Beranda Belajar Islam Kiat Menjadi Pelajar Yang Sukses

Kiat Menjadi Pelajar Yang Sukses

354
0
BERBAGI

Kiat Menjadi Pelajar Yang Sukses

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang yang beragama Islam.”
(HR. Ibnu Majah, no.224)

Lalu Allah azza wa jalla berfirman;

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku!”
(Surat Thaha: ayat 114)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Firman Allah taala tersebut mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah taala tidaklah memerintahkan NabiNya shallallahu alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu, kecuali ilmu. Adapun yang dimaksud dengan kata ilmu di sini adalah ilmu syari (Islam), yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf (muslim) mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepadaNya, dan mensucikanNya dari berbagai kekurangan.”
(Fathu Al-Bari, 1:92)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Bahwa ketika yang disebutkan hanya kata ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu syariat Islam. Oleh sebab itu, merupakan sebuah kesalahan sebagian orang yang membawakan dalil-dalil tentang kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu dari Al-Quran dan As-Sunnah namun, yang mereka maksud adalah untuk memotivasi belajar ilmu duniawi. Meskipun demikian, bukan berarti kita mengingkari manfaat belajar ilmu duniawi, karena hukum mempelajari ilmu duniawi itu tergantung pada tujuannya. Apabila digunakan dalam kebaikan, maka baik. Dan apabila digunakan dalam kejelekan, maka jelek.”
(Kitab Al-Ilmi, hlm.14)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata;
“Dan wajib baginya untuk bersemangat dan persisten (terus-menerus) dalam menuntut ilmu di seluruh waktunya, baik malam hari ataupun siang hari, dan baik saat mukim (bertempat) ataupun saat safar (perjalanan jauh). Dan tidaklah berlalu sedikit pun dari waktunya untuk selain ilmu, kecuali sesuai kadar yang dibutuhkan saja untuk makan dan tidur dengan waktu yang memang tidak bisa dihindari (sewajarnya atau secukupnya), dan untuk selain keduanya seperti istirahat sebentar untuk menghilangkan kebosanan, dan untuk kebutuhan-kebutuhan yang semisalnya. Dan bukanlah orang yang berakal, yakni seseorang yang mungkin baginya mampu mencapai derajat pewaris para Nabi, tetapi kemudian dia malah menyia-nyiakannya.”
(Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab, 1:68)

Kalimat akhir pada ucapan Imam An-Nawawi di atas, kini sudah menjadi realita. Saat ini, kita sering menemui orang-orang yang diberikan kecerdasan oleh Allah azza wa jalla, tetapi mereka tidak memanfaatkannya untuk mempelajari ilmu syariat Islam. Mereka malah lebih tertarik untuk mempelajari ilmu-ilmu umum (dunia) yang derajat dan keutamaannya jauh lebih rendah daripada ilmu Islam (akhirat). Sehingga orang-orang yang seperti ini dikatakan sebagai orang-orang yang tidak berakal, meskipun dalam ilmu duniawi bisa jadi mereka adalah orang-orang yang paling cerdas. Karena tidak semua orang yang cerdas itu berakal, maka jadilah orang yang cerdas dan berakal, kalau tidak bisa cukup menjadi orang yang berakal, dan jangan sampai menjadi orang yang tidak berakal!

Allah azza wa jalla berfirman;

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau saja mereka mengetahui.”
(Surat Al-Ankabut: ayat 64)

Mungkin ada seseorang yang tidak dikaruniai kecerdasan oleh Allah azza wa jalla, tetapi bisa jadi dia adalah orang yang berakal, karena dia tahu mana sesuatu yang bisa memberikan manfaat dan kerugian untuknya di dunia dan di akhirat, lalu dia juga bisa tahu mana hal yang benar (hak) untuk dilakukan dan hal yang salah (batil) untuk ditinggalkan. Dan mungkin juga ada seseorang yang dikaruniai kecerdasan oleh Allah, tetapi dia tidak memanfaatkan kecerdasannya untuk mempelajari agama Allah, untuk mempelajari kunci kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, maka tentu dia adalah orang yang tidak berakal.

Padahal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ يَبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِي، جَوَّاظٍ، سَخَابٍ فِي الأَسْوَاقِ، جَيْفَةٌ بِاللَّيْلِ، حِمَارٌ بِالنَّهَارِ، عَالِمٌ بِالدُّنْيَا جَاهِلٌ بِالآخِرَةِ
“Allah sangat membenci orang yang sombong, rakus lagi pelit, suka berteriak di pasar, bangkai di malam hari (tidur sampai pagi), keledai di siang hari (karena yang dipikirkan hanya makan), orang yang pintar dalam masalah dunia namun, bodoh dalam masalah akhirat.”
(HR. Ibnu Hibban, no.72. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;
”Demi Allah, salah seorang dari mereka telah mencapai keilmuan yang tinggi dalam hal dunia, dia mampu memberitahukan kepadamu mengenai berat sebuah dirham (uang perak) hanya dengan membalik uang tersebut pada ujung kukunya, sedangkan dirinya sendiri tidak becus dalam melaksanakan shalat.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 6:84)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Fasik adalah orang yang melakukan dosa besar, atau orang yang terus-menerus melakukan dosa kecil.”
(Fathu Dzi Al-Jalali Wa Al-Ikram, 4:472)

Maka sebab itu, Allah azza wa jalla berfirman;

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka tentang kehidupan akhirat adalah lalai.”
(Surat Ar-Rum: ayat 7)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Umumnya manusia tidak memiliki ilmu, melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu agama Islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 3:428)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi rahimahullah juga menjelaskan;
“Pikiran mereka hanya terpusat pada urusan dunia, sehingga lupa terhadap urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk Surga dan tidak takut Neraka, inilah tanda kehancuran mereka, bahkan dengan otaknya mereka akan bingung dan gila. Usaha mereka memang menakjubkan seperti membuat atom, listrik, angkutan darat, laut dan udara. Sungguh menakjubkan pikiran mereka, seolah-olah tidak ada manusia yang mampu menandinginya, sehingga orang lain menurut pandangan mereka adalah hina. Akan tetapi ingatlah! Mereka itu adalah orang yang paling bodoh dalam urusan akhirat dan tidak tahu bahwa kecerdasannya akan merusak dirinya, dan yang bisa mengetahui kehancuran mereka hanya manusia yang beriman dan berilmu. Mereka itu bingung karena menyesatkan dirinya sendiri, itulah hukuman Allah bagi orang yang melalaikan urusan akhiratnya, yakni akan dilalaikan oleh Allah azza wa jalla dan tergolong orang yang fasik. Andaikan mereka mau berpikir bahwa semua itu adalah pemberian Allah azza wa jalla dan menyikapi kenikmatan tersebut disertai dengan iman, tentu hidup mereka akan bahagia. Akan tetapi karena dasarnya yang salah, disebabkan mengingkari karunia Allah, tidaklah kemajuan urusan dunia yang sudah mereka dapatkan, melainkan hal tersebut untuk merusak dirinya sendiri.”
(Taisir Karimi Ar-Rahman, 4:75)

Mari kita mulai menyadari, bahwa selama ini kita sudah keliru, kita sudah tertipu! Karena yang seharusnya mati-matian kita cari, kita pelajari adalah ilmu tentang akhirat, bukan hanya tentang dunia.

Selalu ingatlah terhadap pesan dari Allah azza wa jalla;

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia menipu kalian!”
(Surat Luqman: ayat 33)

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman;

اَللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapapun yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu dibandingkan dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).”
(Surat Ar-Radu: ayat 26)

Luqman yang namanya Allah abadikan dalam salah satu firmannya, yaitu dalam surat Luqman, beliau pernah memberikan nasihat kepada anaknya;
“Wahai anakku tercinta, jika mulai hari ini kamu berpaling dari dunia, berarti kamu telah melepaskannya dan kamu bisa segera bergegas menuju akhiratmu. Ketahuilah kamu ini lebih dekat ke akhirat yang mendatangimu daripada dunia yang menjauhimu.“
(Dzamm Ad-Dunya, hlm.12)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;
“Berhati-hatilah kalian dari menyibukkan diri dengan perkara dunia, karena ia dipenuhi kesibukan. Barang siapa yang berani membuka salah satu pintu kesibukan itu, niscaya akan terbuka untuknya sepuluh pintu kesibukan lainnya.”
(Dzamm Ad-Dunya, hlm.21)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam masalah agama (Islam).”
(HR. Imam Bukhari, no.71)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
“Yang dimaksud faqih dalam hadits di atas bukanlah hanya mengetahui hukum-hukum syariat Islam, tetapi lebih dari itu. Dikatakan faqih jika seseorang memahami tauhid dan pokok-pokok Islam (akidah), serta yang berkaitan dengan syariat Allah lainnya.”
(Kitab Al-Ilmi, hlm.21)

Dengan ilmu agama, seseorang akan memiliki rasa takut terhadap Allah azza wa jalla yang akan membuatnya terhindar dari berbagai bentuk maksiat dan dosa, sehingga akan membuatnya selalu bersemangat untuk beribadah kepadaNya.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah orang-orang yang berilmu.”
(Surat Fathir: ayat 28)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Sesungguhnya yang paling takut terhadap Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah yang maha agung, maha mampu, maha mengetahui, Dia (Allah) disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu dia mengenal Allah lebih sempurna, maka dia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 6:308)

Sebagai penutup, fokuskan kecerdasan dan kemampuan yang telah Allah berikan kepada kita untuk mempelajari agamaNya (Islam)! Kita boleh mempelajari ilmu dunia namun, porsinya tidak boleh melebihi ilmu akhirat. Jangan sampai pengetahuan kita terhadap ilmu dunia hingga sarjana, tapi pengetahuan kita terhadap ilmu akhirat hanya teka!

Tugas kita adalah mencari kebutuhan dunia secukupnya dan mencari kebutuhan akhirat sebanyaknya. Karena Allah sudah menjadikan tujuan hidup kita adalah akhirat, bukan dunia. Dan satu hal yang perlu kita ingat, bahwa salah satu syarat untuk masuk Surga adalah amal, bukan harta.

Karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Barang siapa menjadikan dunia sebagai ambisinya (tujuan), maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan Allah akan menjadikannya miskin. Tidaklah dia akan mendapatkan dunia kecuali sesuatu yang telah di tetapkan baginya. Dan barang siapa menjadikan akhirat sebagai niatannya (tujuan), maka Allah akan menyatukan urusannya dan membuatnya kaya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”
(HR. Ibnu Majah, no.4095)

Maka, jadilah seorang pelajar yang sukses! Seorang pelajar yang Allah selamatkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga disebabkan ilmu yang dimilikinya. Dan itulah makna kesuksesan yang sebenarnya.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasan kalian. Barang siapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, sungguh dia memperoleh kemenangan (sukses). Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.”
(Surat Ali Imran: ayat 185)

Semoga melalui tulisan ini, banyak hati yang Allah sadarkan. Aamiin

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
(HR. Imam Muslim no.4899)

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى، وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى، وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Dan jadikanlah kehidupan ini memiliki nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan.”
(HR. Imam Muslim, no.4897)
___
@Kota Udang Cirebon, 23 Syawwal 1440H/27 Juni 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaCara Memanfaatkan Harta Haram Atau Syubhat
Artikel sesudahnyaFiqih Qurban
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here