, no.861)

Maksud tiga adzan di atas adalah adzan pertama sebelum Utsman keluar untuk khutbah, adzan kedua adalah ketika beliau sudah duduk di atas mimbar, dan adzan yang ketiga adalah iqamah, karena iqamah juga dinamakan adzan.

Imam Syafii rahimahullah berkata;
“Aku menyukai untuk dikumandangkan adzan pada hari Jumat ketika imam (khatib) telah masuk masjid dan duduk di tempat dia berkhutbah (mimbar). Apabila imam telah melakukan hal tersebut, muadzin mulai mengumandangkan adzan. Apabila telah selesai adzan, imam berdiri menyampaikan khutbahnya, tidak lebih dari itu. Lalu menyebutkan hadits As-Saib bin Yazid di atas, kemudian berkata: Atha mengingkari atau tidak menyetujui bahwa yang melakukan adzan ketiga itu adalah Utsman. Atha berkata, bahwa yang membuat adzan Jumat menjadi tiga itu adalah Muawiyah. Namun, siapa pun yang melakukan tiga adzan pertama kali, perkara yang ada di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut (mengumandangkan satu adzan dan satu iqamah) tetap lebih aku sukai.”
(Al-Umm, 1:503-504)

• Waktu shalat Jumat.
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Waktu shalat Jumat dimulai sejak tergelincir matahari, hingga akhir waktu shalat Zhuhur. Dan inilah waktu yang disepakati oleh para ulama.”
(Al-Mughni, 3:160)

Apakah boleh dikerjakan sebelum tergelincir matahari? Maka dalam masalah ini para ulama berselisih pendapat.

– Hukumnya tidak sah.
Ini adalah pendapat jumhur ulama. Sebagaimana Sahabat Salamah bin Amru bin Al-Aqwa radhiyallahu anhu berkata;

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ
“Kami shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika matahari tergelincir. Setelah itu, kami pulang dalam keadaan masih perlu mencari-cari naungan untuk tempat berlindung.”
(HR. Imam Muslim, no.1423)

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةَ فَنَرْجِعُ وَمَا نَجِدُ لِلْحِيطَانِ فَيْئًا نَسْتَظِلُّ بِهِ
“Kami shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian kami pulang namun, kami tidak lagi mendapati naungan pada dinding untuk berteduh.”
(HR. Imam Muslim, no.1424)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan shalat Jumat ketika matahari sudah tergelincir.”
(HR. Imam Bukhari, no.853)

Imam Syafii rahimahullah menjelaskan;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para imam setelah mereka, mengerjakan shalat Jumat setelah tergencilir matahari.”
(Al-Majmu, 4:380)

– Hukumnya tetap sah.
Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Ishaq rahimahumallah. Sebagaimana Sahabat Sahl bin Saad radhiyallahu anhu berkata;

مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ
“Biasanya kami tidak pernah tidur siang dan tidak juga makan siang, kecuali setelah menunaikan shalat Jumat.”
(HR. Imam Muslim, no.1422)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan;
“Maksudnya makan dan tidur siang dalam adat bangsa Arab dahulu itu dilakukan sebelum tergelincir matahari, sebagaimana dinyatakan Ibnu Qutaibah. Demikian juga Rasulullah berkhutbah dua khutbah, kemudian diriwayatkan membaca surat Qaf, atau dalam riwayat lain surat Al-Furqan, atau dalam riwayat lain surat Al-Jumuah dan Al-Munafiqun. Seandainya beliau hanya shalat Jumat setelah tergelincir matahari, maka ketika selesai, orang akan mendapatkan bayangan benda untuk bernaung dari panas matahari dan telah keluar dari waktu makan dan tidur siang.”
(Nailu Al-Authar, hlm.3:275)

Sahabat Salamah bin Amru bin Al-Aqwa radhiyallahu anhu berkata;

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ
“Kami shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika matahari tergelincir. Setelah itu, kami pulang dalam keadaan masih perlu mencari-cari naungan untuk tempat berlindung.”
(HR. Imam Muslim, no.1423)

Imam Muhammad bin Ali bin Husain rahimahullah berkata;

أَنَّهُ سَأَلَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ مَتَى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ قَالَ كَانَ يُصَلِّي ثُمَّ نَذْهَبُ إِلَى جِمَالِنَا فَنُرِيحُهَا. زَادَ عَبْدُ اللَّهِ فِي حَدِيثِهِ حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ يَعْنِي النَّوَاضِحَ
“Bahwa dia bertanya kepada Jabir: Kapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menunaikan shalat Jumat? Dia menjawab: Biasanya beliau shalat Jumat, kemudian setelah itu kami pulang ke ternak unta kami, dan mengistirahatkannya. Abdullah menambahkan di dalam haditsnya: Saat matahari tergelincir, yakni setelah unta diberi minum.”
(HR. Imam Muslim, no.1421)

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan;
“Ini jelas menunjukkan waktu shalat Jumat dilakukan sebelum tergelincir matahari.”
(Al-Ajwiba An-Nafiah, hlm.22)

• Kesimpulan: Pendapat yang dinilai lebih kuat dan mendekati kebenaran adalah pendapat kedua. Bahwa waktu shalat Jumat adalah waktu shalat Zhuhur, dan tetap sah jika dilakukan sebelum tergelincir matahari.

Sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu bercerita;

سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى الْمِنْبَرِ أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ مُعَاوِيَةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ وَأَنَا فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ وَأَنَا فَلَمَّا أَنْ قَضَى التَّأْذِينَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى هَذَا الْمَجْلِسِ حِينَ أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ يَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ مِنِّي مِنْ مَقَالَتِي
“Aku mendengar Muawiyyah bin Abu Sufyan ketika dia sedang duduk di atas mimbar dan muadzin sedang mengumandangkan adzan: Allahu Akbar Allahu Akbar, Muawiyyah mengucapkan: Allahu Akbar Allahu Akbar. Ketika muadzin membaca: Asyhadu An Laa Ilaha Illallah. Muawiyyah dan aku mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin. Dan ketika muadzin membaca: Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah, Muawiyyah dan aku mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin. Ketika adzan sudah selesai, Muawiyyah berkata: Wahai manusia, sungguh ketika adzan dikumandangkan aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan dari tempat ini seperti yang kalian dengar dari (bacaan) ucapanku tadi.”
(HR. Imam Bukhari, no.863)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar suara muadzin (orang yang mengumandangkan adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin! Kemudian bershalawatlah untukku, karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di Surga, tidaklah layak tempat tersebut, kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap termasuk hamba tersebut. Dan barang siapa memintakan wasilah untukku, maka syafaat halal untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.577)

Catatan: Menjawab adzan ini berlaku untuk setiap kali mendengar suara adzan di waktu-waktu shalat, sehingga tidak hanya di waktu shalat Jumat. Dan hendaknya dilakukan dengan suara yang pelan.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut! Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(Surat Al-Araf: ayat 55)

وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ
“Dan ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah!”
(Surat Al-Araf: ayat 205)

7. Khatib Mengawali Khutbah Dengan Khutbatul Hajah.
Adapun lafazh khutbatul hajah adalah;

إِنَّ الْحَمْدَ ِللَّهِ نَحْمَدُهُ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. KepadaNya kita memuji, memohon pertolongan dan ampunan. Kita berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa kita dan keburukan perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam!”
(Surat Ali Imran: ayat 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, serta darinya Allah menciptakan istrinya dan keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) namaNya kalian saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.”
(Surat An-Nisa: ayat 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 70-71)

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
“Amma badu: Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru (dalam agama), dan setiap yang baru itu adalah bidah, dan setiap bidah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”
(HR. Abu Dawud, no.1097)

Intinya, khutbatul hajat itu harus mengandung kalimat tasyahud (persaksian) yang itu merupakan kalimat tauhid. Karena Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu menjelaskan;

كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيْهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ
“Setiap khutbah yang tidak terdapat tasyahud di dalamnya, maka ia seperti tangan yang berpenyakit kusta atau yang terpotong.”
(HR. Abu Dawud, no.4841)

8. Menghadapkan Wajah Ke Arah Khatib.
Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا
“Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa salam berada di atas mimbar, maka kami menghadap ke arahnya dengan seluruh wajah kami.”
(HR. At-Tirmidzi, no.467)

Imam Tsabit rahimahullah berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلَهُ أَصْحَابُهُ بِوُجُوهِهِمْ
“Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam bangun dari mimbar, maka para Sahabat menghadapkan wajah-wajah mereka ke arahnya.”
(HR. Ibnu Majah, no.1126)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Jika berkhutbah Jumat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri, sementara sahabat-sahabat beliau menghadapkan wajah mereka ke arah beliau.”
(Zadu Al-Maad, 1:430)

9. Tidak Boleh Bicara Dan Berusaha Fokus Menyimak Khutbah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
“Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jumat (shalat Jumat): Diamlah! Padahal imam (khatib) sedang memberikan khutbah, maka sungguh kamu sudah berbuat sia-sia (tidak mendapat pahala).”
(HR. Imam Bukhari, no.882)

Para ulama menjelaskan;
“Mengkhususkan pembacaan hadits tersebut ketika imam sedang naik mimbar atau setelahnya, baik dibaca oleh imam ataupun muadzin, maka termasuk amalan bidah.”
(Fatawa Lajnah, 8:241-242)

Imam An-Nadhr bin Syumail rahimahullah menjelaskan;
“Kalimat Laghauta bermakna: Luput dari pahala. Ada juga ulama yang berpendapat, maksudnya adalah Tidak mendapatkan keutamaan ibadah Jumat. Ulama lain berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah ibadah Jumatnya menjadi shalat Zhuhur.”
(Fathu Al-Bari, 2:414)

Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah berkata;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam menamakannya sebagai orang yang berbuat sia-sia, padahal dia memerintahkan hal yang maruf. Maka hal itu menunjukkan wajibnya diam dan haramnya berbicara saat khatib berkhutbah.”
(Majmu Al-Fatawa, 30:252)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Hadits di atas menunjukkan larangan berbicara dengan berbagai macam bentuknya ketika imam berkhutbah. Begitu juga dengan perkataan untuk menyuruh orang diam, padahal awalnya ingin melakukan amar maruf (memerintahkan kebaikan), itupun tetap disebut ‘laghwu’ (perkataan yang sia-sia). Jika seperti itu saja dianggap sia-sia, maka perkataan yang selainnya tentu jelas terlarang. Jika kita ingin beramar maruf pada saat itu, maka cukuplah sambil diam dengan berisyarat yang membuat orang lain paham. Jika tidak bisa dipahami, cukup dengan sedikit perkataan dan tidak boleh lebih dari itu. Lalu mengenai hukum berbicara di sini haram ataukah makruh, para ulama berbeda pendapat. Imam Syafii memiliki dua pendapat dalam hal ini. Al-Qadhi berkata bahwa Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafii serta kebanyakan ulama lainnya berpendapat, wajibnya diam saat khutbah. Dalam hadits disebutkan: Ketika imam berkhutbah. Ini menunjukkan bahwa wajibnya diam dan larangan berbicara adalah ketika imam berkhutbah saja. Inilah pendapat madzhab Imam Syafii, Imam Malik, dan mayoritas (jumhur) ulama. Berbeda dengan Abu Hanifah, yang menyatakan wajib diam hingga imam keluar (masjid).”
(Syarh Shahih Muslim, 6:138-139)

Catatan;
– Hadits di atas adalah untuk pelajaran setiap umat Islam dan sebagai peringatan dalam pelaksanaan shalat Jumat, bukan untuk dibacakan atau dilafazhkan. Jadi cukup pahami maknanya, lalu amalkan!

– Adapun untuk pembicaraan satu arah (tidak terjalin komunikasi), maka masih dibolehkan seperti: Ketika khatib mengingatkan jamaah yang mengobrol, bermain, berlari, main HP, dan aktivitas semisalnya. Atau khatib mengingatkan jamaah yang belum shalat Tahiyatul masjid saat masuk masjid. Atau ucapan dari jamaah disebabkan pertanyaan khatib, seperti yang dijelaskan pada hadits di atas (point sebelumnya) tentang perintah shalat sunnah Tahiyyatul masjid pada saat masuk masjid. Atau juga sebuah ucapan karena jamaah meminta sesuatu pada saat khatib berkhutbah, seperti meminta khatib untuk menertibkan jamaah yang sedang berbincang atau berbuat keributan, membetulkan khatib ketika dia menyampaikan penjelasan atau dalil yang keliru, dan bertanya tentang suatu permasalahan muamalah ataupun ibadah.

Sebagaimana Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhuma bercerita;

أَصَابَتْ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ قَزَعَةً فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا وَضَعَهَا حَتَّى ثَارَ السَّحَابُ أَمْثَالَ الْجِبَالِ ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمُطِرْنَا يَوْمَنَا ذَلِكَ وَمِنْ الْغَدِ وَبَعْدَ الْغَدِ وَالَّذِي يَلِيهِ حَتَّى الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَقَامَ ذَلِكَ الْأَعْرَابِيُّ أَوْ قَالَ غَيْرُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَهَدَّمَ الْبِنَاءُ وَغَرِقَ الْمَالُ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. فَمَا يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ السَّحَابِ إِلَّا انْفَرَجَتْ وَصَارَتْ الْمَدِينَةُ مِثْلَ الْجَوْبَةِ وَسَالَ الْوَادِي قَنَاةُ شَهْرًا وَلَمْ يَجِئْ أَحَدٌ مِنْ نَاحِيَةٍ إِلَّا حَدَّثَ بِالْجَوْدِ
“Pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam manusia tertimpa paceklik. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang memberikan khutbah pada hari Jumat, tiba-tiba ada seorang Arab badui berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdoalah kepada Allah untuk kami! Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangan dan berdoa, dan pada saat itu kami tidak melihat sedikitpun ada awan di langit. Namun, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh beliau tidak menurunkan kedua tangannya kecuali gumpalan awan telah datang membumbung tinggi laksana pegunungan. Dan beliau belum turun dari mimbar, hingga akhirnya aku melihat hujan turun membasahi jenggot beliau shallallahu alaihi wa sallam. Maka pada hari itu, keesokan harinya, dan lusa kami terus-menerus mendapatkan guyuran hujan dan hari-hari berikutnya, hingga hari Jumat berikutnya. Pada Jumat berikut itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri seraya berkata: Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut, maka berdoalah kepada Allah untuk kami! Beliau lalu mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa: ALLAHUMMA HAWAALAINAA WA LAA ALAINAA (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami). Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya pada gumpalan awan, melainkan awan tersebut hilang seketika. Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, Madinah juga tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan. Dan tidak seorang pun yang datang dari segala pelosok kota, kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.881)

Sahabat Al-Bara bin Azib radhiyallahu anhu juga bercerita;

خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ عَجَّلَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ فَقَامَ خَالِي أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أُصَلِّيَ وَعِنْدِي جَذَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُسِنَّةٍ قَالَ اجْعَلْهَا مَكَانَهَا أَوْ قَالَ اذْبَحْهَا وَلَنْ تَجْزِيَ جَذَعَةٌ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari Nahr (penyembelihan qurban), beliau bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali kami lakukan pada hari raya kami ini adalah shalat. Kemudian kami pulang dan melaksanakan penyembelihan qurban. Maka barang siapa mengerjakan seperti itu, berarti dia telah memenuhi sunnah kami. Dan barang siapa menyembelih qurban sebelum pelaksanaan shalat id, maka itu hanyalah daging yang dipersembahkan untuk keluarganya dan tidak sedikitpun mendapatkan (pahala) ibadah qurban. Tiba-tiba pamanku, Abu Burdah bin Niyar, berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih hewan sebelum aku shalat namun, aku masih memiliki anak kambing yang lebih baik dari kambing yang telah berumur dua tahun. Maka beliau pun bersabda: Jadikanlah ia sebagai pengganti (dari apa yang telah kamu sembelih sebelum shalat)! Atau beliau mengatakan: Sembelihlah namun, hal itu tidak berlaku bagi orang setelahmu!”
(HR. Imam Bukhari, no.915)

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
“Barang siapa yang berwudhu, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian mendatangi Jumat, mendengarkan (khutbah) tanpa berkata-kata, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dengan hari Jumat yang lain, ditambah tiga hari. Dan barang siapa yang memegang batu kerikil, maka dia telah berbuat kesia-siaan.”
(HR. Imam Muslim, no.1419)

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَمَسَّ مِنْ طِيبِ امْرَأَتِهِ إِنْ كَانَ لَهَا وَلَبِسَ مِنْ صَالِحِ ثِيَابِهِ ثُمَّ لَمْ يَتَخَطَّ رِقَابَ النَّاسِ وَلَمْ يَلْغُ عِنْدَ الْمَوْعِظَةِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهُمَا وَمَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا
“Barang siapa yang mandi untuk melaksanakan shalat Jumat dan mengenakan wewangian istrinya apabila dia mempunyai wewangian, serta memakai pakaian yang paling bagus (terbaik), kemudian tidak melangkahi pundak-pundak orang lain dan tidak main-main (fokus) dalam mendengarkan khutbah, maka dia akan mendapatkan penghapusan dosa di antara dua Jumat. Dan barang siapa yang main-main (melakukan hal yang sia-sia) dalam mendengarkan khutbah, maka baginya hanyalah pahala shalat Zhuhur.”
(HR. Abu Dawud, no.293. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Bahkan mayoritas ulama berpendapat, haram juga hukumnya makmum (jamaah) saling berbicara di antara mereka.

Sehingga ketika ada makmum yang sedang berbincang dengan orang lain pada saat khatib berkhutbah, maka kita boleh memberikan isyarat kepadanya untuk diam (tanpa berbicara atau bersuara). Termasuk ketika ada orang lain yang tertidur pada saat khutbah, maka kita dianjurkan untuk membangunkannya dengan isyarat, bukan ucapan.

Syaikh Abdullah bin Baz rahimahullah berkata;
“Dianjurkan untuk membangunkan mereka dengan perbuatan, bukan dengan ucapan. Sebab berbicara ketika khutbah tidak boleh (terlarang).”
(Majmu Al-Fatawa, 30:253)

Bahkan isyarat seperti itu bisa digunakan juga untuk menjawab salam di antara jamaah, menjawab bersin, menjawab adzan, mengingatkan orang lain yang tidak fokus menyimak khutbah semisal karena memainkan HP, menghentikan kegaduhan di dalam masjid, dan keadaan semisalnya.

Syaikh Abu Malik rahimahullah berkata;
“Termasuk dalam larangan adalah menjawab salam orang lain ketika imam berkhutbah. Balasannya cukup dengan isyarat.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:589)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya;
“Apa hukum menjawab salam dan menjawab bersin saat khutbah Jumat? Apa juga hukum menyodorkan tangan kepada orang yang ingin bersalaman ketika imam berkhutbah? Beliau menjelaskan: Menjawab salam orang lain dan menjawab bersin saat imam berkhutbah tidak diperbolehkan, karena hal tersebut termasuk berbicara yang terlarang dan hukumnya haram. Karena seorang muslim (jamaah) tidaklah diperintahkan untuk mengucapkan salam pada saat itu. Disebabkan salamnya tidak diperintahkan, maka demikian juga dengan balasannya. Orang yang bersin pun tidak diperintahkan mengeraskan bacaan ‘alhamdulillah’ ketika imam berkhutbah. Oleh sebab itu, ucapannya tidak perlu dibalas dengan ucapan ‘yarhamukallah’. Sedangkan menyambut jabatan tangan orang yang ingin bersalaman, sebaiknya tidak dilakukan karena termasuk membuat lalai, kecuali jika dikhawatirkan terdapat mafsadat (kerusakan), maka ketika itu tidaklah mengapa (boleh) menyambut sodoran tangannya, akan tetapi tidak boleh ditambah dengan obrolan. Lalu jelaskan juga kepadanya setelah shalat, bahwa pembicaraan saat khutbah itu haram.”
(Majmu Fatawa Wa Rasail Ibnu Utsaimin, 16:94)

Adapun untuk menjawab salam khatib (imam), maka memiliki hukum yang berbeda.

Imam Al-Mardawi rahimahullah menjelaskan;
“Menjawab salam imam (ketika dia masuk dan menghadap jamaah) dan juga menjawab setiap salam adalah sesuatu yang diperintahkan dan hukumnya fardhu kifayah bagi para jamaah umat Islam.”
(Al-Inshaf Fi Marifati Ar-Rajih Min Al-Khilaf, 4:56)

Sehingga ketika sudah ada orang yang menjawab salamnya, maka yang lain sudah tidak berkewajiban untuk menjawab salamnya. Dan hukum menjawab salam ini berlaku juga di luar majelis shalat Jumat.

Imam Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qari rahimahullah berkata;
“Menjawab salam dan tidak terdengar (di telinga orang yang memberi salam), itu belum menggugurkan kewajiban.”
(Mirqatu Al-Mafatih Syarh Misykatu Al-Mashabih, 6:13)

Selain itu, menjawab adzan pada saat khatib di atas mimbar maka dibolehkan, dan cukup diucapkan dengan suara lirih (pelan), sebagaimana hukum asal doa dan dzikir adalah dengan suara yang pelan. Dan hal ini juga berlaku untuk menjawab shalawat ketika khatib menyebut nama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar suara muadzin (orang yang mengumandangkan adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin! Kemudian bershalawatlah untukku, karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di Surga, tidaklah layak tempat tersebut, kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap termasuk hamba tersebut. Dan barang siapa memintakan wasilah untukku, maka syafaat halal untuknya.”
(HR. Imam Muslim, no.577)

Allah azza wa jalla berfirman;

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut! Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(Surat Al-Araf: ayat 55)

وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ
“Dan ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah!”
(Surat Al-Araf: ayat 205)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اَلْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila aku disebutkan di hadapannya, maka dia tidak mengucapkan shalawat kepadaku.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3469)

10. Tidak Boleh Tidur Saat Khatib Berkhutbah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ إِلَى غَيْرِهِ
“Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk di dalam masjid (ketika khutbah Jumat), maka hendaknya dia pindah tempat duduk ke tempat duduk yang lain.”
(HR. Abu Dawud, no.944)

Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah menjelaskan;
“Mereka memakruhkan tidur ketika khatib sedang berkhutbah. Dan mereka berkata tegas mengenai hal tersebut.”
(Al-Qaulu Al-Mubin, no.346)

Beliau juga menjelaskan;
“Mereka (para Sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras. Ibnu Aun berkata: Aku bertemu lagi dengan Ibnu Sirin, lalu bertanya: Apa komentar Sahabat tentang mereka? Ibnu Sirin menjawab: Mereka (para Sahabat) berkata, Orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal (tidak menang dan tidak juga mendapatkan ghanimah).”
(Tafsir Al-Qurthubi, 18:117)

11. Khatib Tidak Boleh Banyak Bergerak.
Imam Ibnul Atthar rahimahullah menjelaskan;
“Di antara bidah yang diharamkan ketika memberikan nasihat dan peringatan adalah banyak bergerak yang dilakukan oleh para penasihat (khatib), yaitu dengan mencondongkan badan, menjejakkan kaki, bergoyang-goyang, mencondongkan badan 1 derajat atau 2 derajat, kemudian menaikkan badan lagi serta mengobarkan jiwa para jamaah dengan teriakan dan suara yang keras. Dan juga membacakan syair-syair pengobar semangat, sehingga menyimpang dari tujuan disyariatkannya suatu nasihat dan peringatan, yang seharusnya membawa ketenangan, keagungan, dan keheningan.”
(Adab Al-Khatib, hlm.122)

Imam Syafii rahimahullah juga berkata;
“Jika seorang khatib tidak bertumpu pada sebuah tongkat, maka aku lebih suka dia mendiamkan tubuh dan kedua tangannya dengan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, atau meletakkannya pada sisi kedua tubuhnya.”
(Al-Umm, 1:230)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;
“Disunnahkan bagi seorang khatib untuk mendiamkan jari-jemari tangannya, baik meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, ataupun menyejajarkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.”
(Al-Mughni, 3:180)

12. Khatib Tidak Boleh Mengkhususkan Khutbah Kedua Hanya Untuk Berdoa.
Hal seperti ini terjadi karena sebagian khatib mengira, bahwa khutbah kedua merupakan bagian yang menyatu dari khutbah pertama. Sehingga sebagian khatib mengisi khutbah kedua hanya dengan doa atau beberapa kalimat saja, dengan tujuan untuk mempercepat khutbah kedua.

Imam Ibnul Aththar rahimahullah menjelaskan;
“Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian khatib dengan mempersingkat khutbah kedua, serta membacanya dengan suara rendah (pelan), dan tidak memperdengarkan suaranya kepada para jamaah dengan jelas karena tidak menganggapnya sebagai bagian dari khutbah dan juga tidak mengerti syariatnya, maka hal tersebut merupakan sebuah kelalaian dan kebodohan. Menurut syariat, khutbah kedua adalah khutbah yang tersendiri (terpisah dari khutbah pertama), rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, dan sunnah-sunnahnya, serta adab-adabnya, kemudian juga keharusan mendengarkannya secara jelas. Meskipun demikian, sunnahnya khutbah kedua disampaikan lebih singkat dari khutbah pertama.”
(Adab Al-Khatib, hlm.132-133)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Di antara hal-hal yang dimakruhkan dalam berkhutbah adalah terlalu mempercepat penyampaian khutbah kedua dan merendahkan suaranya.”
(Al-Majmu, 4:400)

Imam Asy-Syarbini rahimahullah berkata;
“Sesuatu yang dimakruhkan dalam khutbah adalah sesuatu yang diada-adakan oleh para khatib yang tidak mengetahui, yaitu mempercepat khutbah kedua dan merendahkan suaranya.”
(Mughni Al-Muhtaj, 1:557)

Jadi, isilah khutbah kedua dengan ilmu, nasihat, dan kalimat bermanfaat lainnya. Jangan diisi hanya dengan doa, apalagi dengan ucapan yang sangat singkat, karena Rasulullah tidak pernah melakukan hal tersebut!

13. Khatib Mengangkat Jari Telunjuk Saat Berdoa.
Sahabat Umarah bin Ruaybah radhiyallahu anhu berkata;

رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ
“Dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya (ketika menjadi khatib) di atas mimbar. Umarah lalu berkata kepadanya: Semoga Allah memburukkan kedua tanganmu ini, karena aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika menjadi khatib tidak menambah lebih dari yang seperti ini (Umarah lalu mengacungkan jari telunjuknya).”
(HR. Imam Muslim, no.847)

Al-Istighfar adalah cara berdoa dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan ke atas.

Sebagaimana Syaikh Shalih Alu Syaikh menjelaskan;
“Cara ini khusus bagi khatib yang berdiri. Jika dia berdoa, cukup jari telunjuknya menunjuk ke atas. Ini simbol dari doa dan tauhidnya. Tidak disyariatkan bagi khatib mengangkat kedua tangannya (ketika berdoa), jika dia berkhutbah sambil berdiri di atas mimbar atau di atas benda lainnya, kecuali jika sedang berdoa istisqa, maka boleh mengangkat kedua tangan.”
(Syarh Arbain An-Nawawiyyah, 1:112)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;
“Makruh bagi seorang khatib untuk mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dalam khutbah, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya menunjuk dengan jari-jarinya (ke atas) ketika berdoa.”
(Al-Ikhthiyarat Al-Ilmiyyah, hlm.48)

Maka khatib shalat Jumat ketika membaca doa dalam khutbahnya cukup dengan mengacungkan jari telunjuk kanannya ke arah langit, bukan dengan mengangkat kedua tangan.

Catatan: Penjelasan mengenai posisi tangan saat berdoa, silakan bisa membaca tulisan Penulis di website Khiyaar.Com yang berjudul: Adab Berdoa.

Semoga dengan penjelasan-penjelasan di atas membuat hari Jumat yang kita lalui lebih baik dan bermakna, serta ibadah yang kita kerjakan di dalamnya lebih optimal dalam mengikuti syariat Allah dan sunnah Rasulullah. Aamiin

Kalau bukan sejak sekarang kita memperbaiki hari-hari yang kita lalui dan ibadah-ibadah yang kita kerjakan, kapan lagi?

Teruslah meminta hidayah (petunjuk) dan taufiq (kemudahan) kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu memberikan hidayah dan taufiq!
___
@Kota Udang Cirebon, 15 Dzulhijjah 1440H/16 Agustus 2019M.
Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaManfaat Jima
Artikel sesudahnyaSi Pebisnis Yang Hartanya Tidak Pernah Habis
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here