Beranda Belajar Islam Amalan Sifat Shalat Witir Rasulullah

Sifat Shalat Witir Rasulullah

211
0
BERBAGI

SIFAT SHALAT WITIR
RASULULLAH

1. Pengertian shalat Witir.
Witir secara bahasa bermakna ganjil. Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

وَهُوَ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ
“Dan Dia (Allah) adalah witir dan menyukai yang witir (ganjil).”
(HR. Imam Bukhari, no.5931)

Sedangkan, yang dimaksud shalat Witir adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya dan terbitnya fajar, yakni masuknya waktu shalat Shubuh, dan shalat ini adalah penutup dari shalat malam.

2. Hukum shalat Witir.
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan;
“Hukum shalat Witir adalah sunnah muakkadah, bukan wajib.”
(Al-Mughni, 2:132)

Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama yang terdiri dari para Sahabat radhiyallahu anhum dan ulama setelah mereka rahimahumullah, lalu disertai dengan adanya kesepakatan mereka (ijma), bahwa shalat Witir itu bukan fardhu. Adapun pendapat dari ulama madzhab Hanafi yang menyatakan, bahwa shalat Witir itu adalah wajib, bukan fardhu adalah pendapat yang lemah. Hal ini dikarenakan, bahwa ulama madzhab Hanafi membagi hukum taklif menjadi tujuh, yaitu: Fardhu, wajib, sunnah, karahah tanzih, karahah tahrim, tahrim, dan ibahah. Hukum wajib menurut ulama madzhab Hanafi adalah sesuatu yang dituntut untuk dikerjakan secara pasti dan dalilnya adalah dalil thalabi.

Sahabat Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu bercerita;

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلَا يُفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلَا أَنْقُصُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ
“Telah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seseorang dari penduduk Najed dalam keadaan kepalanya penuh debu dengan suaranya yang keras terdengar namun, tidak dapat dimengerti apa maksud yang diucapkannya, hingga dia mendekat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kemudian dia bertanya tentang Islam, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Shalat lima kali dalam sehari-semalam. Lalu orang itu berkata: Apakah ada lagi selain itu? Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Tidak ada, kecuali yang thathawu (sunnah). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: Dan puasa Ramadhan. Orang tersebut bertanya lagi: Apakah ada lagi selain itu? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Tidak ada, kecuali yang thathawu (sunnah). Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Zakat. Orang tersebut berkata: Apakah ada lagi selain itu? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Tidak ada, kecuali yang thathawu (sunnah). Thalhah bin Ubaidillah berkata: Lalu orang itu pergi sambil berkata: Demi Allah, aku tidak akan menambah atau menguranginya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dia akan beruntung jika jujur menepatinya.”
(HR. Imam Bukhari, no.44)

Meskipun shalat Witir hukumnya adalah sunnah, kita harus berusaha untukrutin mengerjakannya, karena hal tersebut adalah perintah dari Rasulullah. Itupun jika kita masih merasa butuh dengan pahala dari Allah azza wa jalla.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اِجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan shalat Witir.”
(HR. Imam Bukhari, no.943)

3. Waktu shalat Witir.
Para ulama telah sepakat, bahwa waktu shalat Witir adalah antara shalat Isya hingga terbit fajar. Adapun jika dikerjakan setelah masuk waktu shalat Shubuh (terbit fajar), maka itu tidak diperbolehkan, dan ini menurut pendapat yang lebih kuat.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu Shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dikerjakan sebelumnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.936)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَوْتِرُوا قَبْلَ الْفَجْرِ
“Shalat witirlah kalian sebelum fajar!”
(HR. Al-Albani, Shahih Al-Jami, no.2536)

• Kapan waktu yang lebih utama untuk shalat Witir?

Waktu yang lebih utama untuk shalat Witir adalah pada sepertiga malam terakhir.

Sebagaimama Aisyah radhiyallahu anha menjelaskan;

مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ
“Setiap malam, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan witirnya, dan witirnya beliau kerjakan hingga tiba waktu sahur.”
(HR. Imam Muslim, no.1230)

مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ
“Terkadang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan witir di awal malam, pertengahannya, dan akhir malam, dan witirnya berakhir hingga tiba waktu sahur.”
(HR. Imam Muslim, no.1231)

Berdasarkan dalil-dalil di atas, shalat Witir lebih utama dikerjakan pada akhir malam. Dan hal ini berlaku untuk keadaan ketika seseorang yakin dengan kuat bisa bangun di akhir malam. Namun, jika dia khawatir tidak dapat bangun malam, maka hendaknya dia mengerjakan shalat Witir sebelum tidur.

Sebagaimana hadits dari Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ
“Barang siapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah dia melakukan witir di awal malam. Dan barang siapa yang berharap mampu bangun di akhir malam, hendaklah dia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam disaksikan oleh para Malaikat, dan hal tersebut adalah lebih utama.”
(HR. Imam Muslim, no.1255)

Dari Sahabat Abu Qatadah radhiyallahu anhu, dia bercerita;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَبِي بَكْرٍ مَتَى تُوتِرُ قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَقَالَ لِعُمَرَ مَتَى تُوتِرُ قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ فَقَالَ لِأَبِي بَكْرٍ أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ وَقَالَ لِعُمَرَ أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar: Kapankah kamu mengerjakan shalat Witir? Dia menjawab: Aku mengerjakan shalat Witir di permulaan malam. Dan beliau bertanya juga kepada Umar: Kapankah kamu mengerjakan shalat Witir? Dia menjawab: Aku mengerjakan shalat Witir pada akhir malam. Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar: Orang ini telah mengerjakan dengan keteguhan hati, dan kepada Umar beliau berkata: Sedangkan orang ini telah mengerjakan dengan kemantapan.”
(HR. Abu Dawud, no.1222)

4. Jumlah rakaat dan cara mengerjakan shalat Witir.
Shalat Witir boleh dilakukan 1, 3, 5, 7, atau 9 rakaat. Adapun untuk rincian penjelasannya adalah;

• Shalat Witir dengan 1 rakaat.

Jumlah dan cara ini dibolehkan oleh mayoritas ulama, karena witir boleh dikerjakan dengan 1 rakaat.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

اَلْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ
“Witir adalah 1 rakaat yang dikerjakan di akhir malam.”
(HR. Imam Muslim, no.1247)

اَلْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ
“Witir adalah sebuah hak atas setiap muslim, barang siapa yang hendak mengerjakan shalat Witir 5 rakaat, maka hendaknya dia mengerjakannya. Dan barang siapa yang hendak mengerjakan shalat Witir 3 rakaat, maka hendaknya dia mengerjakannya. Dan barang siapa yang hendak mengerjakan shalat Witir 1 rakaat, maka hendaknya dia mengerjakannya.”
(HR. Abu Dawud no.1212)

• Shalat Witir dengan 3 rakaat.

Untuk jumlah ini, dapat dikerjakan dengan dua cara, yaitu: 3 rakaat dengan sekali salam, atau mengerjakan 2 rakaat kemudian salam lalu mengerjakan 1 rakaat lagi kemudian salam.

– Cara 3 rakaat dengan sekali salam.
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat Witir 3 rakaat sekaligus, beliau tidak duduk (tasyahud) kecuali pada rakaat terakhir.”
(HR. Al-Baihaqi 3:28)

Dari Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ
“Barang siapa yang suka mengerjakan witir 3 rakaat, maka karjakanlah!”
(HR. Abu Dawud, no.1422)

Jadi, kalau ingin mengerjakan sekaligus 3 rakaat, maka tidak boleh diserupakan dengan cara shalat Maghrib, yakni dikerjakan dengan 2 kali salam.

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا تُوتِرُوا بِثَلَاثٍ أَوتِرُوا بِخَمْسٍ أَوْ بِسَبْعٍ وَلَاتَشَبَّهُوا بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ
“Janganlah lakukan shalat witir yang 3 rakaat seperti shalat Maghrib! Namun, berwitirlah dengan 5 atau 7 rakaat!”
(HR. Ibnu Hibban, no.2429)

Maksudnya: Kalau caranya seperti shalat Maghrib, sehingga 3 rakaat shalat Witir yang digabungkan memakai tasyahud awal di dalamnya, maka itu yang tidak dibolehkan, karena menyerupai cara shalat Maghrib.

Syaikh Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah berkata;
“Hadits ini menunjukkan bahwa syariat Islam ingin agar ibadah sunnah tidak disamakan dengan ibadah wajib.”
(Syarhu Al-Mumthi, 4:79)

Jadi, intinya kedua cara di atas boleh dilakukan, berdasarkan penjelasan beberapa dalil di atas.

– Cara 3 rakaat dengan 2 kali salam.
Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha, dia bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى فِى الْحُجْرَةِ وَأَنَا فِى الْبَيْتِ فَيَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat di dalam kamar ketika aku berada di rumah dan beliau shallallahu alaihi wa sallam memisahkan antara rakaat yang genap dengan yang ganjil dengan salam yang beliau shallallahu alaihi wa sallam perdengarkan kepada kami.”
(HR. Ahmad, 6:83)

Dari Nafi rahimahullah, dia bercerita mengenai shalat Witir dari Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma;

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِى الْوِتْرِ
“Sesungguhnya Abdullah bin Umar biasa mengucapkan salam ketika 1 rakaat dan 2 rakaat saat shalat Witir.”
(HR. Imam Bukhari, no.991)

• Shalat Witir dengan 5 rakaat.

Cara mengerjakannya adalah dengan 5 rakaat sekaligus, dan tasyahud hanya ada pada rakaat terakhir, kemudian salam.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لَا يَجْلِسُ فِي شَيْءٍ إِلَّا فِي آخِرِهَا
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa shalat malam sebanyak 13 rakaat, dengan 5 rakaat shalat Witir. Beliau tidak duduk (tasyahud), kecuali di rakaat terakhir.”
(HR. Imam Muslim, no.1217)

• Shalat Witir dengan 7 rakaat.

Cara mengerjakannya adalah tanpa duduk tasyahud, kecuali pada rakaat 6. Setelah tasyahud pada rakaat 6, tidak langsung salam namun, dilanjutkan dengan berdiri kembali pada rakaat 7. Kemudian tasyahud kembali pada rakaat 7, lalu salam.

Ummu Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنْ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيهَا إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّ التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا
“Dahulu kami sering mempersiapkan siwaknya dan bersucinya, setelah itu Allah membangunkannya sekehendakNya untuk bangun malam. Beliau lalu bersiwak dan berwudhu dan shalat 9 rakaat. Beliau tidak duduk (tasyahud) dalam 9 rakaat itu, kecuali pada rakaat 8, beliau menyebut nama Allah, memujiNya, dan berdoa kepadaNya, kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Setelah itu beliau berdiri kembali dan shalat untuk rakaat ke 9. Kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memujiNya, dan berdoa kepadaNya, lalu beliau mengucapkan salam dengan keras, agar kami mendengarnya.”
(HR. Imam Muslim, no.1233)

• Shalat Witir dengan 9 rakaat.

Cara mengerjakannya adalah tanpa duduk tasyahud, kecuali pada rakaat 8. Setelah tasyahud pada rakaat 8 tidak langsung salam namun, dilanjutkan dengan berdiri kembali pada rakaat 9, kemudian tasyahud pada rakaat 9, lalu salam.

Ummu Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنْ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيهَا إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّ التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ وَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ فَلَمَّا سَنَّ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَهُ اللَّحْمُ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الْأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَيَّ وَكَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَحَبَّ أَنْ يُدَاوِمَ عَلَيْهَا وَكَانَ إِذَا غَلَبَهُ نَوْمٌ أَوْ وَجَعٌ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً وَلَا أَعْلَمُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ كُلَّهُ فِي لَيْلَةٍ وَلَا صَلَّى لَيْلَةً إِلَى الصُّبْحِ وَلَا صَامَ شَهْرًا كَامِلًا غَيْرَ رَمَضَانَ
“Dahulu kami sering mempersiapkan siwaknya dan bersucinya, setelah itu Allah membangunkannya sekehendakNya untuk bangun malam. Beliau lalu bersiwak dan berwudhu dan shalat 9 rakaat. Beliau tidak duduk (tasyahud) dalam 9 rakaat itu, kecuali pada rakaat 8, beliau menyebut nama Allah, memujiNya, dan berdoa kepadaNya, kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Setelah itu beliau berdiri kembali dan shalat untuk rakaat ke 9. Kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memujiNya, dan berdoa kepadaNya, lalu beliau mengucapkan salam dengan keras, agar kami mendengarnya. Setelah itu beliau shalat 2 rakaat setelah salam sambil duduk, itulah 11 rakaat wahai anakku. Ketika Nabi berusia lanjut dan beliau telah merasa kegemukan, beliau berwitir dengan 7 rakaat, dan beliau lakukan dalam dua rakaatnya sebagaimana yang beliau lakukan pada yang pertama, maka itu berarti 9 wahai anakku. Jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan shalat, maka beliau suka dikerjakan secara terus-menerus (kontinu). Jika beliau ketiduran atau sedang sakit sehingga tidak dapat mengerjakannya di malam hari, maka beliau shalat di waktu siangnya sebanyak 12 rakaat, seingatku Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah membaca satu mushaf (keseluruhan Al-Quran) dalam satu malam, tidak juga shalat malam hingga Shubuh, tidak juga puasa sebulan penuh, selain pada bulan Ramadhan.”
(HR. Imam Muslim, no.1233)

5. Qunut witir.
Secara umum, para ulama berpendapat bahwa qunut dalam shalat Witir itu disyariatkan namun, para ulama berselisih pendapat tentang hukumnya, antara wajib ataukah sunnah. Lalu mengenai waktu qunut shalat Witir boleh dilakukan, setiap malam ataukah hanya saat di akhir Ramadhan.

Di antara pendapat yang ada, pendapat yang lebih kuat dan mendekati pada kebenaran adalah qunut shalat Witir disunnahkan untuk dilakukan pada setiap malam, yakni setiap shalat Witir. Inilah pendapat madzhab Hanbali dan pendapat beberapa ulama lainnya. Pendapat ini berdasarkan amalan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana riwayat dari Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu, dia berkata;

إِنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوْتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan shalat Witir, lalu melakukan qunut sebelum ruku.”
(HR. Al-Albani, Ashlu Shifati Ash-Shalah, 3:968. Hadits ini sanadnya baik)

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada cucunya, yakni Hasan bin Ali radhiyallahu anhu untuk membaca doa qunut saat shalat Witir.

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata;
“Demikian juga para Sahabat yang meriwayatkan shalat Witir Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam , mereka tidak menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berqunut. Seandainya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukannya secara terus-menerus, tentulah para Sahabat akan menukilkannya. Meskipun ada Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam , yaitu Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu yang meriwayatkan qunut shalat Witir Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Namun, hal ini menunjukkan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam terkadang melakukannya, dan juga berisi dalil bahwa qunut dalam shalat Witir tidak wajib.
(Shifat Shalat Nabi, hlm.179)

Lalu beliau melanjutkan;
“Semua ini menunjukkan qunut Witir tidak wajib. Sedangkan yang menunjukkan dilakukan di sepanjang tahun (setiap malam), yaitu keumuman amalan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang tidak dijelaskan kekhususannya dalam bulan tertentu. Ini menunjukkan, boleh dilakukan sepanjang tahun, dan lebih utama lagi tidak terus-menerus melakukannya, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam . Inilah pendapat yang dirajihkan (dikuatkan).”
(Shifat Shalat Nabi, hlm.179)

• Kapan qunut dilakukan dalam shalat Witir?

Qunut dilakukan pada rakaat terakhir setelah membaca surat dan sebelum ruku. Inilah cara yang shahih berdasarkan amalan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Namun, terkadang beliau juga melakukannya setelah ruku, sebelum sujud. Di antara dalil yang menjelaskan hal tersebut adalah;

– Hadits Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu, dia berkata;

إِنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوْتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan shalat Witir, lalu melakukan qunut sebelum ruku.”
(HR. Al-Albani, Ashlu Shifati Ash-Shalah, 3:968. Hadits ini sanadnya baik)

– Atsar dari Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu yang dijelaskan oleh Al-Qamah rahimahullah, dia berkata;

أَنَّ ابْنَ مَسْعُوْدٍ وَأَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوْا يَقْنُتُوْنَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ
“Sungguh, dahulu Ibnu Masud dan para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan qunut dalam shalat Witir sebelum ruku.”
(HR. Al-Albani, Irwau Al-Ghalil, 2:166. Hadits ini sanadnya baik dan sesuai syarat Muslim)

Lalu Syaikh Al-Albani berkata: Kesimpulannya, yang shahih dari para Sahabat adalah qunut sebelum ruku dalam shalat Witir.

Meskipun qunut shalat Witir dilakukan sebelum ruku namun, ada riwayat lain yang menjelaskan bolehnya melakukan qunut witir setelah ruku.

Sebagaimana riwayat dari Sahabat Urwah bin Az-Zubair radhiyallahu anhu, dia berkata;

أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمنِ بْنَ عَبْدٍ الْقَارِي وَ كَانَ فِيْ عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَاب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الأَرْقَمِ عَلَى بَيْتِ الْمَالِ قَالَ: أَنَّ عُمَرَ بْنِ الْخَطَاب رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ لَيْلَةً فِيْ رَمَضَانَ فَخَرَجَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنُ عَبْدٍ الْقَارِي فَطَافَ بِالْمَسْجِدِ وَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ إِنِّيْ أَظُنُّ لَوْ جَمَعْنَا هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ عُمَرُ عَلَى ذَلِكَ وَ أَمَرَ أُبَيَّ أَنْ يَقُوْمَ لَهُمْ فِيْ رَمَضَانَ فَخَرَجَ عُمَرُ عَلَيْهِمْ وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَ الْبِدْعَةُ هِيَّ وَالَّتِيْ يَنَامُوْنَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِيْ يَقُوْمُوْنَ يريد: آخر الليل فَكاَنَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ أَوَّلَهُ وَكَانُوْا يَلْعَنُوْنَ الْكَفَرَةَ فِيْ النِّصْفِ: اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَلاَ يُؤْمِنُوْنَ بِوَعْدِكَ وَخاَلِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرَّعْبَ وَأَلْقِ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ إِلهُ الْحَقِّ. ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَِيَدْعُوْ لِلْمُسْلِمِيْنَ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ خَيْرٍ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ. قَالَ: وَكَانَ يَقُوْلُ إِذَا فَرَغَ مِنْ لَعْنِهِ الْكَفَرَةِ وَصَلاَتِهِ عَلَى النَّبِيِّ وَاسْتِغْفَارِهِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَمَسْأَلَتِهِ: اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ وَنَرْجُوْ رَحْمَتَكَ رَبَّنَا وَنَخَافُ عَذَابَكَ الْجِدِّ إِنَّ عَذَابَكَ لِمَنْ عَادَيْتَ مُلْحَقٌ ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَهْوِي سَاجِداً
“Sesungguhnya Abdurrahman bin Abdun Al-Qari, beliau dahulu pada zaman Umar bin Al-Khatthab bersama Abdullah bin Al-Arqam memegang Baitul Mal berkata: Sesungguhnya Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu anhu keluar pada malam hari di bulan Ramadhan, lalu Abdurrahman bin Abdun Al-Qari keluar dan mengelilingi masjid dan mendapatkan orang-orang di masjid terbagi berkelompok tidak bersatu. Seorang shalat sendiri dan yang lainnya mengimami shalat sejumlah orang. Maka Umar berkata: Demi Allah! Aku pandang, seandainya kita kumpulkan mereka pada satu imam saja, tentu akan lebih baik. Kemudian Umar bertekad untuk itu, dan dia memerintahkan Ubay bin Kaab untuk mengimami shalat malam mereka di bulan Ramadhan. Lalu Umar radhiyallahu anhu keluar menemui mereka lagi dalam keadaan orang-orang shalat di belakang satu imam, sehingga Umar berkata: Sebaik-baik bidah adalah ini dan yang tidur (tidak ikut) lebih utama dari yang ikut shalat, yang beliau inginkan (yang shalat) di akhir malam (lebih utama), karena orang-orang melakukan shalat Tarawih di awal malam. Mereka melaknat (mendoakan keburukan) bagi orang kafir pada separuh bulan Ramadhan dengan doa: Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir yang menghalangi (manusia) dari jalanMu, mendustakan para RasulMu dan tidak beriman dengan janjiMu. Cerai-beraikan persatuan mereka dan timpakanlah rasa takut di hati-hati mereka, serta timpakan siksaan dan adzabMu atas mereka, wahai sesembahan yang haq! Kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan berdoa untuk kebaikan umat Islam semampunya, kemudian memohon ampunan untuk kaum mukminin. Beliau berkata: Apabila selesai melaknat orang-orang kafir, bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, memohon ampunan untuk kaum mukminin dan mukminat serta permintaan lainnya, dia mengucapkan: Ya Allah, kami hanya menyembah kepadaMu, berusaha dan beramal hanya untukMu, dan memohon rahmat kepadaMu, wahai Rabb kami, dan kami takut terhadap adzabMu yang pedih. Sesungguhnya adzabMu ditimpakan kepada orang yang Engkau musuhi, kemudian dia bertakbir dan turun untuk sujud.”
(HR. Ibnu Khuzaimah, 2:155-156)

Kalimat akhir “kemudian dia bertakbir dan turun untuk sujud” pada riwayat di atas, itu menunjukkan bahwasanya qunut witir dilakukan setelah ruku, yang berarti bolehnya hal tersebut karena dilakukan di hadapan para Sahabat, dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.

• Doa-doa di dalam shalat Witir.

– Doa qunut witir.

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
“Allaahummah Dinii Fiiman Hadait Wa Aafinii Fiiman Tawallait Wa Baarik Lii Fiimaa Athait Wa Qinii Syarra Maa Qadhait Innaka Taqdhii Wa Laa Yuqdhaa Alaik Wa Innahu Laa Yadzillu Man Waalait Wa Laa Yaizzu Man Aadait Tabaarakta Rabbanaa Wa Taalait”

Sebagaimana Hasan bin Ali radhiyallahu anhuma bercerita;

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ قَالَ ابْنُ جَوَّاسٍ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang aku ucapkan ketika mengerjakan shalat Witir. Ibnu Hawwas berkat: Ketika melakukan qunut witir yaitu: Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan sesuatu yang telah Engkau putuskan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Engkau maha suci dan maha tinggi.”
(HR. Abu Dawud, no.1214)

– Doa di akhir witir.

اَللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Allaahumma Innii Auudzu Biridhaaka Min Sakhathika Wa Bimuaafaatika Min Uquubatika Wa Auudzu Bika Minka Laa Uhshii Tsanaaan Alaika Anta Kamaa Atsnaita Alaa Nafsik”

Sebagaimana Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ اَللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Aku kehilangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada suatu malam dari kasur peraduanku, lalu aku mencarinya, lalu tanganku mendapati bagian luar kedua telapak kakinya dalam keadaan beliau berada di masjid. Kedua telapak kakinya tegak lurus, dan beliau berdoa: Ya Allah, aku berlindung dengan ridhaMu dari bahaya murkaMu, dan berlindung dengan ampunanMu dari bahaya hukumanMu, dan aku berlindung kepadaMu dari adzabMu, aku tidak bisa menghitung pujian atasMu. Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji atas diriMu.”
(HR. Imam Muslim, no.751)

6. Doa dan dzikir setelah salam shalat Witir.

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ، رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ
“Maha suci Allah, raja yang maha suci (dibaca sebanyak tiga kali, dan yang ketiga, beliau membacanya dengan suara keras dan panjang) Rabbnya para Malaikat dan Jibril.”
(HR. Ad-Daruquthni, 2:31)

Dari Sahabat Abdurrahman bin Abza radhiyallahu anhu, dia berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالثَّالِثَةِ
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat Witir dengan membaca surat Al-Ala, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlash. Jika beliau telah mengucapkan salam, maka beliau membaca doa: Subhaanal malikil qudduuus, sebanyak tiga kali, dan memanjangkan suaranya pada bacaan yang ketiga.”
(HR. An-Nasai, no.1713)

Dari Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu, dia berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ فِي الْوِتْرِ قَالَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila telah melakukan salam shalat Witir, beliau membaca: Subhaanal malikil qudduuus.”
(HR. Abu Dawud, no.1218)

Dari Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu, dia berkata,

فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فِى الْآخِرَةِ يَقُولُ: رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ
“Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan salam, beliau membaca: Subhaanal malikil qudduuus, sebanyak tiga kali dan pada suara ketiga, beliau memanjangkan suaranya. Lalu beliau mengucapkan: Rabbil malaikati war ruuuh.”
(HR. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, 3:40)

Tambahan kalimat “Rabbil malaikati war ruuuh” adalah tambahan yang diterima. Sehingga doa setelah shalat Witir bisa juga dengan membaca: Subhaanal malikil qudduuus (sebanyak 3 kali), lalu bacaan yang terakhir dipanjangkan, kemudian ditambahkan dengan membaca: Rabbil malaikati war ruuuh.

Catatan: Doa atau dzikir tersebut dibaca langsung setelah selesai salam. Shalat Witir Rasulullah

1. Cara melakukan shalat Witir.
Sebetulnya, ada 3 cara untuk melakukannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama madzhab namun, ada 2 cara yang dianggap lebih kuat.

• Mengerjakan 3 rakaat dengan pola 2-1 (2 rakaat salam, lalu 1 rakaat salam).
Dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى فِى الْحُجْرَةِ وَأَنَا فِى الْبَيْتِ فَيَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat di dalam kamar ketika aku berada di rumah dan beliau memisahkan antara rakaat yang genap dengan yang witir (ganjil) dengan salam yang beliau perdengarkan kepada kami.”
(HR. Ahmad, 6:83)

Dari Nafi, dia berkata mengenai shalat Witir dari Ibnu Umar, radhiyallahu anhum;

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِى الْوِتْرِ ، حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ
“Sesungguhnya Ibnu Umar biasa mengucapkan salam ketika 1 rakaat dan 2 rakaat saat shalat Witir, sampai dia memerintah untuk sebagian hajatnya.”
(HR. Imam Bukhari, no.991)

• Mengerjakan sekaligus 3 rakaat.
Dari Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ
“Siapa yang suka lakukan Witir 3 rakaat, maka lakukanlah!”
(HR. Abu Dawud, no.1422)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa berwitir 3 rakaat sekaligus, beliau tidak duduk (tasyahud), kecuali pada rakaat terakhir.”
(HR. Al-Baihaqi 3:28)

Jadi, kalau ingin melakukan 3 rakaat langsung tidak boleh diserupakan dengan shalat Maghrib, maksudnya dikerjakan dengan 2 kali salam.

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لَا تُوْتِرُوا بِثَلَاثٍ أُوْتِرُوا بِخَمْسٍ أَوْ بِسَبْعٍ وَلَا تَشَبَّهُوا بِصَلَاة ِالْمَغْرِبِ
“Janganlah lakukan shalat Witir yang 3 rakaat seperti shalat Maghrib! Namun, berwitirlah dengan 5 atau 7 rakaat!”
(HR. Ibnu Hibban, no.2429)

Maksudnya: Kalau cara mengerjakan shalat Witir sama seperti shalat Maghrib, sehingga 3 rakaat Witir yang digabungkan memakai tasyahud awal di dalamnya, itu yang tidak dibolehkan. Karena menyerupai cara shalat Maghrib.

Bararti untuk pelaksanaan shalat Witir yang berjumlah 5 atau 7 rakaat itu pelaksanaannya sama menggunakan cara yang sudah dijelaskan di atas, yaitu; 2+2+1 atau 2+3, dan 2+2+2+1 atau 2+2+3.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata;
“Hadits tersebut menunjukkan bahwa syariat Islam ingin agar ibadah sunnah tidak disamakan dengan ibadah wajib.”
(Syarhu Al-Mumti, 4:79)

Jadi, intinya kedua cara di atas boleh dilakukan, berdasarkan penjelasan beberapa dalil di atas.

2. Bacaan setelah salam shalat Witir.

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ، رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ
“Maha suci Allah, raja yang maha suci (dibaca 3x, dan yang ketiga, beliau membacanya dengan suara keras dan panjang) Rabbnya para Malaikat dan Jibril.”
(HR. Ad-Daruquthni, 2:31)

Perlu diketahui, bahwa tidak ada doa setelah shalat Tarawih atau pun di sela Tarawih. Yang ada adalah doa setelah shalat Witir. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan beberapa macam doa setelah shalat Witir kepada umatnya.

-Subhaanal Malikil Qudduuus (maha suci Allah, raja yang maha suci).

Hadits lengkapnya: Dari Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah salam shalat Witir, beliau membaca: Subhaanal Malikil Qudduuus.”
(HR. Abu Dawud, no.1430)

Dari Sahabat Abdurrahman bin Abza radhiyallahu anhu, terdapat tambahan; “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan shalat Witir dengan membaca surat Al-Ala (rakaat pertama), surat Al-Kaafirun (rakaat kedua) dan surat Al-Ikhlash (rakaat ketiga). Setelah salam, beliau membaca: Subhaanal Malikil Qudduuus 3x. Lalu beliau keraskan (panjangkan) bacaan yang ketiga.”
(HR. An-Nasai, no.1732)

Dari Sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu, beliau mengatakan: Di bagian akhir beliau membaca: Rabbil Malaaikati War Ruuuh.
(HR. Ad-Daruquthni, no.1660)

Dari beberapa riwayat di atas, dapat kita simpulkan terkait bacaan doa setelah shalat Witir, di antaranya;
– Doa ini dibaca tepat setelah salam shalat Witir.
– Doa yang awal dibaca sebanyak 3x.
– Pada bacaan yang ke-3, dikeraskan dan dipanjangkan: Subhaaanal Malikil Qudduuus.
• Lalu disambung dengan membaca: Rabbil Malaaikati War Ruuuh.

Kalimat Subbuuhun Qudduusun Rabbul Malaaikati War Ruuuh adalah termasuk salah satu doa yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika ruku atau sujud.

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membaca doa ketika ruku dan sujud beliau: Subbuuhun Qudduusun Rabbul Malaaikati War Ruuuh (Maha suci, Maha qudus, RabbNya Malaikat dan ruh).”
(HR. Imam Muslim, no.752)

Semoga Allah azza wa jalla memberikan ilmu yang berkah kepada kita. Aamiin
___
@Kota Angin Majalengka-Jawa Barat.
27 Rajab 1440H/03 April 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaMemanen Pahala Di Bulan Rajab
Artikel sesudahnyaSifat Itikaf Rasulullah
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here