Beranda Belajar Islam Amalan Sifat Itikaf Rasulullah

Sifat Itikaf Rasulullah

531
0
BERBAGI

Sifat Itikaf Rasulullah

1. Makna itikaf.
Berdiam diri di masjid umum yang diadakan padanya shalat berjamaah dengan niat beribadah kepada Allah taala di masjid tersebut, yang dilakukan oleh orang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu, tata cara tertentu, di waktu tertentu.
(Ash-Shiyam Fii Al-Islam, hlm.450-451)

2. Syarat itikaf.
•Pertama: Islam.
Karena ibadah yang dikerjakan orang kafir tidak sah (tertolak), sebagaimana firman Allah azza wa jalla;

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
(Surat Al-Furqan: ayat 23)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman;

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”
(Surat Al-Anam: ayat 88)

•Kedua: Berakal.
Karena orang yang gila tidak disyariatkan beribadah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ، عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَفِيقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ
“Pena diangkat dari 3 golongan, yaitu: Dari orang gila yang tertutup akalnya sampai dia sadar, dari orang yang tidur sampai dia bangun, dan dari anak kecil sampai dia baligh.”
(HR. Abu Dawud, no.4401)

•Ketiga: Mumayyiz.
Yaitu berumur minimal 7 tahun dan telah memahami ibadah yang dia kerjakan, sudah bisa membedakan hal yang benar dan hal yang salah. Karena tidak sah itikaf anak kecil yang belum mumayyiz.

•Keempat: Berniat itikaf.
Karena setiap amalan tergantung pada niat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

إِنَّمَا الأعْمَالُ بَالْنيَاتِ، وَإنَّمَا لِكل امرئ مَا نَوَى، فمَنْ كَانَتْ هِجْرَتهُ إلَى اللّه وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتهُ إلَى اللّه وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرتُهُ لِدُنيا يُصيبُهَا، أو امْرَأة يتزوَّجُها فَهِجْرَتُه إلَى مَا هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka dia mendapatkan pahala hijrah kepada Allah dan RasulNya, dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin dia dapatkan atau wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya dinilai terhadap apa yang dia niatkan tersebut.”
(HR. Abu Dawud, no.2201)

Ada 3 macam keluar dari masjid saat itikaf;

-Keluar yang dibolehkan.
Keluar untuk melakukan sesuatu yang harus dilakukan seperti buang hajat, sakit, berwudhu yang wajib, mandi wajib atau selainnya, demikian juga makan dan minum, apabila tidak disediakan makanan di masjid tempatnya itikaf.

-Keluar yang tidak dibolehkan.
Kecuali dengan melakukan persyaratan niat sejak awal itikaf, yaitu menjenguk orang sakit, mengunjungi orang tua, dan mengantar jenazah. Ini adalah keluar untuk melakukan ketaatan yang tidak diwajibkan, maka tidak boleh dilakukan kecuali apabila telah melakukan persyaratan dalam niat di awal itikaf.

Perhatian: Keluar jenis ini juga dibolehkan apabila ada hal yang darurat walau tanpa persyaratan, seperti membantu orang yang sakit keras dan tidak ada orang lain yang membantunya, atau mengurus jenazah yang tidak ada orang lain yang mengurusnya, apalagi orang sakit atau jenazah tersebut adalah orang yang wajib bagi orang yang beritikaf untuk membantu dan mengurusi, misal orang tuanya, istrinya, anak-anaknya dan semisalnya.

-Keluar yang tidak dibolehkan sama sekali, tidak dengan pensyaratan dan tidak pula tanpa persyaratan niat.
Jika dilakukan maka batal itikafnya, seperti keluar untuk jual-beli di pasar dan berhubungan badan, maka seperti ini tidak boleh meski pun dengan niat atau tanpa persyaratan dalam niat.

Persyaratan ini penting karena pada asalnya keluar masjid itu terlarang bagi orang yang beritikaf, kecuali dengan persyaratan atau karena darurat, sebagaimana dalam hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata;

السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ: أَنْ لَا يَعُودَ مَرِيضًا، وَلَا يَشْهَدَ جَنَازَةً، وَلَا يَمَسَّ امْرَأَةً، وَلَا يُبَاشِرَهَا، وَلَا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ، إِلَّا لِمَا لَا بُدَّ مِنْهُ، وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا بِصَوْمٍ، وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ
“Sunnah bagi orang yang beritikaf untuk tidak menjenguk orang yang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak juga berhubungan badan, tidak keluar karena suatu keperluan kecuali yang harus dilakukan dan tidak ada itikaf (yang lebih utama) kecuali dengan puasa, dan tidak ada itikaf selain di masjid yang digunakan shalat berjamaah.”
(HR. Abu Dawud, no.2135)

•Kelima: Itikaf dilakukan di masjid.
Sebagaimana firman Allah azza wa jalla;

وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan kalian beritikaf dimasjid.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 187)

•Keenam: Itikaf di masjid yang dikerjakan padanya shalat berjamaah.
Ini syarat khusus bagi laki-laki, sebab shalat berjamaah wajib bagi laki-laki, apabila dia harus keluar masjid untuk melakukan shalat berjamaah di masjid lainnya, maka itu menafikan tujuan itikaf, yaitu berdiam diri di masjid, tidak banyak keluar.

Tidak dipersyaratkan masjid tersebut harus diadakan padanya shalat Jumat, karena keluar ke masjid lain untuk shalat Jumat tidak sering dilakukan. Namun, yang utama (afdhal) beritikaf di masjid yang diadakan shalat Jumat, sehingga tidak perlu keluar lagi ke masjid lain.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:509)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma pernah ditanya tentang seorang
(laki-laki) yang menyendiri berpuasa di siang hari dan shalat Tahajjud di malam hari namun, tidak ikut shalat Jumat dan shalat berjamaah, beliau berkata: Dia di Neraka. Maka menyendiri yang disyariatkan bagi umat Islam adalah itikaf di masjid, secara khusus di bulan Ramadhan, yaitu pada 10 hari terakhirnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
(Lathaif Al-Maarif, hlm.207)

Ada pun bagi wanita boleh beritikaf di masjid yang tidak dilakukan padanya shalat berjamaah, karena wanita tidak wajib shalat berjamaah, tetapi dengan syarat, itu adalah masjid umum, bukan masjid khusus di rumahnya, dan syarat lain bagi wanita yang ingin itikaf adalah meminta izin suami atau wali serta aman dari fitnah (seperti godaan antara laki-laki dan wanita, atau adanya bahaya seperti menimbulkan prasangka buruk dan pembicaraan yang tidak baik).
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:509-511)

Demikian juga orang yang diberi keringanan untuk tidak shalat berjamaah seperti karena sakit, maka boleh baginya beritikaf di masjid umum mana saja walau tidak diadakan shalat berjamaah.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:511)

Dan mushalla-mushalla khusus wanita baik di rumah, di sekolah atau di kantor tidak termasuk kategori masjid umum, maka tidak boleh digunakan untuk itikaf.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:52)

Ada pun pensyaratan itikaf hanya pada 3 masjid, yaitu Masjid Al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsha, maka haditsnya diperselisihkan oleh para ulama tentang keshahihannya. Meski pun shahih, maka maknanya yang benar adalah lebih utama (afdhal) beritikaf pada 3 masjid tersebut, dan bukan sebagai pembatasan syariat itikaf hanya pada 3 masjid tersebut.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:502)

3. Hukum itikaf.
Hukum itikaf adalah sunnah (kecuali karena nadzar, maka hukumnya wajib) berdasarkan dalil Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan janganlah kalian bercampur dengan istri-istri kalian, sedangkan kalian sedang beritikaf di masjid!”
(Surat Al-Baqarah: ayat 187)

Istri Rasulullah, Aisyah radhiyallahu anha berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه
“Bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam beritikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau masih melakukan itikaf sepeninggal beliau.”
(HR. Imam Bukhari, no.2026)

Itikaf hukumnya sunnah berdasarkan ijma, dan tidak diwajibkan kecuali karena nadzar, hal ini berdasarkan ijma.
(Al-Majmu, 6:407)

Telah sepakat kaum muslimin, bahwa itikaf adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan termasuk amal shalih.
(Syarhu Al-Umdah, 2:711)

4. Tujuan itikaf.
Makna itikaf dan hakikatnya adalah memutuskan semua interaksi dengan makhluk demi menyambung hubungan dengan khidmah (fokus beribadah) kepada Allah, dan setiap kali menguat pengenalan seseorang terhadap Allah, kecintaan kepadaNya dan kenyamanan denganNya, maka akan melahirkan baginya keterputusan dari makhluk untuk berkosentrasi secara totalitas kepada Allah taala pada setiap keadaan.
(Lathaif Al-Maarif, hlm.191)

Hendaknya orang yang beritikaf menyerahkan dirinya, ruhnya, hatinya dan jasadnya secara totalitas untuk beribadah kepada Allah taala, demi mencari ridhaNya, menggapai kebahagian di SurgaNya, terangkat derajat di sisiNya dan menjauhkan diri dari semua kesibukan dunia yang dapat menghalangi seorang hamba untuk berusaha mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla.
(Ash-Shiyamu Fii Al-Islam, hlm.459)

Sungguh menakjubkan, di tengah-tengah kesibukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk mendakwahi seluruh manusia, memimpin negara dan mengurus istri-istri, keluarga dan berbagai permasalahan umat Islam lainnya, beliau masih bisa beritikaf setiap tahun, memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, dan memutuskan diri dari segala kesibukan dunia serta mengurangi interaksi dengan makhluk.

Bahkan apabila beliau tidak sempat melakukannya, maka beliau akan mengqadhanya di bulan Syawwal atau di bulan Ramadhan berikutnya, beliau akan beritikaf 20 hari dan ini semua menunjukkan pentingnya itikaf dan termasuk sunnah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah).

Beliau beritikaf demi meningkatkan ibadah kepada Allah azza wa jalla pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, karena inilah hari-hari yang paling afdhal di bulan Ramadhan, terutama waktu malamnya, lebih utama lagi pada malam lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Namun, sangat disayangkan, masih banyak umat Islam termasuk kita, malah kehilangan semangat dan ruh ibadah di akhir-akhir bulan Ramadhan. Apabila di awal Ramadhan masjid-masjid sangat penuh dan sesak, lalu di akhir Ramadhan pasar, mall, jalan-jalan hingga tempat-tempat hiburan yang malah menjadi sangat penuh, ramai dikunjungi. Sungguh kita telah menyelisihi petunjuk Allah dan RasulNya. Allahul mustaan!

Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam beribadah pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan melebihi waktu yang lainnya.”
(HR. Imam Muslim, no.1175)

Dalam riwayat yang lain;

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila masuk 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka beliau mengencangkan sarungnya (tidak berhubungan badan dan mengurangi makan-minum), menghidupkan malamnya (memperbanyak ibadah) dan membangunkan keluarganya juga (untuk beribadah kepada Allah).”
(HR. Imam Bukhari, no.2024)

5. Waktu itikaf.
Waktu itikaf adalah pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, inilah yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum.

Tidak ada satu riwayat pun anjuran beritikaf selain pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, tidak di awal dan pertengahan Ramadhan, tidak pula di bulan-bulan yang lain, kecuali karena qadha atau nadzar, maka boleh dikerjakan di bulan yang lain. Dan nadzar itu sendiri hukum asalnya adalah makruh menurut pendapat terkuat namun, apabila sudah bernadzar maka wajib untuk ditunaikan.

Andaikan beritikaf selain pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan itu dianjurkan, tentu akan dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Jadi, tidaklah pantas menganjurkan manusia untuk beritikaf di selain 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi barang siapa melakukannya, maka tidak terlarang dan tidak dihukumi bidah, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengizinkan Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu untuk menunaikan nadzar itikaf di selain 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:504-505)

Akan tetapi jika seseorang setiap kali masuk ke dalam masjid berniat itikaf, maka hendaklah diingkari dan tidak dilakukan, karena itu tidak termasuk sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:506)

Namun, jika dilakukan sewaktu-waktu (tidak setiap saat) maka hal ini dibolehkan. Wallahu alam.

6. Batas waktu itikaf.
Tidak ada batas waktu minimal dan maksimal yang dipersyaratkan untuk sahnya itikaf, yang afdhal adalah 10 hari dan malamnya secara penuh di akhir bulan Ramadhan. Namun, misalkan seseorang berhalangan untuk beritikaf secara penuh, maka tidak mengapa dia beritikaf sesuai kemampuannya.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menjelaskan;
“Pendapat yang benar dalam masalah itikaf adalah tidak ada batas waktu maksimal dan minimalnya, tidak ada batas yang ditentukan, misal seseorang masuk masjid dan berniat itikaf 1 atau 2 jam, maka itu adalah itikaf.”
(Ash-Shiyamu Fii Al-Islam, hlm.461)

7. Waktu dimulai dan berakhirnya itikaf.
– Pertama: Mulai itikaf tanggal 21 Ramadhan dan masuk ke masjid sebelum terbenam matahari di tanggal 20 Ramadhan agar ketika terbenam matahari, orang yang beritikaf sudah ada di masjid, karena saat itu sudah masuk tanggal 21 Ramadhan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dan ini adalah pendapat yang dilihat lebih kuat, karena tidaklah disebut 10 hari yang terakhir kecuali dimulai sejak awal tanggal 21 Ramadhan, yaitu sejak terbenamnya matahari (masuk waktu Maghrib).

Demikian juga, ada kemungkinan lailatul qadr jatuh pada malam 21 Ramadhan, karena hal itu pernah terjadi di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka seharusnya untuk mulai itikaf sejak awal malam 21 Ramadhan dan masuk sebelum matahari terbenam agar tidak luput sedikit pun waktunya, karena di antara tujuan penting itikaf adalah memperbanyak ibadah ketika lailatul qadr.

•Kedua: Mulai itikaf bada Shubuh tanggal 21 Ramadhan, berdalil dengan hadits dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha;

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ، ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ
“Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila hendak beritikaf maka beliau shalat Shubuh, kemudian masuk ke tempat itikafnya.”
(HR. Abu Dawud, no.2464)

Ini adalah pendapat sebagian ulama, akan tetapi ini adalah pendapat yang lemah, karena hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa beliau baru mulai beritikaf setelah shalat Shubuh, tetapi baru masuk ke tempat itikafnya, yaitu kemah yang disediakan untuk beliau, sebagaimana dalam riwayat lain yang lebih kuat, dari Aisyah radhiyallahu anha;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَعْتَكِفُ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ
“Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam beritikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka aku membuatkan untuk beliau sebuah kemah, beliau shalat Shubuh kemudian masuk ke dalamnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2033)

Bahkan terdapat riwayat yang menegaskan bahwa beliau masuk ke tempat itikaf setelah shalat Shubuh di tempat yang telah beliau lakukan itikaf sebelumnya, bukan baru masuk pertama kali, yaitu riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu anha;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ، وَإِذَا صَلَّى الغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيهِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beritikaf di setiap bulan Ramadhan, maka apabila beliau telah shalat Shubuh, beliau masuk ke tempat yang telah beliau lakukan itikaf padanya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2041)

Ada pun waktu keluarnya, jumhur ulama berpendapat adalah terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadhan dan inilah pendapat yang terkuat, karena yang disyariatkan dan diniatkan adalah itikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, bukan bulan Syawwal. Dan sebagian ulama berpendapat bahwa yang afdhal adalah tetap di masjid dan keluar bersamaan dengan waktu menuju shalat Idul Fithri namun, ini adalah pendapat yang lemah, karena tidak didukung oleh dalil yang shahih lagi sharih (jelas), serta bertentangan dengan sunnah pada hari ied untuk berpenampilan bagus.
(Ash-Shiyamu Fii Al-Islam, hlm.469)

8. Amalan saat beritikaf.
Disunnahkan bagi orang yang beritikaf untuk memperbanyak ibadah kepada Allah azza wa jalla.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 6:500-501)

Di antara amalan yang seharusnya dilakukan saat itikaf adalah;
– Shalat-shalat sunnah
– Membaca dan menghafalkan Al-Quran
– Berdoa
– Berdzikir
– Istighfar (mohon ampunan Allah)
– Bertaubat
– Menghindari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat dan yang haram namun, tidak disyariatkan juga untuk berniat ibadah dengan cara diam, tidak mau bicara sama sekali
– Mengurangi interaksi dan pembicaraan dengan orang-orang, agar lebih banyak beribadah dan lebih khusyu
– Tidak dianjurkan untuk memperbanyak majelis ilmu, kecuali satu atau dua kali dalam sehari, dan hendaklah lebih fokus beribadah khusus secara pribadi atau shalat berjamaah

9. Hal mubah saat itikaf.
• Keluar masjid untuk menunaikan hajat yang harus dilakukan, baik secara tabiat mau pun syariat, seperti;
– Keluar untuk buang hajat
– Keluar untuk makan dan minum apabila tidak tersedia di masjid (tempat itikaf)
– Keluar untuk berwudhu atau mandi jinabah
– Keluar untuk shalat Jumat
– Keluar untuk bersaksi apabila diwajibkan atasnya
– Keluar karena mengkhawatirkan suatu fitnah yang mengancam diri, keluarga, anak atau harta
– Keluar untuk melakukan sesuatu yang wajib atau meninggalkan yang haram

Maka tidak batal itikaf seseorang, apabila keluarnya karena alasan-alasan di atas, dan hendaklah segera kembali ke masjid (tempat itikaf) apabila hajat-hajatnya tersebut sudah selesai ditunaikan.

Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ
“Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila beritikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku (tanpa keluar dari masjid) dan aku menyisir rambut beliau dan beliau tidak masuk ke rumah, kecuali karena hajat sebagai manusia.”
(HR. Imam Muslim, no.297)

• Boleh membiasakan satu tempat di masjid untuk beritikaf dan boleh juga membuat kemah kecil untuk beritikaf di dalamnya.
Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَعْتَكِفُ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ
“Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam beritikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka aku membuatkan untuk beliau sebuah kemah, beliau shalat Shubuh kemudian masuk ke dalamnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2033)

• Boleh dikunjungi oleh keluarga dan berbicara dengan mereka serta mengantarkan mereka kembali pulang apabila dibutuhkan.
Sebagaimana dalam hadits Shafiyyah radhiyallahu anha;

أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي المَسْجِدِ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً، ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهَا يَقْلِبُهَا
“Bahwasannya beliau mengunjungi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika sedang beritikaf di masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka beliau berbicara bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beberapa saat, kemudian bangkit untuk kembali pulang, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun bangkit bersamanya untuk mengantarkannya.”
(HR. Imam Bukhari, no.2035)

• Boleh makan dan minum di masjid dengan tetap menjaga kebersihan.
Sahabat Abdullah bin Al-Harits bin Jaz’in Az-Zubaidi radhiyallahu anhu berkata;

كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ
“Dahulu kami makan roti dan daging pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di masjid.”
(HR. Ibnu Hibban, no.1657)

10. Pembatal itikaf.
• Keluar masjid dengan sengaja tanpa adanya kebutuhan.
Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata;

وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ
“Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak masuk ke rumah kecuali karena hajat sebagai manusia.”
(HR. Imam Muslim, no.297)

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata;
“Ulama sepakat bahwa orang yang keluar dari tempat itikafnya di masjid tanpa hajat dan tanpa alasan darurat, bukan juga karena suatu kebaikan yang diperintahkan atau disunnahkan, maka itikafnya telah batal.”
(Maratibu Al-Ijma, hlm.74)

• Berhubungan badan (jima).
Sebagaimana firman Allah azza wa jalla;

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan janganlah kalian berjima dengan istri-istri kalian, sedang kalian beritikaf di masjid.”
(Surat Al-Baqarah: ayat 187)

• Keluar dari Islam (murtad), hal itu dapat membatalkan itikaf bahkan dapat menghapus seluruh amalan ibadah yang telah dikerjakan dan menghalangi diterimanya ibadah yang akan dikerjakan.
Allah azza wa jalla berfirman;

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barang siapa kafir dengan keimanan, maka terhapuslah amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”
(Surat Al-Maidah: ayat 5)

Allah juga berfirman;

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”
(Surat Al-Anam: ayat 88)

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِالله وَبِرَسُولِهِ
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya.”
(Surat At-Taubah: ayat 54)

Semoga Allah azza wa jalla memberikan ilmu yang berkah kepada kita. Aamiin
___
@Kota Angin Majalengka-Jawa Barat.
27 Rajab 1440H/03 April 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaSifat Shalat Witir Rasulullah
Artikel sesudahnyaSifat Zakat Fithri Rasulullah
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here