Beranda Belajar Islam Amalan Fiqih Qurban

Fiqih Qurban

282
0
BERBAGI

FIQIH QURBAN

A. Pengertian Qurban.

Qurban (udhhiyah) adalah hewan ternak yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyriq, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:366)

B. Keutamaan Qurban.

Menyembelih qurban termasuk amal shalih yang paling utama. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha menceritakan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) qurban, yang lebih dicintai oleh Allah azza wa jalla dari mengalirkan darah. Sesungguhnya pada hari Kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah azza wa jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya!”
(HR. Ibnu Majah, no.3117. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini dhaif)

Meskipun hadits di atas didhaifkan oleh Syaikh Al-Albani namun, kegoncangan hadits di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Para ulama menjelaskan;
“Bahwa menyembelih hewan qurban pada hari raya Idul Adha lebih utama daripada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak daripada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, menyembelih hewan qurban lebih menampakkan syiar Islam dan lebih sesuai dengan sunnah.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:379)

Udhhiyah (menyembelih hewan qurban) adalah termasuk sarana ibadah kepada Allah dan pendekatan diri kepadaNya, juga termasuk sarana untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sehingga ibadah ini adalah bagian dari syariat Islam.

Mayoritas ulama berpendapat hukum udhhiyah adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Ada beberapa hadits yang menjelaskan keutamaannya (fadhillah) namun, tidak ada satupun riwayat yang shahih.

Sebagaimana Ibnul Arabi rahimahullah berkata;
“Tidak ada hadits shahih yang menjelaskan keutamaan udhhiyah. Sebagian kecil orang meriwayatkan beberapa hadits yang ajib (menakjubkan) namun, riwayat tersebut tidak shahih.”
(Fiqhu Al-Udhhiyah, hlm.9)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata; “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia, itu lebih afdhal (utama) daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh sebab itu, jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu dan qiran (pada saat ibadah haji), meskipun dengan sedekah yang senilai berlipat ganda, tentu hal tersebut tidak bisa menyamai keutamaan udhhiyah (qurban).”
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:379)

C. Hukum Qurban.

Dalam masalah ini, para ulama memiliki dua pendapat, di antaranya;

– Pertama: Wajib bagi orang yang berkelapangan.
Para ulama yang berpendapat demikian adalah Rabiah, Al-Auzai, Abu Hanifah, Ahmad (salah satu pendapatnya), Laits bin Saad, serta sebagian ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat daripada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Tetapi hal tersebut hanya diwajibkan bagi yang mampu.”
(Syarhu Al-Mumthi, 3:408)

Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Barang siapa memiliki keluasaan (kemampuan) untuk berkurban namun, dia tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami!”
(HR. Ibnu Majah, no.3114. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

– Kedua: Sunnah Muakkadah (ditekankan).
Ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya: Said bin Al-Musayyab, Atha, Alqamah, Ibnul Mundzir, Malik, Syafii, Ahmad, Abu Yusuf, dan Ibnu Hazm rahimahumullah. Dan pendapat ini juga adalah pendapat dari Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Bilal radhiyallahu anhum.

Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Jika kalian telah melihat hilal bulan Dzulhijjah, dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, hendaknya dia tidak mencukur rambut dan tidak memotong kuku terlebih dahulu.”
(HR. Imam Muslim, no.3655)

Dalam riwayat lain, Nabi bersabda;

إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
“Jika telah tiba tanggal sepuluh (Dzulhijjah), dan salah seorang dari kalian ingin berqurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun!”
(HR. Imam Muslim, no.3653)

Catatan: Larangan ini hanya berlaku untuk orang-orang yang ingin berqurban. Maka jika kita ingin berqurban, hendaklah kita memotong rambut atau kuku sebelum masuk bulan Dzulhijjah!

Makna hadits ini menggunakan ungkapan “ingin”, sehingga hal ini dikaitkan dengan kemauan, bukan kewajiban. Seandainya menyembelih qurban (udhhiyah) itu hukumnya wajib, maka cukuplah Rasulullah mengatakan: “maka, hendaklah dia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya!”, sehingga tanpa disertai adanya ungkapan kemauan.

Selain itu, Abu Bakar dan Umar juga tidak menyembelih selama setahun atau dua tahun, karena khawatir hal tersebut dianggap wajib.
(Irwau Al-Ghalil, no.1139)

Para Sahabat melakukan hal tersebut, karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah sendiri tidak mewajibkannya. Ditambah lagi tidak ada satupun Sahabat yang menyelisihi pendapat mereka.
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Quwaitiyyah, 5:76-77)

Kesimpulan: Dari dua pendapat di atas, yang lebih dekat pada kebenaran adalah pendapat mayoritas ulama (pendapat kedua). Hukum asal qurban adalah sunnah, bukan wajib. Karena pendapat ini didukung juga oleh perbuatan Sahabat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma yang pernah tidak berqurban. Meskipun seandainya tidak ada satupun dalil dari hadits Nabi yang menguatkan salah satu pendapat di atas, maka cukup perbuatan mereka berdua sebagai hujjah (alasan) yang kuat, bahwa qurban hukumnya adalah sunnah, bukan wajib.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

فَإِنْ يُطِيعُوا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوا
“Jika kalian mengikuti Abu Bakar dan Umar, pasti kalian akan mendapatkan petunjuk.”
(HR. Imam Muslim, no.1099)

Catatan: Meskipun hukumnya sunnah, sudah sepantasnya seseorang muslim yang telah berkemampuan, untuk menunaikan ibadah qurban, tujuannya agar dia terbebas dari tanggung jawab dan terhindar dari perselisihan hukum yang ada.

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata;
“Janganlah meninggalkan ibadah qurban, jika seseorang mampu untuk menunaikannya! Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri memerintahkan: Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu dan ambil perkara yang tidak meragukanmu! Selayaknya bagi mereka yang mampu agar tidak meninggalkan ibadah qurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan.”
(Adhwau Al-Bayan Fii Lidhahi Al-Quran Bi Al-Quran, hlm.1120)

Saudara-saudariku, yakinilah bahwa ketika kita berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang sudah kita keluarkan. Karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Tidaklah seorang hamba memasuki waktu pagi pada setiap harinya, kecuali ada dua Malaikat yang turun. Salah satunya memohon: Ya Allah, berikanlah ganti bagi dermawan yang menyedekahkan hartanya! Dan satu lagi memohon: Ya Allah, musnahkanlah harta si bakhil (pelit)!”
(HR. Imam Muslim, no.1678)

D. Kriteria Hewan Yang Boleh Digunakan Untuk Qurban.

Hewan-hewan yang dijadikan qurban hanya boleh dari kalangan “Bahimatu Al-Anam” (hewan ternak), seperti: Unta, sapi, atau kambing, dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma (kesepakatan), bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:369)

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا۟ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُخْبِتِينَ
“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Rabb kalian adalah Rabb yang maha esa, karena sebab itu berserah dirilah kalian kepadaNya! Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)!”
(Surat Al-Hajj: ayat 34)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal daripada jenis hewan ternak tersebut, maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real, sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real, maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah.”
(Syarhu Al-Mumthi, 3:409)

E. Kriteria Umur Hewan Qurban.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ
“Janganlah kalian sembelih hewan untuk berqurban, melainkan hewan yang telah dewasa (musinnah). Jika itu sulit kalian dapatkan, sebelihlah jadzaah!”
(HR. Imam Muslim, no.3631)

Musinnah dari kambing adalah yang sudah berusia 1 tahun (masuk tahun kedua). Sedangkan musinnah dari sapi adalah yang sudah berusia 2 tahun (masuk tahun ketiga). Sedangkan unta adalah yang sudah genap 5 tahun (masuk tahun keenam). Inilah pendapat yang masyhur (terkenal) di kalangan ulama ahli fiqih. Lalu Jadzaah adalah domba yang telah berusia 6 bulan hingga 1 tahun.

Rinciannya sebagai berikut;
– Unta: 5 tahun
– Sapi: 2 tahun
– Kambing: 1 tahun
– Domba (jadzaah): 6 bulan
(Syarhu Al-Mumthi, 3:410)

Beberapa faidah yang terdapat di dalam hadits di atas, di antaranya;

– Hadits tersebut menjelaskan, bahwa qurban tidak boleh dengan menggunakan hewan jadzaah, kecuali dalam keadaan sulit menemukan hewan musinnah. Akan tetapi mayoritas ulama berpendapat, bahwa 2 tahun untuk domba itu lebih utama. Sedangkan untuk usia hewan jadzaah pada sapi dan unta tidak dibolehkan, karena jadzaah hanya berlaku untuk domba.

– Sebetulnya berqurban dengan domba jadzaah itu boleh (sah), meskipun ada kemudahan untuk mendapatkan hewan musinnah.

– Penjelasan tentang batasan usia hewan qurban di atas membuktikan, bahwa tujuan dari qurban bukanlah mencari daging namun, ini adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah azza wa jalla. Seandainya yang dicari dari qurban adalah daging, maka tentu yang dipilih adalah hewan yang bertubuh besar namun, realitanya berqurban dengan hewan berbadan kecil atau besar tetap sah, karena yang menjadi tolak ukurnya adalah usia bukan berat.
(Minhatu Al-Allam Fii Syarhi Bulughi Al-Maram, 9:290-292)

F. Kriteria Hewan Qurban Yang Ideal.

Sahabat Anas radhiyallahu anhu bercerita;

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan dibandingkan warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir, lalu meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.5139)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ اشْتَرَى كَبْشَيْنِ عَظِيمَيْنِ سَمِينَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ مَوْجُوءَيْنِ فَذَبَحَ أَحَدَهُمَا عَنْ أُمَّتِهِ لِمَنْ شَهِدَ لِلَّهِ بِالتَّوْحِيدِ وَشَهِدَ لَهُ بِالْبَلَاغِ وَذَبَحَ الْآخَرَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَعَنْ آلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Bahwa apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hendak melaksanakan qurban, maka beliau membeli dua ekor domba yang besar, gemuk, bertanduk dan berwarna belang (hitam dan putih). Kemudian beliau menyembelih salah satunya untuk umatnya yang telah bersaksi akan keesaan Allah dan bersaksi atas risalah beliau (bertauhid), lalu menyembelih yang satunya lagi untuk Muhammad dan keluarga Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.”
(HR. Ibnu Majah, no.3113)

Lalu di antara ketiga jenis hewan qurban yang sudah dijelaskan, maka menurut mayoritas ulama urutan hewan qurban yang paling utama adalah berqurban dengan unta, sapi, atau kambing.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:374)

Kesimpulan;
– Kriteria hewan qurban yang terbaik adalah berwarna belang (putih dan hitam), lalu lebih dominan warna putih dari warna hitam, bertanduk, bertubuh besar dan gemuk.
– Jenis hewan qurban terbaik (ideal) adalah unta, jika tidak mampu maka dengan sapi, kemudian jika tidak mampu maka dengan kambing.

G. Standar Qurban Yang Ideal.

Mana yang lebih baik dan utama, ikut iuran satu ekor sapi untuk qurban, atau beli satu ekor kambing untuk qurban?

Sebagian para ulama menjelaskan;
“Qurban satu ekor kambing itu lebih baik daripada ikut iuran sapi atau unta. Karena tujuh ekor kambing manfaatnya lebih banyak daripada satu ekor sapi.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:375)

Selain itu terdapat juga alasan lain, di antaranya;

– Qurban yang sering dilakukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah utuh satu ekor kambing, sapi, ataupun unta, bukan 1/7 sapi atau 1/10 unta.

– Terdapat sebagian ulama yang melarang iuran dalam berqurban. Di antaranya adalah Mufti Negeri Saudi, yaitu Syaikh Muhammad bin Ibrahim. Namun, pelarangan ini hanya didasari dengan qiyas (analogi) yang bertolak belakang dengan dalil dari sunnah, sehingga pelarangan tersebut tidak bisa diamalkan.

H. Syarat Dan Ketentuan Untuk Sapi Dan Unta.

Satu ekor sapi dijadikan qurban untuk 7 orang, sedangkan satu ekor unta untuk 10 orang.

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bercerita;

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَ الْأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِي الْبَقَرَةِ سَبْعَةً وَفِي الْجَزُورِ عَشَرَةً
“Suatu ketika kami bepergian bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kemudian hari raya Idul Adha tiba. Maka kami menyembelih satu ekor sapi untuk tujuh orang dan satu ekor unta untuk sepuluh orang.”
(HR. At-Tirmidzi, no.829)

Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban satu ekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan (iuran).

I. Batasan Anggota Keluarga Yang Tercakup Dalam Pahala Qurban.

Setelah kita mengetahui, bahwa keluarga kita pun mendapatkan pahala qurban yang kita telah kerjakan, lalu siapa saja anggota keluarga yang tercakup mendapatkan pahala dari kegiatan qurban satu ekor kambing?

Para ulama berselisih pendapat tentang masalah ini. Di antara pendapatnya adalah;

– Pertama: Seseorang masih dianggap sebagai anggota keluarga, jika terpenuhi 3 hal, yaitu tinggal bersama, ada hubungan kekerabatan, dan shahibul qurban menanggung nafkah semuanya. Ini adalah pendapat Madzhab Maliki.
(At-Taj Wa Iklil, 4:364)

– Kedua: Semua orang yang berhak mendapatkan nafkah shahibul qurban. Ini adalah pendapat ulama mutaakhir (kontemporer) di Madzhab Syafii.

– Ketiga: Semua orang yang tinggal serumah dengan shahibul qurban, meskipun bukan kerabatnya. Ini adalah pendapat beberapa ulama syafiiyah, seperti As-Syarbini, Ar-Ramli, dan At-Thablawi. Imam Ar-Ramli pernah ditanya: Apakah bisa dilaksanakan ibadah qurban untuk sekelompok orang yang tinggal dalam satu rumah, meskipun tidak ada hubungan kekerabatan di antara mereka? Lalu beliau menjawab: Ya bisa dilaksanakan.”
(Fatawa Ar-Ramli, 4:67)

Setelah itu, Al-Haitami mengomentari fatwa Ar-Ramli di atas, dengan mengatakan;
“Mungkin maksudnya adalah kerabatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Bisa juga yang dimaksud dengan Ahlul Bait (keluarga) di sini adalah semua orang yang mendapatkan nafkah dari satu orang, meskipun ada orang yang aslinya tidak wajib dinafkahi. Sementara perkataan Sahabat Abu Ayub: Seseorang (suami) menyembelih satu ekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya. Hal ini memungkinkan untuk dipahami dengan dua makna tersebut. Bisa juga dipahami sebagaimana zhahir hadits, yaitu setiap orang yang tinggal dalam satu rumah, interaksi mereka jadi satu, meskipun tidak ada hubungan kekerabatan. Ini merupakan pendapat sebagian ulama. Akan tetapi terlalu jauh (dari kebenaran).”
(Tuhfatu Al-Muhtaj, 9:340)

Kesimpulan: Sebatas tinggal dalam satu rumah, tidak bisa dikatakan sebagai Ahlul Bait (keluarga). Batasan yang mungkin lebih tepat adalah batasan yang dijelaskan oleh ulama Madzhab Maliki. Sekelompok orang bisa tercakup Ahlul Bait (keluarga) qurban, jika terpenuhi tiga syarat: Tinggal bersama, ada hubungan kekerabatan, dan tanggungan nafkah mereka sama dari kepala keluarga.

J. Jenis Hewan Qurban Boleh Jantan Atau Betina.

Tidak ada ketentuan jenis kelamin untuk hewan qurban, boleh jantan ataupun betina. Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ لَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا
“Untuk anak laki-laki dua kambing dan untuk anak wanita satu kambing, tidak masalah (boleh) bagi kalian menggunakan kambing jantan atau betina.”
(HR. An-Nasai, no.4147)

Imam Fairuz Abadzi Asy-Syafii rahimahullah menjelaskan;
“Jika dibolehkan menggunakan hewan betina ketika aqiqah berdasarkan hadits tersebut, menunjukkan bahwa hal ini juga boleh untuk berqurban.”
(Al-Muhadzab, 1:74)

Catatan: Secara umum, hewan jantan itu lebih baik dan lebih mahal dibandingkan hewan betina. Sehingga dalam masalah qurban, memang tidak harus hewan jantan namun, diutamakan jantan.

K. Kriteria Cacat Hewan Qurban.

Dalam masalah kriteria cacat yang ada di hewan qurban terbagi menjadi 3 jenis, di antaranya;

Pertama: Cacat yang menyebabkan tidak boleh untuk berqurban ada 4, yaitu;
– Matanya buta sebelah dan sangat jelas kebutaannya. Jika butanya belum jelas, sehingga orang yang melihatnya menyangka belum buta, meskipun pada hakikatnya hewan tersebut satu matanya tidak berfungsi, maka boleh diqurbankan. Demikian juga hewan yang rabun senja, para ulama madzhab Syafiiyah menegaskan, bahwa hewan yang rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.
– Sakit dan sangat terlihat sakitnya.
– Pincang dan sangat terlihat jelas pincangnya, maksudnya kakinya pincang dan tidak bisa berjalan normal. Tetapi jika baru terlihat pincang namun, masih bisa berjalan dengan baik dan normal, maka boleh dijadikan hewan qurban.
– Usianya sangat tua hingga tidak ada sumsum pada tulangnya.

Jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari 4 jenis cacat di atas, maka itu lebih tidak boleh untuk digunakan berqurban.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:373)

Kedua: Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban ada 2, yaitu;
– Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong.
– Tanduknya pecah atau patah.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:373)

Ketiga: Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban, sehingga boleh dijadikan untuk qurban namun, kurang sempurna.

Selain 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu, maka tidak berpengaruh pada status hewan qurban. Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak memiliki ekor, bunting, atau tidak berhidung.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:373)

Imam Ubaid bin Fairuz rahimahullah bercerita;

سَأَلْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ مَا لَا يَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصَابِعِي أَقْصَرُ مِنْ أَصَابِعِهِ وَأَنَامِلِي أَقْصَرُ مِنْ أَنَامِلِهِ فَقَالَ أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى قَالَ قُلْتُ فَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ يَكُونَ فِي السِّنِّ نَقْصٌ قَالَ مَا كَرِهْتَ فَدَعْهُ وَلَا تُحَرِّمْهُ عَلَى أَحَدٍ. قَالَ أَبُو دَاوُد لَيْسَ لَهَا مُخٌّ
“Aku pernah bertanya kepada Sahabat Al-Bara bin Azib radhiyallahu anhu: Sesuatu apakah yang tidak diperbolehkan ada dalam hewan qurban? Kemudian dia menjawab: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah berdiri di antara kami, jari-jariku lebih pendek daripada jari-jarinya dan ruas-ruas jariku lebih pendek dari ruas-ruas jarinya, kemudian beliau bersabda: Empat perkara yang tidak boleh ada di dalam hewan-hewan qurban. Yaitu: Buta sebelah matanya yang jelas kebutaannya, pincang yang jelas pincangnya, sakit yang jelas sakitnya, dan pecah kakinya yang tidak memiliki sumsum. Lalu Ubaid berkata: Aku katakan kepada Al-Bara: Tidak suka pada giginya terdapat aib. Dia berkata: Sesuatu yang tidak kamu sukai, maka tinggalkan dan janganlah kamu mengharamkannya kepada seseorang. Abu Dawud berkata: Termasuk tidak ada otak padanya.”
(HR. Abu Dawud, no.2420)

Sebagian para ulama menjelaskan, bahwa isyarat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan tangannya ketika menyebutkan empat cacat tersebut menjelaskan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam membatasi jenis cacat yang terlarang. Sehingga yang bukan termasuk empat jenis cacat sebagaimana dalam hadits boleh digunakan sebagai qurban.
(Syarhu Al-Mumthi, 7:464)

Terdapat juga hadits yang menjelaskan tentang larangan berqurban dengan hewan yang memilki dua cacat, telinga terpotong atau tanduk pecah. Namun, haditsnya dhaif, sehingga sebagian ulama menggolongkan cacat jenis kedua ini hanya menyebabkan makruh dipakai untuk qurban.
(Syarhu Al-Mumthi, 7:470)

L. Waktu Penyembelihan.

Para ulama berbeda pendapat tentang batas akhir waktu penyembelihan hewan qurban, sehingga ada dua pendapat dalam masalah ini, yaitu;

Pertama: Waktu penyembeihan hewan qurban hanya 3 hari, yaitu hari Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan dua hari Tasyrik (11-12 Dzulhijjah). Ini adalah pendapat mayoritas atau jumhur ulama, di antaranya ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanbaliyah.
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Quwaitiyyah, 2:351)

Imam As-Sarkhasi (ulama Hanafiyah) rahimahullah menjelaskan;
“Menyembelih hewan qurban hanya dibolehkan khusus pada batas hari penyembelihan yaitu 3 hari, ini menurut pendapat kami (Hanafiyah). Sebagaimana dalam hadits dijelaskan: Hari penyembelihan ada 3 hari, yang paling utama adalah pada hari qurban. Apabila matahari telah tenggelam di hari 12 Dzulhijjah, maka tidak boleh lagi menyembelih.”
(Al-Mabsuth, 14:169)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah juga menjelaskan;
“Waktu penyembelihan qurban dan hadyu (penyembelihan di Mekah) adalah 3 hari. Hari qurban (10 Dzulhijjah) dan dua hari setelahnya (11-12 Dzulhijjah). Hal ini ditegaskan oleh Imam Ahmad.”
(Al-Mughni, 3:462)

Dalil-dalil dari pendapat pertama, di antaranya;

– Larangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyisakan daging qurban lebih dari 3 hari. Larangan ini pernah beliau sampaikan, ketika daerah di sekitar Madinah mengalami kekurangan bahan makanan.

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata;

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا أَنْ نَأْكُلَ مِنْ لُحُومِ نُسُكِنَا بَعْدَ ثَلَاثٍ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang kita memakan daging qurban setelah 3 hari.”
(HR. Imam Muslim, no.3639)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلَا يُصْبِحَنَّ فِي بَيْتِهِ بَعْدَ ثَالِثَةٍ شَيْئًا فَلَمَّا كَانَ فِي الْعَامِ الْمُقْبِلِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ أَوَّلَ فَقَالَ لَا إِنَّ ذَاكَ عَامٌ كَانَ النَّاسُ فِيهِ بِجَهْدٍ فَأَرَدْتُ أَنْ يَفْشُوَ فِيهِمْ
“Barang siapa di antara kalian menyembelih hewan qurban, maka hendaklah dia tidak menyisakan (menyimpan) di rumahnya setelah 3 hari. Pada tahun berikutnya mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana yang kami lakukan pada tahun lalu? Beliau menjawab: Tidak, sesungguhnya tahun lalu orang-orang berada dalam keadaan susah, hingga aku menginginkan agar daging hewan qurban ini bisa merata dirasakan oleh mereka.”
(HR. Imam Muslim, no.3648)

Berdasarkan hadits ini, bahwa ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hanya mengizinkan makan daging qurban selama 3 hari (10,11, dan 12 Dzulhijjah). Hal ini menunjukkan bahwa hari keempat (13 Dzulhijjah) bukan hari penyembelihan. Kalau saja tanggal 13 Dzulhijjah adalah hari penyembelihan qurban, tentu Rasulullah tidak akan memberikan batas hingga tanggal 12 Dzulhijjah.

Kemudian larangan ini dihapus oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan alasan bahwa tahun itu terjadi musim kurang makanan. Kemudian beliau izinkan untuk menyimpan daging qurban.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Kami (Hanbaliyah) memiliki dalil bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang makan qurban lebih dari 3 hari. Dan tidak mungkin dibolehkan menyembelih qurban di hari larangan memakan daging qurban (13 Dzulhijjah). Kemudian larangan makan ini dihapus, sementara waktu penyembelihan masih tetap seperti semula. Selain itu, pada hari keempat (13 Dzulhijjah) bukan waktu wajib melempar jumrah, sehingga ketika itu tidak boleh menyembelih sebagaimana hari sebelumnya.
(Al-Mughni, 3:462)

– Terdapat beberapa riwayat dari para Sahabat, bahwa mereka membatasi hari penyembelihan hanya hingga hari Tasyrik kedua (12 Dzulhijjah). Dan di antaranya Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Anas bin Malik radhiyallahu anhum. Dan hal semacam ini tidak mungkin mereka sampaikan tanpa bimbingan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.”
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Quwaitiyyah, 2:351)

Imam Ibnu Qudamah menukil keterangan dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumallah
“Imam Ahmad mengatakan: Pendapat ini diriwayatkan lebih dari satu Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yaitu Al-Atsram meriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas radhiyallahu anhum. Dan ini juga merupakan pendapat Imam Malik, At-Tsauri, Al-Auzai, Asy-Syafii, dan Ibnul Mundzir rahumahumullah.
(Al-Mughni, 3:462)

Kedua: Waktu penyembelihan qurban ada 4 hari.

Dimulai sejak hari qurban (10 Dzulhijjah), hingga akhir hari Tasyriq ketiga (13 Dzulhijjah). Ini merupakan pendapat Syafiiyah dan salah satu pendapat dalam madzhab Hanbali, dan dinilai kuat oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayim, As-Syaukani, Ibnu Baz, dan Ibnu Utsaimin rahimahumullah.
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Quwaitiyyah, 2:351)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;,
“Keterangan Imam As-Syafii sama dengan keterangan para ulama Syafiiyah, bahwa batas waktu penyembelihan hingga terbenam matahari di hari Tasyriq ketiga (13 Dzulhijjah). Mereka sepakat, boleh menyembelih qurban di selama waktu ini, siang ataupun malam.
(Al-Majmu, 8:388)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menjelaskan;
“Akhir waktu penyembelihan qurban adalah hingga hari Tasyriq terakhir. Ini adalah pendapat Syafiiyah dan salah satu pendapat madzhab Hanbali. (Al-Fatawa Al-Kubra, 5:385)

Pendapat ini juga diriwayatkan dari sebagian Sahabat, di antaranya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata;
“Dan diriwayatkan dari Ali, bahwa batas waktu penyembelihan adalah akhir hari Tasyriq. Ini merupakan pendapat Asy-Syafii dan pendapat Atha, serta Hasan Al-Bashri.”
(Al-Mughni, 11:113)

Dalil-dalil dari pendapat kedua, di antaranya;

– Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ
“Di setiap hari Tasyriq adalah penyembelihan.”
(HR. Ibnu Hibban, no.3854)

Imam Ibnul Qayim rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa semua hari Tasyriq adalah hari di Mina, hari melempar jumrah, hari untuk memperbanyak takbiran, dan hari makan-minum dan haram berpuasa. Sehingga hukum yang berlaku bagi ketiga hari Tasyriq adalah sama. Lalu bagaimana mungkin dibedakan dengan hari Tasyrik lainnya?”
(Zadu Al-Maad, 2:319)

Adapun larangan Rasulullah tentang menyisakan daging qurban lebih dari 3 hari, sudah beliau jelaskan sebabnya. Karena pada saat itu, masyarakat mengalami kekurangan makanan. Sehingga semua hewan qurban, harus habis sebelum tanggal 13 Dzulhijjah. Dan ini tidaklah menunjukkan larangan menyembelih di hari Tasyriq ketiga (13 Dzulhijjah).

Kesimpulan: Dengan memperhatikan semua pendapat, insyaaAllah pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua, bahwa batas akhir penyembelihan adalah hingga hari Tasyriq yang terakhir (13 Dzulhijjah). Hanya saja, kita sarankan agar shahibul qurban tidak menunda penyembelihan tanpa adanya sebab. Hal tersebut untuk menghindari perbedaan pendapat di antara ulama. Maksudnya, ketika hewan qurban itu disembelih sebelum tanggal 13 Dzulhijjah itu akan lebih tenang, karena semua ulama sudah bersepakat dalam masalah ini.

M. Tempat Penyembelihan.

Tempat yang disunnahkan untuk menyembelih adalah tanah lapangan tempat shalat id diselenggarakan. Terutama bagi imam/penguasa/tokoh masyarakat, dianjurkan untuk menyembelih qurbannya di lapangan dalam rangka memberitahukan kepada umat Islam, bahwa qurban sudah boleh dilakukan dan mengajari tata cara qurban yang benar sesuai sunnah Rasulullah.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْبَحُ وَيَنْحَرُ بِالْمُصَلَّى
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa menyembelih hewan qurban di tempat yang digunakan untuk shalat (id).”
(HR. Imam Bukhari, no.5126)

Dibolehkan juga untuk menyembelih hewan qurban di tempat manapun yang disukai, baik di rumah sendiri ataupun di tempat lain.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:378)

N. Orang Yang Berhak Menyembelih Hewan Qurban.

Disunnahkan bagi shahibul qurban untuk menyembelih hewan qurbannya sendiri namun, boleh juga diwakilkan kepada orang lain.

Sahabat Anas radhiyallahu anhu bercerita;

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan dibandingkan warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir, lalu meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.5139)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Jika dia menyembelih hewan qurbannya dengan tanggannya sendiri, maka ini lebih baik. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyembelih 2 kambing yang bertanduk dan menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, beliau mengucapkan bismillah serta bertakbir dan meletakkan kaki beliau di badan kedua hewan tersebut.”
(Al-Mughni, 13:389-390)

Lalu beliau pun berkata;
“Jika dia mewakilkan penyembelihannya, maka hukumnya boleh. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam mewakilkan sisa unta (yang belum disembelih) setelah sembelihan ke-63. Ini tidak ada khilaf di antara ulama dan disunnahkan dia menghadiri atau melihat proses penyembelihan tersebut.”
(Al-Mughni, 13:389-390)

Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby hafizhahullah juga berkata;
“Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu di dalam kitab Shahih Muslim yang menceritakan bahwa pada saat qurban Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menyembelih beberapa unta qurbannya dengan tangan beliau sendiri, kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu untuk disembelih.”
(Ahkamu Al-Idain, hlm.32)

O. Pelajaran Bagi Yang Akan Berqurban.

– Orang yang akan berqurban dilarang memotong kuku dan memotong rambutnya, maksudnya larangan ini berlaku untuk orang yang hendak berqurban, bukan hewan qurbannya.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
“Jika telah tiba sepuluh (Dzulhijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berqurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun!”
(HR. Imam Muslim, no.3653)

Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian manapun, mencakup juga larangan mencukur gundul (botak) atau sebagian saja, atau juga sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan ataupun di ketiak.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:376)

Pertanyaan: Apakah larangan ini hanya berlaku untuk orang yang akan berqurban (shahibul qurban), ataukah berlaku juga untuk anggota keluarganya?

Jawaban: Larangan ini hanya berlaku untuk shahibul qurban, dan tidak berlaku untuk anggota keluarganya. Hal tersebut dikarenakan 2 sebab, yaitu;

Pertama: Zhahir hadits menunjukkan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk yang akan berqurban.

Kedua: Nabi shallallahu alaihi wa sallam sering berqurban untuk dirinya dan keluarganya. Namun, belum ditemukan riwayat yang menjelaskan, bahwa beliau menyuruh juga anggota keluarganya untuk tidak memotong kuku ataupun rambutnya.
(Syarhu Al-Mumthi, 7:529)

P. Cara Penyembelihan.

– Sebaiknya shahibul qurban menyembelih hewan qurbannya sendiri. Jika shahibul qurban tidak bisa menyembelih sendiri, maka sebaiknya dia ikut datang menyaksikan penyembelihannya.

– Orang yang akan menyembelih harus memenuhi beberapa syarat, di antaranya: Berakal (laki-laki atau perempuan), sudah baligh atau tamyiz (bisa membedakan antara yang baik dan buruk), beragama Islam atau Ahli Kitab (Yahudi atau Nashrani), menyebut nama Allah ketika menyembelih.

Catatan: Sembelihan Ahli Kitab menjadi halal selama diketahui mereka tidak menyebut nama selain Allah pada saat menyembelih. Jika diketahui mereka menyebut nama selain Allah pada saat menyembelih, semisal mereka menyembelih atas nama Isa Al-Masih, atau nama berhala lainnya, maka pada saat itu hewan sembelihan mereka menjadi haram.

– Sebaiknya memakai alat yang tajam untuk menyembelih, dan tidak harus baru. Lalu tidak boleh menggunakan tulang atau kuku.

– Hewan qurban yang akan disembelih harus diperlakukan dengan baik, lalu dibaringkan di atas lambung kirinya dan dihadapkan ke arah kiblat, sehingga kepala hewan qurban ada di sebelah selatan. Kemudian tangan kanan memegang alat pemotong, lalu ditekan dengan kuat pada bagian leher hewan tersebut agar cepat putus. Kemudian tangan kiri memegang bagian kepala hewan, lalu kaki diletakan pada sisi leher hewan.

– Ketika akan menyembelih hewan qurban, disyariatkan membaca: Bismillahi wallahu akbar. Untuk bacaan bismillah ini dibaca tanpa ditambahi kalimat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dan hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Asy-Syafii hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir: Allahu akbar, para ulama sepakat bahwa hukum membaca takbir ketika menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib.

– Kemudian membaca: Hadza anni wa an man lam yudhahhi min baitii. Sebagaimana Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu bercerita;

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
“Aku menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat Idul Adha di lapangan, kemudian ketika beliau sudah menyelesaikan khutbahnya, beliau turun dari mimbarnya dan beliau diberi satu ekor domba kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyembelihnya, dan mengucapkan: BISMILLAAHI WALLAAHU AKBAR, HAADZA ANNII WA AN MAN LAM YUDHAHHI MIN UMMATI (Dengan menyebut nama Allah, Allah maha besar, ini (qurban) dariku dan orang-orang yang belum berqurban dari umatku).”
(HR. Abu Dawud, no.2427)

Berdasarkan hadits di atas, dianjurkan bagi orang yang akan menyembelih hewan qurban untuk mengucapkan kalimat ikrar seperti di atas.

Apabila shahibul qurban menyembelih sendiri, hendaknya membaca: Bismillah, allahumma hadza minka wa laka anni wa ahli baitii. Atau boleh juga membaca: Bismillah, allahumma hadza anni wa ahli baitii.

Namun, apabila shahibul qurban mewakilkan penyembelihan hewan qurbannya kepada orang lain atau tukang jagal, maka bagi tukang jagal membaca: Bismillah, allahumma hadza minka wa laka an fulan (sebutkan nama shahibul qurban) wa ahli baitihi. Atau boleh juga membaca: Bismillah, allahumma hadza an fulan (nama shahibul qurban) wa ahli baitihi.

Selain itu, boleh juga membaca doa yang bermakna harapan agar Allah menerima qurbannya tersebut dengan membaca doa: Allahumma taqabbal minni. Atau boleh juga membaca: Allahumma taqabbal min fulan (disebutkan nama shahibul qurban).

Catatan: Dalam masalah ini meskipun boleh membaca doa (harapan), tapi tidak ada lafazh doa yang disyariatkan atau khusus yang harus dibaca oleh shahibul qurban atau orang yang hendak menyembelih hewan qurban.

Q. Cara Memanfaatkan Hasil Qurban.

Bagi pemilik hewan qurban (shahibul qurban) boleh memanfaatkan hasil qurbannya dengan beberapa cara, di antaranya;

– Dikonsumsi sendiri serta keluarganya. Bahkan sebagian ulama menyatakan shahibul qurban wajib mengkonsumsi bagian hewan qurbannya. Termasuk dalam masalah ini, berlaku juga untuk qurban karena nadzar, menurut pendapat yang benar di antara para ulama.
– Disedekahkan kepada orang atau pihak yang membutuhkan.
– Dihadiahkan kepada orang atau pihak yang mampu.
– Disimpan untuk persediaan bahan makanan di hari-hari selanjutnya. Namun, penyimpanan ini hanya dibolehkan jika tidak terjadi musim paceklik atau krisis makanan.

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata;

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا أَنْ نَأْكُلَ مِنْ لُحُومِ نُسُكِنَا بَعْدَ ثَلَاثٍ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita memakan daging kurban setelah tiga hari.”
(HR. Imam Muslim, no.3639)

Perintah yang terdapat dalam hadits ini menunjukkan hukum sunnah, bukan wajib.
(Shahih Fiqh Sunnah, 2:378)

Maka sebab itu, boleh mensedekahkan semua hasil sembelihan qurban, sebagaimana diperbolehkan juga untuk tidak menghadiahkannya sama sekali kepada orang lain.
(Minhaju Al-Muslim, hlm.266)

Maksudnya, hanya untuk shahibul qurban dan sedekah kepada orang-orang miskin.

R. Hukum-Hukum Seputar Qurban.

1. Hukum satu ekor kambing untuk satu keluarga.
Satu ekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga, meskipun jumlah anggota keluarganya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia.

Sebagaimana Atha bin Yasar rahimahullah berkata;

سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيَّ: كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ حَتَّى تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَتْ كَمَا تَرَى
“Aku pernah bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu: Bagaimana qurban yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Dia menjawab: Seorang laki-laki menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, mereka makan daging qurban tersebut dan memberikannya kepada orang lain. Hal tersebut tetap berlangsung hingga manusia berbangga-bangga, maka jadilah qurban itu seperti sekarang yang kamu saksikan (hanya untuk berbangga-bangga).”
(HR. At-Tirmidzi, no.1425. Hadits ini hasan shahih)

Maka sebab itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu anggota keluarganya saja, misalnya kambing 1 untuk anak si A, kambing 2 untuk anak si B, padahal karunia dan kemurahan Allah azza wa jalla sangat luas, maka tidak perlu dibatasi.

Bahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Sebagaimana Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu bercerita;

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
“Aku menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat Idul Adha di lapangan, kemudian ketika telah menyelesaikan khutbahnya, beliau turun dari mimbarnya, dan beliau diberi satu ekor domba, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyembelihnya, dan mengucapkan: BISMILLAAHI WALLAAHU AKBAR, HAADZA ANNII WA AN MAN LAM YUDHAHHI MIN UMMATI (dengan menyebut nama Allah, Allah maha besar, ini (qurban) dariku dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku).”
(HR. Abu Dawud, no.2427)

Berdasarkan hadits di atas, Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby hafizhahullah menjelaskan;
“Umat Islam yang tidak mampu berqurban, tetap mendapatkan pahala seperti orang yang berqurban dari umat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.”

Selanjutnya yang dimaksud: “Kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan unta 10 orang” adalah biaya pengadaan atau pembeliannya, bukan pahalanya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang, dan biaya pengadaan unta maksimal dari sepuluh orang.

Namun, seandainya ada orang yang ingin membantu orang yang berqurban (shahibul qurban) yang kekurangan biaya untuk membeli hewan qurban, maka bantuan tersebut diperbolehkan dan tidak mempengaruhi status qurbannya. Karena status bantuan tersebut adalah hadiah bagi shahibul qurban.

2. Hukum iuran qurban untuk satu sekolahan.
Di Indonesia terdapat sebuah tradisi di lembaga pendidikan, yakni ketika Idul Adha tiba sebagian lembaga sekolah mengadakan kegiatan latihan qurban bagi para siswa. Masing-masing siswa dibebani iuran sejumlah uang yang sudah ditentukan nominalnya, lalu hasilnya digunakan untuk membeli kambing dan disembelih di hari-hari qurban. Apakah kegiatan semacam ini bisa dinilai juga sebagai ibadah qurban?

Perlu dipahami bahwa qurban adalah termasuk salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki aturan tertentu, sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh syariat Islam. Sehingga keluar dari aturan ini, maka tidak bisa dinilai sebagai ibadah qurban, alias qurbannya tidak sah. Di antara aturan tersebut adalah masalah pembiayaan, sebagaimana dipahami dari penjelasan di awal, biaya pengadaan untuk satu ekor kambing hanya boleh diambil dari satu orang. Maka sebab itu, kasus tradisi qurban seperti di atas tidak dapat dinilai sebagai ibadah qurban, sehingga tidak boleh dilakukan.

3. Hukum arisan qurban.
Mengadakan arisan dalam rangka berqurban masuk dalam pembahasan berutang untuk qurban, karena hakikat arisan adalah utang. Sebagian ulama menganjurkan untuk berqurban meskipun harus utang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dari Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahumullah.
(Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Hajj: ayat 36)

– Imam Ahmad dalam masalah aqiqah, beliau menyarankan agar orang yang tidak memiliki biaya untuk aqiqah agar berutang dalam rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran anak.

– Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Dulu Abu Hatim pernah berutang untuk membeli unta qurban. Lalu beliau ditanya: Kamu berutang untuk beli unta qurban? Beliau jawab: Saya mendengar Allah berfirman: لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ (Kalian memperoleh kebaikan yang banyak pada unta-unta qurban tersebut) (Surat Al-Hajj: ayat36).”

Sedangkan, sebagian ulama lainnya menyarankan untuk mendahulukan pelunasan utang daripada berqurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibnu Utsaimin dan ulama Tim Fatwa islamweb.net di bawah pengawasan Dr.Abdullah Al-Faqih.
(Fatwa Syabakah Islamiyyah, no.7198)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata;
“Jika seseorang punya utang, maka selayaknya mendahulukan pelunasan utang daripada berqurban.”
(Syarhu Al-Mumthi, 7:455)

Bahkan Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi berqurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit utang, dan beliau menjawab;
“Jika dihadapkan dua permasalahan antara berqurban atau melunasi utang orang faqir, maka lebih utama melunasi utang, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit utang tersebut adalah kerabat dekat.”
(Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 18:144)

Catatan: Pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berutang ketika qurban dipahami untuk kasus orang yang keadaanya mudah dalam melunasi utang atau kasus utang yang jatuh temponya masih panjang. Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan utang daripada qurban dipahami untuk kasus orang yang kesulitan melunasi utang atau utang yang menuntut segera dilunasi. Dengan demikian, jika arisan qurban kita golongkan sebagai utang yang jatuh temponya panjang atau utang yang mudah dilunasi, maka berqurban dengan arisan adalah satu hal yang boleh.

4. Hukum qurban atas nama perusahaan.
Pertanyaan: Di sebagian daerah banyak perusahaan melakukan qurban, hewan-hewan qurbannya dititipkan ke masjid-masjid. Mungkin itu dari dana CSR perusahaan, totalnya cukup banyak, bisa sampai puluhan hewan qurban dari setiap perusahaan.

Jawaban: Sebagaimana penjelasan di awal, bahwa salah satu yang diatur syariat dalam ibadah qurban adalah mengenai kepemilikan hewan qurban. Kambing hanya boleh dimiliki oleh 1 orang, sapi maksimal 7 orang, sementara unta maksimal 10 orang.

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bercerita;

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَ الْأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِي الْجَزُورِ عَنْ عَشَرَةٍ وَالْبَقَرَةِ عَنْ سَبْعَةٍ
“Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, kemudian beliau mendatangi hewan qurban (menyembelih). Maka kami turut berqurban dengan 1 ekor unta betina untuk 10 orang dan 1 ekor sapi untuk 7 orang.”
(HR. Ibnu Majah, no.3122)

Hadits ini menjelaskan tentang kepemilikan hewan qurban, bukan peruntukan pahala qurban. Untuk peruntukan qurban, 1 ekor kambing bisa diqurbankan atas nama 1 orang dan seluruh anggota keluarganya.

Sebagaimana Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu pernah ditanya;

كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ حَتَّى تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَتْ كَمَا تَرَى
“Bagaimana qurban yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Dia menjawab: Seorang laki-laki menyembelih 1 ekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, mereka makan daging kurban tersebut dan memberikannya kepada orang lain. Hal tersebut tetap berlangsung hingga manusia berbangga-bangga, maka jadilah qurban itu seperti sekarang yang kamu saksikan (hanya untuk berbangga-bangga).”
(HR. At-Tirmidzi, no.1425)

Dalam masalah ini terdapat beberapa kemungkinan, di antaranya;

– Perusahaan milik perorangan (pribadi).
Maksudnya semua modal dan asetnya milik satu orang, sehingga setiap dana yang dikeluarkan untuk kegiatan ibadah ataupun kegiatan sosial lainnya, hakikatnya itu adalah uang milik satu orang. Termasuk ketika perusahaan tersebut memberikan qurban, hakikatnya itu adalah milik owner atau pimpinan perusahaan, sehingga qurban tersebut sah sebagai ibadah pemilik perusahaan.

– Perusahaan bukan milik perorangan.
Maksudnya seperti perseroan, yang modal dan asetnya hasil patungan atau iuran dari para pemegang saham. Ketika perusahaan mengeluarkan dana sosial CSR, hakikatnya itu uang milik semua pemegang modal. Sehingga jika dana tersebut untuk kegiatan ibadah, maka semua pemegang modal memiliki hak yang sama.

Sebab itu, ketika itu berupa hewan qurban, tentu saja tidak sah. Karena berarti quota pemilik hewan tersebut melebihi batas. Jika perusahaan tetap mengeluarkan hewan qurban atas nama satu perusahaan, maka itu bernilai sedekah, dan bukan qurban.

– Perusahaan memberikan hewan qurban kepada karyawan.
Misal kasusnya, perusahaan memberikan hewan qurban kepada sejumlah karyawan. Misalnya, perusahaan mengeluarkan 10 ekor sapi untuk qurban 70 karyawan, maka cara seperti ini dibolehkan, dan tentu pahalanya juga untuk para karyawan.

Kira-kira sama juga dengan kasus perusahaan menghajikan para karyawannya. Dalam masalah ini yang pergi menunaikan ibadah haji adalah para karyawan, bukan perusahaan. Sehingga pahalanya adalah untuk para karyawan yang menunaikan ibadah haji, bukan perusahaan.

Namun, untuk jenis kasus ketiga ini harus memperhatikan beberapa aturan di bawah ini;

Pertama: Harus dipastikan kepemilikan sapinya. Apalagi ketika perusahaan mengeluarkan lebih dari 1 sapi, sebagai contoh: Perusahaan mengeluarkan 10 ekor sapi untuk 70 karyawan, secara perhitungan benar namun, tetap perlu ditegaskan, siapa pemilik masing-masing sapi tersebut.

Kedua: Semua karyawan yang mendapat hadiah ibadah qurban harus sadar, bahwa dia sedang berqurban. Karena setiap ibadah butuh niat, sehingga tidak boleh perusahaan mengeluarkan sejumlah sapi qurban untuk beberapa karyawannya, tapi yang bersangkutan tidak tahu.

Ketiga: Ketika hewan ini telah diserahkan kepada karyawan, maka semua aturan syariat qurban berlaku untuknya. Seperti anjuran menyembelih sendiri, atau melihat penyembelihannya, tidak boleh menjual bagian qurbannya, berhak dapat dagingnya, dsdsan ketentuan lainnya.

5. Hukum qurban atas nama orang yang sudah wafat.
Dalam pembahasan ibadah qurban yang di atas namakan untuk orang yang sudah meninggal dunia bisa dirinci menjadi tiga sebab, di antaranya;

– Orang yang meninggal bukan sebagai sasaran utama qurban namun, statusnya mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya, sementara ada di antara keluarganya yang sudah meninggal. Berqurban semacam ini dibolehkan, dan pahala qurbannya meliputi dirinya dan keluarganya juga, meskipun di antara anggota keluarganya ada yang sudah meninggal, sebagaimana penjelasan di atas tentang batasan anggota keluarga yang terhitung mendapatkan pahala qurban dari salah satu anggota keluarganya yang mampu melakukan ibadah qurban.

– Berqurban khusus untuk orang yang sudah meninggal tanpa adanya wasiat dari mayit. Sebagian ulama madzhab Hanbali menganggap hal ini sebagai satu hal yang baik dan pahalanya bisa sampai kepada mayit, sebagaimana sedekah atas nama mayit.
(Fatwa Majelis Ulama Saudi, no.1474)

Namun, sebagian ulama bersikap keras dan menilai perbuatan ini sebagai bentuk bidah (ibadah yang baru), mengingat tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena tidak ada riwayat shahih yang menceritakan, bahwasanya Rasulullah berqurban atas nama Khadijah, Hamzah, atau kerabat beliau lainnya yang sudah meninggal mendahului beliau.

– Berqurban khusus untuk orang yang meninggal, karena mayit pernah mewasiatkan agar keluarganya berqurban untuknya jika dia sudah meninggal.
Berqurban untuk mayit dalam kasus ini diperbolehkan, jika dalam rangka menunaikan wasiat si mayit.
(Risalah Udhhiyah Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm.51)

6. Hukum berqurban dengan kerbau.
Para ulama menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai pembahasan hukum, dan keduanya disikapi sebagai satu jenis.
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Quwaithiyyah, 2:2975)

Ada beberapa ulama juga yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau, dari kalangan Syafiiyah dan dari Hanafiyah, mereka menganggap keduanya (kerbau dan sapi) satu jenis.
(Fathu Al-Qadir, 22:106)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum qurban dengan kerbau.

Pertanyaan: Kerbau dan sapi memiliki perbedaan dalam banyak sifat sebagaimana kambing dengan domba. Namun, Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi tidak merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Anam: ayat 143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?

Jawaban: Jika hakikat kerbau termasuk sapi, maka kerbau sebagaimana sapi namun, jika tidak maka (jenis hewan) yang Allah sebut dalam Al-Quran adalah jenis hewan yang dikenal orang Arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang Arab.
(Liqa Bab Al-Maftuh, 27:200)

Jika penjelasan Syaikh Utsaimin ini kita kompromikan dengan penjelasan para ulama di atas, maka bisa disimpulkan, bahwa qurban dengan kerbau hukumnya boleh (sah), karena kerbau sejenis dengan sapi.

7. Hukum mengucapkan shalawat saat menyembelih.
Dalam syariat Islam tidak boleh mengucapkan shalawat ketika hendak menyembelih. Hal tersebut disebabkan 2 alasan, di antaranya;

– Tidak ada dalil shahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan shalawat saat menyembelih. Sedangkan, ketika seseorang beribadah kepada Allah tanpa dalil yang shahih adalah perbuatan bidah, dan bidah terlarang dalam syariat Islam. Karena bidah itu membuat syariat baru dalam agama Islam, sedangkan Allah azza wa jalla sudah menjadikan syariat Islam itu sempurna, sehingga tidak boleh ada yang merubah syariat Islam, dengan menambah atau mengurangi syariatnya.

– Ada kemungkinan manusia akan menjadikan nama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai wasilah ketika qurban, atau bahkan bisa jadi seseorang membayangkan Nabi pada saat menyembelih, sehingga sembelihannya tidak murni (ikhlash) untuk Allah.
(Syarhu Al-Mumthi, 7:492)

8. Hukum memberikan hasil qurban kepada orang kafir.
Para ulama madzhab Malikiyah berpendapat: Makruhnya memberikan hasil (daging) qurban kepada orang kafir, sebagaimana Imam Malik berkata: Diberikan kepada selain mereka (orang kafir) lebih aku sukai. Sedangkan ulama Syafiiyah berpendapat: Haramnya memberikan hasil qurban kepada orang kafir untuk qurban yang wajib (misalnya qurban nadzar) dan makruh untuk qurban yang sunnah.
(Fatwa Syabakah Islamiyyah, no.29843)

Imam Al-Baijuri Asy-Syafii rahimahullah berkata;
“Boleh memberikan sebagian qurban sunnah kepada kafir dzimmi yang faqir. Tapi ketentuan ini tidak berlaku untuk qurban yang wajib.”
(Hasyiyah Al-Baijuri, 2:310)

Lajnah Daimah (Majelis Ulama Saudi Arabia) pernah ditanya: Bolehkah memberikan daging qurban kepada orang kafir? Mereka menjawab: Kita dibolehkan memberi daging qurban kepada orang kafir muahid karena statusnya sebagai orang miskin, kerabat, tetangga, atau karena dalam rangka menarik simpati (perhatian) mereka namun, tidak dibolehkan memberikan daging qurban kepada orang kafir harby, karena kewajiban kita kepada kafir harby adalah merendahkan mereka dan melemahkan kekuatan mereka. Hukum ini juga berlaku untuk pemberian sedekah.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam urusan agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
(Surat Al-Mumtahanah: ayat 8)

Demikian juga Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah memerintahkan Asma binti Abu Bakar radhiallahu anhuma untuk menemui ibunya dengan membawa harta, padahal ibunya masih musyrik.
(Fatwa Lajnah Daimah, no.1997)

Keterangan;
– Kafir muahid: Orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan umat Islam. Termasuk orang kafir muahid adalah orang kafir yang masuk ke negeri Islam dengan izin resmi dari pemerintah.
– Kafir harby: Orang kafir yang memerangi umat Islam.
– Kafir dzimmi: Orang kafir yang hidup di bawah kekuasaan umat Islam.

Kesimpulan: Memberikan bagian hewan qurban kepada orang kafir dibolehkan karena status hewan qurban sama dengan sedekah atau hadiah, karena hukum asal diperbolehkan memberikan sedekah ataupun hadiah kepada orang kafir.

9. Hukum menyembelih satu ekor kambing untuk makan-makan panitia qurban.
Status panitia ataupun jagal dalam pengurusan hewan qurban adalah sebagai wakil dari shahibul qurban dan bukan amil. Karena statusnya hanya sebagai wakil, maka panitia qurban tidak dibolehkan mengambil bagian dari hewan qurban sebagai ganti dari jasa dalam mengurusi hewan qurban. Untuk lebih memudahkan dalam memahami masalah ini, mari kita bisa perhatikan ilustrasi kasus di bawah ini;

Fulan ingin mengirim uang sejumlah 1 juta kepada Fulanah. Karena tidak bisa bertemu langsung, maka Fulan mengutus Fulin untuk mengantarkan uang tersebut kepada Fulanah. Disebabkan harus ada biaya transportasi dan biaya lainnya, maka Fulan memberikan sejumlah uang kepada Fulin. Bolehkah biaya tersebut diambilkan dari uang 1 juta yang akan dikirimkan kepada Fulanah? Semua orang yang berakal pasti akan menjawab: Tidak Boleh, karena berarti mengurangi uangnya Fulanah. Status Fulin pada kasus di atas hanyalah sebagai wakil dari Fulan, demikian juga qurban. Status panitia hanya sebagai wakil shahibul qurban, sehingga dia tidak boleh mengambil bagian qurban sebagai ganti dari jasanya. Karena sebab itu, jika menyembelih satu kambing untuk makan-makan panitia, atau panitia dapat jatah khusus sebagai ganti jasa dari kerja yang sudah dilakukan oleh panitia, maka ini tidak boleh.

Keterangan: Amil adalah sebagian orang menyamakan status panitia qurban sebagaimana status amil dalam zakat. Bahkan mereka meyebut panitia qurban dengan amil qurban. Akibatnya mereka beranggapan panitia memiliki jatah khusus dari hewan qurban, sebagaimana amil zakat memiliki jatah khusus dari harta zakat. Yang benar, amil zakat tidaklah sama dengan panitia pengurus qurban. Karena untuk bisa disebut amil, harus memenuhi beberapa persyaratan. Sementara pengurus qurban hanya sebatas wakil dari shahibul qurban. Sebagaimana status Sahabat Ali radhiallahu anhu dalam mengurusi qurban Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dan tidak ada riwayat tentang Ali radhiallahu anhu mendapat jatah khusus dari qurbannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

10. Hukum memperjual-belikan hasil qurban.
Tidak diperbolehkan memperjual-belikan bagian hewan qurban, seperti: Bagian daging, kulit, kepala, teklek, bulu, tulang atau bagian yang lainnya.

Sebagaimana Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bercerita;

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا
“Aku diperintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk mengurus penyembelihan hewan qurban, menyedekahkan daging dan kulitnya, serta mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan kesempurnaan qurban. Tetapi aku dilarang oleh beliau untuk mengambil upah bagi tukang potong (jagal) dari hewan qurban tersebut. Maka untuk upahnya kami ambil dari uang pribadi kami.”
(HR. Imam Muslim, no.2320)

Bahkan terdapat ancaman yang sangat keras dalam masalah ini, sebagaimana Rasulullah bersabda;

مَنْ بَاعَ جَلْدَ أُضْحِيَتِهِ، فَلَا أُضْحِيَةَ لَهُ
“Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya, maka ibadah qurbannya tidak ada nilainya.”
(HR. Al-Albani, Shahihu Al-Jami, no.6118. Hadits ini hasan)

Larangan menjual kulit qurban merupakan pendapat mayoritas ulama, meskipun Imam Abu Hanifah menyelisihi mereka. Namun, mengingat dalil yang sangat tegas dan jelas, maka pendapat yang lebih dekat pada kebenaran adalah pendapat mayoritas ulama.

Catatan: Termasuk memperjual-belikan bagian hewan qurban adalah menukar kulit atau kepala dengan daging, atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing. Karena hakikat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang.

Transaksi jual-beli kulit hewan qurban yang belum dibagikan adalah transaksi yang tidak sah. Maksudnya penjual tidak boleh menerima uang hasil penjualan kulit, dan pembeli juga tidak berhak menerima kulit yang dia beli.

Sebagaimana Al-Baijuri rahimahullah menjelaskan;
“Tidak sah jual-beli (bagian dari hewan qurban), dan selain itu transaksi ini juga adalah haram. Jual-beli kulit hewan qurban juga tidak sah, berdasarkan hadits di atas.”
(Fiqih Syafii, 2:311)

Bagi orang yang menerima kulit dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai keinginannya, misal dijual atau untuk pemanfaatan lainnya, karena itu sudah menjadi hak atau miliknya. Sedangkan, menjual kulit yang dilarang adalah menjual kulit sebelum dibagikan (disedekahkan), misal yang diserahkan oleh pihak panitia ataupun shahibul qurban.

11. Hukum memberi upah jagal atau panitia dengan bagian hewan qurban.
Sebagaimana Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bercerita;

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا
“Aku diperintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk mengurus penyembelihan hewan qurban (unta hadyu yang berjumlah 100 ekor), menyedekahkan daging dan kulitnya, serta mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan kesempurnaan qurban. Tetapi aku dilarang oleh beliau untuk mengambil upah bagi tukang potong (jagal) dari hewan qurban tersebut. Maka untuk upahnya kami ambil dari uang pribadi kami.”
(HR. Imam Muslim, no.2320)

Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata;
“Tukang jagal tidak boleh diberi daging atau kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. Hal ini berdasarkan kesepakatan atau ijma para ulama. Yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk hadiah, jika dia termasuk orang kaya atau sebagai sedekah jika ternyata dia adalah orang miskin.”
(Taudhihu Al-Ahkam, 4:464)

Imam Ibnu Qasim juga berkata;
“Haram menjadikan bagian hewan qurban sebagai upah bagi jagal. Perkataan beliau ini dikomentari oleh Al Baijuri: Karena hal itu (mengupah jagal) semakna dengan jual-beli. Namun, jika jagal diberi bagian dari qurban dengan status sedekah bukan upah, maka tidak haram (boleh).”
(Hasyiyah Al-Baijuri, 2:311)

Sehingga, bagi orang yang memperoleh hadiah atau sedekah daging qurban, dia boleh memanfaatkannya sesuai keinginannya, bisa dimakan, dijual atau untuk hal lainnya. Akan tetapi tidak diperkenankan untuk menjualnya kembali kepada orang yang sudah memberi hadiah atau sedekah kepadanya tersebut.

12. Nasihat dan solusi untuk masalah kulit qurban.
Salah satu penyakit yang saat ini masih menimpa ibadah qurban umat Islam adalah kita belum bisa lepas dari fiqih praktis pada saat menjual kulit atau menggaji tukang jagal dengan kulit. Memang kita akui ini adalah jalan pintas yang paling cepat untuk melepaskan diri dari tanggungan mengurusi kulit namun, apakah jalan pintas cepat ini menjamin keselamatan? Sadar dan bertaqwalah kepada Allah, wahai saudaraku! Sesungguhnya ibadah qurban sudah diatur dengan indah dan rapi oleh sang pembuat syariat, yaitu Allah azza wa jalla. Jangan coba-coba untuk keluar dari aturan ini, karena bisa jadi qurban kita tidak sah! Berusahalah untuk selalu berjalan sesuai syariat Islam, meskipun jalurnya lebih panjang dan sedikit menyulitkan! Jangan juga sampai terkecoh dengan pendapat sebagian orang, baik ulama ataupun yang mengaku-ngaku ulama, karena orang yang berhak untuk ditaati secara mutlak hanya satu yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Maka semua pendapat yang bertentangan dengan hadits beliau, harus dibuang jauh-jauh!

Dalam menyikapi masalah ini, kita tidak perlu bingung dan merasa repot. Dari hadits di atas, kita melihat Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah mengurusi hewan qurbannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang jumlahnya hingga 100 ekor unta. Tapi tidak ada dalam catatan sejarah, Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu merasa bingung mengurusi kulit dan kepala hewan qurban. Seperti itulah kemudahan yang Allah berikan kepada seseorang yang mengikuti aturan syariat Islam secara antusias dan totalitas. Namun, bagi pihak atau perorangan yang masih merasa bingung dalam mengurusi kulit, bisa melakukan beberapa solusi di bawah ini, di antaranya;

– Kumpulkan semua kulit, kepala, dan kaki hewan qurban. Tunjuk sejumlah orang miskin sebagai sasaran penerima kulit. Tidak perlu diantar ke rumahnya, tapi cukup hubungi mereka dan sampaikan kepada mereka, bahwa panitia siap menjualkan kulit yang sudah menjadi hak mereka. Dengan demikian, status panitia dalam hal ini adalah sebagai wakil bagi pemilik kulit untuk menjualkan kulit, bukan wakil dari shahibul qurban dalam menjual kulit.

– Serahkan semua atau sebagian kulit kepada yayasan Islam sosial, misalnya panti asuhan, pondok pesantren, lembaga atau media dakwah, dan tempat-tempat semisalnya. Karena terdapat fatwa Lajnah yang membolehkan untuk menyerahkan bagian hewan qurban kepada yayasan.

– Mengirimkan sejumlah uang untuk dibelikan hewan qurban di tempat tujuan, boleh juga di luar daerah shahibul qurban dan disembelih di tempat tersebut. Atau mengirimkan hewan qurban yang masih hidup ke tempat lain untuk di sembelih di sana.

Hukum asal tempat menyembelih qurban adalah di daerah shahibul qurban. Karena orang-orang yang miskin di daerahnya itulah yang lebih berhak untuk mendapatkan hasil qurbannya. Sebagian ulama Syafiiyah mengharamkan mengirim hewan qurban atau uang untuk membeli hewan qurban ke tempat lain (di luar tempat tinggal shahibul qurban) selama tidak ada maslahat yang menuntut hal tersebut, seperti penduduk tempat shahibul qurban yang sudah berkecukupan, sementara penduduk tempat lain masih sangat membutuhkan. Sebagian ulama membolehkan secara mutlak, meskipun tidak ada tuntutan maslahat. Sebagai jalan keluar dari perbedaan pendapat ini, sebagian ulama menasihatkan agar tidak mengirim hewan qurban ke selain tempat tinggalnya. Artinya tetap disembelih di daerah shahibul qurban dan yang dikirim keluar daerahnya adalah hasil qurbannya.
(Shahih Fiqih Sunnah, 2:380)

Kesimpulan: Berqurban dengan cara mengirim hewan atau uang, dan bukan daging, termasuk qurban yang sah namun, menyelisihi sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Hal tersebut disebabkan 3 alasan, yaitu;

– Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabat radhiyallahu anhum tidak pernah mengajarkan atau mencontohkannya.
– Hilangnya sunnah tentang anjuran untuk menyembelih hewan qurban sendiri oleh shahibul qurban.
– Hilangnya sunnah tentang anjuran untuk makan bagian dari hewan qurban.

Semoga penjelasan di atas menjadi ilmu yang berkah untuk diri penulis dan para pembaca, sehingga Allah beri kemudahan juga untuk penulis dan pembaca bisa beribadah qurban dengan benar dan istiqamah. Aamiin

Setiap ilmu akan bermanfaat jika kita mau untuk mempelajari, memahami, dan mengamalinya.

Hanya Allah yang mampu memberikan kemudahan.
___
@ Kota Angin Majalengka, 18 Dzulqadah 1440H/21 Juli 2019M.
Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaKiat Menjadi Pelajar Yang Sukses
Artikel sesudahnyaHari Spesial Di Bulan Dzulhijjah
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here