Beranda Belajar Islam Amalan MANFAAT JIMA (Bersetubuh Dengan Pasangan Halal)

MANFAAT JIMA (Bersetubuh Dengan Pasangan Halal)

753
0
BERBAGI

MANFAAT JIMA
(Bersetubuh Dengan Pasangan Halal)

Sahabat Abu Dzar radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا
“Bahwa beberapa orang dari Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa, dan bersedekah dengan sisa harta mereka. Maka beliau pun bersabda: Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara untuk kalian bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar maruf-nahi munkar adalah sedekah, bahkan pada kemaluan seseorang dari kalian pun terdapat sedekah. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, jika salah seorang di antara kami menyalurkan nafsu syahwatnya, apakah akan mendapatkan pahala? Beliau menjawab: Bagaimana sekiranya kalian meletakkannya pada tempat yang haram, bukankah kalian berdosa? Begitu juga sebaliknya, jika kalian meletakkannya pada tempat yang halal, maka kalian akan mendapatkan pahala.”
(HR. Imam Muslim, no.1674)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Adapun berhubungan badan (jima), sungguh petunjuk beliau shalallahu alaihi wasallam dalam hal ini adalah petunjuk yang paling sempurna. Dengan jima, kesehatan akan terjaga, kelezatan serta keceriaan jiwa akan menjadi sempurna, dan akan tercapai semua maksud yang menjadi tujuan.”
(Thibbu An-Nabawi, 1:187)

Kemudian beliau berkata;
“Selayaknya tidak meninggalkan jima (yang halal). Sebagaimana sumur, jika airnya tidak diambil (dikeluarkan), maka airnya akan sirna dengan sendirinya (menjadi sumur tua rusak dan kotor).”
(Thibbu An-Nabawi, 1:187)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa berhubungan badan (jima) suami-istri memberikan keuntungan yang sangat banyak baik dunia ataupun akhirat. Di akhirat mendapatkan pahala, sedangkan di dunia mendapatkan berbagai kebaikan-kebaikan, termasuk kebaikan kesehatan fisik dan psikologis. Ketahuilah bahwa syahwat jima (yang halal) adalah syahwat yang disukai oleh para Nabi dan orang-orang shalih. Mereka berkata demikian karena padanya terdapat berbagai mashalahat (manfaat) untuk agama dan dunia berupa menundukkan pandangan, meredam syahwat dari zina, dan memperoleh keturunan, yang dengannya menjadi sempurna bangunan dunia serta memperbanyak jumlah umat Islam. Mereka berkata juga, bahwa semua syahwat bisa mengeraskan hati jika ditunaikan kecuali syahwat ini (jima), karena bisa melembutkan hati.”
(Syarh Al-Arbain An-Nawawiyyah, hlm.91)

Imam Muhammad bin Zakaria rahimahullah berkata;
“Barang siapa meninggalkan jima dalam waktu lama, kekuatan otot-ototnya akan melemah, salurannya akan tersumbat, dan kemaluannya akan mengkerut.”
(Zaad Al-Maad, 4:228-229)

Imam Ibnu Aqil Al-Hanbali rahimahullah berkata;
“Ketika aku kesulitan dalam memahami permasalahan ilmu, maka aku mengajak istriku untuk melakukan hubungan badan (jima). Setelah selesai, maka aku mengambil lembaran-lembaran, lalu menuangkan ilmu di atasnya (mulai menulis kitab). Sebab jima dapat membersihkan pikiran dan menguatkan pemahaman.”
(Quwwatu Al-Qulub)

Imam Junaid Al-Baghdadi rahimahullah berkata;
“Aku membutuhkan jima sebagaimana aku membutuhkan makanan. Istri itu hakikatnya adalah asupan badan dan menjadi sebab bersihnya hati. Maka sebab itu, Rasulullah memerintahkan kepada setiap lelaki yang melihat perempuan lain lalu merasa tergoda (bersyahwat), maka hendaknya dia menyetubuhi (jima) istrinya.”
(Ihya Ulumuddin, hlm.389)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi rahimahullah berkata;
“Melalui pernikahan, tercapai kesenangan dan kenikmatan, serta manfaat berupa keberadaan anak-anak dan mendidik mereka.”
(Taisiru Al-Karimi Ar-Rahman, hlm.588)

Sahabat Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiyallahu anhuma berkata;

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadaku: Wahai Abdullah, apakah benar berita bahwa kamu puasa seharian penuh, lalu kamu shalat malam sepanjang malam? Aku jawab: Betul, wahai Rasulullah. Beliau berkata: Janganlah kamu lakukan hal tersebut, tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah! Karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan istrimu punya hak juga atasmu.”
(HR. Imam Bukhari, no.1839)

Imam Ibnu Batthal rahimahullah menjelaskan;
“Hendaklah suami tidak mempersulit diri dalam ibadah, sehingga membuat dia lemas untuk menunaikan hak istrinya, yaitu kebutuhan seks (jima) dan bekerja untuk keluarga (nafkah).”
(Fathu Al-Bari, 9:299)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata;
“Wajib bagi suami berhubungan badan (jima) dengan istrinya sesuai kemampuannya selama tidak mengganggu fisik dan tidak melalaikannya dari kewajiban mencari nafkah. Jika ini tidak dipenuhi, maka seorang hakim peradilan bisa memaksanya, sebagaimana dalam hal nafkah atau sebagaimana dalam hubungan badan yang berlebihan.”
(Al-Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah, hlm.246)

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata;
“Adapun jika suami pergi jauh karena tujuan yang disyariatkan, atau ada alasan semisalnya yang dibolehkan, maka hendaknya tidak terlalu lama meninggalkan istri. Adapun jika kepergian suami demi kemashlahatan umat Islam seperti jihad, berdakwah di jalan Allah, atau menjaga garis perbatasan, maka hendaklah dia tidak meninggalkan istrinya terlalu lama, tidak lebih dari empat bulan. Seperti contoh: Ketika pemerintahan Sahabat Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu anhu, Umar memberikan waktu bagi para pasukannya untuk pergi meninggalkan keluarganya (istrinya) tidak lebih dari empat bulan. Jika ternyata sudah mencapai empat bulan, maka pasukan tersebut harus siap diganti dengan pasukan yang lain (bergantian).”
(Fatwa Al-Islam As-Sual Wa Al-Jawab, no.1078)

Saking besarnya manfaat berjima, Rasulullah membolehkan seorang suami menyetubuhi istrinya yang sedang menyusui.

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنْ الْغِيلَةِ حَتَّى ذَكَرْتُ أَنَّ الرُّومَ وَفَارِسَ يَصْنَعُونَ ذَلِكَ فَلَا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ
“Sesungguhnya aku bertekad untuk melarang ghilah (menyetubuhi istri yang sedang menyusui anak), akan tetapi aku perhatikan orang-orang Romawi dan Persia melakukan ghilah namun, hal tersebut tidak membahayakan anak-anak mereka.”
(HR. Imam Muslim, no.2612)

Lalu jangan lupa, untuk bercumbu dan baca doa setiap saat akan berjima!

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata;

وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِي حِينَ اسْتَأْذَنْتُهُ هَلْ تَزَوَّجْتَ بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا فَقُلْتُ تَزَوَّجْتُ ثَيِّبًا فَقَالَ هَلَّا تَزَوَّجْتَ بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadaku ketika aku meminta izin untuk menikah: Kamu menikahi seorang gadis atau janda? Aku jawab: Aku menikahi seorang janda. Beliau berkata: Mengapa kamu tidak menikahi gadis, sehingga kamu dapat bercumbu mesra dengannya dan dia pun dapat bercumbu mesra denganmu?”
(HR. Imam Bukhari, no.2745)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ وَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا. فَرُزِقَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ
“Apabila seseorang dari kalian mendatangi istrinya (untuk berjima), dan membaca doa: ALLAHUMMA JANNIBNASY SYAITHAANA WA JANNIBISY SYAITHAANA MAA RAZAQTANAA (Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah juga setan dari anak yang kelak Engkau karuniakan kepada kami), kemudian jika keduanya dikaruniai anak, maka setan tidak akan dapat mencelakakan (mengganggu) anak tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.3031)

Kemudian jika seorang suami ingin mengulangi jima (berhubungan badan) kembali dengan istrinya, maka disunnahkan untuk berwudhu terlebih dahulu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Apabila salah seorang dari kalian menyetubuhi istrinya, kemudian hendak mengulanginya, maka hendaklah dia berwudhu!”
(HR. Imam Muslim, no.466)

Jadi sesibuk apapun aktivitas kita, jangan pernah lupakan hak diri kita dan pasangan hidup kita, salah satunya adalah berjima (hubungan badan). Selain hal itu merupakan kewajiban, ternyata banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh diri kita dan pasangan hidup kita.

Semoga tulisan ini bisa menjadi awal bertumbuhnya rasa cinta antara suami-istri dan suasana romantis dalam rumah tangga.

Sedangkan untuk para jomblo, setelah mempelajari ilmu ini, segera siapkan diri dan cari pasangan yang shalih untuk dinikahi! Karena dengan menikah, hidup kita akan menjadi indah.

Semoga Allah azza wa jalla segera mempertemukan jodoh yang shalih untuk teman-teman yang belum menikah, dan diberi kemudahan untuk segera menikah. Aamiin
___
@Kota Udang Cirebon, 14 Dzulhijjah 1440H/15 Agustus 2019M.
Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMari, Jadikan Hari Arafah Kesempatan Untuk Mendapatkan Pengabulan Doa!
Artikel sesudahnyaEnsiklopedia Hari Jumat
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here