Beranda Belajar Islam Amalan Pikir-Pikir Dulu

Pikir-Pikir Dulu

159
0
BERBAGI

Pikir-Pikir Dulu

Pernyataan di atas adalah sebuah ungkapan yang mewakili keraguan seseorang terhadap sesuatu. Bisa jadi itu adalah alasan untuk mencari solusi atas ketidak mampuannya, atau hanya untuk menutupi keraguannya.

Istilah “pikir-pikir dulu” biasanya digunakan untuk dua tujuan, di antaranya;

A. Berpikir Sebelum Bermaksiat

Sebetulnya, istilah semacam itu ada baiknya untuk kita gunakan, yaitu ketika kita akan melakukan hal-hal buruk (maksiat). Karena kita bisa berpikir, bahwa ada banyak firman Allah, sabda Nabi, dan perkataan para ulama yang melarang kita dari melakukan berbagai kemaksiatan serta kezhaliman.

Misal: Ketika kita dihadapkan pada suatu peluang untuk berzina, bertransaksi riba, berjudi, bermusuhan, bergosip (ghibah), berlaku curang, dan berbagai macam kemaksiatan serta kezhaliman lainnya, kita berusaha untuk memikirkannya dan mempertimbangkannya dengan teliti, cermat dan matang, agar diri kita tidak binasa, tidak mendapatkan kerugian dari dampak maksiat, dan tidak terjerumus dalam gelapnya dosa. Sebagaimana di antara dalil yang melarang perbuatan-perbuatan maksiat dan zhalim di atas yang bisa kita pikirkan adalah;

1. Tentang zina.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina! Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”
(Surat Al-Isra: ayat 32)

2. Tentang riba.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 275)

3. Tentang judi.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan tersebut agar kalian beruntung!”
(Surat Al-Maidah: ayat 90)

4. Tentang permusuhan.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Sesungguhnya orang yang paling Allah benci adalah orang yang keras kepala lagi suka bermusuhan.”
(HR. Imam Muslim, no.4821)

5. Tentang gosip (ghibah).
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ اِغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Tahukah kalian, apa itu ghibah (gosip)? Para Sahabat menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Beliau bersabda: Yaitu kamu menceritakan tentang saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai. Seorang Sahabat bertanya: Bagaimana jika apa yang aku ceritakan itu memang benar-benar ada padanya? Beliau bersabda: Jika apa yang kamu ceritakan itu memang benar ada padanya, maka berarti kamu telah berbuat ghibah terhadapnya, dan jika tidak benar, berarti kamu telah membuat kebohongan (dusta) terhadapnya.”
(HR. Imam Muslim, no.2589)

6. Tentang berlaku curang.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa membawa pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami. Dan barang siapa menipu kami, maka dia juga bukan golongan kami.”
(HR. Imam Muslim, no.146)

7. Tentang zhalim.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Allah tabaraka wa taala berfirman;

‎يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا
“Wahai hambaKu, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diriKu untuk berbuat zhalim, dan perbuatan zhalim itu pun Aku haramkan di antara kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian saling berbuat zhalim!”
(HR. Imam Muslim, no.4674)

8. Tentang dosa.
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata;

‎إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ
“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis (kecil) seperti sehelai rambut namun, kami (para Sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam menganggap dosa seperti itu termasuk dosa besar.”
(HR. Imam Bukhari, no.6011)

9. Tentang kebaikan dan dosa.
Sahabat An-Nawwas bin Siman Al-Anshari radhiyallahu anhu berkata;

‎سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ: الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang arti kebaikan dan dosa. Beliau berkata: Kebaikan itu adalah budi pekerti yang baik. Sedangkan dosa adalah perbuatan atau tindakan yang menyesakkan dada, dan kamu sendiri benci jika perbuatanmu itu diketahui orang lain.”
(HR. Imam Muslim, no.4632)

10. Tentang maksiat.
Imam Bilal bin Saad rahimahullah berkata;

‎لَا تَنْظُرُ إِلٰى صَغِرِ الْمَعْصِيَةِ وَ لَكِنْ اُنْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ
“Janganlah kamu melihat kecilnya maksiat, tetapi lihatlah terhadap siapa kamu bermaksiat!”
(Ad-Dau Wa Ad-Dawau, hlm.82)

B. Berpikir Sebelum Beribadah

Sebetulnya, istilah semacam itu ada buruknya untuk kita gunakan, yaitu ketika kita akan melakukan hal-hal baik (ibadah). Karena kita bisa berpikir, bahwa ada banyak firman Allah, sabda Nabi, dan perkataan para ulama yang memerintahkan kita untuk mengerjakan berbagai ibadah serta kebaikan.

Misal: Ketika kita dihadapkan pada suatu peluang untuk mengerjakan shalat, melaksanakan puasa, menunaikan zakat, bertaubat, menuntut ilmu agama, berdakwah, membantu orang, dan berbagai macam ibadah serta kebaikan lainnya, kita berusaha untuk memikirkannya dan mempertimbangkannya dengan teliti, cermat dan matang, agar diri kita bisa mendapatkan pahala, merasakan dampak kebaikan serta ketenangan jiwa, tidak kehilangan kesempatan untuk berbuat baik, bisa memanfaatkan jiwa serta harta di jalan Allah, dan berbagai keutamaan lainnya. Sebagaimana di antara dalil yang memerintahkan perbuatan-perbuatan ibadah dan kebaikan di atas yang bisa kita pikirkan adalah;

1. Tentang shalat.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ. إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ . فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ. عَنِ الْمُجْرِمِينَ. مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ. وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ. وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ. وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ. حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ
“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam Surga. Mereka bertanya-tanya tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa: Apakah yang menyebabkan kalian masuk ke dalam Neraka Saqar? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak juga memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan sesuatu yang buruk bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.”
(Surat Al-Mudatstsir: ayat 38-47)

2. Tentang puasa.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan juga terhadap orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 183)

3. Tentang zakat.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ
“Dan dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 43)

4. Tentang taubat.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang tulus!”
(Surat At-Tahrim: ayat 8)

5. Tentang berdakwah.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru pada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar! Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Surat Ali Imran: ayat 104)

6. Tentang menuntut ilmu agama.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang yang beragama Islam.“
(HR. Ibnu Majah, no.220)

7. Tentang sedekah.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

وَأَمَرَكُمْ بِالصَّدَقَةِ وَمِثْلُ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَسَرَهُ الْعَدَوُّ فَأَوْثَقُوا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ وَقَرَّبُوهُ لِيَضْرِبُوا عُنُقَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ هَلْ لَكُمْ أَنْ أَفْدِيَ نَفْسِي مِنْكُمْ وَجَعَلَ يُعْطِي الْقَلِيلَ وَالْكَثِيْرَ حَتَّى فَدَى نَفْسَهُ
“Aku perintahkan kalian untuk banyak bersedekah! Perumpamaan sedekah seperti orang-orang yang ditawan oleh musuhnya dan tangannya diikat di lehernya. Ketika mereka hendak dipenggal kepalanya, salah seorang bertanya: Bolehkah aku tebus diriku sehingga tidak kalian bunuh? Kemudian dia memberikan yang dimiliki, sedikit atau banyak, sampai dia berhasil menebus dirinya.”
(HR. Al-Albani, Shahih At-Targhib, no.1498)

8. Tentang membantu orang.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang sangat bermanfaat bagi manusia. Ada pun amalan yang paling dicintai oleh Allah taala adalah membuat seorang muslim yang lain bahagia, menghilangkan kesusahannya atau membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya.”
(HR. At-Thabrani, Al-Mujam Al-Kabir, no.13280. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

9. Tentang ibadah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;

‎اَلْعِبَادَةُ هِيَ اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ ِوَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ
“Ibadah adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan semua yang dicintai dan diridhai oleh Allah, berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir atau pun bathin.”
(Risalah Al-Ubudiyyah, hlm.2)

10. Tentang kebaikan.
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata;
“Al-Birru (kebaikan) adalah satu kata yang mencakup setiap perbuatan baik dan perkara-perkara mulia. Sebagaimana di dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendefinisikan Al-Birru (kebaikan) dengan akhlak yang mulia. Sedangkan dalam hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendefinisikan Al-birru (kebaikan) dengan sesuatu yang membuat jiwa menjadi tenteram.”
(Qawaidu Wa Fawaidu, hlm.239)

C. Nasihat Untuk Umat Islam

1. Mengingat tujuan Allah menciptakan manusia.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.”
(Surat Adz-Dzariyat: ayat 56)

2. Berwaspada terhadap kenikmatan yang membuat terlena.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang Allah berikan dan sering dilupakan oleh kebanyakan manusia, yaitu: Kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Imam Bukhari, no.5933)

3. Bersegera dalam beramal.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata;

‎اِبْنَ آدَمَ إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيْفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدٍّ فَإِنْ يَكُنْ غَدٌّ لَكَ فَكُنْ فِي غَدٍّ كَمَا كُنْتَ فِيْ الْيَوْمَ وَإِلَّا يَكُنْ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِيْ الْيَوْمِ
“Wahai anak Adam, janganlah kamu menunda-nunda amalan! Karena kamu memiliki kesempatan pada hari ini, ada pun besok pagi belum tentu kamu memilikinya. Jika kamu bertemu besok hari, maka lakukanlah pada esok hari itu, sebagaimana kamu lakukan pada hari ini. Jika kamu tidak bertemu esok hari, kamu tidak akan menyesali sikapmu yang menyia-nyiakan hari ini.”
(Taqrib Zuhd, 1:28)

4. Memanfaatkan waktu.
Para penyair berkata;

‎وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ، وَأَرَاهُ أَسْهَلَ مَا عَلَيْكَ يُضَيَّعُ
“Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu kamu perhatikan untuk dijaga namun, aku malah melihatnya paling mudah untuk kamu menyia-nyiakannya.”

Sebagai penutup, sadarilah bahwa kita semua memiliki aktivitas dan kesibukkan. Jika diri kita tidak disibukkan dengan aktivitas yang baik dan bermanfaat, maka konsekuensinya kita akan disibukkan dengan aktivitas yang buruk dan tidak bermanfaat.

Sebagaimana Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata;

‎وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ
“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti kamu akan disibukkan dengan hal-hal yang buruk.”
(Al-Jawabu Al-Kafi, hlm.156)

Penjelasan dan contoh mengenai maksiat, zhalim, ibadah dan muamalah di atas adalah hanya sebagian kecil dari penjelasan para ulama yang berdasarkan firman Allah dan sabda Rasulullah, karena masih sangat banyak lagi penjelasan dan contoh yang tidak bisa penulis tuliskan, disebabkan keterbatasan ilmu dan waktu.

Ini adalah salah satu manfaat dari mempelajari ilmu Islam. Dengan ilmu kita bisa mengetahui mana yang benar untuk kita kerjakan, dan mana yang salah untuk kita tinggalkan. Maka dari itu, teruslah bersemangat untuk belajar, belajar, dan belajar! Sadarilah, bahwa masih sangat banyak ilmu yang belum kita ketahui, dan ibadah yang belum kita kerjakan! Sehingga, tidak perlu bagi kita untuk mencari dan menyibukkan diri dengan selain ilmu dan ibadah.

Mari kita isi sisa usia yang Allah masih berikan kepada kita untuk hal-hal yang bernilai ibadah dan bermanfaat! Jangan sampai, ketika kita berada dalam keadaan mampu untuk melakukan berbagai macam ibadah dan hal bermanfaat, kita malah enggan untuk melakukannya. Dan ketika kita berada dalam keadaan tidak mampu untuk melakukannya, kita malah berkeinginan untuk melakukannya!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima hal sebelum lima hal, yaitu: Masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, waktu sehatmu sebelum tiba waktu sakitmu, masa kaya (lapang)mu sebelum tiba masa kefakiran (miskin)mu, waktu luangmu sebelum tiba waktu sibukmu, masa hidupmu sebelum tiba masa matimu!”
(HR. Al-Albani, Shahihu Al-Jami, no.1077)

Semoga melalui tulisan ini, Allah azza wa jalla jadikan sebab hidayah dan taufiq untuk diri penulis dan para pembaca, sehingga bisa membuat diri kita lebih giat dan bersemangat untuk memanfaatkan waktu dengan aktivitas yang bernilai ibadah dan bermanfaat secara istiqamah. Aamiin
___
@ Kota Angin Majalengka, Jawa Barat.
11 Syaban 1440 H/17 April 2018 M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaBuku: Agar Ilmu Menjadi Berkah
Artikel sesudahnyaPasar & Toko Tutup Sementara
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here