Beranda Belajar Islam Kenapa Ada Pemadaman Aliran Listrik?

Kenapa Ada Pemadaman Aliran Listrik?

752
0
BERBAGI

KENAPA ADA PEMADAMAN ALIRAN LISTRIK?

Qadarallahu wa masyaa faal…
Pada hari Ahad (03 Dzulhijjah 1440H/04 Agustus 2019M), hampir di setiap daerah Jawa Barat dan DKI Jakarta telah terjadi pemadaman aliran listrik. Banyak di antara kita yang mengeluhkan keadaan yang tidak nyaman seperti ini, karena hampir setiap aktivitas dan kebutuhan hidup kita tidak lepas dari listrik. Mulai memasak nasi, mandi, menyuci, mencharger gadget, media elektronik, lalu apalagi kalau sudah tiba malam hari, rasanya makin berat jika melalui malam tanpa aliran listrik, dan berbagai aktivitas semisalnya. Apalagi keadaan seperti ini terjadi tidak hanya sekali dan sehari, bisa berkali-kali dan berhari-hari.

Tapi sebelumnya, coba kita berpikir sebentar!
Ketika kita mengeluhkan keadaan seperti ini, kita pernah bersyukur ataukah tidak dengan keadaan ketika Allah mudahkan segala urusan kita dengan adanya aliran listrik dan segala kemudahan lainnya?

Lalu, apa yang kita lakukan terhadap keadaan yang sudah Allah berikan kemudahan di dalamnya, semisal adanya aliran listrik? Kita kerjakan amal ibadah ataukah amal maksiah?

Memang terkadang, kita akan merasakan keberadaan sesuatu ketika sesuatu tersebut sudah tiada. Jadi, syukuri dan sayangi sesuatu sebelum sesuatu itu menghilang dari kehidupan kita!

Ingatlah nasihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam!

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah yang lima sebelum datangnya yang lima: Usia muda sebelum datang usia tua, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu.”
(HR. Al-Baihaqi, no.10248)

Imam Al-Munawi rahimahullah menjelaskan;
“Lakukanlah lima perkara sebelum mendapatkan lima perkara! Hidupmu sebelum matimu, maksudnya pergunakan (hidupmu pada) sesuatu yang akan memberi manfaat setelah matimu, karena orang yang mati telah terputus amalannya, pupus harapannya, datang penyesalannya serta beruntun kesedihannya, maka gadaikanlah dirimu untuk kebaikanmu. Dan masa sehatmu sebelum sakitmu, maksudnya gunakan masa sehat untuk beramal, karena terkadang datang penghalang seperti sakit, sehingga kamu mendatangi akhirat tanpa bekal. Dan masa senggangmu sebelum masa sibukmu, maksudnya manfaatkan (kesempatan) senggangmu di dunia ini sebelum tersibukkan dengan kedahsyatan hari Kiamat yang awal persinggahannya adalah kubur. Manfaatkanlah kesempatan yang diberikan, semoga kamu selamat dari adzab dan kehinaan! Dan masa mudamu sebelum tuamu, maksudnya lakukan ketaatan di saat kamu mampu sebelum kelemahan usia lanjut menghinggapimu, sehingga kamu akan menyesali sesuatu yang telah kamu sia-siakan dari kewajiban terhadap Allah subhanahu wa taala. Dan masa kayamu sebelum fakirmu, maksudnya manfaatkan untuk bersedekah dengan kelebihan hartamu sebelum dipaparkan pada musibah yang menjadikanmu fakir, (jika demikian) kamu akan fakir di dunia dan akhirat. Kelima hal ini tidak diketahui kadar besar keberadaannya, kecuali setelah tiada.”
(Faidhu Al-Qadir, 2:21)

Dari Sahabat Abi Barzah Al-Aslami radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أيْنَ اكْتَسَبَهُ؟ وَفِيمَ أنْفَقَهُ؟ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ؟
“Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba pada hari Kiamat, hingga dia ditanya tentang umurnya: Untuk apa dihabiskan? Tentang ilmunya: Dalam hal apa ilmunya diamalkan? Tentang hartanya: Darimana dia mendapatkannya dan diinfaqkan dimana? Tentang jasadnya: Dipergunakan untuk apa?”
(HR. At-Tirmidzi, no.2417)

Jadi, kalau kita bertanya: Kenapa ada pemadaman aliran listrik? Maka jawabannya: Mungkin itu cara Allah untuk menyadarkan diri kita agar selalu bersyukur terhadap setiap keadaan yang sudah Allah tentukan untuk kita dengan segala kemudahannya. Karena kemudahan dalam kehidupan yang Allah berikan untuk kita bukan hanya berupa aliran listrik, masih banyak lagi kemudahan-kemudahan lainnya yang beragam, yang sering kita alami atau mungkin jarang kita alami.

Intinya, apapun keadaan hidup kita selalu bersyukur! Sebagaimana Aisyah radhiyallahu anha bercerita, apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat sesuatu yang menyenangkan, beliau membaca;

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
“Segala puji untuk Allah yang dengan sebab nikmatNya segala amal shalih menjadi sempurna.”

Lalu, apabila beliau melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, beliau membaca;

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Segala puji untuk Allah atas segala keadaan.”
(HR. Ibnu Majah, no.3793. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Lalu, jangan sampai adanya kendala pada aliran listrik, atau kendala semisalnya dalam kehidupan kita yang berkaitan dengan pihak pemerintah, kita mudah mencela dan menyalahkan mereka! Mungkin mereka punya kekurangan atau kesalahan, tapi ingat mereka juga punya kelebihan atau kebaikan yang jumlahnya tentu lebih banyak.

Kita lihat, sangat banyak perkara di sekitar kita yang saat ini sudah tertata rapi, terkonsep baik, terorganisir bagus, oleh pemerintah. Maka sebab itu, berterima kasihlah kepada mereka dan balaslah kebaikan mereka dengan mendoakan kemudahan dan kebaikan untuk mereka!

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah, bagi siapa saja yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia.”
(HR. Abu Dawud, no.4811)

Jadilah manusia yang tahu diri, yang tidak mudah melupakan jasa kebaikan orang lain dan jangan sampai kita menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya!

Lalu Rasulullah pun bersabda;

مَنْ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ وَمَنْ سَأَلَ بِاللَّهِ فَأَعْطُوهُ وَمَنْ دَعَاكُمْ فَأَجِيبُوهُ وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Barang siapa yang meminta perlindungan dengan nama Allah, maka lindungilah dia. Barang siapa yang meminta-minta dengan nama Allah, maka berikanlah kepadanya. Barang siapa yang mengundang kalian, maka penuhilah undangannya. Dan barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian, maka balaslah. Kemudian apabila kalian tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah dia hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya!”
(HR. Abu Dawud, no.1424)

Imam Abu Muhammad Al-Barbahari rahimahullah berkata;
“Jika kamu melihat seseorang mendoakan keburukan kepada penguasa (pemerintah), maka ketahuilah bahwa dia adalah Ahli Hawa (pengikut hawa nafsu). Dan jika kamu melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah Ahli Sunnah (pengikut sunnah Nabi), insyaallah.”
(Syarhu As-Sunnah, hlm.116)

Beliau juga berkata;
“Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah berkata: Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka tidaklah aku gunakan kecuali untuk penguasa. Ketika ditanyakan tentang maksud dari perkataannya tersebut, maka Fudhail bin Iyadh berkata: Jika aku gunakan doa itu untuk diriku, maka tidak akan melampauiku (manfaatnya hanya untuk diriku), sedangkan jika aku gunakan untuk penguasa, maka dengan sebab kebaikannya akan baiklah juga para hamba dan negeri.”
(Syarhu As-Sunnah, hlm.116-117)

Jadilah manusia yang mudah menyalahkan diri sendiri dan sulit menyalahkan orang lain!

Selanjutnya, selalu mintalah kemudahan kepada Allah untuk setiap urusan hidup kita. Karena tanpa pertolongan dari Allah, tidak akan berguna dan bermanfaat usaha manusia.

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya.”
(HR. Ibnu Hibban, no.2427)

Mintalah kepada Allah, agar pemadaman aliran listrik yang sedang terjadi bisa segera berakhir, sehingga aliran listrik bisa menyala dengan normal kembali! Karena kita tidak akan pernah mampu hidup sendiri tanpa dibantu oleh Allah azza wa jalla.

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, aku mengharapkan rahmatMu, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri (janganlah Engkau berpaling dariku) meskipun hanya sekejap mata, perbaikilah semua urusanku, tidak ada Rabb selain Engkau!”
(HR. Abu Dawud, no.4426. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Baca juga dengan rutin doa untuk memohon pertolongan dan kemudahan yang pernah dibaca oleh Nabi Yunus alaihissalam ketika ditelan oleh ikan, dengan sebab doa tersebut Allah pun menolongnya.

لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar, kecuali Engkau (Allah). Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.”
(Surat Al-Anbiya: ayat 87)

Masih sangat banyak lagi lafazh doa dan dzikir lainnya yang bisa kita baca dengan rutin untuk memohon kemudahan dari Allah ketika menghadapi berbagai keadaan sulit dan sempit. Silakan teman-teman bisa membuka kitab, buku, aplikasi, atau sarana semisalnya yang berisikan doa serta dzikir yang sesuai syariat Allah azza wa jalla dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam!
___
@Kota Angin Majalengka, 03 Dzulhijjah 1440H/04 Agustus 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaEnsiklopedia Hari Raya
Artikel sesudahnyaMari, Jadikan Hari Arafah Kesempatan Untuk Mendapatkan Pengabulan Doa!
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here