Beranda Belajar Islam Amalan Cara Memanfaatkan Harta Haram Atau Syubhat

Cara Memanfaatkan Harta Haram Atau Syubhat

819
0
BERBAGI

Cara Memanfaatkan Harta Haram Atau Syubhat

Pertanyaan;
Bismillah. Mohon maaf Ustadz jika saya mengganggu waktu aktivitasnya.

Begini Ustadz, setelah saya mengetahui bahwa riba (bunga) itu hukumnya adalah haram dan harus ditinggalkan, lalu jika kasusnya saya memiliki harta riba atau jenis harta haram dan syubhat semisalnya, baik yang berasal dari bank, asuransi, atau pun dari sebab semisalnya, apa yang harus dilakukan? Harus saya kemanakan harta haram atau syubhat tersebut, agar harta halal yang saya dapatkan tidak tercampur dengan sesuatu yang haram? Dan bolehkah jika harta haram atau harta syubhat digunakan untuk membayar pajak?

Saya tidak ingin, kerja atau usaha yang selama ini saya lakukan untuk menafkahi keluarga hanya menghasilkan dosa bukan pahala, sehingga bukan keberkahan hidup yang saya dapatkan, malah laknat Allah yang saya terima. Mohon penjelasannya ustadz. Terima kasih ustadz, jazaakallaahu khaira.

Jawaban;
Mengenai masalah ini, secara umum terdapat dua pendapat di antara para ulama;

1. Harta riba atau jenis harta haram dan syubhat lainnya yang terlanjur didapatkan harus diinfaqkan untuk kepentingan masyarakat umum dan yang tidak terhormat, seperti: Pembangunan jalan raya, jembatan, jamban (toilet) umum, atau yang semisalnya. Dan tidak dibenarkan jika digunakan untuk membangun masjid atau diberikan kepada faqir-miskin.

2. Harta riba atau jenis harta haram dan syubhat lainnya harus disalurkan pada kegiatan-kegiatan sosial, baik yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat umum, semisal: Pembangunan madrasah, atau hanya yang dirasakan oleh sebagian masyarakat saja, misalnya dibagikan kepada faqir-miskin.

Dari dua pendapat tersebut, bahwa pendapat kedua inilah yang dilihat lebih kuat dan mendekati pada kebenaran, karena memiliki beberapa alasan yang menguatkannya. Di antaranya;

a. Tidak adanya dalil yang membedakan antara amal sosial yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat umum dan amal sosial yang manfaatnya hanya dirasakan oleh sebagian masyarakat.

b. Harta haram dalam Islam dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, di antaranya;
• Harta haram karena dzatnya.
Semisal: Anjing, babi, bangkai dan khamer (minuman yang memabukkan), dan semisalnya. Barang-barang tersebut diharamkan dalam semua keadaan dan tetap saja hukumnya haram, meski pun didapatkan dengan cara yang halal. Misalnya: Didapatkan dengan cara berburu, membeli atau hibah (pemberian).
• Harta haram karena cara memperolehnya, bukan karena dzatnya.
Semisal: Harta hasil riba, judi, mencuri, menipu, uang tips, dan semisalnya. Harta-harta tersebut diharamkan karena cara memperolehnya, meski pun asal-usul harta tersebut adalah halal.

Berkaitan dengan harta haram jenis ini, sebagian ulama fiqih telah memberikan kaidah (rumus) yang sangat jelas;

تَغَيُّرُ أَسْبَابِ الْمِلْكِ يُنَزَّلُ مَنْزِلَةَ تَغَيُّرِ الْأَعْيَانِ
“Berubahnya metode mendapatkan suatu benda, itu dihukumi sebagai sebab berubahnya hukum benda tersebut.”

Dengan demikian, harta riba tersebut haram untuk kita, karena kita memperolehnya dengan cara-cara yang diharamkan, yaitu riba dan semisalnya. Akan tetapi, dzat uang itu sendiri tidak dapat dinyatakan haram atau halal. Selanjutnya jika harta riba itu diberikan kepada faqir-miskin, berarti harta itu berpindah kepada mereka dengan cara-cara yang halal, bukan dengan cara yang haram, karena mereka mendapatkannya dengan cara diberi, bukan dengan cara riba.

Oleh sebab itu, dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tetap berniaga (jual-beli atau bertransaksi) dengan orang-orang Yahudi, padahal beliau sudah mengetahui, bahwa kebiasaan kaum Yahudi mendapatkan sebagian hartanya dari memperjual-belikan babi, khamer dan menjalankan riba.

Hal tersebut tetap Rasulullah lakukan, dikarenakan beliau shallallaahu alaihi wa sallam bertransaksi dengan orang-orang Yahudi dengan cara-cara yang dibenarkan, yaitu dengan cara jual-beli. Sehingga perbuatan Yahudi memperjual-belikan babi di belakang beliau tidak menjadi masalah dan tidak merubah status halalnya harta yang beliau dapatkan.

Syaikh Ibnu Jibrin, setelah menjelaskan larangan menabung di bank kecuali darurat, beliau ditanya tentang hukum menyalurkan bunga bank untuk para Mujahid. Lalu beliau menjawab;
“Seseorang boleh mengambil keuntungan yang diberikan oleh bank, seperti bunga, tapi jangan dimasukkan dan disimpan sebagai hartanya. Akan tetapi disalurkan untuk kegiatan sosial, seperti diberikan kepada faqir-miskin, mujahid atau semisalnya. Perbuatan ini lebih baik dari pada meninggalkannya di bank, yang nantinya akan dimanfaatkan untuk membangun gereja, menyokong misi kekafiran, dan menghalangi dakwah Islam.”
(Fatawa Islamiyyah, 2:884)

Lalu beliau juga berpendapat;
“Boleh menggunakan bunga bank untuk membangun masjid. Karena bunga bank bisa dimanfaatkan oleh semua masyarakat. Jika boleh digunakan untuk kepentingan umum, tentu saja untuk kepentingan keagamaan juga tidak jadi masalah.”
(Fatawa Islamiyyah, 2:885)

Syaikh Dr.Abdullah Al-Faqih berpendapat;
“Membayar pajak dengan bunga bank, hukumnya juga tidak boleh, karena pembayaran pajak akan memberikan perlindungan bagi harta miliknya, sehingga dia telah memanfaatkan harta riba yang haram ini.”
(Fatawa Syabakah Islamiyyah, no.23036)

Perlu diperhatikan, bahwa bunga bank yang ada di rekening, sama sekali bukan harta milik kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh menggunakan uang tersebut, yang manfaatnya kembali kepada diri kita, apa pun bentuknya, meski pun hanya berupa pujian. Oleh sebab itu, ketika kita hendak menyalurkan harta riba, pastikan bahwa kita tidak akan mendapatkan pujian dari tindakan tersebut. Mungkin bisa dengan cara diserahkan secara diam-diam, atau dijelaskan bahwa itu bukan uang kita, tapi itu uang riba, sehingga si Penerima yakin bahwa itu bukan amal baik kita. Karena hal tersebut adalah cara kita untuk berlepas diri dari harta yang haram atau syubhat.

Kesimpulan;
Harta riba yang didapatkan, hukumnya wajib untuk disalurkan kepada orang lain yang sangat membutuhkan atau untuk mendanai kegiatan sosial dan tidak dibenarkan bagi kita untuk menggunakannya untuk kepentingan pribadi, termasuk untuk membayar pajak. Karena pembayaran pajak, meski pun pajak diharamkan dalam Islam, tapi itu tetap termasuk bagian dari kepentingan pribadi.

Selanjutnya, jika kita mendapatkan harta riba sebab bagi-hasil yang didapatkan dari perbankan syariah, maka hendaknya diperlakukan sama seperti bunga yang didapatkan dari perbankan konvensional. Karena praktik kedua jenis perbankan tersebut (syariah-konvensional) tidak ada bedanya, sama-sama membungakan uang dan bukan bisnis untuk mendapatkan keuntungan. Apalagi menurut peraturan perbankan yang ada di Indonesia, perbankan adalah badan keuangan dan tidak boleh merangkap sebagai badan usaha, dengan demikian ruang lingkupnya hanya sebatas pembiayaan, yang statusnya aman dari resiko usaha (kerugian).

Semoga penjelasan ini bisa dipahami dn diamalkan.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang selalu tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
(HR. Imam Muslim, no.4899)

Catatan:
1. Harta syubhat adalah harta yang tidak jelas tentang status kehalalan dan keharamannya. Sehingga Rasulullah menyatakan, bahwa status harta syubhat itu sama seperti harta haram. Baca juga penjelasan tentang hal tersebut di sini.
2. Sebagai solusi, silakan teman-teman bisa menyalurkan harta haram atau syubhatnya di sini;
• Bjb: (kode 110) 0075466056100
• A.n: Muhamad Fadly
• Konfirmasi: 0812-2060-5065
___
@Kota Udang Cirebon, Jawa Barat.
16 Syawwal 1440H/20 Juni 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaAdab Buka Puasa
Artikel sesudahnyaKiat Menjadi Pelajar Yang Sukses
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here