Beranda Belajar Islam Amalan Garis Finis

Garis Finis

172
0
BERBAGI

Garis Finis

Finis adalah bagian terakhir dalam sebuah perlombaan. Sesuatu yang akan menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Meski pun di dalam sebuah perlombaan seseorang berada di barisan terdepan namun, jika dia berada di barisan belakang pada saat masuk ke dalam garis finis, maka dia tetap kalah. Inilah pentingnya konsisten (istiqamah) dalam setiap hal baik, agar kita tidak merasakan pahitnya penyesalan.

Hal demikian pun berlaku dalam ibadah. Sebanyak apa pun amalan ibadah yang sudah kita lakukan di dalam kehidupan namun, jika pada akhir hidup kita malah melakukan amalan maksiat, maka kita pun tetap mendapatkan dosa dan binasa.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni Surga (ibadah) namun, berakhir menjadi penghuni Neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak melakukan amalan-amalan penduduk Neraka (maksiat) namun, berakhir dengan menjadi penghuni Surga. Sungguh amalan itu dihitung dengan penutupannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.6012)

Rasulullah juga mengingatkan;

‎لاَ عَلَيْكُمْ أَنْ لاَ تُعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَاناً مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً سَيِّئاً وَإِنَّ الْعَبْدَ لِيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً صَالِحاً وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ
“Janganlah kalian merasa kagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hidupnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih (ibadah), yang seandainya dia mati, maka dia akan masuk Surga. Akan tetapi, dia malah berubah dan mengamalkan amalan yang buruk (maksiat). Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan sebuah amalan buruk, yang seandainya dia mati, maka akan masuk Neraka. Akan tetapi, dia berubah dan beramal dengan amalan shalih (ibadah). Oleh sebab itu, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum dia wafat. Para Sahabat bertanya: Apa maksud dari ‘menunjuki sebelum wafat’? Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Yaitu memberikan dia taufik (kemudahan) untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu (husnul khatimah).”
(HR. Ahmad, 3:120. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, Silsilah Ash-Shahihah, no.1334)

Maka sebab itu, terus ayunkan kaki dan tangan, beri makan dan segala bantuan, keluarkan harta dan benda kita untuk mengisi sisa-sisa usia yang masih Allah berikan untuk kita! Karena selama kita masih hidup, kita akan terus berada di dalam perlombaan, berlomba untuk mendapatkan SurgaNya Allah azza wa jalla.

Imam Fudhail bin Iyyadh rahimahullah berkata;
“Hendaknya kamu berbuat kebaikan (amal shalih) pada sisa usiamu (yang masih ada), maka sebab itu Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu. Karena jika kamu tetap berbuat buruk (dosa) pada sisa usiamu (yang masih ada), maka kamu akan disiksa pada hari Kiamat karena dosa-dosamu di masa lalu dan dosa-dosamu pada sisa usiamu.”
(Jami Al-Ulum Wa Al-Hikam, hlm.464)

Allah azza wa jalla berfirman;

‎فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا
“Maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan! Sesungguhnya kepada Allah, kalian semua akan kembali.”
(Surat Al-Maidah: ayat 48)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud ayat tersebut;
“Jadilah orang yang nomor satu (terdepan) dalam melakukan kebaikan!”
(Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 2:6)

Allah azza wa jalla juga berfirman;

‎قُلْ يَٰقَوْمِ ٱعْمَلُوا۟ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّى عَامِلٌ ۖفَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِ ۗإِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ
“Katakanlah (Muhammad): Wahai kaumku! Berbuatlah sesuai kedudukan (kemampuan) kalian, sungguh aku pun berbuat demikian! Kelak kalian akan mengetahui, siapa yang akan memperoleh tempat (terbaik) di akhirat (nanti). Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu tidak akan beruntung.”
(Surat Al-Anam: ayat 135)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
“Demi Allah yang tiada Rabb selain Dia, sungguh ada seseorang dari kalian yang mengerjakan amalan perbuatan ahli Surga (ibadah), hingga jarak antara dirinya dan Surga hanyalah satu hasta lagi namun, ketentuan takdir telah mendahuluinya, hingga dia mengerjakan amalan perbuatan ahli Neraka (maksiat) dan akhirnya dia pun masuk ke dalam Neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amalan perbuatan ahli Neraka, hingga jarak antara dia dan Neraka hanya satu hasta lagi namun, ketentuan takdir telah mendahuluinya, hingga kemudian dia mengerjakan amal perbuatan ahli Surga dan akhirnya dia pun masuk ke dalam Surga.”
(HR. Imam Muslim, no.4781)

Jadi, terus gaspol teman-teman dan jangan kasih kendor untuk melakukan setiap peluang kebaikan. Apa pun bentuknya, selama sesuai dengan perintah Allah dan sunnah Rasulullah, maka segera kita kerjakan dan tidak perlu pakai pikir lama! Karena kita tidak pernah tahu, amalan mana yang sudah kita kerjakan dan diterima oleh Allah azza wa jalla. Karena kita juga tidak akan pernah tahu, akankah ajal kita tiba setelah kita melakukan kebaikan ataukah keburukan?

Ada seseorang pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah;
“Kapan seorang hamba beristirahat (berhenti dari sibuk melakukan kebaikan)? Maka Imam Ahmad menjawab: Ketika pertama kali telapak kakinya menginjak Surga.”
(Thabaqat Hanabilah, 1:293)

Sampai bertemu kembali di garis finis teman-teman!
___
@Kota Udang Cirebon, Jawa Barat.
01 Ramadhan 1440 H/06 Mei 2019 M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMenyambut Bulan Ramadhan
Artikel sesudahnyaAdab Buka Puasa
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here