Beranda Belajar Islam Menyambut Bulan Ramadhan

Menyambut Bulan Ramadhan

144
0
BERBAGI

๐Ÿ“ƒ Pertanyaan;

Assalamualaikum ustadz!
Maaf ustadzii, aku ingin tanya. Sebetulnya, gimana cara menyambut bulan Ramadhan yang benar sesuai syariat Islam? Aku sering lihat, sebagian masyarakat yang menyambutnya dengan pawai obor, arak-arakan, padusan dan kebiasaan aneh lainnya. Melihat, beberapa hari ke depan, kita akan masuk ke dalam bulan Ramadhan. Aku berharap kepada Allah, semoga aku tidak salah dalam beramal.

Mohon bantu menjelaskan masalah ini ustadzii. Terima kasih. Dan mohon maaf, aku sudah mengganggu waktu aktivitas ustadz.

๐Ÿ“ Jawaban;

Waalaikumussalam warahmatullah.
Sebagai seorang yang beragama Islam, hendaknya kita menyambut bulan Ramadhan dengan rasa bahagia yang ditunjukkan dalam beribadah kepada Allah azza wa jalla.

Imam Mualla bin Fadhl rahimahullah menjelaskan;
โ€œDahulu para Sahabat Rasulullah, selama 6 bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama 6 bulan setelahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal ibadah yang mereka kerjakan ketika di bulan Ramadhan.โ€
(Lathaif Al-Maarif, hlm.264)

Imam Yahya bin Abi Katsir rahimahullah mengatakan;
โ€œDi antara doa sebagian para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum ketika datang bulan Ramadhan: Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai pada Ramadhan dan antarkanlah Ramadhan kepadaku dan terimalah amal-amalku di dalamnya!โ€
(Lathaif Al-Maarif, hlm.264)

Para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum yang kedudukannya lebih mulia dari kita, mereka sangat antusias dan penuh harapan dalam menghadapi bulan Ramadhan. Dan tentunya mereka pun sangat bersemangat dalam beribadah di dalamnya. Di samping itu yang membuat kita tertinggal jauh dari mereka adalah mereka 6 bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah, meminta agar Allah mempertemukan mereka kembali dengan bulan Ramadhan, agar mereka bisa memperbaiki dan memperbanyak amalan ibadah di dalam bulan Ramadhan. Setelah Ramadhan selesai, selama 6 bulan mereka kembali berdoa kepada Allah, agar amalan ibadah yang mereka lakukan diterima oleh Allah azza wa jalla. Dan ini sebagai bukti kesungguhan mereka dalam beribadah dan rasa bahagia terhadap datangnya bulan Ramadhan.

Jadi, dikatakan menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan kebahagiaan itu bukan dengan pawai obor, arak-arakan, padusan, menyalakan petasan, hura-hura, atau dengan hal-hal aneh lainnya yang bukan berasal dari agama Islam.

Salah satu hal aneh yang hampir berlaku di setiap daerah, dan bukan berasal dari Islam yang sering digunakan oleh umat Islam untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan adalah petasan, kembang api dan semisalnya.

Petasan, kembang api dan sejenisnya sangat disukai oleh anak-anak dan remaja, bahkan orang tua. Di malam bulan Ramadhan, permainan ini biasanya laku keras dan bertambah marak. Namun, ada hukum Islam yang harus kita ketahui mengenai mainan tersebut, apakah ia dihukumi seperti permainan lainnya yang hukumnya mubah?

Fadhilatu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan;
โ€œJika ada orang yang hobi memainkan petasan, membeli dan meledakkannya, maka orang seperti ini tergolong safih (bodoh, tidak bisa mengelola hartanya dengan baik) dan harus dihajr (dilarang bertransaksi).โ€
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 9:304)

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhahullah menjelaskan;
โ€œTentang petasan yang menyebabkan gangguan kesehatan atau masalah ekonomi untuk pembelinya, maka hukumnya tidak boleh.โ€
(Arsip Multaqa Ahli Al-Hadits, 61:297)

Beliau melanjutkan;
โ€œPermainan ini memilik banyak unsur negatif seperti membahayakan tubuh dan kesehatannya, merusak lingkungan, mengganggu ketenangan masyarakat dan membuang-buang harta secara sia-sia. Sudah banyak orang yang menjadi korban dari permainan ini. Tangan anak-anak yang hancur karena ledakannya, rumah dan bangunan yang terbakar, mobil yang meledak saat mengangkutnya dan sebagainya. Oleh karena itu, bukan hanya para ulama yang melarang permainan seperti ini, pada umumnya orang-orang yang berakal sepakat akan bahayanya, sehingga bisnis ini dilarang secara resmi di banyak negara. Bahkan para pedagang petasan yang meraup keuntungan besar dari bisnis ini pun tidak memungkiri bahayanya (mengakui akan bahayanya).โ€
(Arsip Multaqa Ahli Al-Hadits, 61:299)

Perlu diketahui juga, bahwa para ulama tidak membedakan antara petasan dan kembang api dalam masalah hukum, keduanya sama. Jadi, hindarilah barang-barang semacam itu, jika ingin selamat!

Di samping itu, petasan dan sejenisnya mengandung unsur kezhaliman. Karena ketika dinyalakan, bunyi yang keluar pasti akan mengganggu ketenangan orang di sekitarnya, terlebih jika di sekitarnya ada orang yang sedang sakit jantung dan penyakit lainnya. Sungguh ini kezhaliman yang sangat besar!

Ingat, kezhaliman sekecil apa pun, itu adalah kegelapan di hari Kiamat! Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

โ€ŽุงูุชูŽู‘ู‚ููˆุง ุงู„ุธูู‘ู„ู’ู…ูŽุŒ ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุธูู‘ู„ู…ูŽ ุธูู„ูู…ูŽุงุชูŒ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู
โ€œJauhilah oleh kalian kezhaliman! Karena sesungguhnya kezhaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari Kiamat.โ€
(HR. Imam Muslim, no.2578)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga telah mengingatkan tentang keadaan orang yang bangkrut.

โ€ŽุฃูŽุชูŽุฏู’ุฑููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุณูุŸ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุณู ูููŠู†ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฏูุฑู’ู‡ูŽู…ูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽ ู…ูŽุชูŽุงุนูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุณูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูู…ูŽู‘ุชูู‰ ูŠูŽุฃู’ุชูู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุจูุตูŽู„ุงูŽุฉู ูˆูŽุตููŠูŽุงู…ู ูˆูŽุฒูŽูƒูŽุงุฉู ูˆูŽูŠูŽุฃู’ุชูู‰ ู‚ูŽุฏู’ ุดูŽุชูŽู…ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽู‚ูŽุฐูŽููŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุฃูŽูƒูŽู„ูŽ ู…ูŽุงู„ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุณูŽููŽูƒูŽ ุฏูŽู…ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุถูŽุฑูŽุจูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ููŽูŠูุนู’ุทูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูู†ู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูู†ู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ููŽู†ููŠูŽุชู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูู‡ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ู’ุถูŽู‰ ู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูุฎูุฐูŽ ู…ูู†ู’ ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุงู‡ูู…ู’ ููŽุทูุฑูุญูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุซูู…ูŽู‘ ุทูุฑูุญูŽ ููู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู
โ€œTahukah kalian siapa orang yang bangkrut? Para Sahabat menjawab: Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami adalah orang yang tidak memiliki dinar dan harta. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah seseorang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, zakat namun, dia pernah mencaci fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan dan memukul fulan. Maka diambil kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah dia zhalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum terbalas semua kezhalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah dia zhalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilempar ke dalam api Neraka.โ€
(HR. Imam Muslim, no.2581)

Maukah kita menjadi orang yang bangkrut seperti itu? Wal iyyaadzubillaah!

โ€ข Terdapat beberapa kesalahan di dalam kegiatan-kegiatan yang dijadikan kebiasaan untuk menyambut bulan Ramadhan, di antaranya;

1. Padusan.
Mandi besar pada satu hari menjelang 1 Ramadhan dimulai. Perbuatan ini tidak disyariatkan dalam agama Islam, yang menjadi syarat untuk melakukan puasa Ramadhan adalah niat untuk berpuasa besok hari pada malam sebelum puasa, ada pun mandi junub untuk puasa Ramadhan sama sekali tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

2. Mendahului puasa satu hari atau dua hari sebelumnya.
Rasulullah telah melarang umatnya mendahului puasa Ramadhan dengan melakukan puasa pada 2 hari terakhir di bulan Syaban, kecuali bagi yang memang sudah terbiasa puasa pada jadwal tersebut, misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Dawud. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

โ€Žู„ุงูŽ ุชูŽู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ููˆุง ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุจูุตูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽูŠู’ู†ู
โ€œJanganlah mendahulukan Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari.โ€
(HR. Imam Muslim, no.1082)

3. Berziarah kubur.
Tradisi ziarah kubur menjelang atau sesudah Ramadhan banyak dilakukan oleh kaum muslimin yang awam terhadap Islam, bahkan di antara mereka ada yang sampai berlebihan dalam berziarah kubur, yakni dengan melakukan perbuatan-perbuatan syirik di sana dan perbuatan ini tidak disyariatkan. Ziarah kubur dianjurkan agar kita teringat dengan kematian dan akhirat, akan tetapi mengkhususkannya karena moment tertentu, itu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah mau pun para sahabatnya radhiyallahu anhum.

4. Munggahan.
Istilah ini adalah berasal dari sunda, yang maksudnya untuk merayakan datangnya bulan Ramadhan dengan memasak makanan, misal dengan memotong 1 atau 2 ekor ayam, bebek. Semua kegiatan tersebut sebetulnya sama tujuannya, yakni untuk memuliakan bulan Ramadhan. Namun, yang namanya syariat Islam itu ditentukan benar atau salahnya bukan dengan perasaan, pemikiran atau dugaan semata. Melainkan dengan dalil (ilmu), yang berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah. Jika Allah dan RasulNya mengatakan kerjakan, maka kerjakanlah! Namun, jika tidak ada perintah untuk mengerjakannya, maka tidak boleh seorang pun untuk melakukannya!

5. Perayaan nuzulul quran.
Yaitu melaksanakan perayaan pada tanggal 17 Ramadhan, untuk mengenang saat-saat diturunkannya Al-Quran. Perbuatan ini tidak ada perintah dan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, begitu pula para sahabatnya sepeninggal beliau tidak pernah melakukannya. Jika memang ingin memuliakan Al-Quran, bukan dengan merayakannya namun, membacanya dengan rutin, menghafalkannya, memahami maknanya dan mengamalkan isinya.

Semua hal ini dilarang dan tidak boleh dilakukan, karena Allah tidak pernah memerintahkan kepada para hambaNya untuk melakukan hal-hal tersebut dan Rasulullah tidak pernah memberikan contoh kepada umatnya mengenai hal-hal tersebut. Jadi, bagi yang ingin melakukan hal-hal tersebut, sadarlah kalian telah membuat syariat baru dalam agama ini!

Apalagi, biasanya kebiasaan-kebiasaan tersebut dilakukan disertai adanya keyakinan. Dan diketahui keyakinan tersebut pasti akan mengarah pada syirik (menyekutukan Allah). Hal inilah yang harus dijauhi oleh setiap muslim dan muslimah!

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah bersabda;

โ€ŽููŽุฅูู†ูŽู‘ ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ู‡ูุฏูŽู‰ ู‡ูุฏูŽู‰ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ูˆูŽุดูŽุฑูู‘ ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑู ู…ูุญู’ุฏูŽุซูŽุงุชูู‡ูŽุง ูˆูŽูƒูู„ูู‘ ุจูุฏู’ุนูŽุฉู ุถูŽู„ูŽุงู„ูŽุฉูŒ
โ€œSesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad (As-Sunnah). Seburuk-buruk ibadah adalah ibadah yang diada-adakan (yang saat ini dilakukan, sedangkan tidak pernah dilakukan di zaman Nabi) dan setiap perkara yang tidak sesuai sunnah Rasulullah (bidah) adalah sesat.โ€
(HR. Imam Muslim, no.867)

Maka sebab itu, jangan berani membuat suatu kegiatan (ritual) yang dinisbatkan terhadap ibadah apa pun! Jangan pernah menggunakan alasan hanya urusan dunia yang kata Rasulullah hukum asalnya boleh dilakukan, untuk melegalkan ritual tersebut! Karena hal tersebut pun merupakan salah satu cara setan untuk menjerumuskan umat Islam ke dalam kesesatan dan kesalahan.

Imam Bilal bin Saad rahimahullah berkata;

โ€Žู„ูŽุง ุชูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูฐู‰ ุตูŽุบูุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ูˆูŽ ู„ูŽูƒูู†ู’ ุงูู†ู’ุธูุฑู’ ู…ูŽู†ู’ ุนูŽุตูŽูŠู’ุชูŽ
โ€œJanganlah kamu melihat kecilnya maksiat, tetapi lihatlah terhadap siapa kamu bermaksiat!โ€
(Ad-Dau Wa Ad-Dawau, hlm.82)

Jauhi semua hal yang tidak sesuai syariat Islam dan tidak bermanfaat! Karena masih sangat banyak hal-hal yang sesuai syariat Islam dan bermanfaat, yang belum bisa kita kerjakan.

Para penyair berkata;

โ€ŽูˆูŽุงู„ู’ูˆูŽู‚ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ููŽุณู ู…ูŽุง ุนูŽู†ูŽูŠู’ุชูŽ ุจูุญููู’ุธูู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุฑูŽุงู‡ู ุฃูŽุณู’ู‡ูŽู„ูŽ ู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ูŠูุถูŽูŠูŽู‘ุนู
โ€œWaktu adalah perkara paling mahal yang perlu kamu perhatikan untuk dijaga namun, aku malah melihatnya paling mudah untuk kamu menyia-nyiakannya.โ€

Sebagai penutup, sadarilah bahwa kita semua memiliki aktivitas dan kesibukkan. Jika diri kita tidak disibukkan dengan aktivitas yang baik dan bermanfaat, maka konsekuensinya kita akan disibukkan dengan aktivitas yang buruk dan tidak bermanfaat.

Sebagaimana Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata;

โ€ŽูˆูŽู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ุฅูู†ู’ ุฃูŽุดู’ุบูŽู„ูŽุชู’ู‡ูŽุง ุจูุงู„ุญูŽู‚ูู‘ ูˆูŽุฅูู„ุงูŽู‘ ุงุดู’ุชูŽุบูŽู„ูŽุชู’ูƒูŽ ุจูุงู„ุจูŽุงุทูู„ู
โ€œJika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti kamu akan disibukkan dengan hal-hal yang buruk.โ€
(Al-Jawabu Al-Kafi, hlm.156)

Teruslah belajar! Teruslah belajar! Dan teruslah belajar! Karena dengan belajar, kita akan memiliki ilmu, dan dengan ilmu kita bisa mengetahui mana hal yang benar untuk kita lakukan dan mana hal yang salah untuk kita tinggalkan.

Semoga Allah azza wa jalla selalu beri kemudahan untuk kita beribadah kepadaNya dan mengikuti sunnah NabiNya dengan istiqamah. Aamiin

Dijawab oleh: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMenentukan Awal Bulan Ramadhan
Artikel sesudahnyaGaris Finis
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here