Beranda Belajar Islam Amalan Sifat Shalat Tarawih Rasulullah

Sifat Shalat Tarawih Rasulullah

1521
0
BERBAGI

Sifat Shalat Tarawih Rasulullah

Setelah menikmati hidangan buka puasa di bulan Ramadhan, maka langkah selanjutnya adalah bersiap untuk melakukan ibadah shalat Tarawih.

1. Makna shalat Tarawih.
Qiyaamullail (shalat malam) secara berjamaah di bulan Ramadhan.
(Majmu Fatawa Wa Rasail Ibni Al-Utsaimin, 14:210)

Dinamakan shalat Tarawih yang bermakna ‘mengistirahatkan’, karena para Sahabat radhiyallahu anhum melakukan shalat tersebut dengan memanjangkan berdiri (tenang), ruku dan sujud. Apabila mereka telah shalat 4 rakaat (2 kali salam), maka mereka akan beristirahat, sebelum melanjutkan ke rakaat berikutnya.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 4:10)

Ada pun dilakukan secara berjamaah di masjid, maka itu lebih utama (afdhal), dan boleh juga dikerjakan di rumah, tapi akan berkurang pahalanya, kecuali bagi wanita, lebih afdhal di rumah. Dan apabila di suatu masjid tidak dikerjakan shalat yang sesuai sunnah Rasulullah, misalkan karena bacaan imamnya yang buruk, ngebut shalatnya, maka hendaklah mencari masjid lain yang sesuai sunnah Rasulullah! Jika tidak mendapatkan masjid lain yang sesuai sunnah, maka lebih afdhal shalat sendiri di rumah.
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 7:199)

Ada pun perpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain (Tarawih keliling), bukan untuk tujuan mencari masjid yang sesuai sunnah, maka termasuk kesia-siaan.
(Majmu Fatawa Wa Rasail Ibni Al-Utsaimin, 14:211)

Wanita dengan berdiam di rumah, bukan berarti wanita tidak bisa melaksanakan aktivitas ibadah. Bahkan terdapat banyak ibadah yang bisa dilakukan wanita di dalam rumah, seperti: Shalat, puasa, membaca Al-Quran, berdizkir, mengurusi anak, dan berbakti kepada suaminya. Bahkan sebaik-baik shalat bagi wanita adalah di dalam rumahnya.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.”
(HR. Ahmad, 6:297. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya)

Dari Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا
“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya dari pada shalatnya di pintu-pintu rumahnya. Dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya, lebih utama baginya dari pada di bagian lain di rumahnya.”
(HR. Abu Dawud, no.570)

Perlu kita pahami, bahwa shalat wanita di dalam rumah adalah pengamalan dari perintah Allah azza wa jalla, agar para wanita tetap berada di dalam rumah.

Allah azza wa jalla berfirman;

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah dahulu! Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya! Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”
(Surat Al-Ahzab: ayat 33)

Namun demikian, jika wanita ingin melaksanakan shalat berjamaah di masjid selama tetap memperhatikan aturan-aturan Islam, seperti menutup aurat dan tidak memakai wewangian, maka kita tidak boleh melarangnya untuk pergi ke masjid.

Dari Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا
“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid! Jika mereka meminta izin pada kalian, maka izinkanlah dia!”
(HR. Imam Muslim, no.442)

Bahkan dengan tetap tinggal di rumahnya, wanita bisa mendapatkan pahala yang sangat banyak. Aktivitas hariannya di dalam rumah bisa bernilai pahala, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dia mengatakan;
“Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian berkata: Wahai Rasulullah, kaum laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga bisa berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kami, kaum wanita bisa mendapatkan amalan seperti orang yang jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Barang siapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya, maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah.”
(Tafsir Al-Quran Al-Azhim)

2. Hukum shalat Tarawih.
Shalat Tarawih hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), berdasarkan kesepakatan (ijma) ulama, tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.
(Syarh Shahih Muslim, 6:286)

3. Keutamaan shalat Tarawih.
Keutamaannya sangat besar, diantaranya adalah menjadi sebab dosa-dosa diampuni. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat mengajurkan ibadah ini. Beliau bersabda;

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Orang yang melaksanakan Qiyam Ramadhan (Tarawih) karena iman dan ingin mendapatkan balasan (dari Allah), maka dia akan diampuni dari dosanya yang telah lalu.”
(HR. Imam Bukhari, no.37)

Keutamaan shalat Tarawih hanya akan didapatkan, jika memenuhi tiga syarat, dua syarat terdapat dalam hadits di atas, dan satu syarat lagi terdapat dalam hadits yang lain;
• Berdasarkan iman, yaitu iman kepada Allah dan semua yang Allah wajibkan untuk diimani, termasuk mengimani bahwa shalat Tarawih termasuk sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
• Mengharapkan pahala, yaitu hanya mengharapkan balasan dari Allah semata-mata, inilah hakikat keikhlasan.
• Meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam melakukannya. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak berdasarkan petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.”
(HR. Imam Muslim, no.1718)

4. Waktu shalat tarawih.
Waktu shalat Tarawih dimulai bada Isya sampai terbit fajar (masuk waktu Shubuh), dan hendaklah dilakukan setelah shalat sunnah badiyah Isya, lalu shalat Tarawih, kemudian shalat Witir. Ada pun jika melakukannya sebelum shalat Isya, maka hal itu tidak sesuai sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
(Asy-Syarhu Al-Mumti, 4:60)

Maksud ‘Qiyam Ramadhan’ ini mencakup shalat-shalat sunnah yang dilakukan pada malam-malam Ramadhan dan juga shalat Tarawih. Oleh karena itu, seharusnya kita memperhatikan dan senantiasa menjaganya. Kita laksanakan dengan penuh antusias bersama imam dan tidak meninggalkan imam, sebelum Witir selesai. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Barang siapa shalat bersama imam sampai imam itu selesai, maka dituliskan baginya pahala seperti shalat satu malam.”
(HR. At-Tirmidzi, no.806)

Jadi, jika kita ingin mendapatkan pahala seperti beribadah semalaman, maka ikutilah shalat Tarawih bersama imam secara tuntas! Baik shalat Tarawih yang berjumlah 11 rakaat, 23 rakaat atau 40 rakaat.

Ada pun kepada para imam yang menjadi imam dalam shalat Tarawih, hendaknya bertaqwa kepada Allah azza wa jalla dalam menjalankannya! Seorang imam hendaklah tetap menjaga tumaninah (diam sejenak) di setiap gerakan shalat dan dengan perlahan-perlahan dalam melakukan shalatnya, sehingga para makmum memiliki kesempatan untuk menjalankan amalan-amalan yang wajib dan sunnah, sesuai dengan kemampuannya. Sungguh, pada masa sekarang ini, kita melihat fenomena yang sangat menyedihkan. Ada di antara para imam yang melaksanakan shalat Tarawih secara cepat layaknya pembalap, sehingga meninggalkan tumaninah. Padahal, tumaninah merupakan salah satu rukun shalat. Pelaksanaan ibadah shalat yang tidak memperhatikan tumaninah adalah haram dan menjadi sebab tidak sah shalatnya.

Meski pun seorang imam melakukan shalatnya dengan cepat dan tidak sampai meninggalkan tumaninah, akan tetapi perbuatan imam tersebut telah menyebabkan orang-orang yang makmum kepadanya merasa kelelahan dan tidak bisa melaksanakan yang seharusnya mereka lakukan. Dan perlu diketahui, orang yang menjadi imam dalam shalat, tidaklah sama dengan shalat sendirian. Seorang imam wajib memperhatikan keadaan para makmumnya, menunaikan amanah yang ada dipundaknya, serta melaksanakan shalat sebagaimana Rasulullah melakukannya.

Para ulama menyebutkan, seorang imam dimakruhkan untuk mempercepat shalat, sehingga menyebabkan makmum tidak bisa melaksanakan amalan yang disunnahkan. Lalu bagaimana kalau sang imam mempercepat shalatnya, sehingga para makmum tidak bisa melaksanakan amalan yang diwajibkan dalam shalatnya? Tentu ini lebih layak menjadi sebab shalatnya dan para jamaah tersebut tidak diterima oleh Allah azza wa jalla.

5. Tidak boleh bergadang di malam hari bulan Ramadhan, kecuali untuk ibadah.
Di sebagian daerah, ujat Islam sudah terbiasa mengisi malam Ramadhan dengan tidak tidur sampai waktu Shubuh. Ihyaul lail (menghidupkan malam) pada bulan Ramadhan memang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, khususnya pada 10 malam terakhir.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Jika masuk 10 malam terakhir, Nabi mengencangkan ikatan sarung beliau, menghidupkan malam dan membangunkan keluarga beliau.”
(HR. Imam Bukhari, no.1920)

Namun, perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan menghidupkan malam pada hadits tersebut adalah mengisinya dengan berbagai ibadah, seperti shalat, membaca Al-Quran, berdoa, dzikir dan itikaf.

Imam Al-Munawi rahimahullah berkata;
“Maksudnya meninggalkan tidur dan beribadah di sebagian besar malam, (bukan dengan sepanjang malam). Dengan dalil perkataan Aisyah: Aku tidak mengetahui beliau pernah Qiyamullail sepanjang malam, sampai pagi hari.”
(Faidhu Al-Qadir, 5:132)

Jika bergadang diisi dengan hal-hal selain ibadah, seperti menonton acara-acara yang tidak baik di TV, sepakbola, permainan-permainan yang dilarang Islam (misal: judi), atau ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka tidur lebih baik dari itu semua. Apalagi jika kegiatan bergadang ini membuat kita menjadi lalai dari kewajiban terhadap agama Islam, seperti shalat Shubuh berjamaah di masjid, bahkan bisa menjadi sebab bangun kesiangan.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata;

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنِ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنِ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ
“Barang siapa melewatkan yang sunnah karena tersibukkan dengan kewajiban, itu bisa dimaklumi. Dan barang siapa melewatkan kewajiban karena tersibukkan oleh yang sunnah, maka dia telah tertipu.”
(Fathu Al-Baari, 11:343)

6. Jumlah rakaat shalat Tarawih.
Sebetulnya, dalam permalasalahan jumlah rakaat shalat Tarawih tidak ada masalah dengan 11 atau 23 rakaat.

Dari Abu Salamah bin Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha: Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di bulan Ramadhan? Maka Aisyah menjawab;

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah rakaat dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya, lebih dari 11 rakaat.”
(HR. Imam Bukhari, no.1147)

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata;
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 rakaat, lalu beliau shalat Witir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau pada saat itu, hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami. Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagi kalian.”
(HR. Al-Albani, Shalat At-Tarawih, hlm.21. Beliau mengatakan derajat hadits ini hasan)

Ibnu Hajar Al-Haitsamiy rahimahullah berkata;
“Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat. Ada pun hadits yang mengatakan: Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.”
(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 2:9635)

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah juga berkata;
“Ada pun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat ditambah Witir, sanad hadits itu adalah lemah (dhaif). Hadits Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 rakaat juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah tersebut. Padahal Aisyah sendiri yang lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada waktu malam dari pada selainnya. Wallahu alam.”
(Fathu Al-Baari, 6:295)

• Jumlah rakaat shalat Tarawih yang dianjurkan.
Jumlah rakaat shalat Tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 rakaat. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana sudah disebutkan pada hadits-hadits di atas.

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan;
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah rakaat dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya, lebih dari 11 rakaat.”
(HR. Imam Bukhari, no.1147)

Sahabat Ibnu Abbas berkata;

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً. يَعْنِى بِاللَّيْلِ
“Shalat Nabi shallallahu alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 rakaat.”
(HR. Imam Bukhari, no.1138)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata;
“Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah 11 rakaat. Ada pun 2 rakaat lainnya adalah 2 rakaat ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai pembuka (awal) melaksanakan shalat malam.”
(Fathu Al-Baari, 4:123)

• Bolehkah menambah rakaat shalat Tarawih lebih dari 11 rakaat?
Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan bahwa boleh menambah rakaat dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata;
“Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah rakaat tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit rakaat, siapa yang mau juga boleh mengerjakan dengan rakaat yang banyak.”
(At-Tamhid, 21:70)

Di antara dalil yang membenarkan pendapat ini adalah;
• Pertama: Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam;

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ
“Shalat malam adalah 2 rakaat 2 rakaat. Jika kamu khawatir masuk waktu Shubuh, lakukanlah shalat Witir 1 rakaat!”
(HR. Imam Muslim, no.749)

Dalam riwayat yang lain;

فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
“Sesungguhnya tidaklah kamu melakukan sekali sujud kepada Allah, melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.”
(HR. Imam Muslim, no.488)

• Kedua: Pilihan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang memilih shalat Tarawih dengan 11 atau 13 rakaat ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.

Di antara alasannya adalah;
-Perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.

-Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 rakaat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;
“Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 rakaat, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan rakaat yang panjang. Barang siapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan rakaat tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah rakaat yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.”
(Majmu Al-Fatawa, 22:272)

-Rasulullah tidak memerintahkan para Sahabatnya untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 rakaat. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan para Sahabat untuk melaksanakan shalat 11 rakaat namun, tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dan sudah kita ketahui di dalam ilmu ushul, bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus, kecuali jika ada pertentangan.

-Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap rakaat. Di zaman setelah beliau shallallahu alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu rakaat begitu lama. Akhirnya, Sahabat Umar bin Khattab memiliki inisiatif agar shalat Tarawih dikerjakan 20 rakaat agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan namun, dengan bacaan yang ringan.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;
“Ketika Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin kaab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 rakaat kemudian melaksanakan Witir sebanyak 3 rakaat. Namun, ketika itu bacaan setiap rakaat lebih ringan dan diganti dengan rakaat yang ditambahkan. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum dari pada melakukan 1 rakaat dengan bacaan yang begitu panjang.”
(Majmu Al-Fatawa, 22:272)

– Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat Tarawih, Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat Tarawih sebanyak 21 rakaat. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu Shubuh.
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:416)

Terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka juga melakukan shalat Tarawih sebanyak 11 rakaat.

As-Saib bin Yazid rahimahullah berkata;
“Bahwa Umar bin Al Khattab memerintah Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dariy untuk melaksanakan shalat Tarawih sebanyak 11 rakaat. As-Saib mengatakan: Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai shalat hampir Shubuh.”
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:418)

Jadi, shalat Tarawih 11 atau 13 rakaat yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, itu bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah rakaat shalat Tarawih, terdapat beberapa pendapat, di antaranya;
– Pertama; yang membatasi hanya 11 rakaat. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al-Albani dalam kitab beliau, yang berjudul Shalat At-Tarawih.
– Kedua; shalat Tarawih adalah 20 rakaat (belum termasuk Witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Imam Ats-Tsauri, Al-Mubarak, Asy-Syafii, Ash-Habur Ra’yi, juga diriwayatkan dari Sahabat Umar, Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma) para Sahabat.

Ad-Dasuqiy rahimahullah berkata;
“Shalat tarawih dengan 20 rakaat inilah yang menjadi amalan para Sahabat dan Tabiin.”

-Ketiga; Shalat Tarawih adalah 39 rakaat dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qais, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih.
(Shahih Fiqh Sunnah, 1:419)
-Keempat; Shalat Tarawih adalah 40 rakaat dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Abdurrahman bin Al-Aswad shalat malam sebanyak 40 rakaat dan beliau Witir 7 rakaat. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan, sebagaimana dikatakan oleh Abdullah.
(Kasyafu Al-Qana An Matni Al-Iqna, 3:267)

Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada, misal sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata;
“Semua jumlah rakaat di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jamaah. Kalau jamaah kemungkinan senang dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 rakaat ditambah dengan Witir 3 rakaat, sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramadhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun, apabila para jamaah tidak mampu melaksanakan rakaat-rakaat yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 rakaat itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktikkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 rakaat adalah jalan tengah antara jumlah rakaat shalat malam yang 10 dan yang 40. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 rakaat atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barang siapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 rakaat, maka sungguh dia telah keliru.”
(Majmu Al-Fatawa, 22:272)

Dari penjelasan di atas Penulis mengingatkan;
Hendaknya setiap muslim bersikap bijak dalam menyikapi permasalahan ini. Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jamaah shalat Tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 rakaat karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 rakaat atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 rakaat di rumah. Orang yang keluar dari jamaah sebelum imam menutup shalatnya dengan witir, maka dia telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jamaah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai, baik imam melaksanakan 11 atau 23 rakaat, maka akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh. Rasulullah bersabda: Siapa yang shalat bersama imam sampai dia selesai Witir, maka ditulis untuknya pahala shalat satu malam penuh.”

Jika ada yang ingin memanjangkan rakaat shalatnya, maka dipersilakan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ
“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.”
(HR. Imam Muslim, no.756)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata;

عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiran.”
(HR. Imam Muslim, no.545)

Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 rakaat dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al-Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan kadang pula shalat 23 rakaat yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 rakaat. Ini sungguh suatu kekeliruan yang sangat fatal. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu, tenang dan tumaninah, bukan dengan kebut-kebutan!

Seharusnya, dilakukan adalah membaca surat Al-Fatihah dan surat-surat al-quran lainnya didalam shalat mau pun diluar shalat dengan tartil. Makharijul hurufnya harus sesuai, tajwidnya harus benar dan berusahalah untuk memahami maknanya!

Maka hendaknya seorang yang akan shalat, membaca setiap ayat al-quran dengan baik dan benar. Dari segi makharijul huruf dan hukum tajwidnya.

Karena tajwid secara bahasa adalah mashdar dari jawwada-yujawwidu, yang artinya membaguskan. Sedangkan secara istilah, Imam Ibnul Jazari menjelaskan;
“Tajwid adalah membaca dengan membaguskan pelafalannya, yang terhindar dari keburukan pelafalan dan keburukan maknanya, serta membaca dengan maksimal tingkat kebenarannya dan kebagusannya.”
(An-Nasyr Fii Al-Qiraat Al-Asyr, 1:210)

Beliau juga menjelaskan hakikat dari ilmu tajwid;
“Maka tajwid itu merupakan penghias bacaan, yaitu dengan memberikan hak-hak, urutan dan tingkatan yang benar kepada setiap huruf dan mengembalikan setiap huruf pada tempat keluarnya dan pada asalnya (makharijul huruf), menyesuaikan huruf-huruf tersebut pada setiap keadaannya dan membenarkan lafadznya dan memperindah pelafalannya pada setiap konteks, menyempurnakan bentuknya. tanpa berlebihan dan tanpa meremehkan.”
(An-Nasyr Fii Al-Qiraat Al-Asyr, 1:212)

Menurut semua madzhab, dalam melakukan shalat tidak boleh ngebut-ngebutan dari segi bacaan dan gerakan, karena itu merupakan shalat orang munafiq, sebagaimana Allah berfirman; “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia, dan tidak menyebut Allah, kecuali hanya sedikit sekali”
(Surat An-Nisa: ayat 142).

Karena sebetulnya, kita itu diperintahkan untuk mengikuti cara shalatnya Rasulullah, bukan orang lain. Beliau bersabda;

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي
“Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihatku shalat!”
(HR. Imam Bukhari, no.6008)

7. Cara melakukan shalat Tarawih.
Maka lakukanlah shalat Tarawih seperti shalat sunnah lainnya! Tidak ada penambahan dan pengurangan cara apa pun. Jadi, jika ada yang melaksanakan shalat Tarawih dengan dimodifikasi atau diberikan tambahan kegiatan didalamnya, maka ketahuilah bahwa itu adalah cara shalat yang menyelisihi sunnah Rasulullah dan hukumnya tidak boleh dilakukan, karena itu termasuk membuat syariat baru dalam agama Islam. Rasulullah saja tidak berani membuat syariat baru dalam agama Islam, selain apa yang sudah diturunkan oleh Allah melalui wahyuNya, masa kita lebih berani dan lebih lancang dari beliau shallallahu alaihi wa sallam?

Dari Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah bersabda;
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad. Seburuk-buruk ibadah adalah ibadah yang di ada-adakan (yang tidak pernah dilakukan di zaman Nabi) dan setiap perkara yang tidak sesuai sunnah Rasulullah (bidah) adalah sesat.”
(HR. Imam Muslim, no.867)

Maka, rutinitas ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah dari awal sampai dengan terakhir, hendaknya dilakukan terus-menerus sampai berakhirnya bulan Ramadhan. Dan ada pun amalan ibadah yang bersifat umum, berusahalah untuk terus istiqamah mengamalkannya di bulan-bulan lainnya!

Semoga Allah azza wa jalla memberikan ilmu yang berkah kepada kita. Aamiin
___
@Kota Angin Majalengka-Jawa Barat.
27 Rajab 1440H/03 April 2019M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaSifat Puasa Rasulullah
Artikel sesudahnyaMemanen Pahala Di Bulan Rajab
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here