Beranda Belajar Islam Aqidah Mengenal & Menyikapi Hari April Mop

Mengenal & Menyikapi Hari April Mop

350
0
BERBAGI

Mengenal & Menyikapi Hari April Mop

A. Pandangan Umum

April Mop, dikenal dengan April Fools’ Day dalam bahasa Inggris, diperingati setiap tanggal 1 April setiap tahun. Pada hari itu, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap keluarga, musuh, teman bahkan tetangga dengan tujuan mempermalukan orang-orang yang mudah ditipu. Di beberapa negara seperti Inggris dan Australia serta Afrika Selatan, lelucon hanya boleh dilakukan sampai siang atau sebelum siang hari.

Seseorang yang memainkan trik setelah tengah hari disebut sebagai “April Mop”. Namun, di tempat lain seperti Kanada, Prancis, Irlandia, Italia, Rusia, Belanda, dan Amerika Serikat lelucon bebas dimainkan sepanjang hari. Hari itu juga banyak diperingati di Internet.

Tipuan “April Mop” di Kopenhagen, Denmark tahun 2001, yang menampilkan gerbong Stockholms Tunnelbana.
Nama lain: All Fools’ Day
Jenis: Budaya Barat
Makna: Praktik mengerjai orang
Kegiatan: Humor
Tanggal: April 1

Bahasa pemograman PHP pun merayakan April Mop ini dengan mengganti logo php pada setiap page ‘php info’. Perhatikan logo PHP pada php info, setiap tanggal 1 April, logo tersebut akan berubah menjadi gambar-gambar lain yang lucu, misalnya gambar anjing, gambar drakula, dan gambar Batman.

Rutinitas lelucon April Mop sering membuat orang-orang yang memperingatinya sering meragukan liputan berita yang terbit pada tanggal 1 April.

Pada situs website Idntimes dijelaskan;
Ada juga versi yang lebih mengerikan, di mana perayaan April Mop adalah hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara perang salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Tak segan-segan, tentara salib merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan meski awalnya hanya ingin iseng.
Pada masa itu, tentara salib menipu tentara muslim Spanyol yang kalah perang. Mereka mengatakan bahwa warga Spanyol akan dibebaskan dan dibawa keluar dengan menggunakan kapal. Tetapi itu semua hanyalah bohong belaka. Ini merupakan cara tentara salib untuk menipu masyarakat Spanyol. Saat muslim Spanyol masuk ke dalam kapal, mereka justru dibunuh oleh tentara salib. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 1 April.

B. Pandangan Islam

1. Mengandung unsur dusta (bohong).
Allah azza wa jalla berfirman;

‎إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman terhadap ayat-ayat Allah, dan mereka itu adalah pendusta.”
(Surat An-Nahl: ayat 105)

Imam Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan;
“Allah mengabarkan bahwa RasulNya shallallahu alaihi wa sallam bukanlah pembohong dan pendusta. Karena orang yang berdusta atas nama Allah dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam hanyalah makhluk yang paling buruk, yaitu orang-orang kafir yang menyimpang, yang tidak beriman pada ayat-ayat Allah, yang sudah terkenal di masyarakat sebagai pendusta. Semantara Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling jujur, paling baik, paling sempurna ilmu, amal, iman, dan keyakinannya. Terkenal dengan kejujurannya di tengah kaumnya.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 4:604).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda-tanda munafik ada tiga: Jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika diberi amanat khianat.”
(HR. Imam Bukhari, no.32)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Sudah dijelaskan oleh para ulama, bahwa beberapa sifat di atas adalah sifat-sifat kemunafikan. Pelaku sifat ini, mirip dengan orang munafik dalam sifat-sifat tersebut dan meniru akhlak munafik. Sebagian ulama mengatakan: Disebut munafik tulen, jika sifat-sifat orang munafik tersebut dominan ada pada diri seseorang. Ada pun orang yang jarang melanggar sifat-sifat tersebut, dia tidak termasuk di dalamnya.”
(Syarh Shahih Muslim, 2:47)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap sebagai pendusta, ketika dia menyampaikan semua hal yang dia dengar.”
(HR. Imam Muslim, no.5)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan;
“Manusia dalam hidupnya mendengarkan semua berita yang benar mau pun yang salah. Sehingga ketika dia menyampaikan semua yang dia dengar, dipastikan dia akan berdusta.”
(Syarh Shahih Muslim, 1:75)

Bercanda, guyon, lelucon, dan semisalnya, bukanlah alasan dan sebab yang membolehkan seseorang untuk berdusta. Karena bercanda itu tidak harus dengan dusta atau berbohong.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

‎وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah bagi orang yang mengatakan sesuatu agar ditertawakan oleh orang-orang, kemudian dia berbohong! Kecelakaan untuknya dan kecelakaan untuknya.”
(HR. At-Tirmidzi, no.2237)

Beliau juga bersabda;

‎إِنِّي لَأَمْزِحُ وَلَا أَقُوْلُ إلَّا حَقًّا
“Aku juga melakukan senda gurau namun, aku hanya mengucapkan yang benar.”
(HR. Al-Haitsami, Majmu Az-Zawaid, 8:92. Beliau menyatakan hadits ini sandanya hasan)

Satu hal yang perlu kita pahami, bahwa Islam melalui syariatnya tidak akan pernah menghalalkan bohong atau dusta, kecuali pada lima keadaan. Di antaranya;
a. Dusta dalam peperangan (siasat peperangan untuk mengelabui musuh).
b. Dusta untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai (memperbaiki hubungan manusia).
c. Dusta suami terhadap istri, atau istri terhadap suami (untuk meraih kebahagiaan, menjaga keharmonisan rumah tangga, dan menghindari keburukan).
d. Dusta dalam rangka menyampaikan kebaikan.
e. Dusta untuk mengingatkan dalam perkara kebaikan.

Ummu Kultsum bin Uqbah bin Abu Muaith radhiyallahu anha pernah mendengar Rasulullah bersabda;

لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ، وَيَقُولُ خَيْرًا، وَيَنْمِي خَيْرًا. قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ: الْحَرْبُ، وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ، وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا
“Orang yang mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) dalam kebaikan, bukanlah termasuk pendusta. lbnu Syihab berkata: Saya tidak pernah mendengar diperbolehkannya dusta yang diucapkan oleh manusia, kecuali dalam tiga hal, yaitu: Dusta dalam peperangan, dusta untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, dan dusta suami terhadap istri, atau istri terhadap suami (untuk meraih kebahagiaan atau menghindari keburukan).“
(HR. Imam Muslim, no.4717)

2. Mengandung unsur penyerupaan.
Dalam agama Islam, hari raya besar umat Islam hanya ada dua, dan tidak ada yang selainnya. Yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawwal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Sebagaimana Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata;

‎كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Dahulu orang-orang Jahiliyyah mempunyai dua hari dalam setiap tahun untuk bermain-main. Setelah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau bersabda: Kalian dahulu mempunyai dua hari untuk bermain-main, sungguh Allah telah menggantinya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu: Hari raya Idul Fithri dan hari raya Idul Adha.”
(HR. An-Nasai, no.1538 )

Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

‎دَخَلَ عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ بِهِ الْأَنْصَارُ فِي يَوْمِ بُعَاثٍ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَبِمَزْمُورِ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدِ الْفِطْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا
“Abu Bakar masuk ke dalam rumahku, sementara di sisiku ada dua anak gadis Anshar. Keduanya melantunkan nyanyian yang biasa dinyanyikan oleh kaum Anshar pada hari raya Buats, dan mereka berdua bukanlah seorang penyanyi. Lalu Abu Bakar berkata: Apakah ada seruling setan di rumah Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Dan pada saat itu bertepatan hari raya Idul Fithri, hingga Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.”
(HR. Ibnu Hibban, no.1888 )

Dalam riwayat yang lain, Aisyah radhiyallahu anha bercerita;

‎أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ تَضْرِبَانِ بِدُفَّيْنِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُنَّ فَإِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا
“Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam masuk ke tempatnya dan di sisinya ada dua anak perempuan yang sedang menabuh dua rebana, maka Abu Bakar pun membentak kedua budak tersebut. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Biarkan saja mereka! Sesungguhnya bagi setiap kaum memiliki hari raya.”
(HR. An-Nasai, no.1575)

Jadi, hal mendasar yang harus kita pahami, bahwa setiap kaum memiliki hari raya, dan hari raya untuk umat Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Sehingga ketika suatu kaum mengikuti hari raya dari hari raya kaum yang lainnya, atau mengikuti kebiasaan dari kaum lain, maka dia dihukumi sama seperti kaum tersebut.

Sebagaimana contoh: Jika kita selaku umat Islam yang sudah memiliki dua hari raya, lalu kita malah mengikuti juga hari raya umat lainnya, semisal umat Nashrani, yakni dengan ikut merayakan hari April Mop. Maka dengan demikian, kita juga akan termasuk sebagai umat Nashrani (Kristen). Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

‎مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa bertasyabbuh (menyerupai) suatu kaum, maka dia juga termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud, no.3512)

Maksud dari tasyabbuh pada hadits tersebut bersifat umum, siapa pun yang mengikuti kebiasaan yang menjadi ciri khas suatu kaum apa pun bentuknya, maka dia termasuk ke dalam golongan kaum tersebut. Dan sangat hina dan merugi jika kita selaku umat Islam, umat yang sudah Allah muliakan namun, malah mengikuti umat lain yang sudah Allah hinakan dan binasakan. Maka dari itu, jadilah umat Islam yang tidak latah! Yang tidak asal mengikuti dan melakukan sesuatu, tanpa mencari tahu tentang hukum dari perbuatan tersebut sebelumnya. Karena agama Islam adalah agama dalil (ilmu), sehingga setiap hal yang berkaitan dengan Islam harus disertai dengan alasan yang sesuai dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Jadi, Islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk memperingati perayaan selain dari Idul Fithri dan Idul Adha. Seperti hari April Mop, Natal, Yesus Kristus, hari ibu, hari Kartini, kelahiran Nabi, tahun baru hijriyah, tahun baru masehi, turunnya Al-Quran, Isra Miraj, Isa Al-Masih, Buruh Nasional, dan berbagai hari raya lainnya yang disematkan atas nama Islam atau pun atas nama nasional. Sehingga kita selaku umat Islam tidak perlu ikut campur merayakan hari April Mop, baik dengan melakukan ritualnya, mengucapkan kata-kata dusta, menipu, ikut menyebarluaskan informasi berkenaan hari raya April Mop, atau pun hal-hal semisalnya yang berkaitan dengan hari April Mop.

Seharusnya, umat Islam merasa bahagia dengan agamanya (Islam), dan mencukupkan diri dengan pedoman yang sudah Islam ajarkan, yakni dengan cukup merayakan dua hari perayaan Islam tersebut. Karena dua hari perayaan yang sudah dijelaskan oleh Rasulullah (Idul Fithri dan Idul Adha) adalah hari perayaan yang Allah berikan untuk kita selaku umat Islam, hari raya yang lebih baik dan lebih mulia dari pada hari perayaan selainnya.

Sebagaimana Allah azza wa jalla menjelaskan tentang agama islam;

‎اَلْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا
“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agama kalian, maka sebab itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu! Pada hari ini sudah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Aku cukupkan nikmatKu untuk kalian, dan telah Aku ridhai islam sebagai agama kalian.”
(Surat Al-Maidah: ayat 3)

Islam adalah agama yang sudah sempurna syariatnya, sehingga tidak perlu direnovasi dan diubah, tidak perlu ditambah dan dikurangi. Cukup bagi kita sebagai umat Islam untuk melakukan setiap yang Allah perintahkan dan mengikuti setiap yang Rasulullah contohkan.

C. Kesimpulan

Dalam hari April Mop terdapat banyak keburukan, kesalahan dan kemaksiatan. Sehingga sangat dilarang bagi kita selaku umat Islam ikut menyebarkan, merayakannya atau meramaikannya. Tinggalkan dan jauhkan semua ritual dan kebiasaan yang bukan berasal dari Islam! Agar diri kita selamat dari kesalahan dan kebinasaan yang disebabkan ucapan atau perbuatan yang kita lakukan.

Meski pun hanya ucapan selamat untuk hari raya April Mop dan perayaan lainnya, itu tetap tidak boleh diucapkan. Karena ucapan tersebut bisa menjadi masalah yang berat dan besar dalam hal keyakinan (aqidah).

Sebagai contoh: Coba kita minta kepada orang-orang yang bukan beragama Islam, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Apakah mereka bakalan mau mengucapkannya? Tentu tidak! Karena mereka tahu konsekuensi dari mengucapkan dua kalimat tersebut, yakni mereka secara otomatis akan masuk ke dalam agama Islam, dan keluar dari agama mereka sebelumnya.

Selaku umat Islam, kita juga tidak boleh ikut menyebarkan informasi tentang ritual hari perayaan April Mop dan perayaan semisalnya, misal berupa sms, broadcast, spanduk, baliho, pamflet, dan media-media semisalnya.

Allah azza wa jalla berfirman;

‎إِذْ تَلَقَّوْنَهُۥ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَّا لَيْسَ لَكُمْ بِهِۦ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُۥ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ. وَلَوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَنْ نَّتَكَلَّمَ بِهٰذَا سُبْحٰنَكَ هٰذَا بُهْتٰنٌ عَظِيمٌ. يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِۦٓ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِينَ
“Ingatlah, ketika kalian menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut, dan kalian katakan dengan mulut kalian sesuatu yang tidak kalian ketahui ilmunya sedikit pun, dan kalian menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu adalah sesuatu yang besar. Dan mengapa kalian tidak berkata ketika mendengarnya: Tidak pantas bagi kita membicarakan ini, maha suci Engkau ya Allah, ini adalah kebohongan yang besar. Allah memperingatkan kalian agar tidak kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kalian orang yang beriman.”
(Surat An-Nur: ayat 17)
___
@Kota Angin Majalengka-Jawa Barat.
23 Rajab 1440 H/30 Maret 2019 M.

Penulis: Abu Humairo Muhamad Fadly

BERBAGI
Artikel sebelumnyaCUKUP 10.000,-
Artikel sesudahnyaAda Apa Dengan Khiyaar TV?
Khiyaar TV adalah media dakwah dan sosial yang berada di daerah Cideres, Majalengka, Jawa Barat. Khiyaar TV mulai terbentuk pada 08 Ramadhan 1438H/03 Juni 2017M. Berawal dari satu orang dari kami yang menemani perjalanan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly hafizhahullah mengisi kajian rutin dengan kendaraan pribadi miliknya. Waktu itu Ustadz sedang ada jadwal mengisi kajian daurah Ramadhan di daerah Indramayu (tetangga kota Majalengka). Dari situlah, semuanya bermula. Orang tersebut adalah yang mengenalkan kami dengan Ustadz Abu Humairo Muhamad Fadly. Padahal, kami sudah cukup lama tinggal di Majalengka, karena memang sebagian besar dari kami adalah putra asli Majalengka. Namun, kami belum kenal dengan Ustadz, sehingga kami belum tahu adanya majelis ilmu rutin di sekitar Cideres, Majalengka. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimmus shaalihaat, kami sangat bersyukur kepada Allah azza wa jalla, pertemuan kami dengan orang tersebut adalah awal dari pintu kebaikan. Sebab situlah kami kenal dengan Ustadz, mulai bisa merasakan nikmatnya duduk di majelis ilmu dengan rutin dan sampai pada Allah pun mudahkan langkah kebaikan untuk kami, yakni dengan kami pun bisa membuat sebuah komunitas Islam dan media dakwah. Karena kami memiliki cita-cita ingin menjadi makhluk Allah yang bermanfaat untuk makhluk Allah yang lain, maka kami juga membuat berbagai program sosial, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap sesama, dan inilah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum, sehingga terbentuklah MEDIA DAKWAH & SOSIAL KHIYAAR TV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here