Beranda Belajar Islam Amalan Hari Spesial Di Bulan Dzulhijjah

Hari Spesial Di Bulan Dzulhijjah

125
0
BERBAGI

Hari Spesial Di Bulan Dzulhijjah

Di dalam bulan Dzulhijjah terdapat hari-hari yang spesial, karena sudah dipilih oleh Allah azza wa jalla sebagai hari-hari yang terbaik di setiap tahun.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَٱلْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh!”
(Surat Al-Fajr: ayat 1-2)

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan 10 malam yang dimaksud oleh Allah pada ayat di atas. Penafsiran dari para ulama Ahli Tafsir menjadi 3 pendapat, di antaranya;
– Maksudnya adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.
– Maksudnya adalah 10 malam terakhir bulan Ramadhan.
– Maksudnya adalah 10 hari pertama bulan Muharram.

Pendapat yang lebih kuat (rajih) adalah pendapat pertama, yang menyatakan bahwa makna yang dimaksud adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena pendapat ini memiliki beberapa alasan, yaitu;

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Yang dimaksud dengan 10 malam pada ayat di atas adalah 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid, dan lainnya dari kalangan kaum Salaf dan Khalaf.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 8:390)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ الْعَشْرَ عَشْرُ الْأَضْحَى وَالْوِتْرَ يَوْمُ عَرَفَةَ وَالشَّفعَ يَوْمُ النَّحْرِ
“Sesungguhnya yang dimaksud dengan 10 itu adalah 10 hari Al-Adha (bulan Dzulhijjah), dan yang dimaksud dengan ganjil adalah hari Arafah, dan yang dimaksud dengan genap adalah hari raya Idul Adha.”
(HR. Al-Arnauth, no.14511. Beliau menyatakan hadits ini sanadnya tidak ada masalah dengan para perawinya)

Lalu bagian ayat kedua dalam surat Al-Fajr, sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kalimat Al-Fajr pada ayat tersebut adalah fajar pada hari raya Idul Adha. Maka sebab itu, yang dimaksudkan dengan 10 malam yang tertulis dalam ayat kedua surat tersebut adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

• Pertanyaan: Mengapa di dalam bulan Dzulhijjah terdapat hari-hari yang spesial?

• Jawaban: Karena di dalam bulan Dzulhijjah terdapat banyak keutamaan dan kemuliaan ibadah. Di antaranya;

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثَرُوا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيْدِ وَالتَّكْبِيْرِ
“Tidak ada amalan yang dilakukan pada beberapa hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah, melebihi amalan yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Maka perbanyaklah membaca tahlil, tahmid, dan takbir pada hari-hari tersebut!”
(HR. Al-Arnauth, Takhriju Al-Musnad, no.5446)

Di dalam bulan Dzulhijjah sejak tanggal 1-13 Dzulhijjah disunnahkan untuk melantunkan takbir. Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْدُودَٰتٍ
“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 203)

‎وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ
“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.”
(Surat Al-Hajj: ayat 28)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Bahwa maksud hari yang telah ditentukan adalah tangga 1-9 Dzulhijjah, sedangkan makna beberapa hari yang berbilang adalah hari Tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.”
(Fathu Al-Bari, 2:458)

Sebagaimana di antara para Sahabat radhiyallahu anhum bercerita;

‎وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا
“Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Mereka berdua melantunkan kalimat takbir, kemudian orang-orang pun ikut bertakbir disebabkan mendengar lantunan takbir mereka berdua.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, no.651)

Di dalam bulan Dzulhijjah terdapat perintah untuk menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Lakukanlah haji dan umrah dalam waktu yang berdekatan! Karena keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan menghapus dosa seperti Al-Kir (alat peniup api) menghilangkan karat besi, emas, dan perak. Tidak ada balasan untuk haji mabrur, kecuali Surga.”
(HR. At-Tirmidzi, no.738. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)

Di dalam bulan Dzulhijjah terdapat hari Arafah, yang di dalamnya bagi orang-orang yang tidak sedang berhaji disunnahkan untuk berpuasa. Sebagaimana Sahabat Abu Qatadah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa Arafah, maka beliau bersabda;

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
“Puasa tersebut akan menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.”
(HR. Imam Muslim, no.1977)

Bahkan disunnahkan juga untuk berpuasa sejak tanggal 1-9 Dzulhijjah. Sebagaimana Hunaidah bin Khalid dari istrinya rahimahumallah, dia bercerita;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَتِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ
“Telah menceritakan kepadaku sebagian istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau berpuasa pada hari Asyura, 9 hari dari bulan Dzulhijjah, 3 hari setiap bulan, hari Senin pertama tiap bulan, dan dua hari Kamis.”
(HR. An-Nasai, no.2332)

Sedangkan untuk orang-orang yang sedang berhaji, mereka wukuf di Arafah dan tidak disunnahkan untuk berpuasa. Sebagaimana Maimunah radhiyallahu anha bercerita;

أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِي صِيَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِحِلَابٍ وَهُوَ وَاقِفٌ فِي الْمَوْقِفِ فَشَرِبَ مِنْهُ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ
“Bahwa orang-orang ragu tentang puasa Nabi shallallahu alaihi wa sallam di hari Arafah, lalu dia mengirim susu kepada beliau yang sedang wukuf di Arafah, maka beliau meminumnya sementara itu orang-orang juga melihatnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.1853)

Di dalam bulan Dzulhijjah terdapat hari raya Idul Adha dan hari Tasyriq, yang di dalamnya kita disunnahkan untuk berqurban. Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ
“Maka kerjakanlah shalat karena Rabbmu, dan berqurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)!”
(Surat Al-Kautsar: ayat 2)

Syaikh Abdullah Alu Bassam rahimahullah menjelaskan;
“Sebagian ulama Ahli Tafsir berkata: Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat id.”
(Shahih Fiqih Sunnah, 2:366)

Silakan pelajari fiqih qurban di sini.

Di dalam bulan Dzulhijjah disunnahkan untuk banyak mengerjakan amal shalih (ibadah). Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak ada hari-hari untuk berbuat amal shalih yang lebih Allah cintai, kecuali 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, meskipun jihad fii sabilillah? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Meskipun jihad fii sabilillah. Kecuali seseorang yang pergi berjihad dengan harta dan jiwanya, lalu tidak kembali membawa sedikitpun dari keduanya (mati syahid).”
(HR. At-Tirmidzi, no.688)

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Wahai orang-orang yang beriman, maukah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang sangat pedih? Yaitu kalian beriman kepada Allah dan RasulNya, dan berjihad di jalanNya dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam SurgaNya, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan memasukkan kalian ke tempat tinggal yang baik, yakni di Surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.”
(Surat Ash-Shaff: ayat 10-12)

Secara umum, setiap amal shalih (ibadah) disyariatkan untuk dikerjakan di setiap saat namun, jika ada penjelasan dari Allah atau Rasulullah tentang waktu yang ditentukan untuk mengerjakan suatu ibadah, maka waktu tersebut lebih ditekankan lagi untuk dikerjakan dan memiliki keutamaan serta balasan dari Allah yang sangat dahsyat.

Terdapat sebuah kaidah dalam beribadah;
“Menunaikan ibadah pada waktunya yang sudah ditentukan, meskipun bersamaan dengan itu harus menerjang sesuatu yang makruh atau bahkan sesuatu yang terlarang adalah lebih utama (afdhal) daripada menunaikannya di luar waktunya, meskipun tanpa menerjang sesuatu yang makruh atau sesuatu yang terlarang. Karena waktu adalah syarat terpenting dalam ibadah.”
(Al-Mufadhalah Fii Al-Ibadat, hlm.989)

Maka sebab itu, jangan biarkan hari-hari spesial yang terbatas ini kita lalui tanpa adanya peningkatan dalam aktivitas ibadah! Kita akan termasuk sebagai orang bodoh dan merugi, ketika kesempatan spesial yang sudah Allah berikan untuk kita beribadah namun, kita tidak memanfaatkannya untuk beribadah.

Ingat, Allah azza wa jalla berfirman;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.”
(Surat Adz-Dzariyat: ayat 56)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan;
“Tujuan penciptaan ini tidaklah semua makhluk mewujudkannya. Maka sebab itu, dalam realitanya ada orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Tujuan penciptaan untuk beribadah kepada Allah adalah dalam perkara yang dicintai dan diridhai namun, tidak semua makhluk mampu merealisasikannya.”
(Majmu Al-Fatawa, 8:189)

Allah juga berfirman;

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main saja, dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(Surat Al-Mukminun: ayat 115)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dariNya?”
(Madariju As-Salikin, 1:98)

Allah azza wa jalla berfirman;

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira, bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa adanya pertanggungjawaban)?”
(Surat Al-Qiyamah: ayat 36)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan;
“(Apakah mereka diciptakan) tanpa adanya balasan dan siksaan?”
(Madariju As-Salikin, 1:98)

Mari, kita manfaatkan kesempatan spesial yang terbatas ini untuk beribadah kepada Allah dengan ibadah yang berkualitas, bukan sekedar keinginan yang terlintas!
___
@Kota Angin Majalengka, 01 Dzulhijjah 1440H/01 Agustus 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaFiqih Qurban
Artikel sesudahnyaEnsiklopedia Hari Raya
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here