Beranda Belajar Islam Amalan Memanen Pahala Di Bulan Rajab

Memanen Pahala Di Bulan Rajab

508
0
BERBAGI

Memanen Pahala Di Bulan Rajab

Para Pembaca yang semoga Allah berikan kemudahan untuk istiqamah dalam membaca setiap tulisan ilmu, serta nasihat, untuk mengamalkannya dan mendakwahkannya.

Bulan Rajab sering kita dengar beberapa keutamaannya, dan tidak semua orang yang sudah mengetahuinya itu bisa juga mengamalkannya, termasuk kita. Karena terkadang kita sekedar menganggapnya “itukan sunnah”.

Itulah yang membuat kita sama namun, hakikatnya beda dengan Para Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Ketika mereka mengatakan “inikan sunnah”, mereka segera mengamalkannya dan menjadikan hal ini sebagai ajang perlombaan di antara mereka untuk menjadi yang terdepan dalam beramal shalih dan menghidupkan sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sedangkan kita, ketika mengatakan “inikan sunnah”, kita menjadi cuek dan tidak bersegera untuk mengamalkannya. Dan menjadikan hal ini sebagai ajang perlombaan untuk menjadi yang terbelakang dalam beramal shalih dan perlahan menghilangkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan keseharian kita.

Dari Sahabat Amr bin Auf bin Zaid Al-Muzani radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan (diikuti) oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.”
(HR Ibnu Majah, no.209. Pada sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna. Syaikh Al-Albani menshahihkannya, Shahih Ibnu Majah, no.173)

Imam Bukhari rahimahullah berkata; “Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang telah ditinggalkan (manusia). Maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah! Karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia).”
(Al-Jami Li Akhlaqi Ar-Rawi, 1:168)

Maka teruslah berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan untuk berjuang sekuat tenaga menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Hal yang perlu diketahui oleh seluruh umat Islam seputar bulan Rajab, di antaranya;

1. Bulan Rajab Termasuk Bulan Haram

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata;
“Asal penamaan bulan Rajab, dari kata: rajjaba-yurajjibu, yang artinya mengagungkan. Bulan ini dinamakan Rajab karena bulan ini diagungkan masyarakat Arab.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.210)

Bulan Rajab terletak di antara bulan Jumadal Akhirah dan bulan Syaban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram, ia juga termasuk bulan haram.

Allah azza wa jalla berfirman;

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam empat bulan tersebut!”
(Surat At-Taubah: ayat 36)

Ibnu Rajab rahimahullah juga mengatakan;
“Allah Taala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar pada orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari, sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.202)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah pada haji wada;

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman telah beredar, sebagaimana yang ditentukan semenjak Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun terdapat dua belas bulan. Darinya terdapat empat bulan haram, yakni tiga bulan di antaranya berurutan, Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab bulan mudhar yang berada di antara Jumada (Akhirah) dan Syaban.”
(HR. Ibnu Hibban, no.5974)

Ada dua alasan yang menyebabkan empat bulan itu disebut bulan haram, di antaranya;
• Pertama: Karena diharamkan perang di dalamnya, kecuali kalau musuh memulainya.
• Kedua: Karena besarnya kehormatan dan keagungan bulan-bulan tersebut, sehingga maksiat yang dikerjakan di dalamnya, dosanya lebih besar dari pada dikerjakan pada bulan-bulan selainnya. Oleh sebab itu, Allah melarang kita secara khusus dari melakukan kesalahan dan kemaksiatan pada bulan-bulan haram tersebut.

Keterangan sejumlah mufassirin (Ahli Tafsir) kemaksiatan tetap diharamkan di semua bulan sepanjang tahun. Hanya saja larangannya di bulan-bulan haram ini lebih kuat, karena konsekuensi dosanya lebih besar. Sebaliknya, amal shalih di dalamnya juga akan dibalas lebih besar.

Syaikh Abdurrahman As-Sadi rahimahullah menjelaskan;
“Satu dari dua kata ganti bulan dilarangnya berbuat zhalim pada ayat di atas, bisa juga dhamir tersebut kembali ke empat bulan haram. Ini larangan khusus atas mereka dari melakukan kezhaliman di dalamnya yang disebutkan bersamaan dengan larangan berbuat zhalim pada setiap waktu. Ini untuk menunjukkan kemuliaannya yang lebih. Kezhaliman di dalamnya, dosanya lebih besar dari pada di bulan-bulan selainnya.”
(Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm.373)

Jadi, empat bulan suci (haram) yang dimaksud adalah Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Tajab.

2. Tidak Ada Amalan Khusus Di Bulan Rajab

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan;
“Tidak ada riwayat yang shahih, sehingga bisa untuk dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, baik bentuknya puasa sebulan penuh, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat Tahajjud di malam tertentu. Keterangan aku ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.”
(Tabyinu Al-Ujub Bimaa Warada Fii Fadhli Rajab, hlm.6)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan;
“Tidak terdapat dalil yang shahih, yang menyebutkan adanya anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Ada pun hadits yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pada pekan pertama bulan Rajab adalah hadits dusta, bathil, dan tidak shahih. Shalat Raghaib adalah amalan yang tidak sesuai sunnah Rasulullah, menurut pendapat mayoritas ulama.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.213)

Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan, tidak ada satu pun hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan;
“Di Surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.”

Namun, riwayat ini bukan hadits. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah tersebut;
“Abu Qilabah termasuk Tabiin senior, beliau tidak menyampaikan riwayat itu, kecuali karena kabar tanpa sanad.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.213)

Jadi, tidak layak bagi kita yang mengaku beragama Islam, sebagai hambaNya Allah, umatnya Rasulullah, berani melakukan suatu ibadah yang tidak diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Buktikan rasa cinta kita kepada Allah dan RasulNya dengan mengikuti dan mengerjakan setiap perintahnya, bukan malah meninggalkannya dan menyelisihinya!

3. Disunnahkan Untuk Memperbanyak Amalan Sunnah

Meski pun pada point di atas tadi sudah dijelaskan, bahwa tidak ada amalan khusus di bulan Rajab namun, Rasulullah memberikan contoh kepada umatnya, yakni beliau memperbanyak amalan ibadah sunnah di bulan Rajab.

Terdapat hadits yang shahih dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dijelaskan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam terbiasa banyak berpuasa di bulan Syaban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari pada bulan Syaban. Dan pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan dari pada bulan yang lainnya, karena mulianya bulan tersebut. Demikian juga pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan berbagai amalan ketaatan (ibadah).”
(Zadu Al-Maysir, Tafsir Surat At-Taubah Ayat 36)

Karena pada saat itu adalah waktu yang sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, hingga para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan-bulan haram. Imam Sufyan Ats-Tsauri mengatakan: Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
(Lathaif Al-Maarif, hlm.214)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu mengatakan: Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci. Melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan shalih yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.
(Lathaif Al-Maarif, hlm.207)

Ada pun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dhaif) bahkan palsu (maudhu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits tersebut sebagai sandaran (dalil). Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu dan dusta.”
(Majmu Al-Fatawa, 25:290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para Sahabat Nabi radhiyallahu anhum, bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari di bulan Rajab, karena dikhawatirkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan.

Sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh Sahabat Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu. Ketika bulan Rajab, Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau mengatakan;

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ
“Janganlah kalian menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.”
(Majmu Al-Fatawa, 25:290 dan beliau menyatakan shahih. Begitu juga riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Ada pun perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja.
(Majmu Al-Fatawa, 25:291)

4. Kesimpulan

Berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point, di antaranya;

a. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
b. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib).
c. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. (Al-Hawadits Wa Al-Bida, hlm.130-131)

Maka sebagai penutup, jika kita ingin memanen pahala di bulan Rajab dan di bulan haram lainnya, maka perbanyaklah menanam dengan melakukan amalan-amalan yang sesuai sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang diketahui dari hadits-haditsnya yang shahih atau hasan, bukan dari selainnya!

Karena sesuatu yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Semakin banyak kita menanam, maka akan semakin banyak pula kita menuai.

Jadi, manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, jangan biarkan waktu di bulan-bulan haram kita lalui tanpa amal shalih! Dalam masalah ibadah, tidak ada kata percuma dan tidak ada kata terlambat.

Karena sekecil apa pun amalan ibadah yang kita lakukan, pasti akan dibalas dengan kebaikan pahala oleh Allah azza wa jalla. Sebagaimana sekecil apa pun amalan maksiat yang kita lakukan, pasti akan dibalas juga dengan dosa oleh Allah azza wa jalla.

Kalau berobat saja kita sangat berhati-hati dalam memilih dokter, karena takut salah penanganan dan salah konsumsi obat. Maka untuk beribadah, kita harus lebih berhati-hati dalam memilih guru, karena takut salah mendapatkan penjelasan ilmu, sehingga salah pula melakukan amalan ibadah. Sehingga bukan pahala yang kita dapatkan, malah dosa yang kita dapatkan.

Dalam beribadah kepada Allah itu dibutuhkan dalil, bukan cuma niat baik saja. Karena konsep beragama Islam yang benar adalah mengerjakan setiap yang Allah perintahkan dan mengikuti setiap yang Rasulullah contohkan.

Semoga Allah berikan kemudahan kepada kita untuk istiqamah dalam mempelajari ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Aamiin

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى، وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى، وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Dan jadikanlah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan.” Aamiin
(HR. Imam Muslim, no.4897)
_____
Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihat, selesai ditulis pada malam hari, di kediaman Desa Bojong Cideres, Majalengka, Jawa Barat.
Selasa, 18 Rajab 1439H/03 April 2018M.

📝 Al-Faqir ila maghfirati rabbihi;
Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaSifat Shalat Tarawih Rasulullah
Artikel sesudahnyaSifat Shalat Witir Rasulullah
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here