Beranda Belajar Islam Amalan Sifat Zakat Fithri Rasulullah

Sifat Zakat Fithri Rasulullah

555
0
BERBAGI

Sifat Zakat Fithri Rasulullah

Mengakhiri bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, Allah azza wa jalla mensyariatkan kepada umat Islam beberapa ibadah agung dan mulia, yang bisa menambah keimanan kita kepada Allah, serta bisa semakin melengkapi nikmat Allah azza wa jalla. Ibadah tersebut adalah zakat fithri.

Zakat fithri diwajibkan atas setiap umat Islam. Zakat fithri ditunaikan dengan mengeluarkan satu sha (sekitar 3kg) bahan makanan pokok, sebagai pembersih bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa dan sebagai bahan makanan bagi orang-orang miskin.

Dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata;

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia, serta perkataan keji dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.”
(HR. Abu Dawud, no.1609. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan)

Karena zakat fithri ini merupakan kewajiban kita semua, maka hendaklah kita melaksanakannya dengan benar dalam rangka mentaati perintah Allah dan RasulNya. Hendaklah kita mengeluarkan zakat untuk diri kita dan orang-orang yang berada dalam tanggungan kita.

Seharusnya kita memilih bahan makanan pokok terbaik yang kita mampu dan yang paling bermanfaat, karena zakat ini hanya satu sha dalam setahun. Dan dikarenakan juga tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu dan bisa menjamin bahwa dia akan bisa melaksanakan zakat ini kembali pada tahun yang akan datang.

Apakah kita mau dan rela berbuat bakhil untuk diri kita sendiri yaitu dengan mengeluarkan zakat dari bahan makanan pokok yang jelek atau yang lebih jelek dari yang kita konsumsi? Jawabannya: Tentu tidak!

Janganlah kita menunaikannya dengan membayarkan atau mengeluarkan uang sebagai ganti dari bahan makanan pokok, karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, padahal saat itu alat tukar yang sejenis dengan uang sudah ada namun, mereka tidak membayarkan zakat fithri mereka dengan dinar dan dirham yang mereka miliki. Ini menunjukkan hal tersebut tidak disyariatkan atau tidak boleh dilakukan.

Barang siapa menunaikan zakat ini dengan menggunakan uang sebagai ganti dari bahan makanan pokok, maka ibadah zakatnya dikhawatirkan tidak diterima oleh Allah azza wa jalla, karena menyelisihi apa yang telah dicontohkan dan diwajibkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Hendaklah kita menunaikan zakat fithri dan memberikannya kepada orang-orang miskin di sekitar kita, terutama kepada orang-orang miskin yang masih ada hubungan kekeluargaan dengan kita, dan mereka tidak termasuk orang-orang yang wajib kita nafkahi.

Dibolehkan, jika satu orang miskin diberi 2 zakat fithri atau lebih, atau sebaliknya satu zakat fithri dibagikan kepada dua orang miskin. Berdasarkan hal ini, jika ada satu keluarga yang mengumpulkan zakat fithri mereka, lalu diberikan kepada satu orang miskin, maka itu boleh. Dan jika zakat yang kita berikan itu dipergunakan lagi oleh si penerima zakat, misal untuk membayar zakat dirinya dan keluarganya, maka itu juga dibolehkan.

Tunaikanlah zakat fithri pada hari raya sebelum shalat, karena itu yang terbaik. Namun, diperbolehkan juga mengeluarkan zakat fithri 1 hari atau 2 hari sebelum hari raya. Juga tidak boleh menunda zakat fithri sampai setelah shalat hari raya, kecuali karena ada udzur syari, misalnya berita tentang hari raya datang mendadak dan tidak memungkinkan dia untuk mengeluarkannya sebelum shalat, karena waktunya yang sangat singkat.

Apabila kita telah berniat hendak mengeluarkan dan menyerahkan zakat fithri kita untuk seseorang, lalu orang tersebut tidak kunjung kita temukan sementara shalat sudah akan dilaksanakan, maka hendaknya kita memberikannya kepada orang lain. Jangan sampai kita kehilangan waktu tersebut! Jika kita sudah berniat hendak menyerahkannya kepada orang tertentu yang kita pandang paling berhak namun, tak kunjung kita temukan orangnya, maka kita bisa meminta kepada orang lain untuk mewakili orang tersebut dan menyerahkan zakat tersebut kepada orang yang kita maksudkan jika sudah bertemu.

1. Golongan yang berhak menerima zakat fithri (mustahik zakat).
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata;

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّـغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.”
(HR. Abu Dawud, no.1609)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata;
“Ada pun di antara petunjuk dari Rasulullah adalah mengkhususkan sedekah ini (zakat fithri) untuk orang-orang miskin saja dan beliau tidaklah membaginya kepada golongan yang 8, tidak pernah memerintahkannya dan tidak seorang pun dari kalangan sahabat melakukannya, serta tidak pula dilakukan oleh orang-orang yang datang setelah mereka. Bahkan ini merupakan salah satu dari dua pendapat madzhab kami bahwa zakat fithri tidak boleh disalurkan kecuali kepada orang-orang miskin saja dan inilah pendapat yang rajih (kuat) dari pendapat yang mewajibkan pembagiannya kepada golongan yang 8 tersebut.”
(Zaadu Al-Maad, 2:21)

Ada pun 8 golongan yang dimaksud adalah: Faqir, miskin, amil (pengurus zakat), muallaf (orang yang masuk Islam), budak yang ingin merdeka, orang yang memiliki utang, orang yang berjihad di jalan Allah dan musafir yang butuh bekal. Sebagaimana tercantum di dalam Al-Quran, surah At-Taubah: ayat 60, mereka semua berhak untuk menerima zakat harta (maal) atau sedekah sunnah, bukan zakat fithri.

2. Tempat mengeluarkan zakat fithri.
Mengenai tempat mengeluarkannya yaitu: Di daerah atau negeri ketika zakat itu dipungut dan dikumpulkan, kecuali apabila kebutuhan orang-orang di tempat tersebut telah tercukupi dan tidak diketahui lagi pihak yang berhak menerimanya, maka boleh disalurkan ke daerah atau negeri lain.

Namun, perlu diingat bahwa pembagian zakat tidak harus disamaratakan dari satu orang miskin dengan miskin lainnya, amil boleh memberikan zakat lebih banyak kepada orang yang lebih membutuhkannya, di sisi lain juga seseorang yang hendak mengeluarkan zakatnya, boleh langsung mendatangi orang miskin yang dikehendakinya, tanpa perlu menitipkannya kepada amil zakat.

• Bolehkah diserahkan untuk keluarga, kerabat atau saudara yang miskin?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya;
“Apakah aku boleh mengeluarkan zakat maal atau zakat fithri untuk saudara-saudariku yang kekurangan, yang telah diasuh oleh ibuku sejak ayahku meninggal? Beliau rahimahullah menjawab: Memberi zakat kepada kerabat yang terhitung keluarga adalah lebih utama dari pada memberikan kepada selain mereka, karena sedekah kepada kerabat adalah termasuk sedekah sekaligus menyambung tali silaturrahim. Kecuali bila kerabatmu itu termasuk orang-orang yang wajib dinafkahi olehmu (tanggungan), maka memberi mereka dengan zakatmu itu tidak diperbolehkan.”
(Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

3. Waktu mengeluarkan zakat fithri.
Zakat fithri atau fitrah adalah zakat yang ditunaikan karena berkaitan dengan waktu hari raya idul fithri, sehingga waktunya pun dekat dengan waktu hari perayaan tersebut. Waktu pembayaran zakat itu ada dua macam;
– Waktu utama (afdhal): Mulai dari terbit fajar pada hari idul fithri, hingga dekat waktu pelaksanaan shalat Id.
– Waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum Id, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sahabat Ibnu Umar.
(Minhaju Al-Muslim, hlm.231)

Yang menunjukkan waktu afdhal tersebut adalah hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata;

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ
“Barang siapa yang menunaikan zakat fithri sebelum shalat (Id), maka zakatnya diterima dan barang siapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah lainnya.”
(HR. Abu Dawud, no.1609. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sedangkan dalil yang menunjukkan waktu dibolehkan satu atau dua hari sebelum shalat Id adalah;

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رضى الله عنهما يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا، وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
“Dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma memberikan zakat fithri kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari raya idul fithri.”
(HR. Imam Bukhari, no.1511)

Ada juga sebagian ulama yang membolehkan zakat fithri ditunaikan 3 hari sebelum idul fithri.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ
“Abdullah bin Umar memberikan zakat fithri atas apa yang menjadi tanggungannya dua atau tiga hari sebelum hari raya idul fithri.”
(Al-Umm, 8:737)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan;
“Seandainya zakat fithri jauh-jauh hari sebelum idul fithri telah diserahkan, maka tentu saja hal ini tidak akan mencapai maksud disyariatkannya zakat fithri yaitu untuk memenuhi kebutuhan si miskin di hari idul fithri. Ingatlah, bahwa sebab diwajibkannya zakat fithri adalah hari idul fithri, di hari yang tidak lagi berpuasa, sehingga zakat ini pun disebut zakat fithri. Karena maksud zakat fithri adalah untuk mencukupi si miskin di waktu yang khusus (yaitu hari idul fithri), maka tidak boleh didahulukan jauh hari sebelum waktunya.”
(Al-Mughni, 4:301)

4. Pihak yang wajib menunaikan zakat fithri.
Zakat fithri wajib ditunaikan oleh;
– Setiap muslim, karena untuk menutupi kekurangan puasa yang disebabkan dengan perkara sia-sia dan kata-kata kotor
– Setiap yang mampu mengeluarkan zakat fithri

Menurut mayoritas ulama, batasan mampu di sini adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari idul fithri. Jadi, apabila keadaan seseorang seperti ini, berarti dia dikatakan mampu dan wajib mengeluarkan zakat fithri. Orang seperti ini yang disebut ‘ghani’ (berkecukupan), sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam;

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ
“Barang siapa meminta-minta, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia telah mengumpulkan bara api. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi tersebut? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seukuran makanan yang mengenyangkan untuk sehari-semalam.”
(HR. Abu Dawud, no.1435)

Dari syarat di atas, menunjukkan bahwa kepala keluarga wajib membayar zakat fithri orang yang dia tanggung nafkahnya.
(Mughni Al-Muhtaj, 1:595)

Menurut Imam Malik, ulama Syafiiyah dan mayoritas ulama, suami bertanggung jawab terhadap zakat fithri si istri karena istri menjadi tanggungan nafkah suami.
(Al-Minhaj, 7:59)

Penjelasan di atas, menunjukkan bahwa jika kita masih jadi tanggungan orang tua, maka zakat fithri tersebut masih jadi tanggungan orang tua. Namun, kalau kita sudah bisa mandiri, maka sebaiknya kita menunaikan zakat tersebut sendiri untuk diri kita sendiri. Wallahu alam.

Sebagai penutup, Penulis berdoa kepada Allah semoga dengan penjelasan ilmu yang ada pada tulisan ini, bisa bermanfaat untuk diri Penulis dan para Pembaca. Sehingga kita bisa beramal dan beribadah kepada Allah dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu.

Maka teruslah minta ampunan Allah di bulan Ramadhan! Jangan sampai diri kita celaka, yakni mendapatkan kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan namun, diri kita tidak mendapatkan ampunan dari Allah azza wa jalla.

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan amin sebanyak tiga kali tatkala Malaikat Jibril alaihissalam berdoa.

الصَّحَابَةُ: أَمَّنْتَ يَا رَسُوْلَ اللَّه قَالَ: جَاءَنِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْلَهُ قُلْتُ: آمِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّانِيَةُ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ قُلْتُ: آمِِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّالِشَةَ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ قُلْتُ آمِيْن
“Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan Aamiin. Beliau menjawab: Jibril telah mendatangiku, kemudian dia berkata: Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni, maka aku menjawab: Aamiin. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka dia berkata: Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya, lalu tidak mengucapkan shalawat kepadamu, maka aku menjawab: Aamiin. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, dia berkata: Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya namun, mereka tidak memasukkannya ke dalam Surga, maka aku jawab: Aamiin.”
(HR. Al-Hakim, 4:154)

Silakan, baca secara perlahan, pahami lalu amalkan!

Semoga Allah azza wa jalla memberikan ilmu yang berkah kepada kita. Aamiin
___
@Kota Angin Majalengka-Jawa Barat.
27 Rajab 1440H/03 April 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaSifat Itikaf Rasulullah
Artikel sesudahnyaBekal Untuk Umat Islam Menghadapi Demokrasi
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here