Beranda Belajar Islam Amalan Ensiklopedia Hari Raya

Ensiklopedia Hari Raya

122
0
BERBAGI

ENSIKLOPEDIA HARI RAYA
(Keseharian Rasulullah Di Hari Raya)

Pada tulisan kali ini, kita akan mencoba untuk merasakan nikmatnya ibadah, mempelajari amalan-amalan wajib dan sunnah, merasakan bahagia bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di saat hari raya.

Di sini, kita akan mempelajari semua pembahasan ilmu, mulai dari menentukan awal hari raya sampai dengan berakhirnya hari raya, termasuk di dalamnya kita pun akan mempelajari fiqih ibadah qurban dengan detail.

A. MENGENAL HARI RAYA

Dalam agama Islam, sebetulnya hari raya umat Islam itu cuma ada tiga, dan tidak ada yang selainnya, yaitu Idul Fithri (1 Syawwal), Idul Adha (10 Dzulhijjah), dan hari Jumat.

Sebagaimana Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita;

‎كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Dahulu orang-orang Jahiliyah mempunyai dua hari dalam setiap tahun untuk bermain-main. Setelah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau bersabda: Kalian dahulu mempunyai dua hari untuk bermain-main, sungguh Allah telah menggantinya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Fithri dan hari raya Idul Adha.”
(HR. An-Nasai, no.1538 )

Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

‎دَخَلَ عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ بِهِ الْأَنْصَارُ فِي يَوْمِ بُعَاثٍ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَبِمَزْمُورِ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدِ الْفِطْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا
“Abu Bakar masuk ke dalam rumahku, sementara di sisiku ada dua anak gadis Anshar. Keduanya melantunkan nyanyian yang biasa dinyanyikan oleh kaum Anshar pada hari raya Buats, dan mereka erdua bukanlah seorang penyanyi. Lalu Abu Bakar berkata: Apakah ada seruling setan di rumah Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Dan pada saat itu bertepatan hari raya Idul Fithri, hingga Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.”
(HR. Ibnu Hibban, no.1888)

‎أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ تَضْرِبَانِ بِدُفَّيْنِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُنَّ فَإِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا
“Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam masuk ke tempatnya dan di sisinya ada dua anak perempuan yang sedang menabuh dua rebana, maka Abu Bakar pun membentak kedua budak tersebut. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Biarkan saja mereka! Sesungguhnya bagi setiap kaum memiliki hari raya.”
(HR. An-Nasai, no.1575)

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ يَوْمُ عِيدٍ فَلَا تَجْعَلُوا يَوْمَ عِيدِكُمْ يَوْمَ صِيَامِكُمْ إِلَّا أَنْ تَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ
“Sesungguhnya hari Jumat adalah hari raya. Karena sebab itu, janganlah kalian jadikan hari raya kalian ini sebagai hari untuk berpuasa, kecuali jika kalian berpuasa sebelum atau sesudah hari Jumat.”
(HR. Ahmad, no.8025. Syaikh Al-Arnauth menyatakan sanadnya hasan)

‎إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
“Sesungguhnya ini adalah hari raya yang telah Allah jadikan untuk umat Islam. Barang siapa menghadiri shalat Jumat, hendaklah mandi, jika mempunyai minyak wangi hendaklah mengoleskannya, dan hendaklah kalian bersiwak!”
(HR. Ibnu majah, no.1088. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Jadi, hal mendasar yang harus kita ketahui dan pahami, bahwa setiap kaum memiliki hari raya. Dan hari raya untuk umat Islam hanya ada tiga, yaitu hari raya Idul Fithri, Idul Adha, dan hari Jumat. Karena ketika suatu kaum mengikuti hari raya dari hari raya kaum yang lain, atau mengikuti kebiasaan dari kaum lainnya, maka dia dihukumi sama seperti kaum tersebut.

Sebagaimana jika kita selaku umat Islam yang sudah memiliki tiga hari raya, lalu kita malah mengikuti juga hari raya umat lainnya, semisal umat Nashrani, yakni dengan ikut merayakan hari raya Natal, dan hari raya semisalnya, maka dengan demikian, kita akan termasuk juga sebagai umat Nashrani (Kristen).

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa bertasyabbuh (menyerupai) suatu kaum, maka dia juga termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud, no.3512)

Makna dari tasyabbuh pada hadits di atas bersifat umum, siapapun yang mengikuti kebiasaan yang menjadi ciri khas suatu kaum apapun bentuknya, maka dia termasuk ke dalam golongan kaum tersebut. Dan sangat hina dan merugi jika kita selaku umat Islam, umat yang Allah muliakan namun, malah mengikuti umat yang Allah hinakan dan binasakan. Maka sebab itu, jadilah umat Islam yang tidak latah! Yang tidak asal mengikuti dan melakukan sesuatu, tanpa mencari tahu tentang hukum dari perbuatan tersebut sebelumnya. Karena agama Islam adalah agama dalil (ilmu), sehingga setiap hal yang berkaitan dengan Islam harus disertai dengan alasan yang sesuai dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah, serta dipahami sesuai pemahamannya para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum.

Jadi, Islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk memperingati perayaan selain dari ketiganya (hari Jumat, Idul Fithri, dan Idul Adha). Seperti hari Natal, Yesus Kristus, hari Ibu, hari Kartini, kelahiran Nabi, tahun baru Hijriyyah, tahun baru Masehi, turunnya Al-Quran, Isra Miraj, Isa Al-Masih, hari Buruh Nasional, dan berbagai hari raya lainnya yang disematkan atas nama Islam atau pun atas nama nasional. Sehingga kita selaku umat Islam tidak boleh ikut campur merayakan hari raya selain dari tiga hari raya yang sudah disebutkan di atas, baik dengan melakukan ritualnya, mengucapkan kata selamat, saling tukar kado atau hadiah lainnya, ikut menyebarluaskan informasinya, atau pun hal-hal lainnya yang berkaitan dengan hari raya selain dari tiga hari raya Islam.

Seharusnya umat Islam merasa bahagia dengan agamanya (Islam) dan mencukupkan diri dengan pedoman yang sudah Islam ajarkan, yakni dengan merayakan tiga hari perayaan Islam tersebut. Karena tiga hari perayaan yang sudah dijelaskan oleh Rasulullah adalah hari perayaan yang Allah berikan untuk kita selaku umat Islam, hari raya yang lebih baik dan lebih mulia dari pada hari perayaan selainnya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla menjelaskan tentang agama Islam;

‎اَلْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا
“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agama kalian, maka sebab itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu! Pada hari ini sudah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Aku cukupkan nikmatKu untuk kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.”
(Surat Al-Maidah: ayat 3)

Islam adalah agama yang sudah sempurna syariatnya, sehingga tidak perlu direnovasi dan diubah, tidak perlu ditambah dan dikurangi. Cukup bagi kita sebagai umat Islam melakukan setiap yang Allah perintahkan dan mengikuti setiap yang Rasulullah contohkan.

Catatan: Dalam pembahasan ini akan fokus pada pembahasan dua hari raya, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Karena ini merupakan hari raya besarnya umat Islam, yang terdapat banyaknya keutamaan yang bisa kita dapatkan dan amalan sunnah yang bisa kita kerjakan di dalamnya. Bahkan dua hari raya tersebut adalah hari raya yang mulia, yang Allah azza wa jalla berikan untuk umat Islam sebagai pengganti dari hari raya umat jahiliyah dahulu di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Untuk pembahasan secara rinci tentang hari Jumat, insyaallah akan dijelaskan pada pembahasan mendatang.

B. MENENTUKAN HARI RAYA

Untuk menentukan awal hari raya besar umat Islam (Idul Fithri dan Idul Adha), kita diperintahkan untuk melihat hilal (ruyah) atau menggenapkan jumlah hitungan bulan menjadi 30 hari (hisab), apabila hilal terhalang dari penglihatan manusia (tidak terlihat). Dan cara hisab adalah satu-satunya cara atau solusi yang disyariatkan dalam agama Islam untuk menentukan setiap awal bulan.

Sebagaimana Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah! Dan jika kalian melihatnya kembali, maka berbukalah (berhari raya)! Lalu, jika kalian terhalangi (tidak dapat melihatnya), maka ukurlah (hitunglah)!”
(HR. Imam Bukhari, no.1906)

Demikian juga dijelaskan oleh Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ
“Berpuasalah kalian karena melihatnya, dan berbukalah kalian (Idul Fithri) karena melihatnya! Jika (hilal) tertutup oleh awan mendung, maka sempurnakanlah bulan Syaban 30 hari!”
(HR. Imam Bukhari, no.1909)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَقْدُرُوْا لَهُ ثَلاَثِيْنَ
“Jika kalian terhalang melihat hilal, maka ukurlah untuknya 30!”
(HR. Imam Muslim, no.2496)

Dari sekian banyaknya hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tersebut, dijelaskan bahwa cara untuk menentukan awal setiap bulan yang sesuai sunnah Rasulullah adalah dengan ruyah (melihat hilal), bukan hisab (menggenapkan jumlah hitungan bulan menjadi 30 hari). Namun, jika hilal tidak terlihat dengan sebab syari, misal karena awan mendung, maka metode hisab boleh digunakan.

C. SIFAT HARI RAYA RASULULLAH

1. Melantunkan takbir.

a. Hari raya Idul Fithri.
Pada hari raya Idul Fithri disunnahkan untuk banyak membaca takbir.

* Takbir mutlak.
Menurut pendapat yang dianggap lebih kuat, yaitu bertakbir (mengagungkan Allah) di hari raya Idul Fithri dimulai dari sejak terbenam matahari (waktu Maghrib) terakhir di bulan Ramadhan, hingga akan dimulainya khutbah shalat Idul Fithri.

Sehingga, pada esok harinya kita pun disunnahkan untuk tetap bertakbir sejak dari mulai rumah, hingga tiba di lapangan (tempat shalat Idul Fithri). Dan kita disunnahkan untuk terus tetap bertakbir sambil menunggu imam shalat, lalu berhenti ketika imam atau khatib memulai khutbahnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;
“Takbir pada hari raya Idul Fitri dimulai dari pertama kali melihat hilal (waktu Maghrib) pada akhir bulan Ramadhan, dan berakhir ketika selesai shalat Ied, yaitu selesainya imam dari berkhutbah.”
(Majmu Fatawa, 24:221)

Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjukNya yang diberikan kepada kalian, agar kalian bersyukur.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 185)

b. Hari raya Idul Adha.
Pada hari raya Idul Adha terdapat dua waktu bertakbir dan keutamaan berdzikir pada 10 hari awal bulan Dzulhijjah.

* Takbir mutlak.
Takbir mutlak adalah waktu bertakbir yang boleh dilakukan kapanpun, tidak terikat dengan waktu tertentu, seperti waktu bertakbir pada hari raya Idul Fithri. Takbir mutlak ini disunnahkan untuk dilakukan mulai dari awal bulan Dzulhijjah hingga hari Tasyrik.

Selama tanggal 1-13 Dzulhijjah, umat Islam disyariatkan untuk memperbanyak ucapan takbir dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, berdagang, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. demikian juga, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dan tempat lainnya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْدُودَٰتٍ
“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 203)

‎وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ
“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.”
(Surat Al-Hajj: ayat 28)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Bahwa maksud hari yang telah ditentukan adalah tangga 1-9 Dzulhijjah, sedangkan makna beberapa hari yang berbilang adalah hari Tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.”
(Fathu Al-Bari, 2:458)

Di antara para Sahabat radhiyallahu anhum menceritakan;

‎وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا
“Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan kalimat takbir, kemudian orang-orang pun ikut bertakbir disebabkan mendengar lantunan takbir mereka berdua.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.651)

* Takbir muqayyad.
Takbir muqayyad dimulai dari waktu Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga terbenam matahari di hari Tasyrik (13 Dzulhijjah). Dan takbir muqayyad hanya dilakukan pada setiap setelah shalat fardhu.

Dalam kitab Mukhtashar Fatawa, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan cara melalukan takbir muqayyad;
– Membaca: Istighfar sebanyak 3 kali.
– Membaca: Allahumma antassalam waminkassalam tabarakta yaa dzal jalaali wal ikram.
– Kemudian bertakbir.

Catatan: Takbir dilakukan secara masing-masing (tidak berjamaah), disuarakan dengan lisan (mulut) bukan kaset atau rekaman, tidak boleh diiringi dengan alat musik, tidak boleh dipimpin dan menjadi satu suara namun, jika sudah dibaca secara masing-masing, kemudian suara menjadi satu, maka ini tidak mengapa (boleh). Karena bersamanya sebuah suara yang tidak dipimpin, itu tidak akan sama irama bacaannya, dan hal ini pun berlaku untuk semua bacaan dzikir. Cara itu semua dilarang karena menyelisihi perintah Allah dan sunnah Rasulullah.

c. Lafazh-lafazh takbir.
Sebetulnya, tidak ada riwayat lafazh takbir tertentu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Hanya saja ada beberapa riwayat dari para Sahabat yang mencontohkan berbagai lafazh takbir.

– Lafazh takbir Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu.

‎اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ، اَللَّهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا
“Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar, dan bagi Allah segala pujian. Allah maha besar dan maha mulia, Allah maha besar atas petunjuk yang telah diberikan kepada kita.”
(Irwau Al-Ghalil, 3:126)

– Lafazh takbir Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu.

‎اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، (اَللَّهُ أَكْبَرُ،) لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ ولِلَّهِ الْحَمْدُ
“Allah maha besar, Allah maha besar, (Allah maha besar,) tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, Allah maha besar, Allah maha besar dan untuk Allah segala pujian.”
(Irwau Al-Ghalil, 3:125)

Catatan: Kalimat ‘Allahu Akbar’ pada awal lafazh takbir di atas boleh dibaca sebanyak 2 kali atau 3 kali.

Atau boleh juga membaca lafazh takbir kedua dari Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu;

‎اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ ولِلَّهِ الْحَمْدُ
“Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, Allah maha besar dan untuk Allah segala pujian.”
(Al-Mushannaf, 2:168)

– Lafazh takbir Sahabat Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu.

‎اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
“Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar.”
(As-Sunanu Al-Kubra, 3:316)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Adapun lafazh takbir yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dengan sanad yang shahih dari Sulaiman (lafazh takbir di atas). Mencukupkan diri dengan apa yang telah diriwayatkan oleh para Sahabat radhiyallahu anhum itu lebih utama.”
(Fathu Al-Bari, 2:462)

Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata: Apabila ada seseorang menambahkan lafadz atau membaca;

‎اَللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
Maka lafazh tersebut adalah baik”.
(Al-Umm, 1:241)

Imam Abu Ishak Asy-Syairazi rahimahullah menjelaskan;
“Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengucapkan lafazh tersebut di atas bukit Shafa.”
(Al-Muhadzab, 1:121)

Catatan: Masalah membaca lafazh-lafazh takbir adalah perkara yang luas, karena perintah untuk bertakbir bersifat umum (muthlaq), dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak mengkhususkan lafazh takbir tertentu.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ
“Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjukNya yang telah diberikan kepada kalian.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 185)

Maka kesimpulan dalam masalah ini adalah disunnahkan untuk bertakbir dengan lafazh apa pun. Kita boleh menggunakan seluruh lafazh takbir yang sudah disebutkan di atas dan lafazh takbir secara umum.

Imam Ash-Shanani rahimahullah berkata;
“Dan dalam penjelasannya banyak sekali sifat (lafazh) takbir untuk hari raya dari beberapa para ulama, ini menunjukkan longgarnya perintah bertakbir, keumuman ayat juga menunjukkan demikian.”
(Subulu As-Salam, 2:72)

d. Kesalahan melantunkan takbir.
Terdapat beberapa cara yang salah, yang sudah menjadi kebiasaan sebagian umat Islam dalam mengagungkan Allah azza wa jalla (bertakbir) di hari raya.

– Dilakukan secara berjamaah.
Membaca takbir yang sesuai sunnah adalah dilakukan secara sendiri-sendiri, dan tidak dipimpin atau dipandu.

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid rahimahullah berkata;
“Dzikir jamai (bersama-sama) dengan dipandu satu suara yang keras, yang dinamakan metode Al-Jauqah (berjamaah) dengan membaca tahlil, tasbih, istighfar, dan shalawat terhadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ini merupakan pelaksanaan (ritual) yang bidah, tidak ada dalilnya dari syariat (Islam) yang suci. Ini adalah bidah yang kuno, telah dijelaskan juga oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah.”
(Tashhihu Ad-Dua, hlm.435-436)

– Menggunakan pengeras suara.
Cara melakukan takbir di hari raya itu tidak sama dengan cara melaksanakan adzan. Pada syariat adzan, seseorang dianjurkan untuk melantangkan suaranya sekuat mungkin. Sebagaimana para juru adzan di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam seperti Bilal dan Abdullah bin Umi Maktum ketika hendak adzan mereka naik untuk mencari tempat yang tinggi agar adzan bisa didengar oleh banyak orang. Namun, ketika melakukan takbir hari raya, tidak terdapat satu pun riwayat bahwa mereka berdua naik mencari tempat yang tinggi dalam rangka melakukan takbiran. Akan tetapi, mereka berdua melakukan takbiran di bawah dengan suara keras, yang hanya bisa didengar oleh beberapa orang di sekitarnya.

Maka sebab itu, cara membaca takbir di hari raya tidak sama dengan cara adzan. Karena dua syariat tersebut adalah syariat yang berbeda.

– Menggunakan alat musik.
Termasuk kebiasaan salah dan keliru dalam bertakbir di hari raya adalah mengirinya dengan suara alat musik, semisal: Bedug, kentrongan, drum, gitar, piano, dan alat semisalnya.

Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyatakan, bahwa alat musik adalah sesuatu yang haram (tidak boleh dimiliki atau digunakan). Bahkan Rasulullah menyamakan hukum alat musik sama seperti sesuatu haram lainnya: Zina, sutera, dan minuman keras (khamr).

Sebagaimana beliau bersabda;

‎لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ، يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَّ وَالْحَرِيرَ، والْخَمْرَ وَالمَعَازِفَ
”Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras (khamr) dan alat-alat musik.”
(HR. Imam Bukhari, no.5590)

Pada hadits tersebut, Nabi menyatakan “akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan”, maka hal ini menunjukan bahwa keempat hal di atas saat ini status hukumnya haram, karena nanti akan ada yang menghalalkannya. Kalau saja keempat hal tersebut hukumnya saat ini halal, tentu Nabi tidak akan menyatakan “akan ada yang menghalalkan”, karena status hukumnya sudah halal.

Salah satu hikmah Rasulullah mengharamkan alat-alat musik, karena musik memberikan dampak yang sangat buruk.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia ada sebagian orang yang mempergunakan perkataan yang tidak bermanfaat untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu sebuah olokan (ejekan). Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.”
(Surat Luqman: ayat 6)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Bahwasanya setelah Allah menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbahagia dalam ayat 1-5 sebelumnya, yaitu orang-orang yang mendapat petunjuk dari firman Allah (Al-Quran) dan mereka merasa menikmati dan mendapatkan manfaat dari bacaan Al-Quran, lalu Allah azza wa jalla menceritakan dalam ayat ke-6 ini tentang orang-orang yang sengsara, yang mereka ini berpaling dari mendengarkan Al-Quran dan berbalik arah menuju nyanyian dan musik. Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhuma berkata: Ketika ditanya tentang maksud ayat ini, maka beliau menjawab bahwa itu adalah musik, seraya beliau bersumpah dan mengulangi perkataannya tersebut sebanyak tiga kali. Begitu juga dengan Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhumaa yang didoakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar Allah memberikan kelebihan kepada beliau dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga beliau dijuluki sebagai: Turjumanul Quran, bahwasanya beliau juga mengatakan: Bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan nyanyian (musik).”
(Tafsir Ibnu Katsir, 3:556)

Maka sebab itu, jika ingin melantunkan takbir di hari raya, bacalah tanpa diiringi dengan suara irama apa pun!

– Bertakbir setiap selesai shalat fardhu.
Ibnul Mulaqin rahimahullah menjelaskan;
“Takbiran setelah shalat wajib dan yang lainnya, untuk takbiran hari raya Idul Fithri, maka tidak dianjurkan untuk dilakukan setelah shalat, itu menurut pendapat yang lebih kuat.”
(Al-Ilam Bi Fawaid Umadati Al-Ahkam, 4:259)

Amalan yang disyariatkan ketika selesai shalat fardhu adalah membaca dzikir-dzikir setelah shalat, bukan membaca takbir. Karena waktu untuk membaca takbir mutlak cukup longgar, bisa dilakukan kapan pun selama hari raya, sebagaimana rincian mengenai batasan waktunya sudah dijelaskan di atas. Oleh sebab itu, tidak selayaknya takbir mutlak dibaca hingga menyita waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca dzikir-dzikir setelah shalat fardhu.

2. Membaca Kalimat-Kalimat Dzikir.

Tidak hanya kalimat takbir di atas yang disunnahkan untuk dibaca pada saat hari raya, melainkan kalimat-kalimat dzikir lainnya pun tetap disunnahkan untuk dibaca pada hari raya, terkhusus hari raya Idul Adha. Bahkan sejak 9 hari sebelum hari raya Idul Adha, kita disunnahkan untuk banyak membaca dzikir berupa tahlil, tahmid, dan takbir.

Dari Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhumaa, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثَرُوا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيْدِ وَالتَّكْبِيْرِ
“Tidak ada amalan yang dilakukan pada beberapa hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah, melebihi amal yang dilakukan pada tanggal 1-10 Dzulhijjah. Maka perbanyaklah membaca tahlil, tahmid, dan takbir pada hari-hari tersebut!”
(HR. Al-Arnauth, Takhriju Al-Musnad, no.5446)

Pada dasarnya, kita disunnahkan untuk selalu berdzikir kepada Allah dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun. Di luar bulan Ramadhan kita sangat dianjurkan untuk selalu mengingat Allah azza wa jalla, karena keutamaan dan pahalanya yang sangat besar. Apalagi di dalam bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya terdapat ampunan, rahmat dan keberkahan Allah? Tentu lebih ditekankan lagi untuk kita merutinkannya.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى قَالَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى. قَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا شَيْءٌ أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Maukah aku beritahukan kepada kalian mengenai amalan kalian yang terbaik, dan yang paling suci di sisi Raja (Allah) kalian, paling tinggi derajatnya, serta lebih baik bagi kalian daripada menginfaqkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan musuh, kemudian kalian memenggel leher mereka dan mereka memenggal leher kalian? Mereka berkata: Ya, tentu. Beliau berkata: Berdzikir kepada Allah taala. Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu berkata: Tidak ada sesuatu yang lebih dapat menyelamatkan dari adzab Allah dari pada dzikir kepada Allah.”
(HR. At-Tirmidzi, no.3299)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan;
“Sangat banyak nash-nash syariat (dalil) yang menjelaskan keutamaan dzikir yang lebih utama dari sedekah dengan harta dan amalan ketaatan lainnya.”
(Jamiu Al-Ulum Wa Al-Hikam, hlm.225)

Sahabat Abu Ad-Darda radhiyallahu anhu pernah ditanya tentang seseorang yang membebaskan 100 orang budak. Maka beliau menjawab;

‎إنَّ مِئَةَ نَسَمَةٍ مِنْ مَالِ رَجُلٍ لَكَثِيْرٌ، وَأَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ إِيْمَانٌ مَلْزُوْمٌ باِللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنْ لاَ يَزَالَ لِسَانُ أَحَدِكُمْ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ
“Sesungguhnya 100 budak dari harta seseorang adalah sangat banyak, dan yang lebih utama dari hal itu adalah iman yang terus ada di malam hari dan siang hari, dan jangan lepas lisan salah seorang dari kalian untuk terus berdzikir kepada Allah.”
(HR. Al-Mundziri, At-Targhib Wa At-Tarhib, 2:395. Dan beliau menyatakan sanad hadits ini hasan)

Pada hadits di atas, Sahabat Abu Ad-Darda radhiyallahu anhu menjelaskan keutamaan membebaskan budak namun, ketinggian keutaman membebaskan budak tidak bisa sejajar (sama) dengan dzikir yang dilakukan secara terus-menerus dan rutin. Penjelasan keutamaan dzikir yang melebihi amalan lainnya juga disampaikan banyak Sahabat dan Tabiin, seperti Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu dan Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiyallahu anhuma, serta Sahabat lainnya.”
(Jamiu Al-Ulum Wa Al-Hikam, hlm.225-226)

Namun, perlu dipahami bahwa ini bukan berarti mengecilkan keutamaan berinfak (sedekah) di jalan Allah azza wa jalla dan membebaskan budak, tapi maksudnya adalah mengunggulkan keutamaan dzikir, menjelaskan pentingnya, dan ketinggian kedudukannya. Tidak ada yang bisa mengunggulinya, bahkan semua amalan ibadah disyariatkan hanya untuk menegakkan dzikir kepada Allah.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu!”
(Surat Thaha: ayat 14)

3. Persiapan Shalat Hari Raya (Id).

Dalam melaksanakan shalat id, terdapat hukum dan adab-adab yang harus kita ketahui dan amalkan, sehingga shalat id yang kita lakukan menjadi sempurna dan berbuah pahala.

a. Hukum shalat id.
Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama terkait hukum shalat id. Ada tiga pendapat dalam masalah ini, di antaranya;

– Fardhu ain
Diwajibkan atas setiap muslim yang mukallaf (baligh dan berakal). Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, salah satu dari pendapat Imam Asy-Syafii, dan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad rahimahumullah.

– Fardhu kifayah
Jika bisa ditegakkan oleh sejumlah orang yang mencukupi di suatu negeri, maka gugur kewajibannya atas sebagian yang lain. Ini adalah pendapat yang terkuat dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

– Sunnah Muakkadah
Maksudnya tidak wajib. Ini adalah pendapat Imam Malik dan mayoritas ulama madzhab Imam Asy-Syafii.

Sebagaimana Sahabat Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu berkata;

‎جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُهُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلَا أَنْقُصُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ
“Ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu dia bertanya tentang Islam, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Lima kali shalat dalam sehari-semalam. Lalu orang itu berkata: Apakah untukku ada lagi selain itu? Beliau bersabda: Tidak ada, kecuali jika kamu mau mengerjakan yang tathawwu (sunnah). Ubaidullah berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan kepada orang itu tentang zakat, lalu orang itu bertanya lagi: Apakah untukku ada lagi selain itu? Beliau bersabda: Tidak ada, kecuali jika kamu mau mengerjakan yang tathawwu (sunnah). Kemudian orang itu pergi sambil berkata: Demi Allah, aku tidak akan menambah atau mengurangi dari ini semua. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dia akan beruntung jika jujur.”
(HR. Imam Bukhari, no.2481)

Namun, pendapat yang lebih kuat dan lebih dekat terhadap kebenaran, yaitu hukum shalat id adalah fardhu ain, kecuali bagi orang yang memiliki udzur syari. Hal ini berlandaskan dengan beberapa dalil, di antaranya;

Allah azza wa jalla berfirman;

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah!”
(Surat Al-Kautsar: ayat 2)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah shalat id.”
(Al-Mughni, 3:253)

Ummu Athiyyah radhiyallahu anha berkata;

‎أَمَرَنَا نَبِيُّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ. وَعَنْ أَيُّوبَ عَنْ حَفْصَةَ بِنَحْوِهِ وَزَادَ فِي حَدِيثِ حَفْصَةَ قَالَ أَوْ قَالَتْ: اَلْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَيَعْتَزِلْنَ الْحُيَّضُ الْمُصَلَّى
“Nabi kami shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengeluarkan para gadis remaja kami dan wanita-wanita yang dipingit di rumah. Dan dari Ayyub, dari Hafshah seperti riwayat ini juga. Dalam hadits Hafshah ditambahkan, Rasulullah bersabda, atau Ummu Athiyyah berkata: Para gadis remaja kami dan wanita-wanita yang dipingit di rumah, dan wanita-wanita yang sedang haidh menjauhi tempat shalat.”
(HR. Imam Bukhari, no.921)

Dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kaum wanita (muslimah), termasuk para gadis pingitan, untuk keluar menuju lapangan tempat shalat id. Seandainya hukum shalat id itu bukan fardhu ain, tentu beliau tidak akan menyuruh para wanita untuk keluar shalat id. Karena hukum asalnya, para wanita tidak diwajibkan untuk ikut shalat berjamaah dengan kaum lelaki. Bahkan terdapat dalam sebagian riwayat menyebutkan, tentang seorang wanita yang tidak punya jilbab (penutup kepala) yang kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruh wanita lain atau para tetangganya untuk meminjamkannya jilbab, agar dia dapat ikut menghadiri shalat id.

Selain itu, pendapat ini juga didukung oleh sejarah perjalanan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Bahwa sejak disyariatkannya pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah selalu mengerjakannya dan beliau tidak pernah meninggalkannya hingga beliau wafat.

Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahumullah.

b. Waktu shalat id.
Sebagaimana waktu mulai dibolehkannya shalat sunnah, yaitu ketika telah lewat dari waktu terlarang untuk shalat atau pada waktu dhuha.

Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ
“Tidak ada shalat setelah shalat Shubuh sampai matahari meninggi dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar sampai matahari tenggelam.”
(HR. Imam Muslim, no.827)

Sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu berkata;

‎ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّىَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ
“Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau untuk menguburkan orang yang wafat di antara kami, yaitu: Ketika matahari terbit sampai meninggi, ketika matahari di atas kepala hingga tergelincir ke barat, ketika matahari akan tenggelam hingga tenggelam sempurna.”
(HR. Imam Muslim, no.831)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Para ulama telah sepakat untuk shalat yang tidak punya sebab (shalat mutlak), itu tidak boleh dilakukan pada waktu terlarang tersebut. Para ulama sepakat, bahwa masih boleh mengerjakan shalat wajib di waktu-waktu tersebut. Para ulama berselisih pendapat mengenai shalat sunnah yang punya sebab, apakah boleh dilakukan pada waktu tersebut, seperti shalat tahiyyatul masjid, sujud tilawah dan sujud syukur, shalat id, shalat Kusuf (gerhana), shalat jenazah dan mengqadha shalat yang tertinggal. Para ulama syafiiyah berpendapat: Bahwa shalat yang masih punya sebab masih boleh dikerjakan pada waktu terlarang. Di antara dalil ulama syafiiyah adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengqadha shalat sunnah Zhuhur setelah shalat Ashar. Berarti mengqadha shalat sunnah yang luput, shalat yang masih ada waktunya, shalat wajib yang diqadha, itu masih boleh dikerjakan pada waktu terlarang, termasuk juga untuk shalat jenazah.”
(Syarh Shahih Muslim, 6:100)

• Kesimpulan;
Waktu-waktu yang terlarang untuk melakukan shalat, itu ada lima, di antaranya;
– Setelah shalat Shubuh, hingga matahari terbit.
– Mulai matahari terbit (syuruq), hingga matahari meninggi (sekitar 15-20 menit setelah matahari terbit).
– Sebelum shalat Zhuhur, ketika matahari berada di atas kepala, tidak condong ke timur atau ke barat, hingga matahari tergelincir ke arah barat.
– Setelah shalat Ashar, hingga matahari mulai tenggelam.
– Ketika matahari mulai tenggelam, hingga tenggelam sempurna.
(Minhah Al-Allam Fii Syarh Bulughi Al-Maram, 2:205)

Maka, berdasarkan kesimpulan dari Imam An-Nawawi rahimahullah di atas, bahwa waktu terlarang untuk shalat hanya berlaku untuk shalat sunnah mutlak (yang tidak punya sebab), sedangkan untuk shalat yang memiliki sebab, maka masih boleh untuk dilakukan. Wallahu alam

Yazid bin Khumair Ar-Rahabi rahimahullah berkata;

‎خَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُسْرٍ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ النَّاسِ فِي يَوْمِ عِيدِ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَأَنْكَرَ إِبْطَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ وَذَلِكَ حِينَ التَّسْبِيحِ
“Abdullah bin Busr, salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar untuk melaksanakan shalat Idul Fithri atau Idul Adha bersama manusia, dia tidak membenarkan keterlambatan imam, lalu berkata: Sesungguhnya kami dahulu pada saat seperti ini telah selesai melaksanakan shalat. Waktu tersebut adalah waktu dhuha.”
(HR. Abu Dawud, no.960)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Beliau shallallahu alaihi wa sallam mengakhirkan shalat Idul Fithri dan menyegerakan shalat Idul Adha. Dan adalah Ibnu Umar, dengan upayanya yang kuat untuk mengikuti sunnah Nabi, tidak keluar hingga matahari terbit.”
(Zadu Al-Maad, 1:442)

Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi rahimahullah berkata;
“Waktu shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi satu tombak hingga tergelincir. Yang paling utama, shalat Idul Adha dilakukan di awal waktu, agar manusia dapat menyembelih hewan-hewan kurban mereka, sedangkan shalat Idul Fithri diakhirkan, agar manusia dapat mengeluarkan zakat fithri mereka.”
(Minhaju Al-Muslim, hlm.278)

Catatan: Jika tidak diketahui hari id kecuali pada akhir waktu, maka shalat id dikerjakan pada keesokan paginya.

Sebagaimana para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum bercerita;

‎أَنَّ رَكْبًا جَاءُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْهَدُونَ أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يُفْطِرُوا وَإِذَا أَصْبَحُوا أَنْ يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ
“Bahwa suatu rombongan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Mereka bersaksi, bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka beliau memerintahkan mereka untuk berbuka puasa, dan keesokan harinya, mereka segera pergi menuju ke tempat shalat (untuk melaksanakan shalat hari raya).”
(HR. Abu Dawud, no.977)

c. Tempat shalat id.
Tempat pelaksanaan shalat id lebih utama dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur syari, seperti hujan, maka boleh dilakukan di masjid atau tempat tertutup lainnya.

Sebagaimana Sahabat Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata;

‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى
“Pada hari raya Idul Fithri dan Idul Adha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar menuju tanah lapang (tempat shalat id).”
(HR. Imam Bukhari, no.903)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Hadits Abu Said Al-Khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat id sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih utama (afdhal) dari pada melakukannya di masjid. Inilah yang dipraktikkan oleh umat Islam di berbagai negeri. Ada pun penduduk Makkah, maka sejak masa silam shalat id mereka selalu dilakukan di Masjidil Haram.”
(Syarh Shahih Muslim, 3:280)

d. Mandi sebelum berangkat ke lapangan (tempat shalat id).
Sebagaimana Imam Nafi rahimahullah berkata;
“Abdullah bin Umar biasa mandi pada hari Idul Fithri, sebelum pergi ke tempat shalat.”
(Al-Muwattha, 1:177)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;
“Disunnahkan untuk bersuci dengan mandi pada hari raya. Ibnu Umar biasa mandi pada hari raya Idul Fithri dan diriwayatkan juga yang demikian dari Ali radhiyallahu anhuma.”
(Al-Mughni, 2:370)

Beliau juga berkata;
“Mandi pada hari raya adalah mandi dengan tata cara seperti mandi junub. Berdasarkan atsar dari beberapa Sahabat radhiyallahu anhum, seperti Abdullah bin Umar dan Sahabat Ali radhiyallahu anhuma. Ini juga merupakan pendapat yang dipegang oleh banyak kalangan Tabiin serta para ulama setelah mereka, termasuk Imam Malik dan Imam Asy-Syafii rahimahumullah.”
(Al-Mughni, 3:256)

e. Makan sebelum shalat Idul Fithri dan makan setelah shalat Idul Adha.
Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata;

‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak berangkat shalat id pada hari raya Idul Fithri, kecuali beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari raya Idul Adha, beliau tidak makan terlebih dahulu, kecuali setelah pulang dari shalat id, lalu beliau menyantap hasil kurbannya.”
(HR. Al-Arnauth, Takhriju Al-Musnad, no.22984. Beliau menyatakan riwayat ini hasan)

Syaikh Abu Malik rahimahullah menjelaskan;
Termasuk hikmah dianjurkannya makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan, untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging kurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat id.
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:602)

Imam Said bin Musayyib rahimahullah berkata;
“Sunnah (para Sahabat) di hari raya Idul Fithri itu ada tiga: Berjalan kaki menuju ke tempat shalat, makan sebelum keluar ke tempat shalat, dan mandi.”
(Irwau Al-Ghalil, 2:104)

Penjelasan di atas berlaku juga untuk hari raya Idul Adha. Namun, ada satu perbedaan sunnah, yaitu untuk di hari raya Idul Adha, makannya setelah selesai dari shalat id.

f. Berhias serta memakai wewangian dan mengenakan pakaian yang terbaik.
Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bercerita;

‎أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فَلَبِثَ عُمَرُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَلْبَثَ ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِجُبَّةِ دِيبَاجٍ فَأَقْبَلَ بِهَا عُمَرُ فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ وَأَرْسَلْتَ إِلَيَّ بِهَذِهِ الْجُبَّةِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِيعُهَا أَوْ تُصِيبُ بِهَا حَاجَتَكَ
“Umar membawa baju jubah terbuat dari sutera yang dibelinya di pasar, jubah tersebut kemudian diberikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah, belilah jubah ini sehingga engkau bisa memperbagus penampilan saat shalat id, atau ketika menyambut para delegasi (rombongan atau utusan). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata kepadanya: Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian (di akhirat). Kemudian Umar tidak nampak untuk beberapa waktu lamanya menurut apa yang Allah kehendaki, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengirimkan kepada Umar sebuah jubah yang terbuat dari sutera. Maka Umar pun membawanya menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan pakaian ini untukku, padahal engkau telah berkata: Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian (di akhirat). Lalu mengapa engkau mengirimnya untukku? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun berkata kepadanya: Juallah! Atau beliau mengatakan: Dengannya kamu bisa memenuhi kebutuhanmu.”
(HR. Imam Bukhari, no.896)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ
“Sesungguhnya ini adalah hari raya yang telah Allah jadikan bagi umat Islam. Barang siapa menghadiri shalat Jumat, hendaklah mandi, jika mempunyai minyak wangi hendaklah mengoleskannya, dan hendaklah kalian bersiwak!”
(HR. Ibnu majah, no.1088. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika shalat Idul Fithri dan Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”
(Zadu Al-Maad, 1:425)

Catatan: Pakaian terbaik itu tidak harus baru. Karena tidak ada satu pun dalil yang mensyariatkan harus mengenakan pakaian baru pada saat hari raya. Dengan tetap memperhatikan kriteria pakaian yang dikenakan, agar tidak sampai melanggar syariat Islam, seperti: Isbal, menampakkan aurat (tabarruj), terbuat dari sutra untuk lelaki, mengenakan wewangian untuk wanita, menyerupai tokoh kafir, dan bentuk pelanggaran semisalnya. Silakan bisa pelajari lebih lengkap dan jelas mengenai adab berpakaian dan adab berpenampilan yang sesuai syariat Islam di website Khiyaar.Com.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

‎يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
“Wahai anak Adam, pakailah oleh kalian pakaian yang indah setiap kali akan memasuki masjid. Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan! Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
(Surat AI-Araf: ayat 31)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan;
“Dalam ayat tersebut, Allah tidak hanya memerintahkan hambaNya untuk menutupi aurat, akan tetapi mereka diperintahkan juga untuk memakai perhiasan. Oleh karena itu, hendaklah mereka memakai pakaian yang paling bagus (terbaik) ketika shalat!”
(Al-Ikhtiyarah Al-Fiqhiyyah, 4:24)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan;
“Berlandaskan ayat tersebut dan ayat yang semisalnya, disunnahkan berhias ketika akan shalat, terlebih ketika hari Jumat dan hari raya (id). Termasuk dalam perhiasan yaitu siwak dan parfum (wewangian).”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 2:195)

Lalu, warna pakaian yang dianjurkan untuk kaum lelaki adalah warna putih. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎اِلْبَسُوا الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
“Pakailah pakaian warna putih! Karena pakaian tersebut lebih bersih dan paling baik. Kafanilah juga orang yang mati di antara kalian dengan kain putih!”
(HR. At-Tirmidzi, no.2810)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Benarlah apa yang Nabi sudah katakan, karena pakaian yang berwarna putih lebih baik dari warna selainnya dari dua aspek. (1) Warna putih lebih terang dan nampak bercahaya. (2) Jika kain tersebut terkena sedikit kotoran saja, maka orang yang mengenakannya akan segera mencucinya. Sedangkan, pakaian yang berwarna selain putih maka bisa menjadi sarang berbagai kotoran dan orang yang memakainya tidak menyadarinya sehingga tidak segera mencucinya. Andai jika sudah dicuci orang tersebut belum tahu secara pasti, apakah kain tersebut telah benar-benar bersih ataukah belum? Dengan pertimbangan ini Nabi memerintahkan kita, kaum lelaki untuk memakai kain yang berwarna putih. Kain putih di sini mencakup kemeja, sarung atau pun celana. Seluruhnya dianjurkan berwarna putih, karena itulah yang lebih utama. Meski pun mengenakan warna yang lainnya juga tidak dilarang (boleh), asalkan warna tersebut bukan warna khas pakaian perempuan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan. Demikian juga, dengan syarat bukan berwarna merah polos. Karena Rasulullah melarang warna merah polos sebagai warna pakaian laki-laki. Namun, jika warna merah tersebut bercampur warna putih maka tidaklah mengapa (boleh).”
(Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 7:287)

Sedangkan, warna pakaian yang terbaik untuk wanita adalah yang berwarna gelap, seperti hitam. Karena Ummu Salamah radhiyallahu anha berkata;

‎لَمَّا نَزَلَتْ: يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ. خَرَجَ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِنَّ الْغِرْبَانَ مِنْ الْأَكْسِيَةِ
“Ketika turun ayat: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! (Surat Al-Ahzab: ayat 59), wanita-wanita Anshar keluar seakan-akan di atas kepala mereka ada burung gagak, karena tertutup kerudung hitam.”
(HR. Abu Dawud, no.3578)

Maka, Islam memperbolehkan umatnya untuk membeli pakaian dan perhiasan yang indah dan juga tidak harus mahal. Jadi, tolak ukurnya adalah indah, sehingga nyaman dipakai dan dipandang. Namun, perlu diingat itu semua boleh kita miliki dengan syarat tidak boleh untuk membanggakannya di hadapan manusia. Karena itu merupakan bentuk kesombongan (takabbur) dan membesarkan diri (ujub), keduanya merupakan sikap yang dibenci oleh Allah dan RasulNya.

Islam membolehkan manusia untuk memiliki pakaian dan perhiasan yang indah untuk digunakan ketika beribadah kepada Allah azza wa jalla, bukan untuk selainnya.

Karena realita saat ini sangat menyedihkan. Banyak manusia, mungkin termasuk juga kita, ketika keluar rumah untuk jalan-jalan atau kondangan, memakai pakaian-pakaian dan perhiasan yang bagus, rapi, mahal dan bermerk. Namun, ketika pergi ke masjid untuk beribadah kepada Allah, Dia yang sudah menciptakan dan memberikan rezeki kepada kita, kita hanya memakai kaos daleman, sarung atau celana yang mungkin kita juga akan merasa malu ketika memakainya untuk kondangan dan acara duniawi lainnya. Kita lebih merasa segan dan malu kepada manusia, tapi kita tidak merasa segan dan berani merendahkan Allah azza wa jalla. Seolah kita tidak terlalu butuh dengan Allah, merasa cuek dan tidak mau peduli dengan adab-adab Islam dalam beribadah kepadaNya.

Kesimpulan: Sunnah ini berlaku hanya untuk kaum lelaki, sedangkan untuk kaum wanita tidak disunnakan, bahkan terlarang.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ
“Dan janganlah kalian berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyah dahulu!”
(Surat Al-Ahzab: ayat 33)

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan;
“Ada dua keterangan dari para ulama tentang makna tabarruj, di antaranya: Imam Abu ubaidah berkata: Tabarruj adalah wanita menampakkan kecantikannya (di hadapan lelaki yang bukan mahram). Imam Az-Zajjaj berkata: Tabarruj adalah menampakkan bagian yang indah (aurat) dan segala yang mengundang syahwat lelaki (bukan mahram).”
(Zadu Al-Masir Fi Ilmi At-Tafsir, 3:461)

Allah azza wa jalla juga berfirman;

‎يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para istri orang-orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun, maha penyayang.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 59)

Allah juga berfirman;

‎وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung!”
(Surat An-Nur: ayat 31)

g. Mengambil jalan yang berbeda.
Termasuk sunnah di hari raya adalah mengambil jalan yang berbeda untuk pergi menuju tanah lapang (tempat shalat) dan pulang menuju rumah.

Sebagaimana Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata;

‎كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
“Jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat id, beliau mengambil jalan yang berbeda (antara berangkat dan pulang).”
(HR. Imam Bukhari, no.933)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata;
“Jika ditanya: Apa hikmah dari Rasulullah melewati jalan yang berbeda (saat berangkat dan pulang shalat id)? Jawabannya adalah: Untuk meneladani (mengikuti) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman: Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata (Surat Al-Ahzab: ayat 36), maka inilah hikmahnya.”
(Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 16:222)

Sebagaimana Allah azza wa jalla juga berfirman;

‎لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah berupa suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat, dan yang banyak mengingat Allah.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 21)

Jadi, ketika kita mengetahui sebuah amalan wajib atau sunnah, maka lakukanlah dan jangan ditinggalkan! Meski pun kita belum mengetahui tentang hikmah atau manfaat yang terdapat pada amalan tersebut.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوهُ
“Biarkanlah apa adanya masalah yang kutinggalkan untuk kalian! Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kalian mendapat celaka karena mereka banyak bertanya dan suka mendebat para Nabi mereka. Oleh sebab itu, apabila kuperintahkan mengerjakan sesuatu, kerjakanlah semampunya, dan apabila kularang kalian mengerjakan sesuatu, maka hentikanlah segera!”
(HR. Imam Muslim, no.2380)

h. Dianjurkan berjalan kaki menuju tempat shalat id.
Sebagaimana Sahabat Saad bin Aidz radhiyallahu anhu berkata;

‎أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam berangkat menuju tempat shalat id dengan berjalan, demikian juga ketika kembali pulang.”
(HR. Ibnu Majah, no.1284. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

Hendaknya bersuci terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat shalat id. Sebetulnya hal ini berlaku juga untuk semua shalat fardhu yang dilakukan di masjid.

Amalan sunnah ini bisa diamalkan di rumah, kontrakan, kos-kosan atau jenis tempat tinggal semisalnya. Sehingga ketika kita pergi menuju tempat shalat id, sudah dalam keadaan suci dari hadats dan bersih dari najis.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
“Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid atau mushalla) untuk melaksanakan kewajiban yang telah Allah tetapkan (ibadah), maka kedua langkah kakinya, yang satu akan menghapuskan kesalahan dan satunya lagi akan meninggikan derajat.”
(HR. Imam Muslim, no.666)

Penjelasan tersebut berlaku untuk orang yang tidak memiliki hadats besar (jinabah). Sehingga untuk orang yang sedang berhadats besar, harus mandi jinabah terlebih dahulu.

4. Tata Cara Shalat Hari Raya (id)

a. Tidak ada shalat sunnah qabliyah (sebelum) dan badiyah (sesudah).
Dari Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata;

‎أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلَالٌ فَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَجَعَلْنَ يُلْقِينَ تُلْقِي الْمَرْأَةُ خُرْصَهَا وَسِخَابَهَا
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan shalat Hari Raya Idul Fithri dua rakaat dan tidak shalat sebelum (qabliyah) atau sesudahnya (badiyah). Kemudian beliau mendatangi para wanita dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka para wanita memberikan sedekah, hingga ada seorang wanita yang memberikan anting dan kalungnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.911)

b. Tidak ada adzan dan iqamah.
Dari Sahabat Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu, dia berkata;

‎صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ
“Aku telah menunaikan shalat dua hari raya bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lebih dari dua kali, yakni beliau menunaikannya tanpa adzan dan iqamah.”
(HR. Imam Muslim, no.1470)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat id tanpa ada adzan dan iqamah. Juga ketika itu untuk menyeru jamaah tidak ada ucapan Ash-Shalaatul Jaamiah. Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam itu.”
(Zadu Al-Maad, 1:425)

c. Dikerjakan sebanyak dua rakaat.
Dari Sahabat Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu, dia berkata;

‎صَلَاةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ وَالْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَالنَّحْرِ رَكْعَتَانِ وَالسَّفَرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Shalat Jumat dua rakaat, shalat Idul Fithri dua rakaat, shalat Idul Adha dua rakaat, dan juga shalat safar dua rakaat. Itu semua dikerjakan dengan sempurna bukan qashar (meringkas rakaat), menurut lisan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.”
(HR. An-Nasai, no.1423)

Syaikh Abu Malik rahimahullah menjelaskan;
“Jumlah rakaat shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua rakaat.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:607)

d. Mengawali shalat dengan takbiratul ihram.
Dari Sahabat Abdurrahman bin Saad radhiyallahu anhu, dia berkata;

‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ
“Jika akan mendirikan shalat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, lalu beliau mengucapkan: Allahu Akbar (Allah maha besar).”
(HR. Ibnu Majah, no.795)

e. Melakukan takbir tambahan (zawaid) pada setiap rakaat.
Dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata;

‎أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat Idul Fithri dan Idul Adha, pada rakaat pertama bertakbir sebanyak tujuh kali, dan pada rakaat kedua bertakbir sebanyak lima kali.”
(HR. Abu Dawud, no.970)

Imam Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan;
“Ini merupakan perkataan mayoritas ahli ilmu dari kalangan Sahabat dan orang-orang setelah mereka. Bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam bertakbir pada rakaat pertama shalat id sebanyak tujuh kali selain takbir pembukaan (takbiratul ihram), dan pada rakaat kedua sebanyak lima kali selain takbir ketika berdiri sebelum membaca Al-Fatihah (takbiratul intiqal). Hal ini diriwayatkan dari Sahabat Abu Bakar, Umar, Ali, dan selainnya.”
(Syarhu As-Sunnah, 4:309)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata;
“Yang benar hukum takbir tambahan dalam shalat id adalah tidak wajib (sunnah). Sebagaimana pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama, karena tidak adanya dalil yang menjelaskan wajibnya takbir tambahan dalam shalat id.”
(Nailu Al-Authar, 3:357)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Takbir tambahan dan bacaan dzikir di antara takbir, hukumnya adalah sunnah, bukan wajib. Shalat id tidaklah batal disebabkan tidak melakukan takbir tersebut, baik disengaja mau pun lupa. Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.”
(Al-Mughni, 2:120)

Lalu, beliau pun berkata;
“Bahwa Rasulullah biasa mengangkat tangan ketika takbir saat shalat jenazah, shalat id, sebagaimana diriwayatkan dari Al-Atsram. Dan tidak diketahui dari para Sahabat yang menyelisihi hal ini. Sama sekali takbir ini tidak menyerupai takbir sujud. Takbir ini dilakukan di awal berdiri, maka kedudukannya sama seperti takbir pembukaan.”
(Al-Mughni, 3:283)

Dikarenakan hukum takbir tambahan dalam shalat id adalah sunnah, maka tidak perlu ragu dan bingung ketika imam shalat id lupa melakukan takbir tambahan. Karena meninggalkannya tidak akan membatalkan sahnya shalat id, baik disebabkan lupa atau pun sengaja.

Meski pun demikian, tidak selayaknya kita dengan sengaja meninggalkannya, karena takbir tambahan tersebut menjadikan shalat id kita lebih sempurna dan lebih sesuai dengan shalat id yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum.

Catatan: Di antara takbir zawaid ini tidak terdapat perintah atau anjuran untuk membaca lafazh-lafazh dzikir tertentu.

Namun, ada sebuah riwayat dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu, dia berkata;

‎بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيْرَتَيْنِ حَمْدُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَثَنَاءٌ عَلَى اللَّهِ
“Di antara setiap takbir (zawaid), hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”
(Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, 3:291. Syaikh Al-Albani menyatakan riwayat ini sanadnya baik, Irwau Al-Ghalil, 3:115)

f. Membaca doa istiftah.
Dalam setiap shalat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengawalinya dengan membaca doa istiftah.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;
“Membaca doa istiftah hukumnya sunnah, menurut jumhur ulama (mayoritas).”
(Al-Mughni, 2:21)

Mengenai bacaan doa istiftah ada banyak lafazhnya. Penulis akan membawakan beberapa lafazh doa istiftah, di antaranya;

– Pertama;

‎اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku, sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan es yang dingin!”
(HR. Imam Bukhari, no.702)

– Kedua;

‎وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Aku hadapkan wajahku kepada Allah, maha pencipta langit dan bumi dengan keadaan ikhlash dan tidak mempersekutukanNya. Sesungguhnya shalatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, dan karena itu aku patuh terhadap perintahNya, dan berserah diri kepadaNya. Ya Allah, Engkaulah maha penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Rabbku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku dan aku mengakui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang berwenang untuk mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Dan tunjukilah kepadaku akhlak yang paling bagus. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Dan jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Labbaik wa sa’daik (aku patuhi segala perintahMu, dan aku tolong agamaMu). Segala kebaikan berada di tanganMu. Sedangkan kejahatan tidak datang daripadaMu. Aku berpegang teguh denganMu dan kepadaMu. Maha suci Engkau dan maha tinggi. Aku mohon ampun dariMu dan aku bertaubat kepadaMu.”
(HR. Imam Muslim, no.1290)

– Ketiga

‎اَللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Maha besar Allah, dan segala puji bagi Allah, pujian yang banyak. Dan maha suci Allah, pada waktu pagi dan petang hari.”
(HR. Imam Muslim, no.943)

– Keempat

‎سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
“Maha suci Engkau Ya Allah, aku memujiMu, maha berkah akan namaMu, maha tinggi kekayaan dan kebesaranMu, tidak ada Rabb yang berhak disembah selain Engkau.”
(HR. At-Tirmidzi, no.226)

– Kelima

‎إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, yang tiada sekutu bagiNya. Demikianlah aku diperintahkan, dan aku termasuk kaum muslimin. Ya Allah, tunjukkan aku pada perbuatan yang terbaik dan pada akhlak yang terbaik, karena tidak ada yang bisa menunjukkan pada yang terbaik, kecuali hanya Engkau. Jagalah aku dari perbuatan jelek dan akhlak yang jelek, karena tidak ada yang bisa menjagaku dari kejelekan, kecuali hanya Engkau.”
(HR. An-Nasai, no.886)

– Keenam

‎اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْ لَا إِلَهَ غَيْرُكَ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Ya Allah, bagiMulah segala pujian. Engkaulah yang maha memelihara langit dan bumi, serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMulah segala pujian, milikMu kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMu segala pujian, Engkau cahaya langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMu segala pujian, Engkaulah raja di langit dan di bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMulah segala puian, Engkaulah Al-Haq (yang maha benar), dan janjiMu haq (benar adanya), dan perjumpaan dengaMu adalah benar, firmanMu benar, Surga adalah benar, Neraka adalah benar, dan para NabiMu benar, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam benar dan hari Kiamat benar. Ya Allah, kepadaMu aku berserah diri, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku bertawakal, kepadaMu aku bertaubat (kembali), karena hujah yang Kau berikan kepadaku aku memusuhi siapa pun yang menentang (syariatMu) dan kepadaMu aku berhukum. Ampunilah aku dari dosa yang lalu atau pun yang akan datang, yang aku sembunyikan atau yang aku tampakkan. Engkaulah yang awal dan yang akhir, dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau, atau tidak ada ilah selainMu. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolonganMu.”
(HR. Imam Bukhari, no.1053)

– Ketujuh

‎اَللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil. Maha pencipta langit dan bumi, maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah hakim di antara hamba-hambaMu tentang apa yang mereka perselisihkan, tunjukilah aku jalan keluar yang benar dari perselisihan mereka. Sesungguhnya Engkau maha pemberi petunjuk pada jalan yang lurus, bagi siapa yang Engkau kehendaki.”
(HR. Imam Muslim, no.1289)

g. Membaca surat Al-Fatihah.
Membaca surat Al-Fatihah adalah rukun shalat. Sehingga harus dibaca pada setiap rakaat shalat. Apabila ditinggalkan, maka shalat yang dilakukan tidak sah (batal).

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Fatihatul Kitab (surat Al-Fatihah).”
(HR. Imam Bukhari, no.714)

‎مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ
“Barang siapa shalat tanpa membaca Ummul Quran, maka shalatnya kurang, shalatnya kurang, shalatnya kurang, tidak sempurna.”
(HR. Imam Muslim, no.598)

Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah menjelaskan;
“Al-Khidaaj maknanya adalah kurang dan rusak.”
(Ashlu Shifati Shalati An-Nabi, 1:303)

h. Membaca surat selain Al-Fatihah.
Sebetulnya, hal ini berlaku untuk semua rakaat shalat fardhu dan shalat sunnah. Namun, di antara surat-surat dalam Al-Quran, terdapat surat-surat tertentu yang biasa dibaca oleh Rasulullah pada shalat-shalat tertentu juga. Seperti halnya pada shalat hari raya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa membaca surat Qaf dan Al-Qomar, Al-Ala dan Al-Ghasyiah.

Karena Sahabat Umar bin Khatthab pernah bertanya kepada Sahabat Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu anhuma;

‎مَا كَانَ يَقْرَأُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ فَقَالَ كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ وَاقْتَرَبَتْ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
“Surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika mengerjakan shalat Idul Adha dan Idul Fithri? Maka Abu Waqid menjawab: Beliau membaca surat Qaf dan Al-Qamar.”
(HR. Imam Muslim, no.1477)

Sahabat Numan bin Basyir radhiyallahu anhu berkata;

‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa membaca surat Al-Ala dan surat Al-Ghasyiah dalam shalat dua hari raya, dan shalat Jumat. Apabila shalat id bertepatan di hari Jumat, beliau juga membaca kedua surat tersebut dalam kedua shalat itu (shalat hari raya dan shalat Jumat).”
(HR. Imam Muslim, no.1452)

Selain itu, seseorang juga boleh membaca surat-surat lainnya, berdasarkan keumuman contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Hanya saja, surat-surat yang sudah disebutkan di atas, maka itu lebih utama untuk dibaca dan lebih sesuai sunnahnya.

i. Selanjutnya, mengerjakan gerakan shalat sama seperti gerakan shalat secara umum, yaitu: ruku, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud di akhir rakaat shalat, dan salam. Karena tata cara shalat id juga merujuk pada sifat shalat Nabi. Hanya ada satu perbedaan di shalat id, yaitu terdapat takbir tambahan (zawaid) pada setiap awal rakaatnya.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat!”
(HR. Imam Bukhari, no.595)

j. Khutbah shalat id.
Setelah selesai mengerjakan shalat id, maka selanjutnya imam melakukan khutbah dan makmum mendengarkannya. Sebagaimana di dalam shalat Jumat juga terdapat khutbah, hanya terdapat beberapa perbedaan, yaitu jumlah khutbah dan urutan pelaksanaannya. Kalau pada shalat Jumat khutbahnya dilakukan sebanyak dua kali sebelum shalat, sedangkan pada shalat id khutbahnya dilakukan sekali setelah shalat.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata;

‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu anhuma, mereka melaksanakan shalat dua hari raya sebelum khutbah.”
(HR. Imam Bukhari, no.910)

Syaikh Abu Malik rahimahullah menjelaskan;
“Setelah mengerjakan shalat id, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah id dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jumat).”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:607)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar.”
(Zadu Al-Maad, 1:425)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memulai khutbahnya dengan mengucapkan alhamdulillah (hamdalah), sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan;
“Dan tidak diketahui adanya satu hadits pun yang menyebutkan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam membuka khutbah id dengan bacaan takbir. Namun, beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah id dengan bacaan takbir.”
(Zadu Al-Maad, 1:425)

Sahabat Abdullah bin As-Saib radhiyallahu anhu bercerita;

‎حَضَرْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِنَا الْعِيدَ ثُمَّ قَالَ قَدْ قَضَيْنَا الصَّلَاةَ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ
“Aku pernah menghadiri shalat id bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau shalat id bersama kami kemudian bersabda: Kita telah selesai melaksanakan shalat, maka barang siapa ingin duduk mendengarkan khutbah, hendaklah dia duduk. Dan barang siapa ingin pergi, hendaklah dia pergi.”
(HR. Ibnu Majah, no.1280)

Berdasarkan hadits tersebut, maka kita boleh mengikuti khutbah id dan boleh juga tidak. Namun, ada hal yang bisa menjadi pertimbangan untuk kita adalah ketika ingin ibadah shalat id menjadi sempurna, maka ikuti pula khutbah id. Meski pun jika tidak mengikuti khutbah id, shalat id yang kita kerjakan tetap sah. Dan dengan kita mengikuti khutbah id, hal tersebut bisa menambah wawasan ilmu agama untuk kita, yang bisa berdampak pada bertambahnya keimanan dan ibadah kita.

Dalam masalah khutbah id, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama tentang jumlah khutbah id, satu kali ataukah dua kali?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata;
“Bahwa pernyataan dua kali khutbah, hal ini sesuai dengan pendapat ahli fikih rahimahumullah, bahwa khutbah id adalah dua bagian. Riwayat ini ada di dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, dengan sanad yang masih menuai perdebatan namun, secara zhahir Rasulullah berkhutbah dengan dua kali khutbah. Akan tetapi barang siapa yang mencermati sunnah yang disepakati dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan yang lainnya, bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak berkhutbah, kecuali dengan satu kali khutbah. Akan tetapi setelah beliau menyelesaikan khutbah pertama, beliau menghadap kepada jamaah wanita dan menasihati mereka. Apabila hal ini dijadikan dasar akan disyariatkan dua khutbah, maka masih dipertanyakan, karena Rasulullah shallallahu alahi wa sallam turun menghadap kepada jamaah wanita dan berkhutbah kepada mereka, itu disebabkan jauhnya jarak mereka dan tidak sampainya khutbah kepada mereka, atau khutbah sampai kepada mereka namun, beliau ingin berbicara secara khusus kepada jamaah wanita.”
(Asy-Syarhu Al-Mumthi, 5:191)

5. Adab-Adab Di Hari Raya

a. Mengucapkan kata selamat terhadap sesama muslim.
Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata;

“Para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya: Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalan dari kami dan darimu)”.
(Fathu Al-Bari, 2:446)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah juga berkata;
“Bahwa Muhammad bin Ziyad berkata: Aku pernah bersama Abu Umamah Al-Bahili dan selainnya dari kalangan Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, apabila mereka kembali dari shalat id, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: Taqabbalallahu minna wa minka.”
(Al-Mughni, 2:259)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang hukum mengucapkan selamat (tahniah) pada hari raya, lalu beliau menjawab;
“Ada pun ucapan selamat pada hari raya id, sebagaimana ucapan sebagian mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat id, dengan mengucapkan: Taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima amal kami dan kalian), atau Ahalallahu alaika (mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu) dan ucapan semisalnya. Hal tersebut telah diriwayatkan dari sejumlah Sahabat Nabi, bahwa mereka biasa melakukan hal tersebut. Imam Ahmad dan lainnya juga membolehkan hal ini. Imam Ahmad berkata: Aku tidak akan mendahului seseorang dengan ucapan selamat hari raya (id) namun, jika seseorang itu memulai, maka aku akan menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab adalah sesuatu yang wajib dan memberikan ucapan tersebut bukan termasuk sunnah yang diperintahkan, dan juga tidak ada larangannya. Barang siapa yang ingin melakukannya maka ada contohnya, dan bagi yang tidak mengerjakannya juga ada contohnya.”
(Majmu Al-Fatawa, 24:253)

Catatan: Bagi orang yang ingin menjawab ucapan selamat (tahniah) tersebut, maka jawablah dengan ucapan yang semisal.

b. Mengungkapkan rasa bahagia.
Di dalam hari raya kita boleh bersenang, berbahagia, misal dengan saling memberi hadiah, saling berpelukan dan berjabat tangan dengan sesama jenis, mengadakan sebuah acara, permainan, perlombaan, dan hal-hal lainnya yang bisa mewakili rasa bahagia. Namun, perlu diketahui, bahwa hal itu semua boleh dilakukan dengan syarat tetap memperhatikan syariat Islam. Sehingga ungkapan bahagia yang kita rasakan tidak sampai melanggar syariat Islam.

Sebagaimana para ulama ushul fiqh menjelaskan;

‎اَلْأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ المَنْعُ إِلاَّ لِنَصٍّ، وَ فِي الْعَادَاتِ الْإِبَاحَةُ إِلاَّ لِنَصٍّ
“Hukum asal ibadah (perkara agama) itu dilarang, kecuali kalau ada nash (dalil) yang membolehkannya. Ada pun hukum asal adat kebiasaan (perkara dunia) itu adalah diperbolehkan, kecuali kalau ada nash yang melarangnya.”

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata;
“Hafalkan kaidah ini, maka sesungguhnya ini sangat penting.”
(At-Tawasshulu Wa Anwauhu Wa Ahkamuhu, hlm.30)

c. Saling memberi hadiah.
Kebiasaan ini merupakan suatu hal yang baik dan sesuai perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎تَهَادُوا تَحَابُّوا
“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.”
(HR. Ibnu Hajar, Bulughu Al-Maram, no.277. Sanadnya hasan)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

‎أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam menerima hadiah, dan beliau membalas orang yang memberi hadiah dengan lebih baik.”
(HR. Abu Dawud, no.3069)

Rasulullah juga bersabda;

‎وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Dan barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian maka balaslah, kemudian apabila kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah dia! Hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya.”
(HR. Abu Dawud, no.1424)

d. Saling berjabat tangan.
Berkaitan dengan kebiasaan jabat tangan, termasuk jiga di dalamnya saling berpelukan, itu hanya boleh dilakukan dengan sesama jenis. Karena perbuatan tersebut pasti akan membuat tersentuhnya kulit dan anggota tubuh di antara kedua pihak (pihak yang memeluk dan pihak yang dipeluk). Sehingga, jika hal ini dilakukan dengan berbeda jenis yang bukan mahram (lelaki dan wanita), maka tentu hal ini terlarang oleh syariat Islam dan dapat membangkitkan syahwat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya, dari pada dia menyentuh wanita yang tidak halal untuknya (bukan mahram).”
(HR. At-Thabrani, Mujam Al-Kabir, 20:211)

Lalu Rasulullah pun bersabda;

‎إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ
“Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dia pasti melakukan hal itu dengan tidak dipungkiri lagi, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah bicara, zina jiwa adalah mengkhayal, dan kemaluan yang akan membenarkan itu atau mendustakannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.6122)

Maka sebab itu, Allah azza wa jalla telah melarang semua jalan dan sarana yang dapat mengantarkan seseorang pada zina, sebagaimana Allah berfirman;

‎وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina! Karena zina merupakan perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”
(Surat Al-Isra: ayat 32)

Mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukannya? Tentu hal tersebut lebih terlarang.

Catatan: Semua kebiasaan (adat) di atas boleh dilakukan di hari raya dan di hari biasa. Terkhusus untuk kebiasaan jabat tangan, berpelukan dan semisalnya boleh dilakukan juga oleh lelaki dan wanita, asalkan mereka adalah mahram.

Termasuk cara agar diri kita selamat dari larangan dan hukuman ini adalah dengan mengetahui siapa saja anggota keluarga yang menjadi mahram bagi kita, karena tidak semua anggota keluarga itu termasuk mahram.

• Apa dan siapa mahram kita?

Mungkin di antara kita masih ada yang belum mengetahui apa itu mahram, dan siapa saja yang termasuk mahram. Padahal hukum mahram berkaitan dengan banyak masalah dalam urusan agama Islam. Seperti: Seorang wanita tidak boleh bepergian jauh (safar) kecuali dengan mahramnya, seorang lelaki tidak boleh berduaan dengan wanita kecuali dengan mahramnya, seorang lelaki dan wanita tidak boleh berjabat tangan kecuali dia adalah mahramnya, dan berbagai permasalahan hukum Islam lainnya.

Dalam masalah mahram, sebagian manusia masih bingung dan merasa asing mendengarnya, karena yang sering didengar adalah kata muhrim, bukan mahram.

Sebetulnya, itilah yang tepat dalam masalah ini adalah mahram bukan muhrim. Karena muhrim adalah orang yang berihram. Dan muhrim adalah isim fail (subjek) dari kata ‘Ahrama’ yang artinya berihram. Sedangkan, mahram adalah wanita yang haram dinikahi oleh seorang lelaki. Dan mahram adalah isim maful (objek) dari kata ‘Harama’ yang artinya melarang.

Jadi, maksud dari mahram adalah wanita yang haram dinikahi oleh seorang lelaki. Masalah mahram ini telah dijelaskan oleh Allah azza wa jalla dalam firmanNya;

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا. حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا. وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ
“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayah kalian, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu sangat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian, anak-anak kalian yang perempuan, saudari-saudari (kakak-adik perempuan) kalian, bibi-bibi (dari jalur bapak) kalian, bibi-bibi (dari jalur ibu) kalian, keponakan perempuan dari saudara-saudara kalian, keponakan perempuan dari saudari-saudari kalian, ibu-ibu yang menyusui kalian, saudari sepersusuan, ibu-ibu mertua kalian, anak-anak tiri kalian dari istri yang telah kalian setubuhi dan tetapi jika kalian belum menyetubuhi istri kalian lalu sudah kalian ceraikan maka tidak berdosa kalian menikahi anak tiri tersebut, dan diharamkan bagi kalian istri-istri dari anak kandung kalian (menantu), dan menggabungkan dalam suatu pernikahan dua perempuan yang bersaudara (kakak-adik) kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Dan diharamkan juga kalian mengawini wanita yang sudah bersuami kecuali budak-budak yang kalian miliki karena Allah telah menetapkan hukum tersebut sebagai ketetapanNya atas kalian, dan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian, yaitu mencari istri-istri dengan harta kalian untuk dinikahi bukan untuk berzina.”
(Surat An-Nisa: ayat 22-24)

Dalam permasalahan mahram terbagi menjadi dua macam, yaitu] mahram muabbad (tidak boleh dinikahi selamanya), dan mahram muaqqat (tidak boleh dinikahi pada kondisi tertentu saja dan jika kondisi tersebut hilang maka menjadi boleh).

* Mahram muabbad.
Mahram muabbad dibagi menjadi tiga sebab, yaitu karena nasab, karena ikatan pernikahan, dan karena persusuan.

– Mahram muabbad karena nasab.

Pertama: Ibu.
Di antara pihak yang termasuk di dalamnya adalah ibu kandung, ibu dari ayah (nenek), dan jalur nenek seterusnya ke atas (dari jalur lelaki atau perempuan).

Kedua: Anak perempuan.
Di antara pihak yang termasuk di dalamnya adalah anak perempuam, cucu perempuan, dan jalur seterusnya ke bawah.

Ketiga: Saudari (kakak-adik).
Di antara pihak yang termasuk di dalamnya adalah saudara perempuan berupa kakak atau adik.

Keempat: Bibi dari jalur ayah.
Di antara pihak yang termasuk di dalamnya adalah saudara-saudara perempuan dari ayah ke atas. Termasuk di dalamnya adalah bibi dari ayah atau bibi dari ibu.

Kelima: Bibi dari jalur ibu.
Di antara pihak yang termasuk di dalamnya adalah saudara-saudara perempuan dari ibu ke atas. Termasuk juga di dalamnya adalah saudara perempuan dari ibu-ayah.

Keenam: Keponakan.
Di antara pihak yang termasuk di dalamnya adalah anak perempuan dari saudara lelaki atau saudara perempuan, dan jalur seterusnya ke bawah.

– Mahram muabbad karena ikatan pernikahan.

Pertama: Istri dari ayah.
Di antara pihak yang termasuk di dalamnya adalah semua wanita yang dinikahi oleh ayah.

Kedua: Ibu dari istri (mertua).
Di antara pihak yang termasuk di dalamnya adalah ibu dari ibu mertua dan ibu dari ayah mertua. Menurut pendapat mayoritas ulama, ibu mertua menjadi mahram selamanya disebabkan akad nikah kita dengan anaknya, meskipun istri kita sudah tidak bersama kita sebelum disetubuhi.

Ketiga: Anak perempuan dari istri (anak tiri).
Di antara pihak yang termasuk di dalamnya adalah anak perempuan dari anak tiri (cucu). Anak tiri bisa menjadi mahram dengan syarat setelah pernikahan kita sudah menyetubuhi ibunya. Karena jika hanya menikah dengan ibunya namun, belum sempat menyetubuhinya, maka konsekuensinya ketika kita sudah bercerai dengan ibunya, kita boleh menikahi anak perempuannya tersebut.

Keempat: Istri dari anak lelaki kandung (menantu).
Di antara pihak yang termasuk di dalamnya adalah istri dari anak lelaki persusuan.

– Mahram muabbad karena persusuan.

Pertama: Wanita yang menyusui dan ibunya (nenek persusuan).

Kedua: Anak perempuan dari wanita yang menyusui (saudara persusuan).

Ketiga: Saudari dari wanita yang menyusui (bibi persusuan).

Keempat: Anak perempuan dari anak perempuan dari wanita yang menysusui (keponakan persusuan).

Kelima: Ibu dari suami dari wanita yang menyusui (nenek persusuan).

Keenam: Saudari dari suami dari wanita yang menyusui (bibi persusuan).

Ketujuh: Anak perempuan dari anak laki-laki dari wanita yang menyusui (keponakan persusuan).

Kedelapan: Anak perempuan dari suami dari wanita yang menyusui (saudara tiri persusuan).

Kesembilan: Istri lain dari suami dari wanita yang menyusui (ibu tiri persusuan).

Catatan: Jumlah persusuan yang menyebabkan mahram adalah lima kali persusuan atau lebih. Ini adalah pendapat Aisyah, Abdullah bin Masud, dan Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhum. Dan ini juga merupakan pendapat Asy-Syafii, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Hazm, Atha, dan Thawus rahimahumullah.

* Mahram Muaqqat.
Mahram yang sifatnya sementara. Wanita yang tidak boleh dinikahi atau menjadi mahram sementara waktu itu ada delapan, di antaranya;

Pertama: Saudari dari istri (ipar).
Tidak boleh bagi seorang pria untuk menikahi saudari dari istrinya dalam satu waktu, berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma). Namun, jika istrinya sudah meninggal dunia atau sudah ditalak, maka setelah itu dia boleh menikahi saudari dari istrinya (ipar) tersebut.

Kedua: Bibi dari istri (jalur ayah atau ibu).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا
“Seorang wanita tidak boleh dimadu dengan bibinya, baik dari jalur ibu atau ayahnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.4718)

Namun, jika istri tersebut telah dicerai atau meninggal dunia, maka laki-laki tersebut boleh menikahi bibinya.

Ketiga: Istri yang telah bersuami dan istri orang kafir jika dia masuk Islam.
Allah azza wa jalla berfirman;

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، وَأُحِلَّ لَكُم مَّا وَرَآءَ ذَٰلِكُمْ أَن تَبْتَغُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُم مُّحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَٰفِحِينَ
“Dan (diharamkan juga kalian menikahi) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak wanita (tawanan perang) yang kalian miliki sebagai ketetapan Allah atas kalian. Dan dihalalkan bagi kalian selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu, jika kalian berusaha dengan harta kalian untuk menikahinya, bukan untuk berzina.”
(Surat An-Nisa: ayat 24)

Jika seorang wanita masuk Islam dan suaminya masih kafir, maka keislaman wanita tersebut membuat dia langsung terpisah dengan suaminya yang kafir. Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآَتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada kalian wanita-wanita yang beriman, maka hendaklah kalian uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Maka jika kalian telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, janganlah kalian kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal juga bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar, dan tidak ada dosa atas kalian menikahi mereka, apabila kalian bayar kepada mereka maharnya.”
(Surat Al-Mumtahanah: ayat 10)

Keempat: Wanita yang sudah ditalak tiga, maka dia tidak boleh dinikahi oleh suaminya yang dulu, hingga dia menjadi istri dari laki-laki lain.

Allah azza wa jalla berfirman;

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ
“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka wanita tersebut tidak lagi halal baginya, hingga dia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami dulu dan bekas istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan bisa menjalankan hukum-hukum Allah.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 230)

Kelima: Wanita musyrik hingga masuk Islam.
Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ
“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin (beriman) lebih baik dari wanita musyrik, meskipun dia menarik hati kalian.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 221)

Dalam larangan di sini terdapat pengecualian, yaitu seorang laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab (Yahudi atau Nashrani). Hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah azza wa jalla;

اَلْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ
“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian yang baik-baik. Dan makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal juga bagi mereka. (Dan dihalalkan menikahi) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian, jika kalian telah membayar mas kawin (mahar) mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak juga menjadikannya gundik-gundik (istri simpanan).”
(Surat Al-Maidah: ayat 5)

Adapun wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki ahli kitab atau laki-laki kafir. Hal ini berdasarkan firman Allah;

فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
“Maka jika kalian telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tidak halal juga bagi mereka.”
(Surat Al-Mumtahanah: ayat 10)

Keenam: Wanita pezina hingga bertaubat dan melakukan istibra (pembuktian kosongnya rahim).
Perlu dipahami, bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita pezina, kecuali jika wanita pezina tersebut memenuhi dua syarat, di antaranya;

(1) Bertaubat.
Allah azza wa jalla berfirman;

اَلزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Laki-laki yang berzina tidak menikah, melainkan dengan wanita yang berzina, atau wanita yang musyrik. Dan wanita yang berzina tidak dinikahi, melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”
(Surat An-Nur: ayat 3)

Karena hanya taubat yang dapat menghilangkan status sebagai wanita pezina. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

 اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
”Orang yang bertaubat dari suatu dosa, itu seperti orang yang tidak pernah berbuat dosa tersebut sama sekali.”
(HR. Ibnu Majah, no.4240. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

(2) Istibra.
Yaitu menunggu satu kali haidh atau hingga bayi dalam kandungannya lahir. Inilah pendapat Imam Ahmad dan Imam Malik, dan inilah pendapat yang lebih tepat.

Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam;

لاَ تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً
“Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga dia melahirkan, dan wanita yang tidak hamil istibranya (membuktikan kosongnya rahim) hingga satu kali haidh.”
(HR. Abu Dawud, no.1843)

Catatan: Redaksi hadits ini membicarakan tentang budak yang sebelumnya disetubuhi oleh tuannya yang pertama. Maka tuannya yang kedua tidak boleh menyetubuhi dirinya hingga melakukan istibra, yaitu menunggu hingga satu kali haidh atau hingga dia melahirkan anaknya, jika dia hamil. Jadi jangan sampai dipahami, bahwa hadits ini membicarakan tentang larangan untuk menyetubuhi istri yang sedang hamil.

Ketujuh: Wanita yang sedang ihram hingga tahallul.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكَحُ وَلاَ يَخْطُبُ
“Orang yang sedang berihram tidak diperbolehkan untuk menikahkan, dinikahkan dan meminang.”
(HR. Imam Muslim, no.2522)

Kedelapan: Tidak boleh menikahi wanita kelima, sedangkan masih memiliki istri yang keempat.
Allah azza wa jalla berfirman;

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ
“Maka nikahilah wanita-wanita lain yang kalian senangi: dua, tiga atau empat!”
(Surat An-Nisa: ayat 3)

Catatan: Bagi setiap lelaki muslim dilarang menikahi lebih dari empat istri, kecuali Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Hanya beliau yang boleh menikah lebih dari empat istri dan boleh menikah tanpa mahar.

e. Menyembelih hewan qurban.
Dalam pembahasan ini, kita pun harus mengetahui ilmu tentang fiqih qurban secara rinci, agar kita bisa memiliki ilmu untuk beribadah kepada Allah melalui hewan qurban dengan baik dan benar.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ
“Maka kerjakanlah shalat karena Rabbmu, dan berqurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)!”
(Surat Al-Kautsar: ayat 2)

Syaikh Abdullah Alu Bassam rahimahullah menjelaskan;
“Sebagian ulama Ahli Tafsir mengatakan: Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat id.”
(Shahih Fiqih Sunnah, 2:366)

Catatan: Untuk mempelajari fiqih qurban lebih lengkap dan jelas, mari kita baca dan pelajari di sini.

Semoga dengan sebab membaca dan mempelajari tulisan ini, Allah jadikan hari raya yang akan kita lalui lebih baik dari hari raya yang sudah kita lalui sebelumnya, dan menjadi lebih bermakna dan bernilai pahala. Aamiin

Hanya Allah yang mampu memberikan kemudahan.
___
@Kota Udang Cirebon, 26 Dzulqadah 1440H/29 Juli 2019M

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaHari Spesial Di Bulan Dzulhijjah
Artikel sesudahnyaKenapa Ada Pemadaman Aliran Listrik?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here