Beranda Belajar Islam Amalan Bekal Untuk Umat Islam Menghadapi Demokrasi

Bekal Untuk Umat Islam Menghadapi Demokrasi

502
0
BERBAGI

Bekal Untuk Umat Islam Menghadapi Demokrasi

A. Mengenal Demokrasi

Pada situs website Wikipedia, terdapat beberapa definisi atau penjelasan mengenai demokrasi dari para ahli, di antaranya;

1. Abraham Lincoln.
Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
2. Charles Costello.
Demokrasi adalah sistem sosial dan politik pemerintahan diri dengan kekuasaan-kekuasaan pemerintah yang dibatasi hukum dan kebiasaan untuk melindungi hak-hak perorangan warga negara.
3. John L. Esposito.
Demokrasi pada dasarnya adalah kekuasaan dari dan untuk rakyat. Oleh karenanya, semuanya berhak untuk berpartisipasi, baik terlibat aktif mau pun mengontrol kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, tentu saja lembaga resmi pemerintah terdapat pemisahan yang jelas antara unsur eksekutif, legislatif, atau pun yudikatif.
4. Hans Kelsen.
Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang melaksanakan kekuasaan negara ialah wakil-wakil rakyat yang terpilih. Di mana rakyat telah yakin, bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan di dalam melaksanakan kekuasaan negara.
5. Sidney Hook.
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.
6. C.F. Strong.
Demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan di mana mayoritas anggota dewan dari masyarakat ikut serta dalam politik atas dasar sistem perwakilan yang menjamin pemerintah akhirnya mempertanggung-jawabkan tindakan-tindakannya pada mayoritas tersebut.
7. Hannry B. Mayo.
Kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana di mana terjadi kebebasan politik.
8. Merriem.
Demokrasi dapat didefinisikan sebagai pemerintahan oleh rakyat, khususnya oleh mayoritas. Pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi tetap pada rakyat dan dilakukan oleh mereka baik langsung atau tidak langsung, melalui sebuah sistem perwakilan yang biasanya dilakukan dengan cara mengadakan pemilu bebas yang diadakan secara periodik, rakyat umum khususnya untuk mengangkat sumber otoritas politik, tiadanya distingsi kelas atau privelese berdasarkan keturunan atau kesewenang-wenangan.
9. Samuel Huntington.
Demokrasi ada jika para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sebuah sistem, dipilih melalui suatu pemilihan umum yang adil, jujur dan berkala dan di dalam sistem itu para calon bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir seluruh penduduk dewasa dapat memberikan suara.

B. Menyikapi Demokrasi

Merupakan bagian dari demokrasi adalah serikat (berkumpul, berkelompok atau bergolongan). Sedangkan serikat di dalam demokrasi ada dua macam, yaitu: Serikat dalam politik (partai), dan serikat dalam pemikiran.

1. Serikat politik.
Serikat politik (partai politik) adalah membuka peluang bagi semua kelompok atau golongan untuk menguasai umat Islam dengan cara pemilu, tanpa memedulikan pemikiran dan keyakinan mereka, berarti maksudnya penyamaan antara muslim dan non muslim (kafir).

Padahal Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.”
(Surat An-Nisa: ayat 141)

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ. مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
“Maka apakah patut (layak) Kami menjadikan orang-orang yang beriman (orang Islam) itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kalian (berbuat demikian), bagaimanakah kalian mengambil keputusan?
(Surat Al-Qalam: ayat 35-36)

Selain itu, hal tersebut juga menyelisihi dalil-dalil qathi yang melarang umat Islam untuk menyerahkan kepemimpinan kepada selain dari umat Islam.

Allah azza wa jalla berfirman;

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin bagi kalian! Karena sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”
(Surat Al-Maidah: ayat 51)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud dari ayat tersebut dengan menukil sebuah kisah dari Sahabat Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu, beliau bercerita;
“Bahwasanya Umar bin Khatthab memerintahkan Abu Musa Al-Asyari, bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nashrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tersebut. Umar bin Khatthab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Umar berkata: Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami? Abu Musa menjawab: Dia tidak bisa masuk ke tanah Haram. Umar bertanya: Mengapa? Apa karena dia junub? Abu Musa menjawab: Bukan, karena dia seorang Nashrani. Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku, lalu berkata: Pecat dia! Umar lalu membacakan ayat: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin kalian! Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 3:132)

‎وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zhalim, yang menyebabkan kalian disentuh api Neraka, dan sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain dari pada Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.”
(Surat Hud: ayat 113)

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil orang-orang yang di luar kalangan kalian menjadi teman kepercayaan (pemimpin) kalian, karena mereka tidak akan henti-hentinya (menimbulkan) keburukan bagi kalian. Mereka menyukai sesuatu yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan sesuatu yang disembunyikan oleh hati-hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.”
(Surat Ali-Imran: ayat 118)

‎لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
“Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin, dengan meninggalkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)Nya. Dan hanya kepada Allah tempat kembali.”
(Surat Ali Imran: ayat 28)

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma menjelaskan;
“Allah subhanahu wa taala melarang umat Islam untuk menjadikan orang kafir sebagai orang dekat atau orang kepercayaan, padahal ada orang yang beriman. Kecuali jika orang-orang kafir telah menguasai mereka, sehingga umat Islam menampakkan kebaikan kepada mereka dengan tetap menyelisihi mereka dalam masalah agama. Sebagaimana Allah taala berfirman: Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.”
(Tafsir Ath-Thabari, hlm.6825)

Karena dampak dari serikat adalah menyebabkan perpecahan, permusuhan, dan perselisihan. Oleh sebab itu mereka pasti akan mendapatkan adzab Allah.

Sebagaimana Allah azza wa jalla juga berfirman;

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”
(Surat Ali-Imran: ayat 105)

Selain itu, Allah juga berlepas diri dari mereka. Allah berfirman;

‎إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamaNya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikit pun tanggung-jawabmu terhadap mereka.”
(Surat Al-Anam: ayat 159)

Sehingga, jika ada di antara kita yang beranggapan, bahwa berserikat dalam demokrasi ini hanya dalam program politik saja, bukan dalam sistem, atau disamakan dengan perbedaan madzhab fikih di antara para ulama, maka realita yang sudah ada dan sudah terjadi saat ini, sangatlah berbeda dengan anggapan tersebut, dan ternyata realita ini juga membantah anggapan tersebut.

Hal tersebut disebabkan karena program setiap partai muncul bukan berdasarkan hukum Allah, tapi berdasarkan pemikiran dan aqidah mereka. Sehingga program sosialisme bersumber dari pemikiran dasar sosialisme mereka, lalu sekularisme bersumber dari dasar-dasar demokrasi, dan berlaku seperti itu seterusnya.

2. Serikat pemikiran.
Serikat pemikiran adalah manusia berada dalam naungan sistem demokrasi, mereka memiliki kebebasan untuk memiliki keyakinan apa pun sesuai keinginan dan seleranya. Mereka bebas untuk keluar dari Islam (murtad), beralih agama menjadi Yahudi, Nashrani, atheis (anti tuhan), sosialis, sekuler, atau agama lainnya. Dan sebetulnya ini semua adalah bukti kemurtadan yang nyata.

Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُم. ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (pada kekafiran) setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang munafiq) itu berkata kepada orang-orang yang benci terhadap sesuatu yang diturunkan Allah (orang Yahudi): Kami akan mematuhi kalian dalam beberapa (sebagian) urusan, sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka.”
(Surat Muhammad: ayat 25-26)

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Barang siapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 217)

Betapa sempurnanya agama Islam dan betapa indahnya syariat Islam. Islam sudah menjelaskan semua hal dan keadaan yang terjadi, baik berupa ibadah atau pun muamalah.

Betapa banyaknya dalil dari firman Allah, sabda Rasulullah, dan perkataan ulama yang menjelaskan tentang buruk dan kejinya sistem demokrasi dengan segala dampak dan hal yang berkaitan dengannya.

Sadarlah saudara-saudariku, jangan sampai hawa nafsu kita berani menentang firman Allah, sabda Rasulullah dan perkataan para ulama!

C. Polemik Demokrasi

Dalam menghadapi sistem demokrasi, sering kali kita selaku umat Islam mengalami kebingungan dalam menentukan sikap. Cukup banyak permasalahan seputar demokrasi yang sampai saat ini masih belum diketahui solusinya oleh umat Islam. Di antara polemiknya adalah;

1. Hukum sistem demokrasi.
Demokrasi adalah sistem duniawi, yaitu sistem yang berlaku untuk rakyat adalah milik rakyat. Maka sebab itu, sistem tersebut bertentangan dengan Islam. Karena dalam syariat Islam hanya hukum milik Allah yang maha tinggi dan maha mulia. Hak untuk menetapkan peraturan atau perundangan tidak boleh diberikan kepada manusia.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

‎مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآَبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Kalian tidak menyembah dari selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian membuatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama tersebut. Ada pun keputusan itu hanyalah kepunyaan (milik) Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(Surat Yusuf: ayat 40)

‎إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”
(Surat Al-Anam: ayat 57)

Tidak diragukan lagi, bahwa sistem demokrasi merupakan salah satu bentuk syirik modern dalam hal ketaatan, ketundukan dan dalam penetapan konstitusi. Karena hal tersebut menggugurkan kekuasaan Allah taala dan hakNya yang mutlaq dalam menetapkan syariat dengan menjadikannya sebagai hak makhluq.
(Mausuah Al-Adyan Wa Al-Mazahib Al-Muashirah, 2:1066-1067)

2. Hukum menduduki jabatan di dalam kursi parlemen melalui demokrasi.
Barang siapa yang menyadari kedudukan dan hukum sistem demokrasi, kemudian dia mencalonkan dirinya atau mencalonkan orang lain dengan mengakui kebenaran sistem demokrasi, maka dia berada dalam bahaya dan kesalahan yang besar. Karena sistem demokrasi meniadakan syariat Islam, sebagaimana telah disebutkan di atas.

Sedangkan, keadaan orang yang mencalonkan dirinya atau mencalonkan orang lain dalam naungan sistem ini, dengan tujuan agar bisa masuk ke dalam parlemen dan bisa tetap mengingkari para pendukung demokrasi, lalu bisa menyampaikan pendapatnya di hadapan mereka, dan meminimalisir keburukan dan kerusakan semampunya, sehingga keadaan parlemen tidak dikuasi oleh para pendukung kerusakan dan kekufuran, yang mereka memiliki tujuan untuk berbuat kerusakan di muka bumi, untuk merusak urusan dunia dan akhirat rakyat. Hal semacam ini merupakan permasalahan ijtihad para ulama berdasarkan ilmu bukan hawa nafsu, karena mereka mempertimbangkan kebaikan yang diharapkan dapat diraih dari upaya tersebut, sehingga sebagian ulama memiliki pendapat, bahwa masuk ke dalam pemilu seperti kasus tersebut adalah wajib.

Fadhilatu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum pemilu. Beliau menjawab;
“Aku berpendapat bahwa pemilu wajib hukumnya. Wajib bagi kita untuk menetapkan orang yang kita anggap baik. Karena jika bukan orang-orang baik yang menempatinya, lalu siapa yang akan menempati posisi tersebut? Yang akan menempati posisi mereka adalah para pengusung kemungkaran atau orang-orang yang tidak jelas, yang tidak memiliki nilai kebaikan, atau hanya keburukan yang mereka ikuti. Maka kita harus memilih orang yang kita anggap baik. Jika ada yang mengatakan: Kami telah pilih salah seorang, akan tetapi mayoritas anggota dewan bernilai sebaliknya. Maka kita katakan tidak mengapa. Satu orang ini jika Allah berikan keberkahan kepadanya untuk menyampaikan yang hak (benar) di majelis parlemen tersebut, sehingga akan memiliki pengaruh (dampak) baik. Akan tetapi yang kurang pada kita adalah jujur kepada Allah. Kita sering hanya bersandar pada perkara-perkara fisik, tidak memperhatikan firman Allah taala. Maka calonkanlah orang yang kamu anggap baik dan bertawakkallah kepada Allah!”
(http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=27483)

3. Hukum mencalonkan diri dan memberikan suara dalam pemilu.
Lajnah Daimah Li Al-Ifta pernah mendapatkan pertanyaan semacam itu. Lalu mereka menjawab;
“Tidak boleh bagi seseorang untuk mencalonkan diri untuk dapat masuk dalam jajaran pemerintahan yang tidak berhukum terhadap sesuatu yang telah Allah turunkan, serta mengamalkan selain syariat Islam. Tidak dibolehkan bagi seorang muslim untuk memilihnya atau memilih orang lain dalam pemerintahan tersebut, kecuali jika ada seorang muslim mencalonkan diri atau mereka yang memilihnya bertujuan masuk ke dalamnya untuk merubah pemerintahan tersebut agar beramal dalam syariat Islam, serta menjadikan hal tersebut sebagai sarana untuk mengatasi sistem pemerintahan tersebut. Dengan catatan bahwa orang yang mencalonkan diri tersebut apabila benar-benar telah masuk tidak menjabat suatu jabatan yang yang bertentangan dengan syariat Islam.”
(Fatawa Lajnah Daimah, 23:406)

Kita boleh saja tidak sependapat dengan fatwa tersebut, karena merajihkan atau mengambil pendapat selainnya yang melarang. Tapi inilah realita dari pendapat yang muncul di kalangan para ulama.

Fatwa semacam ini banyak dikeluarkan oleh para ulama, yang secara umum berujung pada pertimbangan mashlahat (kebaikan) dan mafsadat (keburukan). Sehingga, siapa pun yang melihat adanya mashlahat yang lebih besar, maka keikutsertaan atau partisipasi dalam hal tersebut diperbolehkan. Dan sebaliknya, siapa pun yang melihat mafsadat lebih besar, maka partisipasi dalam hal tersebut menjadi terlarang.

Permasalahan mencalonkan diri dalam parlemen dan ikut memberikan suara dalam pemilu adalah masalah ijtihadi dari para ulama. Hal tersebut bukan masalah prinsip yang menjadi pembeda antara Ahlussunnah dan non-Ahlussunnah. Seharusnya hal tersebut juga tidak menjadi masalah yang kita jadikan alasan untuk mencela orang yang tidak sependapat dengan kita.

Sehingga, sangat memungkinkan bagi seorang muslim yang berusaha mengikuti sunnah Nabi dan atsar para Sahabat (salafi) untuk ikut berpartisipasi memberikan suaranya dalam sebuah pemilu, jika memang dilihat adanya pertimbangan lebih banyak mashlahat dari pada mafsadat, sesuai dengan pertimbangan ilmu bukan hawa nafsu.

Jika ada yang bertanya: Kalau seorang salafi juga ikut berperan dalam pemilu, lalu apa bedanya dengan kelompok hizbi atau haraki (pergerakan)?

Maka dijawab: Berdasarkan penjelasan dalil dan hujjah dari para ulama di atas, pembeda antara salafi dan haraki dalam masalah ini adalah seorang salafi yang ikut berperan dalam pemilu atau parlemen hanya sebatas menginginkan kebaikan, mendapatkan kemashlahatan, dan menghilangkan kemafsadatan. Muslim salafi tidak berloyalitas (setia atau komitmen), kecuali terhadap kebenaran. Dan salafi tidak masuk ke dalam suatu keadaan, kecuali dengan ilmu bukan hawa nafsu.

Syaikh Shalih bin Ghanim As-Sadlan rahimahullah menjelaskan;
“Harus benar-benar dipastikan apakah permasalahannya adalah termasuk perkara agama yang wajib diketahui secara pasti? Karena terkadang keyakinan terhadap perkara yang rajih (kuat) dalam diri seseorang membuatnya sangat bersemangat dalam mempertahankannya hingga berlebihan dalam memposisikannya. Contohnya adalah ijtihad orang yang tidak membolehkan ikut dalam pemilihan umum dan duduk di parlemen. Terkadang mereka bersikap ekstrim dan memasukkan masalah ini sebagai perkara pokok agama yang wajib diketahui dengan pasti, lalu dengan serta-merta dia memusuhi orang yang menyelisihinya, dan terkadang juga dia menerjemahkan berpartisipasi dalam pemilihan umum sebagai suatu bentuk loyalitas terhadap non-muslim. Padahal sebenarnya permasalahan ini sangat lapang, tidak sesempit ijtihad seperti ini (yang tidak membuka ruang perbedaan pendapat.”
(Al-Itilaf Wa Al-Ikhtilaf Asasuhu Wa Dhawabithuhu, hlm.83)

4. Hukum memilih orang atau partai yang menolak syariat Islam.
Lajnah Daimah Li Al-Ifta juga pernah mendapatkan pertanyaan demikian. Lalu mereka menjawab;
“Bagi seorang muslim yang tinggal di negara yang tidak melaksanakan syariat Islam untuk berusaha sekuat tenaga dan semampu mereka untuk berhukum terhadap syariat Islam. Bekerjasama dan tolong-menolong untuk membantu partai yang diketahui bahwa dia akan menerapkan syariat Islam. Ada pun membantu orang yang menyerukan untuk tidak berhukum kepada syariat Islam, maka hal tersebut tidak boleh, bahkan dapat mengakibatkan kekufuran untuk pelakunya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut sesuatu yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian sesuatu yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (Surat Al-Maidah: ayat 49-50).

Maka sebab itu, ketika Allah menjelaskan kekufuran orang-orang yang tidak berhukum terhadap syariat Islam, Allah pun memperingatkan agar umat Islam tidak membantu mereka dan menjadikan mereka sebagai pemimpin, lalu Allah perintahkan orang-orang beriman untuk tetap bertaqwa kepadaNya.

Allah taala juga berfirman;
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang yang membuat agama kalian sebagai bahan ejekan dan permainan menjadi pemimpin kalian, yaitu di antara orang-orang yang telah diberi Al-Kitab sebelum kalian dan orang-orang yang kafir (musyrik). Dan bertaqwalah kepada Allah, jika kalian benar-benar termasuk golongan orang yang beriman. (Surat Al-Maidah: ayat 57).”
(Fatawa Lajnah Daimah, 1:373)

5. Hukum pilpres, pilkada dan pileg.
Fadhilatus Syaikh Sulaiman bin Salimillah Ar-Ruhaili hafizhahullah pernah mendapat pertanyaan berkenaan dengan hukum ikut serta dalam pemilu. Lalu beliau menjawab;
“Tentunya dalam permasalahan pemilu ini, ada hal yang harus kita pahami, berdasarkan sesuatu yang sudah kita yakini, bahwa pemilu itu tidak termasuk cara yang sesuai syariat Islam. Karena maksud dari pemilu itu kembali kepada prinsip: Hukum dari rakyat untuk rakyat. Dan hal ini secara hukum asal bukan merupakan cara yang sesuai syariat Islam. Namun, jika manusia dihadapkan pada kenyataan pemilu, dan ini benar-benar ada serta nyata, apakah kita boleh ikut serta atau tidak ?

Maka yang aku yakini dalam permasalahan ini, bahwa pemilu tasyriiyah atau pemilu yang dilakukan untuk memilih anggota badan legislatif yang bertugas menyusun syariat atau hukum, maka tidak boleh ikut serta di dalamnya secara mutlak (keseluruhan). Karena pemilihan dalam pembuatan syariat atau hukum itu maknanya kita mewakilkan kepada anggota badan legislatif agar mereka membuat syariat atau undang-undang. Tidak boleh seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk membuat syariat, karena membuat syariat itu hanya hak Allah subhanahu wa taala.

Ada pun pemilihan tanfidziyah seperti pemilihan pemimpin sebuah negara atau yang semisalnya, itu termasuk permasalahan mashlahat dan mafsadat. Jika tampak adanya mashlahat dalam memberikan suara, atau adanya mafsadat jika tidak memberikan suara, maka ketika itu aku berpendapat bolehnya ikut serta memberikan suara di dalam pemilu tersebut.

Misalnya: Kita memiliki dua calon (kandidat) pemimpin untuk suatu kedudukan, entah kedua calon tersebut sama-sama kafir atau sama-sama muslim. Akan tetapi salah satunya mengancam keberadaan dakwah salafiyah, dia mengancam akan menutup masjid-masjid, radio-radio dakwah dan seterusnya. Sedangkan, kandidat yang lain, sebagaimana yang dikatakan orang-orang dia itu demokratis, dia akan memberikan kebebasan kepada manusia sesuai pilihannya dan seterusnya, dan seterusnya. Pada kondisi semacam ini, jika kandidat pertama menang, akan menyebabkan kerusakan pada dakwah, dalam hal ini aku berpendapat boleh memilih orang yang paling sedikit dampak kerusakannya terhadap umat Islam dan dakwah, begitu pun contoh-contoh kondisi yang semisalnya.

Ada pun jika mashlahat dan mafsadat tidak tampak, aku berpendapat tidak boleh ikut memilih. Jika dengan pemilu tidak tampak adanya mashlahat dan dengan meninggalkan memilih tidak tampak adanya mafsadat, maka aku berpendapat bahwa ikut serta dalam pemilihan tidak boleh.”
(https://www.youtube.com/watch?v=SPSMuGYAfs8)

D. Kerusakan Demokrasi

1. Terjadinya suap-menyuap.
Sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma berkata;

‎لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi uang suap (sogokan) dan orang yang menerima suapan.”
(HR. Abu Dawud, no.3109)

Sebetulnya, orang-orang yang memberi suapan adalah orang-orang yang tamak (rakus) dan gila terhadap kekuasaan. Pada saat sudah memegang puncak kekuasaan, mereka pun ingin harta yang sudah digunakan untuk suap-menyuap tersebut nominalnya bisa kembali, sehingga mereka berusaha untuk mendapatkan ganti-rugi dari modal mendapatkan jabatan tersebut dengan menghalalkan berbagai upaya, misal: Korupsi, pengkhianatan terhadap uang rakyat dan negara, dan beberapa cara buruk lainnya. Padahal orang yang tamak terhadap kekuasaan telah dicela oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan dia akan menyesal pada hari Kiamat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ عَلَى الْإِمَارَةِ، وَسَتَكُوْنُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ
“Sesungguhnya kalian akan berambisi terhadap kepemimpinan (jabatan), dan hal tersebut nantinya akan menjadi penyesalan pada hari Kiamat. Maka seperti kenikmatan (bayi) yang menyusu dan kejelekan (bayi) yang disapih.”
(HR. Imam Bukhari, no.7148)

Maksud dari pernyataan kenikmatan bayi yang menyusu adalah nikmat mendapat kedudukan, harta, kelezatan yang nyata dan tidak nyata ketika dia mendapatkan kepemimpinan tersebut. Dan maksud dari kejelekan bayi yang disapih adalah ketika dia berpisah (lengser) dari kepemimpinan dengan sebab kematian atau dengan sebab lainnya, dan juga keburukan ketika mendapatkan hukuman di akhirat atas kepemimpinan tersebut.

Imam Al-Muhallab rahimahullah berkata;
“Ambisi manusia terhadap jabatan dan kedudukan (kepemimpinan) merupakan sebab terjadinya peperangan di antara manusia sampai banyak orang yang terbunuh, harta mereka dirampas, kemaluan mereka diperkosa dan juga berbagai kerusakan besar yang terjadi di muka bumi dengan sebab ketamakan manusia terhadap kepemimpinan.”
(Fathu Al-Bari, 13:126)

Demikian juga perhatikanlah nasihat Rasulullah kepada Sahabat Abu Dzar.

Sahabat Abu Dzar radhiyallahu anhu berkata;

‎ قُلْتُ يَارَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
“Aku berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pegawai (pejabat)? Abu Dzar berkata: Kemudian beliau menepuk bahuku dengan tangan beliau, seraya bersabda: Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari Kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa pun yang mengambilnya dengan hak dan melaksanakan tugas tersebut dengan benar.”
(HR. Imam Muslim, no.1825)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Barang siapa yang mencari kekuasaan dengan ketamakan, maka dia tidak akan ditolong oleh Allah.”
(Fathu Al-Bari, 13:124)

2. Wanita yang menjadi calon pemimpin.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎اَلرِّجَالُ قَوّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Laki-laki itu pelindung (pemimpin) bagi wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).”
(Surat An-Nisa: ayat 34)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan;
“Maksudnya adalah seorang laki-laki pemimpin bagi wanita. Dialah kepalanya, pemimpinnya dan pemberi keputusan serta mendidiknya jika bengkok. Karena laki-laki lebih mulia dan lebih baik dari wanita. Maka sebab itu, kenabian dikhususkan bagi laki-laki. Demikian juga halnya dalam masalah jabatan hakim.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 1:492)

Abu Bakrah rahimahullah berkata;

‎لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
“Ketika sampai sebuah berita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa penduduk Persia telah dipimpin oleh seorang wanita, yaitu putri raja Kisra, beliau bersabda: Suatu kaum tidak akan beruntung (bahagia), jika dipimpin oleh seorang wanita.”
(HR. Imam Bukhari, no.4073)

Para ahli fiqih telah sepakat, bahwa di antara syarat seorang pemimpin besar adalah laki-laki. Tidak boleh kepemimpinan diserahkan kepada wanita. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (di atas).”
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah, 21:270)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata;
“Di dalamnya terdapat dalil, bahwa seorang wanita tidak berhak menduduki kepemimpinan dan tidak boleh bagi masyarakat untuk mengangkatnya karena mereka harus menghindari segala sesuatu yang dapat menyebabkan mereka (rakyat) tidak beruntung.”
(Nailu Al-Authar, 8:305)

Bukti lainnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam semasa hidupnya tidak pernah mengangkat seorang wanita sebagai pemimpin. Dan dalam shalat berjamaah pun, seorang wanita tidak boleh menjadi imam bagi kaum laki-laki.

Secara umum, wanita mutlak tidak boleh menjadi pemimpin, kecuali menjadi pemimpin di rumah suaminya.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَ
“Seorang wanita (istri) adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung-jawaban atas urusan rumah tangganya tersebut.”
(HR. Imam Bukhari, no.2232)

3. Kaum wanita ikut memberikan suara atau pilihan.
Hal tersebut termasuk pelanggaran terhadap syariat Islam. Sesungguhnya para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum yang membaiat (memilih) Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu sebagai khalifah atau pemimpin umat Islam sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di saqiifah (ruangan besar beratap tempat pertemuan) milik suku Bani Sa’idah, tidak ada seorang wanita pun yang ikut serta dalam pemilihan tersebut. Karena urusan siyasah (politik) tidak sesuai dengan tabiat (fitrah) kaum wanita, sehingga mereka tidak boleh ikut berkontribusi di dalamnya. Maka dari itu, praktik yang sudah terjadi saat ini, kaum wanita memiliki hak dan suara yang sama seperti kaum laki-laki, itu merupakan hal yang keliru dan salah.

Karena Allah azza wa jalla berfirman;

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى
“Dan laki-laki tidaklah sama seperti wanita.”
(Surat Ali Imran: ayat 36)

Sebagaimana penjelasan yang sudah disampaikan pada point B di bagian 1, bahwa Allah membedakan kedudukan orang Islam dengan orang Kafir. Maka demikian juga, kedudukan kaum laki-laki tidak akan sama dengan kaum wanita. Bahkan dalam ilmu waris pun, bagian laki-laki dan wanita itu berbeda (tidak sama).

Allah azza wa jalla berfirman;

‎يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوْلَٰدِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ ٱلْأُنثَيَيْنِ
“Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepada kalian tentang (pembagian warisan untuk) anak-anak kalian, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak wanita.”
(Surat An-Nisa: ayat 11)

4. Saling mencela dan menjatuhkan.
Dalam sistem demokrasi saat ini tidak terlepas dari kebiasaan saling mencela, menghina, menggunjing (ghibah), dan menjatuhkan antara calon dan pendukungnya. Padahal dalam Islam, kehormatan seorang muslim itu sangat mulia di sisi Allah azza wa jalla.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ: صَلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ
“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari pada derajat puasa, shalat dan sedekah? Mereka berkata: Tentu. Yaitu baiknya hubungan di antara sesama. Karena rusaknya hubungan di antara sesama, dapat mengikis habis (agama).”
(HR. At-Tirmidzi, no.2509)

‎اَلرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ وَإِنَّ أَربَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْـمُسْلِمِ
“Riba itu ada 73 pintu. Pintu riba yang paling ringan (rendah) adalah seperti dosa seseorang yang memperkosa ibu kandungnya sendiri. Dan riba yang paling berat (tinggi) adalah seperti merusak (menjatuhkan) kehormatan seorang muslim.”
(HR. Al-Baihaqi, Syuabu Al-Iman, 4:1931. Beliau menyatakan sanadnya shahih)

5. Saling membenarkan dan mensucikan diri sendiri.
Realita yang sudah terjadi, para calon mereka menyatakan tentang kepribadian dirinya masing-masing dengan hal-hal yang baik, misal: Jujur, amanah, cerdas, bersih, santun, ramah, dan anggapan semisalnya. Lalu mereka pun menyebarkan anggapan tersebut kepada manusia melalui berbagai macam media dan cara lainnya.

Padahal Allah azza wa jalla berfirman;

‎فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci! Dia (Allah) yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.”
(Surat An-Najm: ayat 32)

Ternyata salah satu alasan merasa diri benar, bersih, selamat, baik dan suci itu dilarang oleh syariat Islam adalah karena kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan Yahudi dan Nashrani.

Sebagaimana Allah berfirman;

‎وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً
“Dan mereka berkata: Kami sekali-kali tidak akan disentuh api Neraka, kecuali selama beberapa hari saja.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 80)

‎وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى
“Dan mereka berkata: Sekali-kali tidak akan masuk Surga, kecuali orang Yahudi dan Nashrani.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 111)

Maka sebab itu, Allah mencela kebiasaan tersebut;

‎أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا
“Apakah Kami tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah mensucikan siapa pun yang dikehendakiNya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”
(Surat An-Nisa: ayat 49)

Karena yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya terhadap kita adalah sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Imam Muslim, no.4689)

6. Ikhtilath (bercampur laki-laki dan wanita).
Pada aktivitas-aktivitas demokrasi, misal pada saat kampanye dan aktivitas lainnya sering terjadi ikhtilath. Padahal Allah dan RasulNya sangat keras melarang ikhtilath.

Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir! Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 53)

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh rahimahullah berkata;
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Di saat beliau keluar dari masjid, sedangkan orang-orang laki-laki ikhtilath (bercampur-baur) dengan para wanita di jalan, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada para wanita: Minggirlah kalian! Karena sesungguhnya kalian tidak berhak berjalan di tengah jalan, kalian wajib berjalan dipinggir jalan! Maka para wanita merapat ke tembok atau dinding, hingga baju mereka terkait di tembok karena rapatnya. Alasan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika melarang para wanita ikhtilath di jalan, dikarenakan hal tersebut akan menyeretnya pada fitnah (kemaksiatan dan kesesatan), maka bagaimana mungkin dikatakan boleh ikhtilath pada selain itu?”
(Fatawa Al-Marah Al-Muslimah, hlm.568)

Imam Abu Bakar Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusi rahimahullah juga menjelaskan;
“Dan termasuk bidah adalah keluarnya kaum lelaki bersama-sama atau sendiri bersama para wanita dengan berikhtilath (bercampur).”
(Al-Hawadits Wa Al-Bida, hlm.151)

Salah satu alasan ikhtilath dilarang dalam Islam adalah agar tidak tersentuhnya kulit laki-laki dan wanita.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya, dari pada dia menyentuh wanita yang tidak halal untuknya (bukan mahram).”
(HR. At-Thabrani, Mujam Al-Kabir, 20:211)

Perlu diingat, bahwa larangan ikhtilath berlaku dalam semua keadaan.

E. Solusi Demokrasi

1. Kriteria pemimpin dalam Islam.
Allah azza wa jalla menceritakan tenang Nabi Yusuf alaihissalam;

‎وَقَالَ ٱلْمَلِكُ ٱئْتُونِى بِهِۦٓ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِى ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُۥ قَالَ إِنَّكَ ٱلْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ. قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Dan raja berkata: Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku. Ketika dia (raja) telah berbincang dengannya, dia (raja) berkata: Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi (kuat) di lingkungan kami dan dipercaya. Dia (Yusuf) berkata: Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.”
(Surat Yusuf: ayat 54-55)

Allah azza wa jalla menceritakan tentang Nabi Musa alaihissalam;

‎قَالَتْ إِحْدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ
“Dan salah seorang dari kedua (wanita) itu berkata: Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita)!Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) adalah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”
(Surat Al-Qashash: ayat 26)

Berdasarkan penjelesan dari ayat-ayat Al-Quran tersebut, kriteria pemimpin ideal menurut Islam adalah: Kuat, berilmu dan dipercaya (jujur).

Sehingga, siapa pun yang ingin menjadi pemimpin, milikilah kriteria-kriteria tersebut sebelum menjadi pemimpin! Agar kalian bisa selamat di dunia dan di akhirat.

2. Tetap menjaga persaudaraan sesama muslim.
Allah azza wa jalla berfirman;

‎إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudara kalian (yang berselisih), dan bertaqwalah kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat.”
(Surat Hujurat: ayat 10)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانُ
“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya.”
(HR. Abu Dawud, no.4681. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan)

‎مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam mencintai, menyayangi dan saling membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.”
(HR. Imam Bukhari, no.6011)

3. Islam hanya memberikan kebolehan sebatas memilih.
Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan demokrasi adalah tentang penggunaan hak pilih. Sehingga, kita tidak berhak memaksa atau pun menekan orang lain untuk ikut memilih, atau tidak memilih (golput). Selain kita hanya mampu menjelaskan dan mengajak, dalam masalah ini bukan suatu kewajiban individu, melainkan hak individu.

Selanjutnya, agar diri kita selamat dalam menjalankan hak kita dalam masalah ini, tidak perlu berfoto, berselfie dengan atribut pilihannya, apalagi dengan tokoh pilihannya. Jangan sampai diri kita hanyut dalam dunia politik semacam ini! Karena hal demikian lebih besar fitnah dan mafsadatnya, dibandingkan mashlahatnya.

Kalau boleh jujur, apa tujuan dan manfaat dari berfoto dan berselfie semacam itu? Tidak lain hanya sebagai bentuk mengagumi, membanggakan, menunjukkan keperpihakan, bahkan hanya iseng. Bukankah itu adalah hal yang tidak bermanfaat?

Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga dosa yang membinasakan: Sifat pelit yang diikuti, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya.”
(HR. Al-Albani, As-Silsilah Ash-Shahihah, no.1802. Beliau menyatakan hadits ini hasan)

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Sesungguhnya termasuk tanda baiknya Islam seseorang, adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuknya.”
(HR. Ibnu Hibban, no.229)

Ingat saudara-saudariku, betapa besarnya bahaya sifat ujub (bangga diri)! Dan Islam adalah agama yang sudah Allah sempurnakan syariatnya melalui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka sibukkanlah diri kita untuk melakukan ibadah yang wajib dan yang sunnah! Karena dengan waktu yang kita miliki untuk melakukan ibadah itu semua saja kita belum mampu melakukannya, lalu untuk apa kita menyibukkan diri dengan hal semacam foto-selfie dan hal tidak bermanfaat lainnya?

Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa pemimpin adalah cerminan rakyat.

Allah azza wa jalla berfirman;

‎وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi pemimpin untuk sebagian yang lain, disebabkan sesuatu yang telah mereka usahakan.”
(Surat Al-Anam: ayat 129)

Ibnul Azraq rahimahullah berkata;
“Wajib bagi rakyat untuk memperhatikan, bahwasannya kezhaliman pemimpin atau bawahannya, itu semuanya terjadi disebabkan perbuatan mereka (rakyat) yang menyimpang dari jalan yang lurus. Sebagaimana dikatakan: Sebagaimana keadaan kalian, seperti itulah kalian akan dipimpin. Oleh sebab itu. Ibnul Jazzar Al-Sarqusthiy menjawab Al-Mustain bin Hud dan sebagian rakyatnya yang telah mengeluhkan kepadanya tentang kezhaliman sebagian bawahannya: Kalian selalu menyandarkan kezhaliman kepada pemimpin namun, kalian menutup mata dari perbuatan kalian. Jangan menyandarkan kezhaliman kepada mereka (pemimpin)! Tidaklah pemimpin kalian itu demikian, melainkan karena sebab perbuatan kalian. Demi Allah, seandainya kalian memimpin sebentar saja, tentu kalian tidak akan pernah berbuat adil.”
(Badai As-Silk Fi Thabai Al-Mulk, 1:235)

Semoga Allah azza wa jalla selalu melindungi diri kita dari setiap kesalahan dan keburukan. Aamiin

Semoga Allah azza wa jalla memberikan kemudahan untuk kita bisa memperbaiki keimanan terhadap Allah serta pemahaman kita terhadap agama Islam dan akhlaq serta muamalah kita. Sehingga dengan sebab itu, Allah pun berikan pemimpin kepada kita yang baik agama dan akhlaqnya. Aamiin

‎اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah Neraka dan adzab Neraka, dari keburukan kekayaan dan kefaqiran.”
(HR. Abu Dawud, no.1319)

‎رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim. Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang kafir!”
(Surat Yunus: ayat 85-86)
___
@Kota Angin Majalengka-Jawa Barat.
05 Syaban 1440H/10 April 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly.

BERBAGI
Artikel sebelumnyaSifat Zakat Fithri Rasulullah
Artikel sesudahnyaBuku: Saatnya Untuk Menikah
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here